D. Kerangka Teori
3. Konsep Keadilan dalam Poligami
a. Keadilan dalam Al-Qur’an dan Penafsirannya
Al-Qur’an, setidaknya menggunakan tiga term untuk menyebut keadilan, yaitu al-adl, al-qist, dan al-mizan. Al-adl berarti sama, memberi kesan adanya dua pihak atau lebih, karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi pesamaan. Al-qist berarti bagian (yang wajar dan patut), ini tidak harus mengantarkan adanya persamaan. Al-qist lebih umum dari al-adl. Oleh karena itu, ketika Al-Qur’an menuntut seseorang berlaku adil terhadap dirinya. Al-mizan berasal dari akar kata wazn (timbangan). Al- mizan berarti keadilan. Al-qur’an menegaskan alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan.42
Adapun firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbicara mengenai keadialan, salah satunya, sebagai berikut:
ۡ انِإ۞
َۡاللّٱ
ْۡاوُّد َؤُتۡنَأۡ مُك ُرُم أَي ۡ
ِۡت ََٰن ََٰمَ لۡٱ
َۡلِإ ۡ
ۡ َٰٓى
َۡوۡاَهِل ه َۡأ
ۡ يَبۡمُت مَكَحۡاَذِإ
ۡ ِساانلٱ ۡ َن
ۡ
ِۡبْۡاوُمُك حَتۡنَأ
ِۡۡۚل دَع لٱ
ۡ انِإ ۡ
َۡاللّٱ
ِۡعَيۡاامِعِن ۡ
ُۡكُظ
ِۡبۡم
ِۡهۡ ٓۦ
ۡانِإ ۡ
َۡاللّٱ ۡ يِمَسۡ َناَك ۡ
ۡا ٗري ِصَبۡا ََۢع
٥٨
ۡ
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.
Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu.
Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’
(4): 58).43
Kata adil dengan arti sama (persamaan) pada ayat-ayat tersebut yang dimaksud adalah persamaan di dalam hak. Di dalam
42 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003), 120-134.
43 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah., 87.
surat. An-Nisa’ ayat 58, misalnya ditegaskan, “Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” Kata adil di dalam ayat ini diartikan sama, yang mencakup sikap dan perlakuan hakim pada saat proses pengambilan keputusan, yakni menuntun hakim untuk menetapkan pihak-pihak yang bersengketa di dalam posisi yang sama, misalnya tempat duduk, penyebutan nama (dengan atau tanpa embel-embel penghormatan), keceriaan wajah, kesungguhan mendengarkan, memikirkan ucapan mereka, dan sebagainya, yang termasuk di dalam proses pengambilan keputusan. Menurut Al-Baidhawi, bahwa kata adil bermakna berada di pertengahan dan mempersamakan. Pendapat seperti ini dikemukakan pula oleh Rasyid Ridha, bahwa keadilan yang diperintahkan di sini dikenal oleh pakar bahasa Arab dan bukan berarti menetapkan hukum (memutuskan perkara) berdasarkan apa yang telah pasti di dalam agama. Sejalan dengan pendapat ini, Sayyid Qutub menyatakan, bahwa dasar persamaan itu adalah sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Ini berimplikasi bahwa manusia mempunyai hak yang sama oleh karena mereka sama-sama manusia. Dengan begitu, keadilan adalah hak setiap manusia dengan sebab sifatnya sebagai manusia dan sifat ini menjadi dasar keadilan di dalam ajaran-ajaran Ketuhanan.44
44 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an., 114.
Keadilan merupakan ajaran sentral dalam ajaran agama Islam dan bersifat universal. Sifat universal itu dapat dilihat dari keberadaan manusia di manapun dan kapanpun yang selalu mendampakan hadirnya keadilan. Dalam diri manusia, terdapat potensi ruhaniah yang membisikan perasaan keadilan sebagai sesuatu yang benar dan harus ditegakkan. Penyimpangan terhadap keadilan menodai esensi kemanusiaan. Karena itu, ajaran agama Islam yang bermisi utama rahamatan lil ‘alamin, pembawa rahmat bagi seluruh alam, menempatkan keadilan sebagai sesuatu yang asasi.45
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dipahami, bahwa Allah SWT. memerintahkan umat manusia untuk senantiasa menegakkan keadilan, baik dalam urusan umum maupun kehidupan keluarga. Adapun keadilan terhadap perempuan menempati jawaban bagi perlakuan tidak adil terhadap perempuan yang terjadi pada zaman Jahiliyah. Dengan demikian, Al-Qur’an memerintahkan agar keadilan menjadi dasar hubungan antara laki- laki dan perempuan di wilayah publik maupun di wilayah domestik.
b. Kedudukan Keadilan dalam Poligami
Artistoteles dalam pandangannya, menyatakan, bahwa keadilan mesti dipahami dalam pengertian kesamaan. Namun, ia
45 Noordjanah Djohantini, Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan, (Jakarta: Komnas Perempuan, 2009), 28.
membuat perbedaan penting antara kesamaan numerik mempersamakan setiap manusia sebagai satu unit. Inilah yang saat ini biasa dipahami tentang kesamaan yang dimaksudkan ketika mengatakan bahwa semua warga adalah sama di depan hukum.
