BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Komunikasi Kesehatan
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk memengaruhi secara positif perilaku kesehatan masyarakat, dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi, baik menggunakan komunikasi interpersonal, maupun komunikasi massa. Komunikasi kesehatan meliputi informasi tentang pencegahan penyakit, promosi kesehatan, kebijakan pemeliharaan kesehatan, regulasi bisnis dalam bidang kesehatan, yang sejauh mungkin mengubah dan membaharui kualitas individu dalam suatu komunikasi atau masyarakat.
Komunikasi kesehatan merupakan bagian dari komunikasi antar manusia dan memiliki fokus pada bagaimana seorang individu dalam suatu kelompok/masyarakat menghadapi isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan serta berupaya untuk memelihara kesehatannya (Northouse dalam Notoatmodjo, 2005). Fokus utama dalam komunikasi kesehatan adalah terjadinya transaksi yang secara spesifik berhubungan dengan isu-isu kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi transaksi tersebut. Transaksi yang berlangsung antar ahli kesehatan, antara ahli kesehatan dengan pasien dan antara pasien dengan keluarga pasien merupakan perhatian utama dalam komunikasi kesehatan.
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan individu dan komunitas masyarakat, dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi baik komunikasi interpersonal, maupun komunikasi massa. Selain itu, komunikasi kesehatan juga dipahami sebagai studi yang mempelajari bagaimana cara menggunakan strategi komunikasi untuk menyebarluaskan informasi kesehatan yang dapat mempengaruhi individu dan komunitas agar dapat membuat keputusan yang tepat berkaitan dengan pengelolaan kesehatan (Liliweri, 2008). Komunikasi kesehatan terdiri dari fakta-fakta tentang pencegahan penyakit, promosi kebugaran, aturan perawatan kesehatan, kebijakan bisnis di bidang kesehatan yang sejauh mungkin memperdagangkan dan memperbarui keunggulan individu dalam jaringan melalui pemikiran tentang aspek medis dan moral.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pertukaran verbal kesehatan adalah kegunaan standar dan teori pertukaran verbal dalam transaksi yang terjadi antara individu/kelompok tentang masalah kesehatan. Penyebab utama komunikasi kesehatan adalah untuk mengubah perilaku kesehatan dengan cara yang baik untuk meningkatkan popularitas kesehatan. Masalah kesehatan dan masalah sakit tidak sepenuhnya bersumber dari kelalaian laki-laki atau perempuan, kelalaian keluarga sendiri, kelalaian institusi atau jaringan. Sebagian besar penyakit yang diderita oleh individu dan penyakit yang ada di jaringan biasanya berasal dari ketidaktahuan dan kesan yang salah dari berbagai fakta kesehatan yang diperoleh.
Percakapan kesehatan terdiri dari menggunakan penawaran pertukaran verbal untuk menyampaikan pesan dan berdampak pada prosedur pengambilan keputusan yang terkait dengan upaya untuk meningkatkan dan pengelolaan
kesehatan oleh induvidu dan kelompok.
Demikian pula, komunikasi kesehatan juga terdiri dari olahraga untuk menyebarkan fakta-fakta tentang kesehatan kepada masyarakat umum sehingga seseorang dapat memperoleh perilaku hidup sehat, menciptakan kesadaran, sikap dan memotivasi orang untuk mengadopsi perilaku sehat yang mungkin direkomendasikan sebagai impian utama komunikasi kesehatan. Pertukaran verbal kesehatan berkontribusi dan akan menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Pertukaran verbal kesehatan juga dianggap relevan untuk beberapa konteks dalam bidang kesehatan.
1. Peran Penting Komunikasi Kesehatan
komunikasi kesehatan meningkatkan kesadaran seseorang tentang masalah kesehatan, risiko kesehatan, dan solusi kesehatan. Peningkatan kesadaran individu akan hal-hal ini memiliki efek pada keluarga dan lingkungan masyarakat orang itu sendiri. Ketidaknyamanan ini akan berdampak pada bentuk pertukaran verbal yang berlangsung di tengah-tengah lingkaran kerabat (antar individu keluarga saling berbicara dalam kemarahan). akibatnya, jika masalah kesehatan dan semua bahaya kesehatan yang terkait dengan diabetes dikomunikasikan dengan baik, rasa sakit psikologis dan emosional tidak akan muncul. Ada interaksi antara kesehatan dan perilaku karakter. Individu berada dalam situasi biologis, psikologis dan sosial, 3 elemen ini berpengaruh pada karakter kesehatan mental seorang . Melalui pertukaran verbal kesehatan, kami mempelajari keterkaitan antara 3 faktor ini.
Informasi ini penting agar dalam intervensi program kesehatan dapat dikembangkan yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu menjadi lebih sehat.
