BAB II. KAJIAN PUSTAKA
D. Konsep Media Sosial
Kampanye Negatif merupakan bentuk kampanye yang menyerang calon pemimpin secara pribadi, kemudian dapat menjalar melalui penyerangan suatu program dan visi misi lawan politik.
3. Kampanye Abu-Abu
Kampanye Abu-Abu adalah kampanye yang menjelekkan pihak lawan akan tetapi untuk data dan faktanya masih abu- abu, masih diragukan kebenarannya dan belum dapat di buktikan.
4. Kampanye Hitam
Kampanye Hitam dilakukan melalui pembagian atau penyebaran informasi melalui media cetak yang di dalamnya berisikan informasi negative pihak lawan kepada masyarakat luas. Namun saat ini Kampanye Hitam dilakukan di media sosial.
D. Konsep Media Sosial
virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Menurut Mayfield dari I crossing, media social merupakan media dimana user dapat membuat konten dan aplikasi serta memungkinkan user tersebut untuk berinteraksi dan bertukar wawasan dengan user lain. Ardianto dalam buku Komunikasi 2.0 mengungkapkan, bahwa media sosial online, disebut jejaring sosial online bukan media massa online karena media sosial memiliki kekuatan sosial yang sangat mempengaruhi opini publik yang berkembang di masyarakat.
Penggalangan dukungan atau gerakan massa bisa terbentuk karena kekuatan media online karena apa yang ada di dalam media sosial, terbukti mampu membentuk opini, sikap dan perilaku publik atau masyarakat. Fenomena media sosial ini bisa dilihat dari kasus Prita Mulyasari versus Rumah Sakit Omni International. Inilah alasan mengapa media ini disebut media sosial bukan media massa (Errika Dwi Setya Watie, 2016)
Adapun Media Sosial adalah Facebook merupakan sebuah situs jejaring social yang dipakai manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain dengan jarak jauh. Facebook merupakan salah satu layanan jejaring sosial yng sangat populer di kehidupan masyarakat di dunia saat ini. Jejaring sosial ini mampu membuat orang berkomunikasi dan berinteraksi kepada orang lain walaupn jaraknya jauh. Facebook dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia
khususnya untuk berkomunikasi dengan orang lain lewat dunia yang tidak nyata (maya). Saat ini, perkembangan Facebook digunakan hampir semua orang di muka bumi ini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua pun menggunakan jejaring sosial ini. Selain itu, Facebook dapat digunakan untuk ajang kampanye partai politik untuk promosi.
2. Pengaruh Media Sosial Dalam Dunia Politik
Sebagaimana telah diuraikan bahwa media sosial adalah sebuah media online yang menggunakan teknologi berbasis internet yang mendukung interaksi sosial, sehingga mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif yang timbal balik. Dalam perkembangannya, media sosial menjadi penting sebagai sarana yang efektif dalam proses komunikasi politik, khususnya dalam konteks kampanye pemilu yang dapat menjadi perantara para politisi dengan konstituennya,yaitu antara komunikator dan komunikan secara jarak jauh dan bersifat massif. Oleh karena itu, melalui media sosial, komunikator dapat melakukan komunikasi politik dengan para pendukung atau konstiuennya, yaitu untuk membangun atau membentuk opini publik dan sekaligus memobilisasi dukungan politik secara masif. Pemanfaatan media sosial juga telah meningkatkan jaringan komunikasi politik, relasi politik dan partisipasi politik masyarakat dalam pemilu.
Hal ini sering kita jumpai dalam masa-masa kampanye politik para kandidat calon Kepala Daerah yang sedang maju dalam kompetisi
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), maupun kandidat calon presiden dalam Pilpres, dan dalam pemilihan anggota legislatif (Pileg).
Pengaruh media sosial dalam dunia politik khususnya dalam hal komunikasi politik, terutama dalam kampanye Pemilu (Chavez, 2012;
Riaz, 2010; Stietglitz & Dang-Xuan, 2012). Penting bagi institusi politik untuk berpartisipasi aktif dalam komunikasi politik yang berbasiskan media sosial, terutama dalam kampanye Pemilu. Media sosial selanjutnya menggambarkan sebagai sarana ideal dan basis informasi untuk mengetahui opini publik tentang kebijakan dan posisi politik, selain untuk membangun dukungan komunitas kepada politisi yang tengah berkampanye.
Sejumlah penelitian menunjukkan politisi di seluruh dunia telah mengadopsi media sosial untuk menjalin hubungan dengan konstituen, berdialog langsung dengan masyarakat dan membentuk diskusi politik.
