• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Buruh Tani

BAB II LANDASAN TEORI

C. Konsep Buruh Tani

5. Kehidupan Beragama

Dalam kehidupan beragama masyarakat Bukit Sari hidup dengan rukun. Mayoritas agama yang dianut adalah agama Islam. Desa Bukit Sari memiliki 1 Masjid dan 1 Mushola, Mushola sebagai tempat belajar mengaji, tempat syukuran dan sebagai tempat musyawarah.84 Sedangkan Masjid digunakan untuk beribadah, mengaji, dan pengajian.

Tabel 1.4

Sarana beribadah masyarakat Desa Bukit Sari Tahun 2017

No. Sarana beribadah Jumlah

1. Masjid 1

2. Mushola 1

3. Gereja 0

Jumlah 2

Sumber data : Buku profil Desa Bukit Sari

Petani di Indonesia pada umumnya juga memelihara hewan ternak dan segala usaha mengolah bahan-bahan yang dihasilkan dalam usaha tersebut.

Dalam mengolah lahan petani biasanya menggunakan buruh untuk membantu pekerjaan. Buruh tani adalah sekelompok manusia yang bekerja dengan memberikan jasa pada pemilik lahan untuk mendapatkan upah yang biasanya diberikan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Upah biasanya diberikan secara harian maupun bulanan tergantung dari hasil kesepakatan yang telah disetujui. Menurut UU 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.85

Aset utama buruh tani adalah tenaganya, jika ia mengalami sakit dan berhenti bekerja maka akan berkurang pendapatannya. Pekerjaan yang dilakukan oleh buruh tani beragam, dari mulai menyiapkan lahan untuk bertanam, mengurus perkembangan tanaman hingga masa panen. Desa Bukit Sari dengan suhu rata-rata adalah 16oC – 20oC dan ketinggian 1100 mdpl membuat udara disekitar sejuk dan sangat cocok ditanami berbagai macam hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan.86

D. Struktur Organisasi Desa

Adapun susunan organisasi pemerintahan Desa Bukit Sari adalah sebagai berikut :

85Tim Redaksi Huta Publisher, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003..., h. 4

86Sumber Data : Buku Profil Desa Bukit Sari

Struktur Organisasi Desa Bukit Sari Kepala Desa

Sutrimo

Ketua BPD Sekertaris Desa

Radiono Diran

Wakil Ketua Sekertaris Supriono Tiarti

Kaur Umum Kaur Pembangunan Kaur Pemerintahan

Tarno Sakat Tarno

Kadus I Kadus II Kadus III Kadus IV Purwadi Martono Sudar Sunar

Sumber Data : Buku profil Desa Bukit Sari

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah menentukan siapa saja yang dijadikan informan untuk diwawancarai di Desa Bukit Sari, selanjutnya peneliti melakukan wawancara pada 32 informan tersebut dengan memberikan pertanyaan kepada buruh tani di Desa Bukit Sari.

Adapun pertanyaan-pertanyaan ini terdiri dari 4 bagian yaitu : pada bagian 1 pertanyaan yang diajukan kepada responden yaitu identitas yang berupa nama dan umur yang dijadikan sebagai data pelengkap. Bagian ke 2 pertanyaan mengenai alasan responden bekerja sebagai buruh tani. Bagian ke 3 pertanyaan yang diajukan mengenai bagaimana kontrak kerja dan pemberian upah yang dilakukan oleh buruh tani. Kemudian pada bagian ke 4 yaitu pertanyaan yang diajukan kepada responden mengenai pemahaman buruh tani mengenai Departemen Tenaga Kerja (Depnaker).

A. Alasan responden memilih bekerja sebagai buruh tani di Desa Bukit Sari, Kec. Kabawetan, Kab. Kepahiang.

Berikut ini merupakan hasil wawancara dari pertanyaan pada bagian 1 dan ke 2 yang membahas tentang identitas dan alasan responden bekerja sebagai buruh tani.

