• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Demografi Daerah a. Jumlah Penduduk

Dalam dokumen Perencanaan (Halaman 41-50)

BAB VII PENUTUP

2.1. Kondisi Umum Daerah

2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1.8. Kondisi Demografi Daerah a. Jumlah Penduduk

Menurut Kompilasi Statistik Sosial Kabupaten Purworejo 2018 jumlah penduduk Kabupaten Purworejo tahun 2018 sebanyak 716.477 jiwa dengan komposisi 49,31 persen penduduk laki-laki dan 50,69 persen penduduk perempuan. Dilihat dari persebarannya, Kecamatan Purworejo dan Kecamatan Kutoarjo memiliki jumlah penduduk yang paling banyak yaitu 11,92 persen dan 8,36 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Purworejo. Adapun Persentase Persebaran Penduduk Kabupaten Purworejo Tahun 2018 sebagaimana tersaji pada gambar berikut.

Gambar 2.2

Persentase Persebaran Penduduk Kabupaten Purworejo Tahun 2018 Sumber: Kabupaten Purworejo Dalam Angka, BPS, 2018.

b. Usia

64,90% Penduduk Purworejo berusia antara 15 - 64 Tahun.

Rasio beban ketergantungan di Purworejo tahun 2017 adalah 54,08%.

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-8 Artinya 100 penduduk usia produktif (15-64) rata-rata menanggung beban 54 penduduk usia tidak produktif (0-14 dan 65 keatas).

Piramida Penduduk Kabupaten Purworejo tahun 2017 sebagaimana tersaji pada gambar 2.3.

Gambar 2.3

Piramida Penduduk Kabupaten Purworejo Tahun 2017 Sumber: Kabupaten Purworejo Dalam Angka, BPS, 2018

Tabel 2.4.

Perkembangan Besarnya Rasio Beban Ketergantungan

Kelompok Umur Tahun

2013 2014 2015 2016 2017

0 s.d. 14 171.615 169.694 167.833 165.964 164.074 15 s.d. 64 455.954 458.479 460.623 462.475 463.760 65 keatas 77.958 79.833 81.930 84.247 86.740 Rasio Beban

Kertergantungan (%) 54.74% 54.42% 54.22% 54.10% 54.08%

Sumber:Kabupaten Purworejo Dalam Angka berbagai tahun terbit, diolah

Untuk kabupaten Purworejo tergolong piramida penduduk muda yang berarti angka kelahiran masih lebih besar daripada angka kematian. Rasio Ketergantungan (dependency ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0 -14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun.

Rasio ketergantungan merupakan salah satu indikator demografi yang dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu Negara atau wilayah, apakah tergolong Negara atau wilayah maju atau Negara atau wilayah yang sedang berkembang. Semakin tingginya persentase

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-9 menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Berkaitan dengan angka beban ketergantungan Kabupaten Purworejo pada kisaran angka 54-55, menunjukkan kondisi yang hampir seimbang yang berarti jumlah penduduk produktif masih menanggung penduduk non produktif sebesar ± 5%.

c. Kepadatan Penduduk

Besarnya angka kepadatan penduduk kasar Kabupaten Purworejo pada tahun 2017 sebesar 691 orang / km2 luas wilayah.

Sebagian besar penduduk Purworejo terkonsentrasi di kecamatan Purworejo, Kutoarjo dan Bayan masing masing sebesar 1.616; 1.590 dan 1.085 orang/km2 (sumber : Kabupaten Purworejo dalam angka, BPS, 2018). Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk paling rendah adalah Kecamatan Kaligesing dengan kepadatan penduduk sebesar 400 orang/km2 dan Kecamatan Bruno dengan kepadatan penduduk sebesar 410 orang/km2. Dua kecamatan tersebut memang merupakan daerah dengan kondisi geografis berupa pegunungan yang sebagian wilayahnya memiliki hutan yang cukup luas.

d. Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk Purworejo dari tahun 2016-2017 sebesar 0,26%. Pertumbuhan penduduk Kecamatan yang di atas rata-rata Kabupaten Purworejo adalah Kecamatan Bayan, Pituruh, Purworejo, Banyuurip, Bagelen dan Kutoarjo (Sumber: Purworejo Dalam Angka, BPS, 2018).

e. Mata Pencaharian Penduduk

Pekerjaan menurut lapangan usaha penduduk Purworejo umur 15 tahun ke atas yang bekerja sebagian besar didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (39,66%), kemudian diikuti sektor sektor industri pengolahan (16,95%), perdagangan besar dan eceran (21,00%), jasa Kemasyarakatan (12,38%) dan jasa lainnya (10,02%). (Sumber: Purworejo Dalam Angka, BPS, 2018).