Kemampuan menciptakan ruang dialog antara politisi dengan publik serta menarik minat pemilih pemula/pemilih muda membuat media sosial semakin penting bagi politisi (Stieglitz & Dang-Xuan, 2012)
Sebelum menggunakan media sosial para politisi sudah menggunakan internet untuk berkampanye. Internet bisa menjadi cara yang potensial dalam mendobrak politik demokrasi massa yang opresif yang menyuarakan suara dari bawah ke atas, yang kerap dengan poweryang dimiliki, dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan golongannya. Internet diharapkan bisa menjadi media bagi
mengalirnya informasi dua arah yang interaktif antara politisi dan pendukungnya.Internet menjanjikan memberikan forum yang seluas- luasnya bagi pengembangan kelompok kepentingan dan sebagai sarana penyaluran opini . Di Indonesia, penggunaan internet sebenarnya sudah dimulai sejak Pemilu 1997, di mana kontestan Pemilu saat itu:
Golongan Karya, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Persauan Pembangunan, masing-masing memiliki situs resmi. Informasi dalam situs tersebut meliputi program partai, pernyataan politik, susunan pengurus pusat/daerah, AD/ART, dan kesempatan dialog dengan pengurus. Pada Pemilu 2004 dan 2009 penggunaan internet semakin meningkat pada partai politik, individu calon legislator, calon presiden dan calon wakil presiden
3. Manfaat Media Sosial Sebagai Efektifitas Komunikasi Politik
Komunikasi politik adalah aplikasi prinsip-prinsip komunikasi dalam kampanye politik yang beraneka ragam individu, organisasi, prosedur-prosedur dan melibatkan analisis, pengembangan, eksekusi dan strategi manajemen kampanye oleh kandididat, partai politik, pemerintah, pelobi, kelompok-kelompok tertarik tertentu yang bisa digunakan untuk mengarahkan opini publik, pengembangan dari ideologi mereka sendiri. Menang dalam pemilihan dan menjadi legislatif hasil pemilu dalam respon kebutuhankebutuhan apa yang diinginkan, dipilih orang dan kelompok dalam masyarakat.
Menurut (Prisgunanto, 2014) dalam komunikasi politik yang menjadi isu penting adalah imej yang ada pada sosok politik tersebut.
Tiap anggota partai politik biasanya dipromosikan seara intens dan habis-habisan. Hal itu jelas terlihat dari kebijakan yang diambil partai politik dan terpantau oleh media massa atau pers. Media sosial sebagai tren di internet saat ini digunakan sebagai media kampanye politik, termasuk juga terlihat pada implementasi media sosial dari partai politik di pemilu legislatif Indonesia 2014. Hal ini terlihat pada media sosial yang digunakan para kontestan, seperti: Facebook dan Twitter.
Dari situ terlihat bahwa media sosial adalah: 1) alat yang efektif untuk kampanye politik saat ini dan masa depan, 2) menggapai pemilih dan pendukung langsung, 3) yang digunakan oleh partai-partai politik untuk menunjukkan logo/icon mereka, dan 4) hasil hitung cepat juga menunjukkan bahwa partai-partai politik yang menggunakan media sosial sebagai bagian dari kampanye mereka memenangkan pemilu legislatif (Abdillah, 2014)
Menurut (Sandra, 2013) Setiap pengguna media sosial termasuk didalamnya politisi dapat memproduksi pesan dengan publik yang lebih terarah karena tersedianya stimulus teknologi yang modern selama kampanye untuk menjalin hubungan kembali dengan pemilih.
Terbukanya media, didukung dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin maju, serta pengemasan isi pesan mempermudah para aktor politik untuk mendiferensiasikan diri dari persaingan politik yang
ada , ditambah dengan kemampuan informasi politik yang borderless (tidak berbatas) pembentukan image (citra) politik semakin mudah dilakukan termasuk di antaranya adalah branding kandidat/partai politik sebagai hasil dari proses komunikasi politik kontemporer.
4. Tantangan Media Sosial Bagi Aktor Politik
Di bagian sebelumnya sudah dipaparkan bahwa media sosial masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh para aktor politik di Indonesia.Tantangan pertama adalah hilangnya batas-batas status sosial di dunia media sosial. Menurut (anshari, 2013), dalam komunikasi yang termediasi dengan komputer, maka para peserta komunikasi akan mendapatkan kesetaraan partisipasi yang lebih luas daripada tatap muka.
Pendapat tersebut memang mengacu pada aktivitas komunikasi dalam organisasi. Namun relevan apabila dibawa ke dalam konteks komunikasi politik di era media sosial. Dengan adanya media sosial, maka para aktor politik pun harus menyadari meskipun dia secara riil adalah pejabat tinggi atau partai politik yang berkuasa, tetapi posisinya di media sosial akan setara dengan user lain. Maka dari itu para aktor politik harus siap-siap saja menghadapi kritik (bahkan beberapa di antaranya cenderung pedas) user lain.