• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

G. Teknik Pengabsahan Data

Penelitian kualtitatif, data bisa dikatakan akurat ketika terjadi keselarasan antara yang dilaporkan dengan apa yang perbedaan antara yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian. Untuk menguji kebenaran informasi pada metodologi ini dapat digunakan uji kredibilitas. Untuk menguji

kredibilitas suatu penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu salah satunya triangulasi. :

1) Triangulasi Sumber data

Yaitu menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat, dokumen tertulis, arsip, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi dan gambar atau foto yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan.

Masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti.

2) Triangulasi Teknik

Triangulasi tehnik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber data yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, Serta dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak.

3) Triangulasi Waktu

Data yang dikumpulkan dengan teknik melihat kondisi sikologis informan yang dinilai berdasarkan waktu wawancara antara pagi, siang ataupun sore hari.

40

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

a. Gambaran Umum Kabupaten Bulukumba

Penelitian di lakukan di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dari judul penelitian ini, namun perlu dijelaskan lokasi penelitian lebih terperinci. Berdasarkan peta kabupaten Bulukumba Secara kewilayahan, Kabupaten Bulukumba berada pada kondisi empat dimensi, yakni dataran tinggi pada kaki gunung Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas.

Kabupaten Bulukumba terletak di ujung bagian selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan kawasan adat Ammatoa,wisata bahari, serta industri perahu pinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah. Luas wilayah Kabupaten Bulukumba 1.154,67 Km2 dengan jarak tempuh dari Kota Makassar sekitar 153 Km.

Gambar.4.1. Peta Kabupaten Bulukumba

Sumber:http//:Petakabupatenbulukumba-peta-kota-blogspot.com

Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20” sampai 5°40” Lintang Selatan dan 119°50” sampai 120°28”

Bujur Timur. Batas-batas wilayahnya adalah: (a) Sebelah Utara: Kabupaten Sinjai, (b) Sebelah Selatan: Kabupaten Kepulauan Selayar, (c) Sebelah Timur: Teluk Bone, dan (d) Sebelah Barat: Kabupaten Bantaeng.

Paradigma kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan memberikan nuansa moralitas dalam sistem pemerintahan yang pada tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan masyarakat melalui satu prinsip “Mali‟ siparappe, Tallang sipahua”. Ungkapan yang mencerminkan perpaduan dari dua dialek bahasa Bugis-Makassar. Hal tersebut merupakan gambaran sikap batin masyarakat Bulukumba untuk mengemban amanat persatuan di dalam mewujudkan keselamatan bersama demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan batin, material dan spritual, dunia dan akhirat. Nuansa moralitas ini pula yang mendasari lahirnya slogan pembangunan “Bulukumba Berlayar” yang mulai disosialisasikan pada bulan September 1994 dan disepakati penggunaannya pada tahun 1996. Konsepsi “Berlayar” sebagai moral pembangunan lahir batin mengandung filosofi yang cukup dalam serta memiliki kaitan kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan dengan masyarakat Bulukumba. “Berlayar”, merupakan sebuah akronim dari kalimat kausalitas yang berbunyi “Bersih Lingkungan Alam Yang Ramah”.

b. Gambaran Umum Kecamatan Kajang

Kecamatan Kajang memiliki luas wilayah 129,06 km terpilah ke dalam dua kelurahan yakni kelurahan Tana Jaya yang juga sebagai ibukota kecamatan dan kelurahan Laikang, serta tujuh belas desa (Bonto Biraeng, Bonto Rannu, Lembang, Lembang Lohe, Possi Tana, Lembanna, Tambangan, Sangkala, Bonto Baji, Pattiroang, Sapanang, Batu Nilamung, Tana Toa, Maleleng, Mattoanging, Lolisang dan Pantama).

Tabel 2. Luas Wilayah per Desa / Kelurahan Dalam Lingkup Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.