Peran penting komunikasi kesehatan juga tercermin dalam judul pengantar
"The Healthy People 2010 Information" yang menyatakan "use communication strategi cally to improve health". Artinya, tidak ada jalan lain menyukseskan kesehatan individu dan masyarakat kecuali dengan memanfaatkan jasa komunikasi. terutama berdasarkan pertimbangan ini, semua analisis dan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia harus mencakup peran pengetahuan teknologi komunikasi, khususnya strategi pertukaran verbal, untuk menyebarluaskan statistik yang dapat mempengaruhi orang dan masyarakat dengan tujuan untuk membuat keputusan yang tepat mengenai kesehatan mereka.
Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi setiap orang.
Komunikasi kesehatan adalah bagian penting dari komponen kesehatan dan kesejahteraan mental karena pertukaran verbal kesehatan mencakup pencegahan gangguan, promosi kesehatan, dan peningkatan kehidupan terbaik.
2. Bentuk Komunikasi Kesehatan
Bentuk komunikasi kesehatan, manusia lebih akrab dengan kampanye media massa sebagai cara mengkomunikasikan masalah kesehatan. Namun, ada berbagai jenis komunikasi kesehatan. Hiburan adalah cara lain yang cukup efektif dalam berbicara fakta kesehatan, banyak penelitian telah menetapkan bahwa statistik kesehatan singkat memiliki dampak yang cukup kuat. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Paul Novelli pada tahun 2001 terhadap 3719 individu, menemukan bahwa banyak informasi kesehatan yang dapat dipelajari oleh individu ketika menonton televisi pada jam-jam utama (primetime). Bentuk komunikasi kesehatan yang lain adalah media advocacy, yang didefinisikan sebagai upaya pemanfaatan media massa yang lebih strategis bila didukung oleh keikutsertaan masyarakat
dengan tujuan untuk meningkatkan kebijakankebijakan publik yang berkaitan dengan kesehatan.
3. Model Komunikasi Kesehatan
Menurut Charles et al, 2004 (Kunoli & Herman, 2013; 49), ada tiga model komunikasi kesehatan (dokter dan pasien) yaitu:
1. Paternalistic Model
Dalam model komunikasi ini, perawat mengendalikan aliran informasi kepada pasien dan memutuskan pengobatan .
2. Informant Model
Model komunikasi ini menggambarkan perawat menyampaikan semua informasi yang diperlukan kepada pasien. Informasi itu berisi manfaat dan resiko sebagai pengobatan berdasarkan bukti yang sah. Setelah itu pasien sendiri yang mempertimbangkan dan memutuskan apa yang terbaik baginya.
3. Shared Model
Model ini mengasumsikan bahwa perawat dan pasien membuat keputusan bersama, terutama mengenai pengobatan medis. Model komunikasi perawat - pasien terbaru ditandai dengan partisipasi pasien yang lebih aktif. Arus informasi dikendalikan baik oleh perawat atau oleh pasien.
Model komunikasi yang paling berguna untuk penyembuhan pasien adalah Shared Model. Model komunikasi ini menempatkan pasien sebagai subjek yang mempunyai latar belakang sosial budaya, nilai- nilai, harapan, perasaan, keinginan, kekhawatiran dan juga mendambakan kebahagiaan (Kunoli& Herman, 2013: 49).
Shared model juga memungkinkan terjadinya dialog, dimana peran dokter bukan lah membujuk pasien untuk menerima pendapatnya. Dalam konteks ini, hubungan pasien dan perawat sebagai mitra medis yang saling membutuhkan dalam memerangi keadaan sakitnya pasien, sehingga membuat pasien lebih kooperatif untuk mengikuti rencana pengobatan seperti yang disarankan perawat.Pada saat yang sama, pasien pun bertanggung jawab untuk memutuskan nasibnya sendiri (Kunoli& Herman, 2013: 49).
Menurut Adler, hubungan diatas memberikan hasil lebih baik rekaman medis lebih lengkap, penilaian lebih baik, diagnosis lebih cermat, resep lebih murah dan penyembuhan lebih cepat (Kunoli& Herman, 2013: 49). Dalam pandangan cegala, jika dokter hanya mengumpulkan informasi tentang penyakit tapi bukan keadaan sakit, yakni tanpa memahami konteks budaya sosial budaya lebih luas yang melatarbelakangi problem medis pasien, maka informasi yang mungkin sangat penting akan hilang dan kecermatan diagnosis dan rencana pengobatan akan berbahaya. Secara fisik saja tapi juga mempunyai pengalaman hidup yang berhubungan dengan keadaan sakit (Kunoli& Herman, 2013: 49)