1. Jawaban dari pertanyaan “Berapa lama Bapak/ Ibu bekerja sebagai buruh

?”

Menurut Lia (35 tahun), Titik (43 tahun), Yuli (23 tahun) mereka mengatakan telah bekerja sebagai buruh lebih dari 5 tahun. Lia bekerja

44

sebagai buruh selama 9 tahun, Titik bekerja selama 10 tahun dan Yuli 4 tahun. Sedangkan menurut Jumirah (69 tahun), ia sudah bekerja sebagai buruh selama 40 tahun.87

2. Jawaban dari pertanyaan “Apa alasan Bapak/ Ibu memilih bekerja sebagai buruh ?”

Menurut Agus (20 tahun) dan Miranti (36 tahun) Suprih (35 tahun) Edi Saputra (27 tahun) dkk. Pada saati ini susah untuk mencari pekerjaan hanya dengan berbekal ijazah SD saja. Saudara Agus dan Ibu Miranti pernah mencoba untuk melamar pekerjaan di kabupaten Kepahiang namun ia ditolak bekerja karena ijazah terakhir yang ia lampirkan hanya ijazah SD saja. Menurut keduanya tidak ada tempat bekerja yang mau memperkerjakan seseorang yang tidak mempunyai pengalaman kerja dan pendidikan yang baik. Sedangkan menurut Suprih ia mulai bekerja sebagai buruh sejak ia tidak bersekolah lagi. Awalnya ia hanya sering membantu kedua orang tuanya namun lama kelamaan ia mencoba ikut bekerja menjadi buruh tani dan ia tidak pernah mencoba untuk mencari pkerjaan lain karena latar belakang pendidikan yang ia miliki. Begitupun dengan Edi Saputra, ia tidak tahu pekerjaan apa yang akan ia acari dengan ijazah SMP miliknya.88

Dari 32 informan yang telah diwawancarai semuanya menjawab alasan mereka bekerja sebagai buruh karena pendidikan. pendidikan yang

87Wawancara: Lia, Titik, Yuli dan Jumirah, pada tanggal 20 Juni 2017

88Wawancara: Agus, Miranti, Suprih dan Edi S pada tanggal 21 Juni 2017

mereka tempuh hanya SD atau SMP saja dan mereka tidak mempunyai keahlian untuk menekuni pekerjaan lain. Mereka lebih memilih untuk bekerja sebagai buruh tani yang tidak perlu menggunakan ijazah sekolah.

3. Pertanyaan selanjutnya “Apakah Bapak/ Ibu mempunyai pekerjaan sampingan selain menjadi buruh ?”

1. Menurut Supriyati (27 tahun), Rohyah (67 tahun), Meswan (49 tahun) dkk. Bahwa pekerjaan yang mereka lakukan saat tidak bekerja sebagai buruh atau pekerjaan sampingan adalah mengurus lahan mereka sendiri. Mereka memiliki beberapa luas tanah yang ditanami sayur mayur untuk menambah pendapatan. Seperti Supriyati yang lahannya ia tanami kol dan wortel, apabila ia sedang tidak disibukkan mengurus tanaman miliknya sendiri biasanya ia bekerja sebagai buruh harian.

Menurutnya para pemilik lahan meminta mereka untuk membantu panen maupun kegiatan yang lainnya.

2. Menurut Rumpon (70 tahun) mengatakan bahwa selain bekerja sebagai buruh ia menjual sayuran dipasar yang letaknya di kabupaten Kepahiang.

“Selain kerja jadi buruh saya jual sayuran dipasar. Sering ikut kerja jadi buruh kalau yang punya lahan lagi panen, biasanya kan yang punya lahan kesusahan karena banyaknya yang dipanen jadi saya sering ikut kadang juga kerja yang lain. Kadang kalau yang punya lahan lagi butuh disuruh kerja langsung datang kerumah diajakin kerja besoknya. Ikut kerja juga buruh harian saja tidak pernah ikut kerja sampai seminggu.Kalau jualan tidak setiap hari, udah tua jadi sering kecapekan sering sakit kalau kerja terus.