No Desa/Kelurahan Luas wilayah(Km2)

1. Bonto Biraeng 7,55

2 Bonto Rannu 7,00

3. Lembang 9,00

4. Lembang Lohe 5,00

5. Tanah Jaya 6,30

6. Laikang 7,00

7. Possi Tanah 4,20

8. Lembanna 4,73

9. Tambangan 13,00

10. Sangkala 7,20

11. Bonto Baji 8,50

12. Pattiroang 8,18

13. Sapanang 8,80

14. Batu Nilamung 4,20

15. Tana Toa 5,25

16. Maleleng 11,10

No Desa/Kelurahan Luas wilayah(Km2)

17. Mattoanging 4,05

18. Lolisang 4,00

19. Pantama 4,00

J U M L A H 129,06

Sumber : kecamatan Kajang Dalam Angka 2017

c. Gambaran Umum Desa Tana Toa

Desa Tana Toa merupakan salah satu dari sembilan belas desa/kelurahan di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Khusus Desa Tana Toa memiliki luas wilayah 5,25 kilometer persegi. Ibukota desa ini terletak di Dusun Balagana. Karena sebagian besar wilayah Kecamatan Kajang merupakan kawasan adat sehingga secara umum sering diidentikkan semua wilayah ini sebagai kawasan Tana Toa. Wilayah Desa Tana Toa sendiri terbagi kedalam delapan dusun yaitu Dusun Sobbu, Dusun Benteng, Dusun Pangi, Dusun Tombolo, Dusun Lurayya, Dusun Balambina, Dusun Jannaya dan Dusun Balagana. Dusun Jannaya dan Dusun Balagana merupakan dusun peralihan (dusun calabai/waria) karena selain menganut tata nilai yang bersumber dari ajaran Pasang, juga menganut tata nilai yang tidak bersumber dari ajaran Pasang. Dusun ini terletak di wilayah Ipantarang Embaya, yaitu wilayah di luar kawasan Ammatoa. Sedangkan 6 dusun lainnya masuk dalam kawasan Ilalang Embaya, yaitu di dalam kawasan Ammatoa.

Letak geografis Desa Tana Toa antara 5020‟ LS dan 120022‟ BT.

Sesuai letaknya yang terletak nyaris ditengah-tengah, Desa Tana Toa

dikelilingi oleh desa-desa yang masih berada dalam wilayah Kecamatan Kajang yakni pada bagian utara berbatasan dengan Desa Batunilamung, kemudian pada bagian Selatan berbatasan dengan Desa Bontobaji, pada bagian Barat berbatasan dengan Desa Pattiroang serta pada bagian Timur berbatasan dengan Desa Malleleng. Topografi Desa Tana Toa berupa dataran rendah dengan ketinggian 200 mdpl dan curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Suhu udara rata-rata 270 C– 310 C

Gambar.4.2. Peta Desa Tana Toa

Sumber : Peta Desa Tana Toa

Desa Tana Toa dibatasi oleh empat sungai. Keempat sungai ini kemudian dijadikan sebagai batas alam, yaitu Sungai Limba di bagian timur, Sungai Doro di bagian barat, Sungai Tuli di bagian utara dan Sungai Sangkala di bagian selatan. Keempat sungai inilah yang dijadikan pagar (emba) pembatas kawasan Ilalang Embaya (dalam pagar) dengan Ipantarang Embaya (di luar pagar). Istilah emba digunakan oleh masyarakat Tana Toa untuk mendefinisikan keberadaan ekosistemnya dengan segala karakteristik khas yang mereka miliki.

Desa Tana Toa terdiri dari sembilan dusun, tersisa tujuh dusun yang masih terikat aturan adat seperti larangan menggunakan listrik, dan lain- lain. Diantaranya yaitu dusun Sobbu, Benteng, Pangi, Bongkina, Tombolo, Luraya, dan Balangbina, sedangkan dua dusun lainnya yaitu dusun Balagana dan Jannayya telah mendapat izin dari Ammatoa untuk menggunakan listrik, membangun rumah batu, menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dan alat-alat modern lainnya, dengan alasan kedua dusun tersebut digunakan sebagai pusat aktifitas desa seperti pembangunan kantor desa, puskesmas, pasar, sekolah, mesjid, dan lain sebagainya yang membutuhkan alat-alat modern. Desa Tana Toa terbagi dalam dua kawasan yaitu Kawasan luar (dusun Balagana dan dusun Jannayya) dan Kawasan dalam (dusun Sobbu, Pangi, Bongkina, Tombolo, Luraya, Balangbina).