Kesamaan proporsional memberi setiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuannya, prestasinya, dan sebagainya. Dari pembedaan in, ia menghadirkan banyak kontroversi dan perbedaan seputar keadilan.46
Lebih jauh, Aristoteles membedakan keadilan menjadi jenis keadilan distributif dan keadilan korektif. Yang pertama berlaku dalam hukum publik, yakni dalam hukum perdata dan hukum pidana. Keadilan distributif dan keadilan korektif sama-sama rentan terhadap persoalan kesamaan atau kesetaraan dan hanya bisa dipahami dalam kerangkanya. Dalam wilayah keadilan distributif, hal yang paling penting adalah bahwa imbalan yang sama-sama rata diberikan atas pencapaian yang sama rata. Pada yang kedua, yang menjadi persoalan adalah bahwa ketidaksetaraan yang disebabkan oleh, misalnya, pelanggaran kesepakatan.47
Membahas mengenai keadilan, Imam Hanafi menjelaskan, bahwa seseorang yang berpoligami harus berlaku adil terhadap istri-istrinya. Keharusan tersebut berdasarkan surat An-Nisa’ ayat 3 dan Hadits dari Aisyah r.a yang menceritakan tentang perlakuan
46 Carl Joahim Friedrich, Filsafat Hukum, (Bandung: Nusa Media, 2010), 25.
47 Carl Joahim Friedrich, Filsafat Hukum., 26.
yang adil dari Nabi Muhammad SAW kepada istri-istrinya.
Kemudian, ketika membahas mengenai hak dan kewajiban suami- istri, Ulama Hanafiyah juga mengatakan, bahwa suami yang berpoligami wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya.48
Imam Syafi’i juga mensyaratkan bahwa keadilan di antara para istri dan menurutnya keadilan itu hanya menyangkut urusan fisik, semisal mengunjungi istri di malam atau di siang hari.
Tuntutan Al-Qur’an terhadap sifat adil tersebut juga disebutkan dalam surat Ar-Rum ayat 30 dan surat Yunus ayat 69. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, seorang suami yang mempunyai istri lebih dari seorang, wajib membagi malam secara adil (satu-satu atau dua-dua atau tiga-tiga malam) seorang suami tidak boleh masuk kamar istri yang bukan gilirannya, kecuali kalau ada kepentingan. Kalau ada kepentingan boleh masuk dengan syarat tidak boleh bermesraan.
Bahkan, kalau ada di antara istri yang sedang sakit tetapi tidak pada saat gilirannya, maka suami boleh menjenguknya hanya pada siang hari kecuali kalau meninggal, maka boleh mengunjunginya di malam hari. Dengan catatan, sisa malamnya tetap menjadi milik istri yang mendapat gilirannya. Namun demikian, kalau terjadi pelanggaran, maka suami tidak dijatuhi hukuman kafarat. Giliran seorang istri yang sehat dan sakit adalah sama (kecuali sakit gila).
Maksud giliran malam bukan berarti harus berhubungan badan,
48 Yufi Wiyos Rini Masykuroh, “Poligami dan Keadilan,” Asas, Vol. 3, No.2, (Juli, 2011): 14.
bisa jadi hanya bercumbu. Karena itu, istri yang sedang haid tidak menjadi halangan untuk mendapat giliran malam. Begitulah contoh suami memberikan sandang dan pangan yang adil kepada istri- istrinya.49
Imam Malik mengatakan, bahwa orang yang melakukan poligami hanya diperbolehkan sebanyak empat istri dan ini berlaku bagi suami yang merdeka. Begitupun dengan Imam Ahmad menyebutkan batas maksimal seorang laki-laki berpoligami hanyalah empat istri dan harus diikuti dengan sikap adil, seperti pembagian giliran terhadap istri-istri sehingga tidak diperbolehkan condong pada salah satu istri saja. Dengan mengutip pada surat An-Nisa ayat 129, Imam Ahmad mengatakan, bahwa keadilan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah keadilan dalam hati, sehingga dalam ayat itu, Allah SWT menyatakan kemistahilannya kepada manusia untuk membagi hatinya secara adil.50
Berlaku tidak terlalu condong kepada salah satu di antara istri-istri yang tidak mengakibatkan terabaikannya yang lain, berarti sudah termasuk kelompok yang berbuat adil, sebagai syarat yang dikehendaki oleh Al-Qur’an untuk berpoligami. Dari uraian tersebut di atas, terdapat beberapa hal yang perlu dicatat,pertama, dari Empat Imam Mazhab tersebut, hanya Imam Syafi’i yang