Saya juga punya asam urat sering sekali kambuh jadi sekarang tidak sering bekerja. Kalau jualan dipasar berangkatnya jam 05.00 WIB sudah shalat subuh terus pulangnya kadang siang jam 12.00

WIB, sudah pulang dari pasar biasanya ngasuh cucu yang masih kecil dirumah.”89

3. Sedangkan Linawati (25 tahun), Casmonah (36 tahun), Tri Purno (22 tahun) dkk mengatakan bahwa mereka tidak hanya beristirahat saja ketika tidak bekerja sebagai buruh.90

Sebanyak 23 informan menjawab ketika mereka tidak bekerja sebagai buruh mereka mengolah lahan mereka sendiri. Dan 8 orang lainnya menjawab mereka hanya beristirahat saja saat sedang tidak bekerja atau sedang mengerjakan kegiatan lain. Dan 1 responden mejawab mereka berjualan sayur mayur di pasar.

4. Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah Bapak/ Ibu tidak mempunyai lahan sendiri untuk bercocok tanam ?”

Sebanyak 32 responden memiliki lahan sendiri untuk bercocok tanam, mereka memiliki beragam luas lahan yang mereka gunakan untuk bercocok tanam. Seperti beberapa informan yang memiliki lahan seluas 1 ha yang setengahnya ditanami kopi dan setengahnya ditanami sayur mayur, dan ada yang seluruh lahannya ditanami kopi atau sayur mayur.

1. Menurut Sartini (33 tahun), Siswanto (50 tahun), Basir (59 tahun), didik (45 tahun) dkk mengatakan bahwa mereka memiliki lahan yang bervariasi. Mulai dari 1 ha hingga 1,5 ha yang ditananmi beberapa sayuran. Seperti Sartini yang memiliki lahan seluas 1 ha yang ia tanami buah kopi, ketika sedang menunggu kopi panen ia bekerja sebagai buruh. Menurutnya tanaman kopi tidak membutuhkan perawatan yang

89Rumpon, wawancara pada tanggal 21 Juni 2017

90Wawancara: Linawati, Casmonah, Tri Purno, dkk pada tanggal 20 juni 2017

rumit dan lama sehingga ia meiliki waktu luang yang banyak ketika waktu panen belum tiba. Begitupun dengan Siswanto memiliki lahan seluas 1,2 ha yang ia tanami sayuran. Menurut mereka jasa buruh tani yang sangat banyak dibutuhkan adalah ketika masa panen kopi tiba karena pemilik lahan kebun kopi yang luas akan kesusahan untuk memanennya sehingga mereka membutuhkan beberapa orang untuk membantu.91

B. Penetapan dan pelaksanaan pemberian upah buruh tani di Desa Bukit Sari, Kec. Kabawetan, Kab. Kepahiang.

Berikut ini adalah hasil wawancara pada buruh tani di Desa Bukit Sari dari pertanyaan bagian 3 yang membahas tentang kontrak kerja dan pelaksanaan pemberian upah buruh tani.

1. Jawaban dari pertanyaan “Apakah kontrak kerja dibuat oleh pemilik lahan saja atau dibuat oleh Bapak / Ibu dan pemilik lahan ?”