Berikut nama-nama dusun serta nama yang menjabat kepala dusun sebagai berikut :

1. Dusun Balagana : Muh. Jafar 2. Dusun Jannayya : Arman 3. Dusun Sobbu : Suharto 4. Dusun Benteng : Rudding 5. Dusun Pangi : Bolohamsa 6. Dusun Bongkina : Baharuddin 7. Dusun Tombolo : Asdar 8. Dusun Lurayya : Hamsing

9. Dusun Balangbina : Abdul Rahim

Desa Tana Toa memiliki 3 jenis hutan (borong) sebagai berikut.

a) Borong Karrasa (hutan keramat) hutan ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun juga.

b) Borong Barrasa (hutan penyangga) hutan ini dapat digunakan oleh masyarakat atas izin Ammatoa bagi masyarakat yang terkena musibah seperti rumahnya terbakar, masyarakat adat yang tidak mampu dan kebutuhan fasilitas umum.

c) Borong Rajja (hutan masyarakat) hutan ini dibangun dan dipelihara oleh masyarakat sendiri dan akan dipergunakan sendiri oleh masyarakat.

Tabel 4.1. Luas Wilayah Daerah Tana Toa Berdasarkan Penggunaannya

WILAYAH LUAS

Hutan 331 Ha/M2

Perkebunan 30 Ha/M2

Persawahan 90 Ha/M2

Kuburan 8 Ha/M2

Pemukiman 179 Ha/M2

Pekarangan 95 Ha/M2

Perkantoran 2 Ha/M2

Prasarana umum lainnya 5 Ha/M2

TOTAL 740 Ha/M2

Sumber: Profil Desa Tana Toa Tahun 2017

Dalam membantu menjalankan peran Ammatoa maka pembagian tugas dibagi kedalam beberapa pemangku adat baik, baik itu yang mengurusi adat langsung maupun pemangku yang mengurusi penyelenggaran pemerintahan.

Adapun struktur kelembagaan pemerintahan adat Ammatoa kajang sebagai berikut :

Gambar 4.3. Struktur Kelembagaan Adat Ammatoa Kajang AMMATOA (Pemimpin Adat)

Angronta

Labbiriya Karaeng Kajang Anak Karaeng Tambanga Sulehatang

Adat Lima Ri Tanakekea

Galla Malleleng

Galla Sangkala Galla Puto Galla

Kajang Galla

Pantama

Galla Lombo‟

Adat Lima Ri Tanaloheya

Galla Sapa Tutoa Ganta Galla

Ganta

Galla Sangkala Galla

Anjuru

Galla Bantalang

Masyarakat Adat Ammatoa

Dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin adat, pemerintahan adat Ammatoa memiliki struktur pemerintahan yang terdiri pemangku adat. Struktur pemerintahan adat Ammatoa beserta tugas-tugasnya dapat dilihat di bawah ini :

1. Ammatoa adalah pemimpin tertinggi hukum adat masyarakat Dalam, memiliki keputusan tertinggi dalam penyelesaian masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kajang Dalam.pada kesehariannya Ammatoa melakukan ritual adat yang bernama

“Anganro mange ri Turiek‟ A‟ra‟na yang artinya “proses bermohon dan berdo‟a kepada yang maha berkehendak Allah swt.” Yang merupakan tugas pokok seorang Ammatoa yang bertujuan agar manusia diberi keselamatan dunia akhirat.Yang dimaksud adalah tau (manusia), (tanah/bumi), langi (langit).

