• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI MODERN DAN MEDIA BARU

KOMUNIKASI MODERN DAN

media. McQuail (2011) menyatakan bahwa media baru adalah berbagai perangkat teknologi komunikasi yang berbagi ciri yang sama yang mana selain baru dimungkinkan dengan digitalisasi dan ketersediaannya yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat komunikasi. Teori ini membahas tentang media pada zaman global.

Istilah media baru mengacu pada permintaan akses ke konten (isi/

informasi) kapan saja, di mana saja, pada setiap perangkat digital.

Ciri utama media baru adalah adanya saling keterhubungan, aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasnya, kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka, dan sifatnya yang ada di mana-mana (McQuail, 2011).

Menurut R Cahyo Prabowo (dalam Putri, 2014) mengenai media baru adalah suatu alat sebagai sarana komunikasi yang dimana saling berinteraksi, berpendapat, tukar informasi, mengetahui berita yang melalui saluran jaringan internet serta informasinya selalu terbaru secara kilat dan juga lebih efisien ringkas memberikan informasi kepada pembaca atau khalayaknya.

Kehadiran media baru ini merupakan bagian tiga generasi dari komunikasi politik, seperti Blumler dan Kavanagh dalam Heryanto, yang menamakannya “third age of political communication”.

Menurut mereka, media cetak dan penyiaran, seperti televisi dan radio, tidak lagi dijadikan rujukan utama dalam proses komunikasi politik. Hal ini disebabkan oleh semakin masifnya penggunaan internet sebagai sumber utama masyarakat dalam mencari informasi mengenai berita-berita atau peristiwa-peristiwa politik. Apalagi, dalam media sosial katakanlah, proses pencarian informasinya pun bersifat dua arah. Masyarakat dapat berpartisipasi langsung (dinamis), tidak hanya menunggu (pasif) (Heryanto dan Rumaru, 2013).

Platform media cetak, audio, dan video memberikan kesempatan bagi pengguna untuk melakukan komunikasi secara dua arah.

Hal ini adalah akibat dari digunakannya internet oleh platform-

platform tersebut. Informasi yang beredar di internal sulit untuk dikontrol. Itu sebabnya internet disebut sebagai media baru yang revolusioner. Kontrol informasi dan adanya lembaga pengawas adalah ciri khas dari media cetak dan televisi, yang tidak ada lagi di internet. Alhasil, internet berkembang menjadi sebuah bentuk

“media” yang sulit untuk dikendalikan, termasuk oleh pemerintah (Heryanto dan Zarkasy, 2012).

Ciri-ciri yang membuat internet berbeda dengan bentuk komunikasi lainnya, adalah dengan adanya penggunaan multimedia, hypertextual, dispersal, virtuality, dan interactivity. Multimedia dimengerti sebagai sebuah medium yang di dalamnya terdapat banyak konten. Konten-konten tersebut adalah perpaduan antara teks, audio, video, gambar (image), animasi, dan ragam konten interaktif lainnya. Karakteristik multimedia dapat kita pahami sebagai medium dengan beragam bentuk konten yang meliputi perpaduan teks, audio, image, animasi, video dan bentuk konten interaktif. Hypertextual, dipahami sebagai sebuah teks yang dapat mengizinkan kita mengakses teks-teks lain. Sebagai contoh, sebuah tautan yang terdapat di dalamnya, cukup di klik satu kali saja untuk menghubungkan kita dengan halaman atau situs lain dengan substansi teks yang pastinya juga berbeda (Efriza dan Indrawan, 2018).

Sekalipun kita sering menyebut media baru dengan dunia maya, akan tetapi, walaupun tidak secara fisik, nuansa “kehadirannya”

muncul secara virtual. Hal ini yang membuat media baru memiliki karakter budayanya sendiri, namun bukanlah budaya seperti pada umumnya yang dimanifestasikan secara nyata, namun sebuah budaya digital. Interactivity memberikan kesempatan interaksi bagi komunikator di antara sesama komunikator. Komunikator- komunikator tersebut, selain dapat berinteraksi secara daring, juga dapat menciptakan konten-konten pesan mereka sendiri untuk kemudian dipublikasikan. Sebagai contoh, ketika komunikator berkomunikasi via email atau fitur chat di media sosial, maka mereka

sadar bahwa internet memungkinkan mereka berkomunikasi secara dua arah (Efriza dan Indrawan, 2018).

Media konvensional menunjukkan bahwa antara komunikator dan khalayaknya digambarkan sebagai hubungan satu arah one- to-many-relationship, sementara internet dapat dilihat sebagai sarana komunikasi satu arah, dua arah, satu ke banyak, maupun banyak ke satu seperti halnya media konvensional. Meski dalam realitanya sebenarnya, interaksi tersebut terjadi antara manusia dengan komputer, namun dalam budaya baru, yaitu budaya virtual, komunikasi terjadi tidak hanya satu arah (Wardhani dan Makkuraga, 2012).

Berkembangnya media baru menjadi lebih dinamis membuat media lama atau konvensional harus menghadapi tantangan yang tidak mudah. Media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, interactive blogs melahirkan interaksi antar- masyarakat yang dinamakan jurnalisme warga. Jurnalisme warga ini memungkinkan adanya koneksi antara pencari dan penyedia informasi. Atas dasar itu, eksistensi dari media konvensional akan berkurang karena proses diseminasi informasinya terbatas ruang dan waktu.

