akhir semacam ini, tidak berarti kemudian dipahami dengan adanya semacam “jalan pintas” dalam pembagian harta warisan yang tertunda/
ditunda ini. Dalam arti lain, tidak bisa hanya dengan melihat siapa-siapa saja ahli waris yang ada pada saat pembagian.
Karena sangat dimungkinkan dalam kasusnya, ketika jarak waktu yang lama antara kematian pewaris pertama dengan masa penyelesaian pembagian harta warisan, akan terdapat “keadaan-keadaan” sebagaimana di atas yang mengharuskan kita harus memperhatikan pewaris dan ahli waris di tiap masalahnya. Karena dikhawatirkan pada saat kematian pewaris pertama, ahli warisnya bisa jadi tidak menjadi ahli waris bagi mayit kedua. Begitu seterusnya sampai kepada beberapa masalah yang terkadang sampai setengah abad lamanya.
Tetapi jika terjadi kesepakatan, bahwa dia mengambil harta yang bukan bagian dari harta atau barang dari warisan tersebut, dan bagian (hak) itu kemudian diserahkan oleh salah satu ahli waris, atau oleh semua ahli waris, maka akad itu dinamakan dengan akad jual (aqd al bai’un). Kedua jenis akad dalam konteks seperti ini pun telah disyariatkan dalam hukum Islam.44 Tegasnya ketika ada diantara ahli waris itu yang sangat berhajat agar harta warisan itu dibagikan, namun karena ada diantara waris lainnya yang ternyata masih ingin mempertahankannya supaya jangan dijual misalnya, maka ia boleh mengeluarkan apa yang menjadi hak saudaranya itu dengan cara mengambilkan bagian dari hartanya sendiri.
Kitab Undang-Undang Hukum Warisan Mesir juga membenarkan takharuj ini. Dalam pasal terakhir, yaitu pasal 48 dari kitab itu dijelaskan tentang pengertian, bentuk-bentuk, dan cara-cara membagikan harta warisan kepada ahli waris, yang di dalamnya terdapat sebagian ahli waris yang mengadakan perjannian takharuj ini. Atas dasar ketentuan ini, dalam persoalan waris mewarisi, takharuj memiliki tiga pola, yaitu: pertama, takharuj terjadi dengan salah seorang ahli waris.
Di sini, al kharij (oasepakat dengan salah seorang ahli waris yang bersedia melepaskan haknya atas harta warisan tersebut.
Ahli waris itu pun bersedia diberikan sejumlah harta yang menjadi pengganti haknya atas harta warisan, dan harta “pengganti” yang diberikan (ahli waris lain) kepada al kharij, bukan berasal dari harta waris itu.
Proses takharuj dalam pola seperti ini, ditetapkan berdasarkan akad jual beli (aqd al bai’un). Dengan demikian, ahli waris yang memberikan “penggantian” itu menempati posisi al kharij, sebab
44 Komite Fakultas Syariah Universitas Al Azhar Mesir, Ahkam al Mawarits fi al Fiqhi al Islamy, terj. Addys Aldizar dan Fathurrahman, Hukum Waris, (Jakarta:
Senayan Abadi Publishing, 2004), 414.
dia adalah pembeli. Sehingga ia memiliki dua bagian terhadap mauruts pewarisnya. Satu bagian atas namanya sebagai al kharij, dan satu bagiannya lagi ditambah dengan haknya sebagai ahli waris dalam sruktur kewarisan yang ditinggalkan oleh pewarisnya.
Kedua, adalah takharuj yang terjadi dengan semua ahli waris.
Dalam hal ini, al kharij bersedia “keluar” atau melepaskan haknya atas suatu warisan, jika diganti dengan sejumlah uang yang bukan berasal dari harta warisan. Uang “penggantian” itu, diserahkan oleh ahli waris lainnya kepadanya. Proses takharuj dalam bentuk seperti ini, ditetapkan berdasarkan akad jual (aqd al bai’un) juga.
Karena al kharij menjual bagiannya kepada ahli waris lainnya.