1. Menurut Yuli (23 tahun), Wanti (36 tahun), Bambang (44 tahun), dkk mengatakan bahwa kontrak kerja dibuat oleh pemilik lahan, sedangkan buruh tani hanya mengikuti saja kontrak yang telah dibuat. Namun buruh tani diperbolehkan untuk memberi ide atau masukan mengenai kontrak kerja tersebut hingga saling sepakat. Buruh harian yang dilakukan dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Bekal yang mereka bawa pada hari itu tergantung dengan kebijakan yang dibuat oleh pemilik lahan, terkadang mereka membawa sendiri

91Wawancara: Sartini, Siswanto, Basir, Didik, dkk pada tanggal 21 Juli 2017

bekal mereka namun ada juga yang seudah disediakan oleh pemilik lahan. Besaran upah dan pemberiannya juga telah dijelaskan pada kontrak awal.92

2. Sedangkan menurut jayak (45 tahun), Sony (21 tahun), Rudi (23 tahun) dkk, mengatakan bahwa mereka tidak bertanya kembali masalah kontrak kerja ketika pemilik lahan meminta untuk bekerja. Apabila yang meminta mereka bekerja sudah kenal mereka jarang sekali menanyakan mengenai kontraknya karena kontrak tersebut isinya sama saja dan mereka saling mengetahui, keduanya pun sudah saling sepakat untuk melakukan pekerjaan tersebut.93

Dari hasil wawancara terhadap informan diketahui bahwa 24 informan telah memahami kontrak kerja yang dilakukan kedua belah pihak. Mereka sebelumnya menanyakan apa saja yang belum mereka pahami saat bekerja dan menanyakannya langsung kepada pemilik lahan mengenai kontrak kerja yang telah dibuat. Pemilik lahan juga memperbolehkan buruh tani memberikan usulan yang mereka inginkan dalam kontrak kerja. Sedangkan 8 informan lainnya pada saat kontrak kerja dibuat mereka tidak melaksanakan apa yang disampaikan oleh pemilik lahan, mereka cenderung mengabaikan bagaimana pentingnya kontrak kerja yang mereka buat. Kontrak yang dibuat oleh pemilik lahan dan buruh tani secara umum telah memenuhi syarat perjanjian atau kontrak kerja dan keduanya pun sudah saling setuju. Kontrak tersebut

92Wawancara: Yuli, Wanti, Bambang, dkk pada tanggal 15 Juli 2017

93Wawancara: Jayak, Sony, Rudi, dkk pada tanggal 5 juli 2017

telah berisikan perjanjian antara kedua belah pihak yang didalamnya terdapat kejelasan pekerjaan yang diberikan oleh pemilik lahan dan upah / imbalan yang diberikan kepada buruh tani.

2. Jawaban dari pertanyaan “Bagaimana sistem kontrak kerja yang Bapak/

Ibu lakukan pada saat bekerja apakah dilaksanakan setiap hari atau setiap minggu ?”

Menurut Endang Adi (22 tahun), Purwadi (43 tahun), Samiyem (71 tahun), Linawati (25 tahun) dkk, bahwa kontrak kerja yang sering mereka lakukan adalah buruh harian. Lamanya waktu bekerja tergantung keinginan pemilik lahan berapa lama mereka akan menggunakan jasa buruh tani dan kesediaan buruh tani itu sendiri.94

32 informan menjawab mereka sering bekerja sebagai buruh harian dan ada beberapa yang melakukan kerja selama beberapa hari. Menurut mereka bekerja sebagai buruh harian dapat dikerjakan disela-sela mengurus tanaman mereka sendiri. Masa kerja yang diberlakukan dalam kontrak kerja buruh tani di Desa Bukit Sari disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan pemilik lahan dalam menyewa jasa para buruh tani. Yaitu dengan transaksi ijarah yang menyebutkan masa kerjanya tanpa harus menyebutkan takaran kerjanya, misalnya adalah pemilik lahan menyebutkan masa kerja atau menyebutkan berapa hari buruh tani harus bekerja tanpa harus buruh tani tersebut menyelesaikan pekerjaanya.