Kita juga harus memahami tentang apa arti baru (new) dari konsep media baru yang sedang kita pelajari. Media baru bukanlah teknologi saja. Pemahaman kita harus jauh melebihi itu. Kita harus sadar bahwa perkembangan teknologi akan membawa perubahan pada banyak bidang di dalam kehidupan manusia.

Perubahan-perubahan tersebut berujung pada tiga hal berikut.

Pertama, peralatan terkait dengan teknologi yang dipergunakan memungkinkan individu dapat memperluas kemampuan berkomunikasi. Kedua, kegiatan dan praktik komunikasi dalam media baru dapat meningkatkan kemampuan individu dalam penggunaan alat teknologi. Ketiga, penggunaan alat dan praktik dalam media baru akan membentuk nilai-nilai sosial dan sistem pengorganisasian yang baru pula (Junaedi, 2011).

Media sosial sebagai bagian dari media baru memang menghadirkan cara pandang baru terkait bagaimana manusia memaknai arus informasi yang di era globalisasi ini “berseliweran”

dimana-mana. Media sosial memang memberikan informasi, yang bagi manusia modern adalah bagian dari kebutuhan primer, hanya saja akurasi dan kebenaran dari informasi tersebut membutuhkan verifikasi lanjutan. Bedanya dengan media konvensional, di mana ada aturan hukum yang melingkupi setiap aliran informasi yang ditampilkannya, dalam konteks media sosial hal tersebut sama sekali tidak ada. Maka, tak heran muncul terminologi “hoax”, “fake news”, “false news” dll. Apalagi, media sosial berada dalam ranah daring (Junaedi, 2011).

Sifat media sosial adalah daring, alias sangat membutuhkan internet. Hal tersebut membuat penggunanya sangat mudah untuk terlibat berpartisipasi. Partisipasi dalam hal ini artinya adalah kemudahan berbagi dan menyampaikan informasi, kemudahan juga dalam membuat konten, pesan, atau isi yang akan disampaikan kepada khalayak, dan mengomentari masukan-masukan yang diterima, di mana semua hal tersebut terjadi secara cepat tanpa batasan-batasan yang restriktif (Junaedi, 2011).

Peran teknologi, terutama internet, menjadi kata kunci dalam perubahan-perubahan yang terjadi melalui media sosial. Teknologi internet menjadi faktor yang memungkinkan (enabler). Sebagai media daring, teknologi ini dapat dengan mudah diakses kapan pun, dimana pun, dan oleh siapa pun. Daya jangkau internet yang global memungkinkan terjadinya konektivitas dan interaktivitas yang tinggi. Hal ini membuat internet sarana yang efisien dalam proses komunikasi. Termasuk untuk media sosial, di mana penggunanya makin hari makin banyak, belum termasuk jasa penyedianya seperti Facebook dan Instragram. Meningkatnya jumlah pengguna ini berdampak pada media konvensional tentunya, karena akses informasi akan lebih cepat didapatkan masyarakat melalui media sosial. Perbedaan kharakteristik, khalayak, dan faktor-faktor

pembentuk antara media sosial dan media mainstream inilah yang membawa perubahan signifikan dalam kajian-kajian komunikasi (Junaedi, 2011).

Selanjutnya, media sosial tidak hanya satu-satunya yang dapat diklasifikasikan sebagai media baru. Ada juga kegiatan jual beli secara daring, disebut E-Commerce. Semua jenis media baru ini dapat membentuk opini dalam masyarakat (public opinion maker) karena masifnya sifat pemberitaannya (Aji dan Indrawan, 2019).

Atas dasar itulah, diperlukan pemahaman mengenai dampak dari kehadiran media baru, utamanya sosial media, yaitu sebagai berikut:

a. Menyediakan peluang untuk berkomunikasi lebih banyak dan memberi ide, informasi, dan opini.

b. Membuka kesempatan baru untuk berkomunikasi langsung dengan khalayak walaupun dapat menimbulkan risiko seperti berkembangnya informasi negatif. Komunikasi menjadi lebih personal dan dapat berlangsung tanpa perantara.

c. Meningkatkan komunikasi dan informasi secara cepat dan tepat dengan berbagai isu.

d. Membuka kesempatan untuk meraih khalayak dengan efektif dan efisien.

e. Membuka kesempatan untuk meraih khalayak baru dari kelompok muda atau usia yang tidak tersentuh oleh media mainstream yang biasa digunakan oleh organisasi.

f. Blog dan media sosial membuka komunikasi secara global.

g. Media baru memungkinkan organisasi untuk memperoleh data atau informasi secara cepat tentang bagaimana pendapat publik terhadap organisasi pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan partai politik (Aji dan Indrawan, 2019).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa media baru memberikan banyak peluang untuk meningkatkan komunikasi eksternal yang

efektif dan efisien. Tapi, kehadirannya tentu disertai beberapa hal yang harus diwaspadai. Pertama, media baru menciptakan cyber selfishness, (keegoisan pengguna internet), maksudnya menghasilkan banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab secara sosial. Kedua, sekalipun ruang dan waktu tidak terbatas, hal tersebut tidak berlaku untuk pertemuan langsung secara fisik.

Oleh karena tidak bertemu dengan lawan bicara secara langsung, kemungkinan terjadi penipuan atau pembohongan di dalam dunia maya cukup tinggi. Ketiga, terjadinya berita atau tulisan yang dianggap tidak sesuai (hoax), maka dengan cepat komentar akan mengiringnya, sehingga pihak organisasi atau perorangan yang memiliki kepentingan untuk pembangunan citra semestinya harus memiliki pengetahuan dan literasi terhadap dampak media baru (Aji dan Indrawan, 2019).

ANOMALI PERADABAN