2. Anronta (baku atoa) merupakan jabatan yang tidak bisa terpisahkan dan dibedakan dengan tugas Ammatoa karena baku atoa secara otomatis menjabat atau melaksanakan segala tugas penting Ammatoa apabila Ammatoa meninggal dunia (a‟linrung) kemudian melaksanakan proses ritual pa‟nganro annyuruh borong untuk terbentuknya Ammatoa berikutnya setelah meninggal selama 3 tahun dan jenis pa‟nganro annyuruh borong lainnya.

Pemangku adat yang membidangi urusan adat disebut adalimayya dijabat oleh 5 orang sementara pemangku adat urusan penyelenggaraan

pemerintahan disebut Karaeng tallua yang dijabat oleh 3 orang. Berikut penjelasannya:

1) Adat Limayya

Pada awalnya Ada‟ Limayya dijabat oleh anak-anak dari Ammatoa pertama, begitupun setelah anak-anak Ammatoa tersebut meninggal jabatan ini diduduki oleh keturunan berikutnya yang didasari dalam Pasang. Namun seiring berjalannya waktu Ada‟

Limayya kemudian diduduki oleh pemerintah setempat yaitu kepala desa baik yang yang berada dalam kawasan adat maupun yang berada diluar kawasan. Ada‟ limayya beranggotakan lima orang, yaitu:

a) Galla Pantama Merupakan pemangku adat yang mengurusi secara keseluruhan sektor pertanian dan perkebunan. Tanah sebagai tempat tumbuhnya segala jenis tumbuhan merupakan atas permohonan Galla Pantama dengan berbagai bentuk perjanjian dengan Tu Riek Akrakna. Galla Pantama juga bertugas dalam merancang strategi pertanian dan merencanakan situasi terbaik dalam bercocok tanam diwilayah adat. Saat ini Galla Pantama dijabat oleh Kepala Desa Possi tanah.

b) Galla Kajang Merupakan pemangku adat yang bertanggung jawab terhadap segala keperluan dan kelengkapan ritual pa‟nganro (berdo„a) juga berfungsi sebagai penegak aturan dan

norma dalam Pasang. Saat ini Galla Kajang dijabat oleh kepala desa Tanah Jaya.

c) Galla Lombo” Merupakan pemangku adat yang bertanggung jawab terhadap segala urusan pemerintahan baik didalam maupun diluar wilayah adat. Galla Lombo‟ memadukan antara hukum adat dan hukum negara, Galla Lombo‟ juga merupakan Galla‟ pertama yang harus ditemui saat berkunjung kedalam kawasan adat. Saat ini Galla lombo‟ dijabat oleh Kepala Desa Tana Toa.

d) Galla Puto Merupakan pemangku adat yang bertugas sebagai juru bicara Ammatoa. Galla Puto bertugas mengatasi permasalahan baik itu bersifat penanganan masalah, penyelesain, maupun pengampunan. Galla Puto juga pengawas pelaksanaan Pasang serta bertindak menyebarluaskan keputusan dan kebenaran yang ditetapkan Ammatoa.

e) Galla Malleleng Merupakan pemangku adat yang bertugas mengatur dan mengurusi persoalan perikanan, secara tidak langsung juga bertindak sebagai penyeimbang dalam pelestarian ekosistem laut. Galla Malleleng dijabat oleh Kepala Desa Lembanna.

Dalam membantu tugas Ada‟ Limayya dibentuk adat pelengkap yang disebut Pattola ada‟, yaitu:

1. Galla Bantalang, sebagai penjaga kelestarian hutan dan sungai pada areal pengambilan sangka‟ (udang) sekaligus bertanggung jawab dalam pengadaan udang dalam acara pa‟nganro (berdo„a).

2. Galla Sapa, bertugas sebagai penanggung jawab tempat tumbuhnya sayuran (paku) dan sekaligus pengadaan sayuran dalam acara Pa‟nganro.

3. Galla Ganta‟, bertugas sebagai pemelihara tempat tumbuhnya Bambu Buluh sebagai bahan memasak dalam acara Pa‟nganro 4. Galla Anjuru”, bertanggung jawab terhadap pengadaan lauk pauk

yang akan digunakan pada acara Pa‟nganro seperti ikan Sahi, dan Tambelu.

5. Galla Sangkala”, pengurus jahe dalam acara Pa‟nganro.

6. Lompo Ada‟ berfungsi sebagai penasihat para pemangku ada„

limayya dan pattola ada„ ri tana kekea.

7. Kamula ada‟ sebagai pembuka musyawarah dalam suatu pertemuan.

8. Panre bertanggung jawab dalam penyediaan perlengkapan acara ritual.

2) Karaeng Tallua

Pemangku adat yang berperan membantu dalam bidang penyelenggaraan pemerintah dibawah garis kordinasi Ammatoa.

Karaeng Tallua terdiri dari Karaeng kajang, sullehatang, dan Anak Karaeng (Moncong Buloa). Karaeng Tallua dalam setiap acara adat

bersifat tri tunggal, maksudnya jika salah satu dari ketiganya sudah hadir meskipun dua yang lain tidak ada ditempat maka Karaeng Tallua sudah dianggap hadir secara keseluruhan. Berikut penjelasannya:

1. Karaeng Kajang (Labbiriya) merupakan jabatan yang tanggung jawabnya dalam hal pemerintahan dan pembangunan sosial kemasyarakatan berdasarkan ketentuan Pasang dan tidak bertentangan dengan keputusan Ammatoa.

Selain itu Karaeng Kajang juga mandataris Ammatoa sebagai pimpinan pemerintahan dan penghubung pemerintah diluar kawasan adat. Karaeng Tallua atau Labbiriya dijabat oleh kepala kecamatan Kajang.

2. Sullehatang bertanggungjawab sebagai pimpinan administrasi pemerintahan yang menyebarkan informasi atau berita yang telah ditetapkan oleh Ammatoa di tanah loheya (diluar kawasan adat).

3. Ana‟ Karaeng (Moncong Buloa) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pemerintahan adat dan mengawasi jalannya pelaksanaan pemerintahan adat.

Karaeng Tallua dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Pattola Karaeng yaitu sebagai berikut :

1. Tutoa Sangkala mengurusi Lombok kecil dan bulo yang dipakai dalam acara Pa‟nganro.

2. Angrong Guru sebagai pembuka acara dalam diskusi adat.

3. Pattongko sebagai penjaga batas wilayah.

4. Loha Karaeng mantan Labbiriya. Loha Karaeng ini juga bisa berperan sebagai pengganti antar waktu sebelum adanya Labbiriya yang dilantik secara adat.

5. Kadaha pembantu urusan Galla Pantama.

6. Galla Jojjolo‟ sebagai penunjuk dan tapal batas kekuasaaan Rambang Ammatoa dan sekaligus bertindak sebagai kedutaan Ammatoa terhadap wilayah yang berbatasan dimana ia ditempatkan, misalnya Karaeng Kajang dengan Karaeng Bulukumpa. Lompo Karaeng sebagai penasehat Karaeng Tallua dan Pattola ri tanah loheya.

7. Lompo Karaeng sebagai penasehat Karaeng Tallua dan Pattola ri tanah loheya.

B. Tata Kelola Pemerintahan Komunitas Adat Ammatoa Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Di Kabupaten Bulukumba

Tata Kelola Pemerintahan atau yang lebih dikenal dengan sebutan good governance, secara umum pengertiannya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan atau tingkah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan atau mempengaruhi urusan publik untuk mewujudkan nilai- nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tata kelola pemerintahan adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab

efektif dan efesien, yang diselenggarkan oleh pemerintah dalam rangka tercapainya pemerintahan yang dapat menjamin kepentingan pelayanan publik secara seimbangan dengan melibatkan kerja sama antar semua pihak. Demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik.

Dari sekian banyak konsep tata kelola pemerintahan komunitas Lao Ida (2002) menyatakan 5 indikator tata kelola pemerintahan yang baik yaitu : (1). Terwujudnya interaksi yang (2). Komunikasi (3). Proses penguatan diri sendiri (4). Keseimbangan kekuatan (balance of force) (5). Independensi. Dari uraian di atas, maka dapat dilihat penjelasan hasil penelitian berdasarkan indikator dalam Tata Kelola Pemerintahan Komunitas Adat Ammatoa Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Di Kabupaten Bulukumba dibawah ini :

1. Terwujudnya interaksi yang baik disemua Kalangan

Untuk mewujudkan interaksi yang baik antar pemerintah, swasta dan masyarakat terutama bekerja sama dalam pengaturan kehidupan adat, Masyarakat adat kajang di Desa Tana Toa khususnya masyarakat adat dalam berinteraksi mereka menganut dan bersandar pada Pasang Ri Kajang. Hal ini dapat di lihat ketika mereka berinteraksi, baik itu antara individu dengan individu (antar masyarakat), individu dengan kelompok (antar masyarakat dengan Ammatoa) dan kelompok dengan kelompok (antar pemangku adat dengan Ammatoa).

a. Antar Individu (Antar Masyarakat adat)

Masyarakat adat kajang yang masih memegang teguh adat- istiadat senantiasa menanam perilaku tolong - menolong terhadap

sesama masyarakat. Walaupun ada beberapa pandangan yang menganggap bahwa sikap itu sudah di bawah sejak lahir, tetapi masih membutuhkan lingkungan sebagai tempat sosialisasi dalam mengembangkan sikap tolong-menolong tersebut. Sebagaimana wawancara kepada informan AT, sebagai pemimpin Adat kajang.

“Masyarakat adat kajang sangat menjunjung tinggi perilaku tolong-menolong, hal ini dibuktikan ketika ada seseorang warga yang membangun rumah, maka semua masyarakat yang berada di kawasan adat Amma Toa, mereka berbondong - bondong untuk datang membantu. Sama halnya dalam membajak sawah, masyarakat selalu ikut serta membantu karena apabila mereka tidak datang maka akan dikena sanksi (adat). Oleh karena itu mereka selalu tolong menolong dalam mengerjakan suatu hal.” (Wawancara informan tanggal 31 Juli 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas di ketahui bahwa interaksi antar individu dalam masyarakat adat kajang masih menjunjung tinggi sikap menolong (rera) dan merupakan suatu norma dalam hubungan antar individu (masyarakat adat) membuat perilaku tolong-menolong tidak asing bagi masyarakat kajang. Dalam interaksi antar individu dalam kawasan adat kajang, sikap tolong menolong, merupakan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ida (2002) mengenai komunikasi itu perlu dibangun. Prinsip tolong-menolong tersebut searah dengan teori yang dikemukakan oleh Ida bahwa komunikasi itu sangat penting dalam hal berinteraksi.

Selain penjelasan dari pemimpin adat kajang, adapun penjelasan dari informan Sp, selaku masyarakat adat kajang dalam dengan mengemukakan bahwa :

“mengenai sikap tolong-menolong nak, kami sebagai masyarakat adat kajang masih menjunjung tinggi. Karena sikap tolong menolong itu di ajarkan dalam Pasang Ri Kajang, di mana itu sebagai pedoman untuk berinteraksi dalam kawasan adat ini, dan akan di berikan sanksi kalau tidak mematuhi aturan adat kajang. sebagaimana contoh nak yang biasa di lakukan di sini seperti membangun rumah, membajak sawah.

Itu semua di lakukan secara berbondong-bondong” (Hasil wawancara informan Sp, tanggal 2 Agustus 2019).

Selanjutnya hal senada juga di sampaikan informan Ap, selaku masyarakat adat kajang yang mengemukakan bahwa :

“memang benar kalau sikap tolong menolong di sisni kami junjung tinggi, karena itu memang sudah kebiasan turun temurun di dalam kawasan adat ini, karena sikap tolong menolong sudah di ajarkan dari nenek moyang dan terdapat di dalam Pasang” (Hasil wawancara informan Ap, tanggal 3 Agustus 2019)

Berdasarkan beberapa hasil wawancara diatas dapat di pahami bahwa dalam interaksi antar individu dengan individu (masyarakat adat) dalam masyarakat adat kajang masih kental adannya. Masyarakat kajang dalam juga lebih banyak berinteraksi dengan sesama orang kajang dalam, hal itulah yang mengakibatkan masyarakat kajang dalam tidak mengalami hambatan saat berinteraksi sosial dengan partisipan sesama etnik.

b. Individu dengan Kelompok (Antar Masyarakat adat dengan Ammatoa)

Komunitas adat Ammatoa yang masih kental akan adat-istiadat yang mengikat masyarakatnya secara turun temurun dalam kehidupan sehari-hari. Ammatoa adalah jabatan bagi pemimpin tertinggi adat yang memegang keputusan tertinggi yang wajib dipatuhi oleh masyarakat kajang. Dalam kehidupan masyarakat adat kajang di Desa Tana Toa tetap memegang prinsip hidup Tallasa Kamase-mase (hidup kesederhanaan). Hidup kamase-mase bermula dari seorang pemimpin yang lebih dikenal dengan sebutan Ammatoa, ketika Ammatoa sudah dinobatkan sebagai pemimpin adat dan sekaligus sebagai pemimpin spiritual di Desa Tana Toa Kajang, seorang pemimpin harus menjadi panutan masyarakat dan hidup apa adanya tanpa harus mengejar materi. Maka dilakukan wawancara kepada informan AT, selaku pemimpin adat Kajang menyatakan bahwa :

Pasang Ri Kajang mengajarkan kita nak prinsip Tallasa Kamase-masea. Artinya di dalam Pasang Ri Kajang kita diajarkan hidup sederhana. seperti kalau terjadi gagal panen atau musim paceklik, maka orang yang pertama merasakan lapar adalah Pemimpin adat atau saya sendiri. sebaliknya, jika panen berhasil, maka para masyarakat adat kajang yang harus lebih dahulu dipersilahkan untuk menikmatinya, saya sebagai pemimpin adat kemudian belakangan untuk menikmatinya”

(Hasil wawancara informan AT, Tanggal 31 Juli 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa Tallase kamase-mase merupakan salah satu prinsip hidup yang terkandung dalam Pasang Ri Kajang. Pasang Ri Kajang tersebutlah

yang menjadi pedoman dan perilaku hidup masyarakat kajang yang juga di dalamnya mengajarkan bahwa masyarakat harus lebih bersahaja dari pada pemimpinnya. Selain penjelasan dari pemimpin adat, adapun penjelasan dari informan Sp, selaku masyarakat adat yang menyatakan bahwa :

“Memang benar bahwa jika terjadi kegagalan panen, Ammatoa yang pertama merasakan kelaparan, dan jika terjadi keberhasilan panen, maka kamilah sebagai masyarakat adat yang di persilahkan terlebih dahulu untuk menikmatinya ” (Hasil wawancara informan Sp, tanggal 2 Agustus 2019) Penjelasan di atas didukung oleh informan Ap yang juga selaku masyarakat adat kajang yang menyatakan bahwa :

Ammatoa selaku pemimpin adat memang selalu mengajarkan dan memberikan kita contoh hidup sederhana sebagaimana yang terdapat dalam Pasang Ri Kajang yang isinya tentang prinsip Tallasa Kamase-Masea” (Hasil wawancara informan Ap, Tanggal 3 Agustus 2019)

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat kita ketahui bahwa, Pasang Ri Kajang terdapat Prinsip Tallasa Kamase-Masea (hidup sederhana) yang harus di terapkan oleh pemimpin adat Kepada masyarakat adat. Sikap kepemimpinan yang dicontohkan oleh komunitas kajang di Desa Tana Toa ini tentunya berbanding terbalik dengan sikap pemimpin masyarakat pada umumnya.

Tata kelola pemerintahan dalam interaksi antar masyarakat adat dengan Ammatoa, sudah terjalin dengan baik, hal ini di buktikan dengan kehidupan menganut prinsip Tallase kamase-masea, yang

Dokumen terkait