Kemudian yang kedua yaitu transaksi ijarah yang hanya menyebutkan

94Wawancara: Endang Adi, Purwadi, Samiyem, Linawati, dkk pada tanggal 7 Juli 2017

takaran kerja pekerjaan yang dikontrak saja tanpa harus menyebutkan masa kontrak /kerjanya, misalnya adalah pemilik lahan meminta buruh tani untuk bekerja menyelesaikan pekerjaan menanam sayuran hingga selesai dan tidak menyebutkan berapa lama ia harus bekerja. Artinya buruh tani harus menyelesaikan pekerjaan tersebut tanpa terpaut waktu atau berapa lama mereka menyelesaikannya.

3. Pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimanakah pelaksanaan pemberian upah kepada buruh tani ?”

1. Menurut Purwadi (43 tahun), Supriyati (27 tahun), Agus (20 tahun), Rohyah (67 tahun), titik (34 tahun), dkk mengatakan bahwa upah diberikan sesuai dengan kontrak kerja, apabila pemilik lahan mengatakan pemberian upha diberikan setelah bekerja maka upah akan mereka terima ketika telah menyelesaikan pekerjaan mereka.95

2. Endang Adi (22 tahun), Sudar (45 tahun), Lia (35 tahun), dkk mengatakan pemberian upah tidak selalu diberikan setelah selesai bekerja, kadang pemberian upah tersebut ditunda beberapa hari meskipun pada kontrak awal telah disepakati bahwa pemberian upah diberikan ketika telah selesai bekerja.96

Dari hasil wawancara seluruh informan tidak selalu mendapatkan upah yang tepat waktu pembayarannya. 27 informan mendapatkan upah yang sesuai dengan kontrak awal dan 5 informan tidak mendapatkan upah

95Wawancara: Purwadi, Supriyati,Agus, Rohyah, Titik, dkk wawancara pada tanggal 20 Juni 2017

96Wawancara : Endang Adi (22 tahun), Sudar (45 tahun), Lia (35 tahun), dkk pada tanggal 21 Juni 2017

sesuai dengan kontrak awal. Pelaksanaan pemberian upah keapada buruh tani yang ada di Desa Bukit sari dilakukan sesuai dengan kontrak kerja yang mereka buat. Informan mengatakan bahwa beberapa kali mereka mendapatkan upah yang yang ditunda hingga berhari-hari. Istilah upah digunakan untuk mereka yang memberikan tenaga. Contohnya seperti buruh tani yang memberikan tenaga mereka dalam menyelesaikan pekerjaan kemudian pemilik lahan memberikan imbalan atau upah atas tenaga yang mereka keluarkan. Upah diberikan satu kali dalam seminggu atau diberikan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

4. Pertanyaan selanjutnya “Bagaimana jika Bapak/ Ibu tidak bisa datang saat hari bekerja ?

Menurut Bambang (44 tahun), Tarsiah (34 tahun), Sriwanto (57 tahun), dkk, apabila mereka tidak bisa datang saat bekerja mereka akan kehilangan upah pada hari tersebut.97

“Kalau pas kerja tidak bisa datang biasanya saya ganti hari pas tidak bisa bekerja, kalau kerjaan disitu masih ada saya datang lagi. Kalau tidak ada lagi kerjaannya ya dipotong gaji hari itu. Saya kalau tidak bisa datang bekerja jauh-jauh hari bilang sama yang punya lahan atau cari pengganti buat kerja gantikan saya, dan itu saya cari sendiri. Saya sering minta sepupu saya gantikan kerja kalau saya berhalangan datang. Tidak enak kalau tidak bisa datang pas kerja karena awalnya kan udah bilang bisa untuk kerja hari itu nanti kalau sering seperti itu yang punya lahan tidak mau lagi mengajak bekerja. Saya cuma pengen orang-orang betah pakai tenaga saya buat bantu mereka kerja.”98

97Wawancara: Bambang, Tarsiah, Sriwanto, dkk, pada tanggal 5 Juli 2017

98Miranti, wawancara pada tanggal 21 Juni 2017

32 informan mengatakan bahwa jika tidak bisa datang atau berhalangan datang saat kerja maka dipotong upah, dan apabila buruh harian maka mereka tidak mendapatakan pendapatan hari itu.

5. Pertanyaan selanjutnya adalah “Berapa upah yang Bapak/Ibu terima ketika bekerja menjadi buruh ?”

1. Menurut Didik (45 tahun), Samiyem (71 tahun), Basir (59 tahun), Rudi (23 tahun), Yati (35 tahun), dkk, mengatakan bahwa upah harian yang diberikan yaitu sebesar Rp50.000,-99

2. Menurut Ibu Jumirah (69 tahun) :

“Upah yang dikasih itu sebesar Rp.50.000,- mbak, pekerjaan apa aja pas dikebun upahnya emang segitu. Bisa dibilang kalau di Desa sini itu upah yang sering dipakai untuk buruh, di Desa lain juga sama saja kok. Upah itu udah bersih karena kita kan kalau kerja bawa sendiri bekal makanannya jadi yang punya lahan tidak repot mengeluarkan uang lagi untuk makan buruh, paling mereka memberi makanan ringan aja. Kalau yang laki-laki kan sering kerja yang berat seperti mencangkul, biasanya mereka juga dapat tambahan rokok diluar upah mereka.”100

32 informan menjawab bahwa upah yang diterima yaitu sebesar Rp.50.000. Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang harus dijalankan oleh kaum Muslimin, yakni penentuan upah bagi pegawai/pekerja sebelum mereka memulai pekerjaannya. Umat Islam diberikan kebebasan untuk menentukan waktu pembayaran upah sesuai dengan kesepakatan antara pekerja dengan yang memperkerjakan.

Demikian juga upah yang dibayarkan kepada para pekerja boleh dibayarkan berupa uang, barang, atau binatang (ternak). Jadi pemilik lahan

99Wawancara: Didik, Samiyem, Basir, Rudi, Yati, dkk, wawancara pada tanggal 21 juni 2017

100Jumirah, wawancara pada tanggal 20 Juni 2017

di Desa Bukit Sari telah menjalankan aturan yang telah ditetapkan dalam Islam dalam memberikan upah yang boleh diberikan berupa uang ataupun barang yang lain.

6. Pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana jika pemilik lahan belum memberikan upah ketika Bapak/ Ibu telah menyelesaikan pekerjaan ?”

1. Menurut Samiyem (71 tahun), Sudar (45 tahun), Sony (21 tahun), Linawati (25 tahun) dkk, mengatakan bahwa apabila upah tersebut belum diberikan mereka akan meminta langsung kepada pemilik lahan.

Sony mengatakan bahwa ia mendatangi rumah pemilik lahan ketika upah atas pekerjaan yang ia lakukan belum diberikan. Ketika ia sedang membutuhkan uang tersebut ia akan segera meminta tanpa menunggu.

Hal lain yang dikhawatirkan adalah lupa, seperti yang diutarakan oleh Linawati bahwa ia takut pemilik lahan akan lupa memberikan upah tersebut apabila ia tidak meminta atau mengingatkan.101

2. Menurut Rohyah (67 tahun) :

“Saya minta langsung kalau belum dikasih. Kalau ketemu dijalan saya bilang aja atau ngobrol masalah kerjaan kemaren biar yang punya lahan inget uang kerjanya belum dikasih. Kadang suka merasa sungkan sama yang punya lahan apalagi kalau orang yang kenal dan dekat, suka tidak enak minta uang gitu. Takut yang punya lahan sedang tidak ada uang kan kasihan juga, kadang ya ditungguin ajalah uangnya nanti juga dianter sama yang punya lahan. Kalau lagi tidak ada keperluan saya tidak masalah mengunngu.”102