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-10 2.1.1.9. Potensi Pengembangan Wilayah

a. Arahan Pengembangan Wilayah

Lokasi Kabupaten Purworejo di wilayah selatan Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadikan posisi Kabupaten Purworejo berada pada posisi yang sangat strategis. Posisi tersebut berada pada titik silang transportasi lintas selatan Jawa Tengah yang dilalui jalan arteri selatan Pulau Jawa maupun Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS), interkoneksi dengan jalur utara-selatan melalui jalan kolektor primer, serta jalur kereta api selatan jawa.

Kondisi demikian menjadikan Kabupaten Purworejo layak dikembangkan wilayahnya melalui konsep-konsep Transit Oriented Development didukung dengan berbagai potensi ekonomi pada masing-masing kawasan strategis. Kehadiran Bandara Yogyakarta International Airport di sisi lain pada wilayah Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta diharapkan juga menjadi salah satu pemicu perkembangan wilayah di kawasan perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Kulonprogo.

Beberapa titik kawasan yang akan dikembangkan melalui pendekatan TOD, antara lain perkotaan Kutoarjo yang didukung keberadaan Stasiun Besar Kutoarjo untuk akses menuju kawasan wisata Candi Borobudur dan Dieng, kawasan perkotaan Border City di wilayah Kecamatan Bagelen dan Purwodadi terkait keberadaan Bandara YIA serta stasiun Wojo sebagai pemadu antarmoda transport kereta api, bus dan pesawat udara. Untuk menangkap peluang pelaku perjalanan, maka masing-masing perkotaan transit akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan amenitas perkotaan untuk memenuhi kebutuhan transit.

Isu strategis lain terkait pengembangan wilayah di Kabupaten Purworejo adalah kehadiran Badan Otorita Borobudur seluas ± 309 Ha termasuk didalamnya kawasan otoritatif seluas ± 50 Ha dalam Peraturan Presiden 46 tahun 2017 merupakan salah satu titik perkembangan baru di wilayah Pegunungan Menoreh di perbatasan tiga Kabupaten, yaitu: Kabupaten Purworejo, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulon Progo Daerah Isimewa Yogyakarta.

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-11 Untuk membuka akses menuju kawasan Badan Otorita Borobudur terdapat empat pintu utama, yaitu: dua dari Kabupaten Purworejo meliputi jalan Kabupaten Purworejo ruas Kalijambe- Cacaban Lor dan ruas Tumbakanyar-Banyuasin, kemudian satu ruas dari Magelang melalui Salaman-Pekacangan-Cacaban Lor, dan satu ruas dari Kabupaten Kulonprogo melalui Pagerharjo menuju Sedayu.

Pada tahun 2019 telah direncanakan peningkatan jalan pada ruas- ruas tersebut di wilayah Kabupaten Purworejo menuju akses ke Kabupaten Magelang menuju Candi Borobudur dan akses ke Kabupaten Kulonprogo menuju Bandara YIA melalui jalan Bedah Menoreh.

Pada sisi timur perkotaan Purworejo yang dipromosikan orde perkotaannya menjadi pusat kegiatan wilayah dalam rencana tata ruang wilayah, dilengkapi dengan akses jalan lingkar timur, diawali dari jembatan di Sungai Bogowonto Desa Trirejo, Kecamatan Loano yang telah selesai pada tahun 2019.

Di sisi selatan wilayah Kabupaten Purworejo, terkait dengan rencana pembangunan Kawasan Industri Kebumen dalam revisi RTRW Provinsi Jawa Tengah, maka wilayah selatan Kabupaten Purworejo yang berbatasan dengan Kabupaten Kebumen juga direncanakan untuk dikembangkan menjadi kawasan industri yang terwadahi dalam revisi RTRW Kabupaten Purworejo. Dengan demikian terdapat kesesuaian program antar wilayah Kabupaten yang berbatasan serta didukung dengan adanya infrastruktur JJLS ke arah timur yang terkoneksi langsung dengan Bandara YIA dan ke arah utara melalui jalan kolektor menuju stasiun besar Kutoarjo.

