• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Terapeutik

Dalam dokumen ADVOKASI KESEHATAN (Halaman 151-157)

lain. Banyak informasi yang kita miliki dengan interaksi antar pribadi.

3. Menciptakan dan memelihara hubungan

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, hingga dalam kehidupan sehari-hari orang ingin menciptakan dan memelihara hubungan dekat dengan orang lain.

4. Mengubah sikap dan perilaku

Dalam komunikasi antar pribadi sering kita berupaya menggunakan sikap dan perilaku orang lain. Keinginan memilih suatu cara tertentu, mencoba makanan baru, membaca buku, berfikir dalam cara tertentu, dan sebagainya. Singkatnya banyak yang kita gunakan untuk mempersuasikan orang lain melalui komunikasi antar pribadi.

Hal yang paling penting dalam komunikasi interpersonal adalah hubungan dan interaksi yang terjalin antara individu, petugas medis, dan sistem dukungan sosial individu.

Hubungan ini dapat memberikan pengaruh positif terhadap keputusan individu tentang masalah kesehatan. Termasuk dalam saluran interpersonal di antaranya adalah komunikasi tatap muka, kunjungan ke rumah, pelatihan, diskusi kelompok, dan lain-lain.

buku Suciata menyatakan bahwa untuk komunikasi ini menggunakan prinsip hubungan interpersonal. Istilah ini juga sering dipakai dalam psikologi konseling dalam hubungan antara konselor dan klien. Klien secara sukarela akan mengekspresikan perasaan dan pikirannya, sehingga beban emosi dan ketegangan yang dirasakan dapat hilang sama sekali dan kembali seperti semula.

Banyak kegiatan komunikasi terapeutik yang terjadi di dunia kesehatan. Menurut Mulyana (2005) komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain sacara langsung, baik secara verbal dan nonverbal.

Menurut Heri Purwanto, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien (Mundakir, 2006).

Komunikasi terapeutik dapat meningkatkan pemahaman dan membantu terbentuknya hubungan yang konstruktif di antara tenaga medis dengan pasien.

Pelaksana komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan guna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan.

. Stuart dan Sundeen (Taufik, 2010:45) menjelaskan bahwa dalam prosesnya komunikasi terapeutik terbagi menjadi empat tahapan, yaitu tahap persiapan atau tahap

pra-interaksi, tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi.

a. Tahap persiapan/pra-interaksi

Pada tahap pra-interaksi, seorang tenaga medis sebagai komunikator yang melaksanakan komunikasi terapeutik harus mempersiapkan untuk bertemu dengan klien atau pasien. Sebelum bertemu pasien, tenaga medis harus mengetahui beberapa informasi terkait dengan pasien, seperti nama, umur, jenis kelamin, keluhan penyakit, dan sebagainya. Apabila seorang tenaga medis dapat mempersiapkan diri dengan baik sebelum bertemu dengan pasien, maka ia dapat menyesuaikan cara yang paling tepat dalam menyampaikan komunikasi terapeutik kepada pasien, sehingga pasien bisa nyaman berkonsultasi dengan tenaga medis.

b. Tahap perkenalan atau orientasi

Tahap perkenalan dilakukan ketika setiap kali pertemuan dengan pasien. Tujuannya adalah memvalidasi keakuratan data serta rencana yang sudah dibuat sesuai dengan keadaan pasien saat ini, mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan. Tahap perkenalan/orientasi adalah ketika tenaga medis bertemu dengan pasien.

Persiapan yang dilakukan pada tahap prainteraksi diaplikasikan pada tahap ini. Sangat penting untuk melaksanakan tahapan ini dengan baik karena

tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara tenaga medis dan pasien.

c. Tahap kerja

Tahap kerja adalah inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik. Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena di dalamnya seorang tenaga medis dituntut untuk membantu dan mendukung pasien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisis respons ataupun pesan komunikasi verbal dan nonverbal yang disampaikan oleh pasien.

Tahap ini pula seorang tenaga medis mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu pasien untuk menjelaskan masalah yang sedang dihadapi oleh pasien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

d. Tahap Terminasi

Terminasi adalah akhir dari pertemuan seorang tenaga medis dengan pasien. Tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan tenaga medis dan pasien, setelah hal ini dilakukan tenaga medis dan pasien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi

akhir dilakukan oleh seorang tenaga medis setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.

Komunikasi terapeutik sangat penting dan bermanfaat untuk pasien, karena komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien dalam mengatasi persoalan yang dihadapinya.

2. Teknik Komunikasi Terapeutik

Ada beberapa metode atau teknik yang bisa dilakukan dalam komunikasi terapeutik, seperti yang disampaikan oleh Stuart dan Sundeen (Mundakir, 2006:131), yaitu:

a. Mendengarkan (listening)

Seorang tenaga kesehatan perlu mendengarkan klien untuk menyampaikan pesan nonverbal dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan nonverbal yang sedang dikomunikasikan. Keterampilan mendengarkan dilakukan dengan memandang klien ketika sedang bicara, pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan, sikap tubuh yang menunjukkan perhatian, hindi gerakan yang tidak perlu, anggukan kepala ketika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik, condongkan tubuh ke arah lawan bicara.

b. Pertanyaan terbuka (broad opening)

Tujuan bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Selama pengkajian, ajukan pertanyaan secara berurutan.

c. Penerimaan

Menerima bukan berarti menyetujui.

Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja kita tidak harus menerima semua perilaku pasien. Sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya.

d. Klarifikasi

Apabila terjadi kesalahpahaman, seorang tenaga medis perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perlu memberikan contoh yang konkrit dan mudah dimengerti pasien.

e. Menyampaikan hasil observasi

Seorang tenaga medis perlu memberikan umpan balik kepada pasien dengan menyatakan

hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar. Dapat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh syarat nonverbal pasien. Menyampaikan hasil pengamatan sering membuat pasien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertambah memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.

Dengan menerapkan beberapa teknik atau metode komunikasi terapeutik, maka kegiatan komunikasi terapeutik bisa dilaksanakan dengan baik. Pasien dengan nyaman memberikan informasi yang dibutuhkan tenaga medis untuk mengupayakan kesembuhan pasien, tenaga medis dapat mempermudah pekerjaannya untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasien. Semakin baik kerjasama yang dilakukan antara tenaga medis dan pasien, maka semakin baik pula hasil yang dapat dicapai untuk mempercepat proses penyembuhan pada pasien.

Dalam dokumen ADVOKASI KESEHATAN (Halaman 151-157)