7. Pertanyaan selanjutnya, ”Apakah Bapak/ Ibu tidak keberatan jika pemberian upah ditunda ?”

101Wawancara: Samiyem, Sudar, Sony, Linawati, dkk, pada tanggal 21 Juni 2017

102Rohyah, wawancara pada tanggal 20 Juni 2017

Menurut Titik (34 tahun), Sriwanto (57 tahun), Suprih (35 tahun), Endag Adi (22 tahun), Lia (35 tahun), Cashmona (36 tahun), Rumpon (70 tahun), dkk, bahwa mereka keberatan apabila upah dari hasil mereka bekerja tak kunjung diberikan. Menurut responden upah tersebut adalah hak milik mereka yang harusnya segera diberikan kepada yang bersangkutan, karena tujuan utama mereka bekerja adalah mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apabila tak kunjung mendapatkan upah maka pemenuhan kebutuhan mereka tidak bisa berjalan dengan lancar.103

8. Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah upah yang Bapak/ Ibu terima dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari ?”

1. Menurut Jumirah (69 tahun), Rumpon (70 tahun), Endang Adi (22 tahun), Wanti (45 tahun), dkk, bahwa pendapatan yang mereka dapatkan dari bekerja menjadi buruh tani bukan pendapatan pokok.

Dari hasil wawancara informan memiliki pendapatan pokok dari hasil berkebun dilahan mereka sendiri sedangkan pendapatn dari bekerja sebagai buruh mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli perlengakapan dapur dan untuk kebutuhan anak seperti uang saku sekolah.104

2. Menurut Bapak Bambang (44 tahun) :

“Kalau cuma pendapatan dari kerja jadi buruh aja tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kita. Saya kan punya pekerjaan utama ngurusin lahan saya sendiri dari hasil itulah ditambah sama pendapatan yang kerja jadi buruh sedikit-dikit dikumpulin dan dicukup-cukupin untuk sehari-hari. Kadang uang

103Wawancara: Titik, Sriwanto, Suprih, Endag Adi, Lia, Cashmona, Rumpon, dkk, pada tanggal 7 Juli 2017

104Wawancara: Jumirah, Rumpon, Endang Adi, Wanti, dkk, pada tanggal 20 Juni 2017

yang dari kerja dari buruh saya belikan bibit tanaman, pestisida atau pupuk untuk dilahan sendiri.”105

Pendapatan mereka dari bekerja sebagai buruh digunakan sebagai tambahan dari pendapatan pokok mereka. Menurut informan upah yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan sampingan atau kebutuhan premier seperti kebutuhan dapur dan uang saku anak. Mereka menggunakan pendapatan dari seumber lain untuk memenuhi kebutuhan pokok yaitu dari hasil lahan yang diolah oleh mereka.

C. Pemahaman para buruh tani mengenai aturan-aturan Departemen Tenaga Kerja.

1. Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah Bapak/ Ibu pernah membaca buku-buku atau aturan-aturan di Departemen Tenaga Kerja Indonesia ?”

1. Menurut Jayak (45 tahun), Basir ( 59 tahun), Miranti (36 tahun), Tarsiah (34 tahun), Kentur (50 tahun), dkk, menjawab bahwa mereka tidak pernah atau belum pernah membaca buku-buku ataupun aturan- aturan yang ada di Departemen Tenaga Kerja Indonesia. Seluruh informan memiliki latar belakang pendidikan yang kurang sehingga mereka tidak pernah membaca atau mengetahui hal-hal mengenai Departemen Tenaga Kerja Indonesia.106

2. Menurut Tri Purno (22 tahun) :

“Tidak pernah. Saya tidak pernah membaca buku tentang itu, saya cuma tamatan sekolah SMP aja mbak jadi wawasannya kurang dan tidak pernah membaca tentang Deparemen Tenaga Kerja. Setelah berhenti sekolah ya berhenti juga ilmunya.”107

105Bambang, wawancara pada tanggal 5 Juli 2017

106Wawancara: Jayak, Basir, Miranti, Tarsiah, Kentur, dkk, pada tanggal 21 Juni 2017

107Tri Purno, wawancara pada tanggal 5 Juli 2017

Dokumen terkait