Dengan demikian, semua ahli waris (yang telah “membeli”) tersebut dapat memiliki bagian al kharij sesuai dengan perjanjian yang tersebut dalam akad takharuj. Jika ahli waris itu telah memberikan uang kepada al kharij senilai dengan bagian mereka masing-masing atas warisan tersebut, maka mereka pun mendapat bagian dari hak al kharij sesuai dengan bagian mereka masing- masing atas warisan dimaksud. Namun jika setiap ahli waris memberikan uang dalam jumlah yang sama untuk al kharij, harta al kharij pun dibagi rata untuk mereka.45
Ketiga, takharuj terjadi dengan para ahli waris. Dalam hal ini, al kharij mengajukan usul supaya dia “dikeluarkan” atau tidak diberikan harta waris yang menjadi bagiannya dengan imbalan tertentu, baik berupa uang atau benda yang diambilkan dari harta warisan itu sendiri. Proses takharuj seperti ini, sebenarnya adalah pembagian yang tidak sempurna antara al kharij, yang melepas
45 Perbedaan antara kedua pola takharuj ini, hanya terletak pada orang yang menggantikan saja. Pola pertama, harta penggantian diberikan oleh salah seorang ahli waris, sedangkan pada pola kedua, penggantiaannya diberikan oleh beberapa atau semua ahli waris yang ada dalam strkutur kasusnya. Harta penggantiannya tidak diambilkan dari barang warisan, tetapi dari harta ahli waris yang “mengeluarkan”.
bagiannya, dengan ahli waris ahli waris lainnya, yang memiliki sisa warisan.
Bentuk seperti ini pada hakikatnya sama dengan qismah (hukum pembagian), bukan jual beli. Pola ini merupakan bentuk dan cara-cara yang sering terjadi dan dilakukan oleh masyarakat
46 dalam kaitannya dengan salah satu praktik penyelesaian harta warisan. Kebolehan pola penyelesaian seperti ini, tentu saja dapat dipahami sebagai bentuk “ta’awun” diantara sesama ahli waris.
Di satu sisi, ada diantara ahli waris yang tertolong dengan diberikan haknya secara cepat tanpa harus menjual (menunggu laku) dahulu harta warisan tersebut kepada orang lain. Di sisi lain, ahli waris yang mempunyai kemampuan “menggantikan”
hak waris saudaranya, barangkali juga merasa diuntungkan ketika pembagian warisan dilakukan, ia akan memiliki dua hak sekaligus. Karena pada saat ini, posisinya adalah sebagai ahli waris, sekaligus “pengganti/pembeli”47 hak ahli waris orang yang keluar, mengundurkan diri dalam menerima warisan, yang dikenal dalam istilah faraidh dengan sebutan al kharij.
Uraian terkait ketentuan al takharuj 48 ini, adalah satu pembahasan faraidh tentang cara-cara penyelesaian pembagian harta warisan dengan akad “perdamaian” di antara para ahli waris.
“Perdamaian” dalam kewarisan banyak sekali bentuknya. Baik
46 Ibid, 415-416.
47 Keuntungan ini dimaksudkan, bahwa seandainya ia mempunyai kemampuan untuk “mengeluarkan” hak-hak ahli waris lainnya dalam peninggalan pewarisnya, maka (nantinya) ia akan memiliki sejumlah hak/bagian warisan yang telah dibelinya melalui proses takharuj ini. Apalagi secara kebetulan misalnya, ia tidak ingin harta warisan tersebut terjual kepada orang lain.
48 Selain al Istihqaq bi Ghair al Irts, yaitu mendapat warisan tanpa proses mewarisi. Jika seseorang meninggal dunia, sedang dia tidak mempunyai ahli waris sama sekali, maka harta warisan bisa dimiliki oleh orang lain, yaitu orang yang
“diakui senasab”, orang yang mendapatkan harta warisan berdasarkan wasiat lebih dari sepertiga dan baitul mal. Ibid, 427 dan 436.
melalui pola faraidh islah dan islah, keduanya merupakan praktik penyelesaian warisan yang dinilai cukup unik.49
Termasuk di dalamnya harta peninggalan yang tidak dibagi karena suatu alasan, objek warisannya (hanya) berupa lahan pertanian yang tidak terlalu banyak, sehingga kalau dibagi-bagi, ahli waris tidak lagi memiliki usaha/mata pencaharian. Padahal, selama ini keluarga mereka hidup berdasarkan pendapatan dari hasil pengelolaan lahan pertanian tersebut.
Hubungannya dengan yang terakhir ini, Kompilasi Hukum Islam (KHI) melalui pasal 189 ayat (1 dan 2) menyebutkan bahwa:
1. Bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 hektar, supaya dipertahankan kesatuannya sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan.
2. Bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak dimungkinkan karena di antara para ahli waris yang bersangkutan ada yang memerlukan uang, maka lahan tersebut dapat dimiliki oleh seorang atau lebih ahli waris dengan cara membayar harganya kepada ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing.