BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori dan Konsep
5. Konsep Dana Desa
28 teknologi informasi dengan tujuan utama untuk memperbaiki hubungan interaksi masyarakat dengan masyarakat (rakyat). Dengan kata lain, tujuan utama dari dibangunnya aplikasi E- government bertipe G-to-C adalah untuk mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya melalui kanal- kanal akses yang beragam agar masyarakat dapat dengan mudahmenjangkau pemerintahnya untuk pemenuhan berbagai kebutuhan pelayanan sehari-hari.
Selanjutnya tipe yang kedua adalah Government to Bussiness (G2B) merupakan salah satu tugas utama dari sebuah pemerintahan adalah membentuk sebuah lingkungan bisnis yang kondusif agar roda perekonomian sebuah negara dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Tipe yang ketiga yaitu Government to Governments (G-to- G).
Dimaksudkan bahwa
di era globalisasi ini terlihat jelas adanya kebutuhan bagi negara-negara untuk saling berkomunikasi secara lebih intens dari hari ke hari
Pada akhirnya aplikasi E-government juga diperuntukkan untuk meningkatkan kinerjadan kesejahteraan para pegawai negeri atau karyawan pemerintahan yang bekerja di sejumlah institusi sebagai pelayan masyarakat..
29 yang saat ini dikenal sebagai Dana Desa (DD). Dana desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilaksanakan sebagai amanat Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Filosofi dana desa adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan sebagai komitmen pemerintah untuk memperkuat otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, sehingga pembangunan dapat merata sampai tingkat desa.
Dana desa merupakan salah satu upaya untuk mempercepat laju pembangunan desa, sehingga proses pengelolaannya murni dikelola oleh desa sesuai kebutuhan masyarakat. Ada tiga prinsip utama yang mendasari pengelolaan keuangan daerah Mardiasmo, 2002 dalam (Ngakil & Kaukab, 2020)
Saat ini, penerimaan dana pembangunan desa berasal dari berbagai macam sumber, dana yang bersumber dari APBN dinamakan dana desa (DD), sementara itu ada juga kewajiban 10% dari dana alokasi umum (DAU) ditambah dana bagi hasil (DBH) dinamakan alokasi dana desa (ADD). Selain itu, desa juga punya kapasitas untuk menghasilkan uang dan masuk sebagai Penerimaan Asli Desa. Karena ide dana desa ini adalah pemerataan dan keadilan, maka perhitungannya juga merefleksikan kedua hal itu. Alokasi formula ini memperhitungkan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan kesulitan geografis per desa. Selain itu, ada juga yang namanya
30 alokasi afirmasi. Ini adalah tambahan uang ke desa yang dianggap tertinggal dan sangat tertinggal.
Tahun 2019, Dana Desa disalurkan ke Pemda 3 kali, bulan Januari sebesar 20%, Maret 40%, dan Juli sebesar 40%, setelah masuk di Pemda, maka akan diteruskan ke desa maksimal 7 hari kerja. Melihat kondisi yang demikian, maka komposisi penerimaan desa baik yang bersumber dari DD maupun ADD berbeda satu sama lain, karena itulah dikenal desa dengan APBDes besar dan desa dengan APBDes kecil. Semua alokasi tersebut tetap disesuaikan dengan karakteristik desa sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan desa (APBDes) perlu menerapkan prinsip good government sebagai landasan bagi penyusunan dan penerapan kebijakan yang baik. Government adalah suatu proses tentang pengurusan, pengelolaan, pengarahan, pembinaan, penyelenggaraan, dan juga bisa diartikan sebagai pemerintahan. Apabila dalam proses kepemerintahan, unsur-unsur tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, itu merupakan istilah kepemerintahan yang baik (good government). Dalam hal ini good government adalah kepemerintahan yang membangun dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektifitas, supremasi hukum, dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat (Anggara, 2012 dalam (Ngakil & Kaukab, 2020)
31 Dana Desa diperuntukkan bagi pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam pasal 4 (Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi No 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2016, 2015), ditegaskan Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Pembangunan Desa, meliputi:
a) Pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan infrastruktur atau sarana dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan pembangunan,
b) Pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sosial dan kebudayaan,
c) Pengembangan usaha ekonomi masyarakat, meliputi pembangunan dan pemeliharaan sarana prasarana produksi dan distribusi, dan atau
d) Pembangunan dan pengembangan sarana-prasarana energi terbarukan serta kegiatan pelestarian lingkungan hidup.
Sasaran penggunaan Dana Desa adalah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat desa, terutama dalam segi ekonomi, sosial, budaya dan politik.
Partisipasi masyarakat merupakan salahsatu aspek utama dari penggunaan dana desa. Penggunaan dana desa dirumuskan dalam musyawarah desa, serta alokasi
32 anggaran dimasukkan dalam APBDesa. Jika masyarakat menginginkan penggunaan di luar ketentuan tersebut, dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Bupati (Peraturan Menteri Keuangan No 93/PMK.07/2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa, 2015).
Meskipun dianggap potensi, namun dana desa juga menyimpan beberapa masalah. Implementasi dana desa mengalami berbagai kendala baik dalam penyaluran, kelembagaan, tata laksana dan sasaran penggunaannya, serta kesiapan pelaksana di desa.
Dana desa merupakan dana realokasi anggaran pusat berbasis desa yang diberikan 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah secara bertahap. Dana desa memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
Desa memerlukan alokasi anggaran dari pemerintah untuk menjalankan fungsi- fungsi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Selain itu, dana desa diperlukan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal-usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa sebagaimana diamanatkan dalam UU Desa (Azlina, Hasan, Desmiyawat, &
Muda, 2017).
Tata kelola pemerintahan desa termasuk didalamnya pengelolaan dana desa berada dibawah naungan Kementrian Desa. Dimana kualitas laporan keuangan desa juga merupakan indikator untuk penilaian kinerja pemerintah
33 desa khususnya serta kementrian desa pada umumnya Danuta, 2017 dalam (Puspasari & Purnama, 2018)
Pengelolaan Dana Desa itu sendiri merupakan suatu realitas sosial dimana terdapat interaksi sosial antara berbagai pihak yang berkepentingan seperti pemerintah pusat dan kabupaten, perangkat desa, dan juga masyarakat. Dalam konteks pemerintahan desa di Indonesia, konsep good government digunakan sebagai kerangka institusional untuk memperkuat otonomi desa. (Rustiarini, 2016)