b. Ketimpangan Antar Wilayah

Ketimpangan antar wilayah dapat ditunjukkan dengan besaran Indeks Williamson. Angka indeks ini menunjukkan ketimpangan antar wilayah secara umum dengan pendekatan ekonomi. Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, ketrampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki suatu wilayah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya heterogenitas dan beragam karakteristik, suatu wilayah menyebabkan kecenderungan terjadinya

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-12 ketimpangan antar wilayah. Upaya-upaya pembangunan melalui intervensi program dan kegiatan terhadap suatu wilayah diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah sekaligus memperkecil kesenjangan antar wilayah. Perkembangan tingkat ketimpangan antar wilayah di Kabupaten Purworejo selama kurun waktu terakhir ini sebagai berikut:

0.335 0.34 0.345 0.35 0.355 0.36 0.365 0.37 0.375

indeks williamson

Gambar 2.4 Perkembangan Ketimpangan Antar Wilayah (Indeks Williamson) di Tahun 2010 s.d 2015

Sumber:Kabupaten Purworejo Dalam 2011-2016, diolah

Pada gambar tersebut tampak bahwa ketimpangan antar wilayah di Kabupaten Purworejo memiliki kecenderungan meningkat terus sampai dengan tahun 2013, namun kemudian turun sedikit pada tahun 2014 menjadi 0,368, dan 0,364 pada tahun 2015.

Semakin kecil angka Indeks Williamson (mendekati nol) menunjukkan tingkat ketimpangan yang makin kecil atau dengan kata lain tingkat pembangunan antar wilayah makin merata. Untuk menentukan apakah kesenjangan ada pada kesenjangan level rendah, sedang, atau tinggi. Berikut ini adalah kriterianya:

• Kesenjangan level rendah, jika IW < 0,35

• Kesenjangan level sedang, jika 0,35 ≤ IW ≤ 0,5

• Kesenjangan level tinggi, jika IW > 0,5

Berdasarkan kriteria tersebut, maka Kabupaten Purworejo tergolong Kesenjangan pada level sedang.

Gambar 2.5 berikut ini menunjukkan tipologi wilayah-wilayah di Kabupaten Purworejo yang dikelompokkan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapitanya, dengan titik

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-13 tolak pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita rata-rata di tingkat Kabupaten.

Pendapatan per kapita (Y)

Y< Y>

Pertumbuhan Ekonomi ( R)

R< Maju Dengan

Pertumbuhan Cepat (Purworejo, Banyuurip,

Kutoarjo

Berkembang Cepat (Grabag, Bayan)

R>

Maju Tapi Tertekan (Purwodadi)

Kurang Berkembang (Ngombol, Bagelen, Kaligesing, Butuh,

Pituruh, Kemiri, Bruno, Gebang, Loano, Bener) Gambar 2.5. Tipologi Wilayah Kabupaten Purworejo

Sumber data: PDRB Kecamatan, BPS tahun terbit 2016 (diolah)

Terdapat 4 kelompok tipologi wilayah-wilayah di Kabupaten Purworejo, yaitu:

1) Maju dengan pertumbuhan cepat, yaitu pendapatan perkapita dan pertumbuhan ekonominya tinggi (diatas rata-rata kabupaten).

Termasuk dalam kelompok ini adalah Kecamatan Purworejo, Banyuurip dan Kutoarjo)

2) Berkembang cepat, yaitu pendapatan perkapita rendah (dibawah rata-rata kabupaten, namun pertumbuhan ekonominya tinggi (diatas rata-rata kabupaten). Termasuk dalam kelompok ini adalah Kecamatan Grabag dan Bayan

3) Maju Tapi Tertekan, yaitu pendapatan perkapita tinggi (diatas rata- rata kabupaten) namun pertumbuhan ekonominya rendah (dibawah rata-rata kabupaten) Termasuk dalam kelompok ini adalah Kecamatan Purwodadi

4) Kurang Berkembang, yaitu pendapatan perkapita maupun pertumbuhan ekonomi kedua-duanya rendah (dibawah rata-rata Kabupaten). Termasuk dalam kelompok ini adalah Kecamatan Ngombol, Bagelen, Kaligesing, Butuh, Pituruh, Kemiri, Bruno, Gebang, Loano, Bener.

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-14 2.1.1.10. Kawasan Rawan Bencana

Berdasarkan RTRW Kabupaten Purworejo Tahun 2011-2031 di wilayah Kabupaten Purworejo terdapat 4 (empat) kawasan rawan bencana alam, yaitu kawasan rawan bencana tanah longsor, kawasan rawan bencana banjir, kawasan rawan bencana gelombang pasang, dan kawasan rawan bencana kekeringan.

a. Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor

Kawasan rawan bencana tanah longsor tertutup bagi permukiman, persawahan, pertanian tanaman semusim, kolam ikan, dan kegiatan budidaya lainnya yang berbahaya bagi keselamatan manusia dan lingkungan. Permukiman yang terletak di kawasan ini perlu segera dipindahkan ke tempat lain secara terencana. Perlu diupayakan adanya usaha-usaha untuk mencegah terjadinya tanah longsor. Di Kabupaten Purworejo terdapat banyak lokasi yang rawan tanah longsor. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi fisik daerah.

Sebaran kawasan yang rawan tanah longsor antara lain di Kecamatan Loano, Kecamatan Bruno, Kecamatan Bener, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Pituruh, dan Kecamatan Kemiri.

b. Kawasan Rawan Bencana Banjir

Lokasi kawasan rawan banjir di Kabupaten Purworejo terletak di bagian selatan, yaitu di Kecamatan Grabag, Kecamatan Butuh, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Ngombol, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Bayan, dan Kecamatan Pituruh. Kawasan ini secara rutin mengalami genangan lebih dari enam jam pada saat hujan turun dalam keadaan musim hujan normal.

c. Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang

Lokasi kawasan rawan gelombang pasang di Kabupaten Purworejo terletak di bagian selatan, yaitu di Kecamatan Grabag, Ngombol, dan Purwodadi. Kawasan rawan bencana gelombang pasang di kecamatan tersebut meliputi kawasan kurang lebih sejauh 1 km dari batas pantai, atau kurang lebih seluas 2.130 hektar. Banjir akibat gelombang pasang terjadi setiap tahunnya dan pada umumnya menggenangi kawasan pertambakan, kawasan pertanian dan permukiman penduduk, menimbulkan kerugian yang cukup besar.

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-15 d. Kawasan Rawan Bencana Kekeringan

Kawasan rawan bencana kekeringan di Kabupaten Purworejo ada dua macam, yaitu kekeringan pada daerah irigasi dan pada daerah permukiman penduduk. Kekeringan pada daerah irigasi berdasarkan ketersediaan air irigasi pada waduk dan bendung control point. Sedangkan kekeringan pada daerah permukiman penduduk ditetapkan berdasarkan kriteria kesulitan mendapatkan akses air bersih/minum, banyaknya penyakit karena kekurangan air bersih, dan mahalnya biaya memperoleh air bersih.

Kawasan rawan bencana kekeringan secara umum tersebar merata hampir di seluruh kecamatan. Kawasan sangat kering tersebar di Kecamatan Grabag, Kecamatan Ngombol, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Banyuurip, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Bruno, Kecamatan Pituruh, Kecamatan Kemiri, Kecamatan Gebang, Kecamatan Loano, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Kutoarjo, dan Kecamatan Bayan. Kawasan kering tersebar di Kecamatan Grabag, Kecamatan Ngombol, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Banyuurip, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Bruno, Kecamatan Pituruh, Kecamatan Kemiri, Kecamatan Gebang, Kecamatan Loano, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Kutoarjo, dan Kecamatan Bayan. Sementara kawasan dengan tingkat kekeringan sedang berada di Kecamatan Bruno.

e. Kawasan Rawan Bencana Tsunami

Lokasi kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Purworejo terletak di bagian Selatan, yaitu di Kecamatan Grabag, Kecamatan Ngombol, dan Kecamatan Purwodadi.

f. Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi

Kawasan rawan bencana gempa bumi di Kabupaten Purworejo pada dasarnya meliputi seluruh wilayah kabupaten karena gempa bumi sulit untuk diprediksi pusat gempanya, jangkauan dan kekuatannya. Akan tetapi, berdasarkan kondisi geologi, maka sesar berada di Kecamatan Bruno dan Kecamatan Kemiri, sehingga diduga bila terjadi gempa yang berpusat di Kabupaten Purworejo, maka kerawanan daerah tersebut adalah yang paling tinggi.

RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2020 II-16 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Dalam dokumen Perencanaan (Halaman 41-50)