49 Yufi Wiyos Rini Masykuroh, “Poligami dan Keadilan.,” 14.
50 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam menurut Mazhan Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanbali, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996), 74.
menghubungkan surat An-Nisa’ ayat 3 dan ayat 129, di mana ayat kedua menurut sebagian Pemikir merupakan jawaban terhadap ayat pertama, meskipun Imam Syafi’i tidak sejalan dengan pandangan tersebut sebagai tambahan bahwa meskipun Imam Syafi’i mengubungkan surat An-Nisa’ ayat 3 dengan ayat 129, bukan dengan sejumlah ayat lain, tetapi tidak tampak dijadikan sebagai satu-kesatuan pembahasan yang utuh dan menyatu. Kedua, dari pembahasan Keempat Imam Mazhab tersebut, tidak satupun yang mencatat sebagai turunnya ayat. Demikian juga, tidak ada di antaranya yang menghubungkan dengan pembahasan ayat sebelumnya, yakni surat An-Nisa’ ayat 1 dan 2. Dengan demikian, Para Imam Mazhab tersebut tampak literalis dan ahistoris.51
Mustafa Al-Siba’i, menyatakan, bahwa keadilan yang diperlukan dalam poligami adalah keadilan materi, seperti yang berkenaan dengan tempat tinggal, pakaian, makanan, minuman, perumahan, dan lain-lain yang bersifat kebutuhan mertial istri. Para Ulama Fiqh cenderung memahami keadilan secara kuantitatif, yang bisa diukur dengan angka-angka. Muhammad Abduh berpandangan lain, keadilan yang disyaratkan Al-Qur’an adalah keadilan yang bersifat kualitatif, seperti kasih sayang, cinta, perhatian, yang semuanya tidak bisa diukur dengan angka-angka.
Muhammad Abduh menambahkan, apabila seorang laki-laki tidak
51 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam menurut Mazhan Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanbali., 15.
mampu memberikan hak-hak istrinya, rusaklah struktur rumah tangga dan terjadilah kekacauan dalam kehidupan rumah tangga tersebut. sejatinya, tiang utama dalam mengatur kehidupan rumah tangga adalah adanya kesatuan dan saling menyayangi antar anggota keluarga.52
Mayoritas Ulama Fiqh menyadari, bahwa keadilan kualitatif adalah sesuatu yang sangat mustahil bisa diwujudkan.
Abdurrahman Al-Jaziri menuliskan, bahwa mempersamakan hak atas kebutuhan seksual dan kasih sayang di antara istri-istri yang dikawini bukanlah kewajiban bagi orang yang berpoligami, karena sebagai manusia, seorang tidak akan mampu berbuat adil dalam membagi kasih sayang dan kasih sayang itu sebenarnya sangat naluriah. Sesuatu yang wajar apabila seorang suami hanya tertarik kepada salah seorang istrinya melebihi yang lain dan hal yang semacam ini merupakan sesuatu yang di luar batas kontrol manusia.53
Dengan demikian, maka dapat dipahami, bahwa konsep keadilan dalam poligami merupakan perintah Allah SWT dan Dia- lah sebagai Penguasa serta Legislator Paling Utama. Itulah sebabnya wahyu dan hikmah Ilahi merupakan sumber primer untuk mengatur kehidupan umat manusia. Makna keadilan sebagai syarat
52 Ali Ahmad Al-Jarjawi, Hikmah Al-Tasyri’ wa Falsafatuhu, (Beirut: Dar Al- Fikr, t.t.), 10-12.
53 Abdurrahman Al-Jaziri, Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Mazahib Al-‘Arba’ah, (Mesir:
Al-Maktabah Al-Tijariyyah, 1969), 239.
poligami bukan pada keadilan makna batin (seperti cinta dan kasih sayang), tetapi keadilan pada hal-hal yang bersifat material dan terukur. Yang dimaksud dengan pembagian seadil-adilnya, ialah dalam hal nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan waktu giliran.