• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Konsep Pendidikan Karakter

Kata pendidikan terbagi dalam bebrapa bahasa yaitu dalam bahasa inggris (education) kemudain kata education ini berasal dari bahasa latin yang terjemahannya adalah menuntut, mengaralhkan, atau memmimpin, sementara itu pendidikan dalam bahasa yunani kuno adalah pedagogik, yang terdiri dari dua kata di mana dari kata Paid adalah anak sedangkan agogos adalah membimbing jadi secara harafiah pedagogik adalah ” ilmu dan seni mengajar. (Andre, 2013: 1).

Secara etimologi, customized organization karakter (inggris: character) berasal dari bahasa yunani, charassein yang berarti "to etch" dapat diterjemahkan menjadi mengukir, melukis, memahatkan atau menggoreskan (Suyadi, 2013: 5). Karakter berasal dari bahasa yunani karakter yang berakar dari diksi 'kharassein' yang berarti memahat atau mengukir (to write/to etch), sedangkan dalam bahasa latin karakter bermakna membedakan tanda. Dalam bahasa Indonesia, karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan/tabiat/watak (Narwanti, 2011: 1). Karakter berbeda dengan moral dan akhlak, Moral adalah suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu

yang didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik buruk. Morallah sebenarnya yang membedakan manusia daripada makhluk Tuhan lainnya dan menempatkannya bila telah menjadi tertib pada derajat di atas mereka. Sedangkan akhlak adalah kebiasaan atau kehendak, akhlak juga bisa disebut menangnya keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan langsung berturut-turut (Amin: 1983: 62).

Secara Istilah Zubaedi, (2012: 8) menjelaskan bahwa karakter merupakan bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun berkarakter adalah kepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.Wynne dalam Mulyasa (2011: 3) mengemukakan bahwa karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti "to check" (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari.

Karakter adalah sesuatu hal yang unik hanya ada pada individu ataupun pada suatu kelompok, bangsa. Karakter itu adalah landasan dari kesadaran budaya, kecerdasan budaya merupakan pula perekat budaya. Sedangkan basic beliefs digali dan dikembangkan dari budaya masyarakat itu sendiri (Narwanti, 2011: 27), berbeda dengan Muslich (2011: 75) yang memaparkan untuk dapat memahami pendidikan karakter perlu mengetahui struktur antropologis yang ada dalam diri manusia, yaitu atas jasad, ruh dan akal.

Pada dasarnya pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam compositions pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia (UU No. 20 Tahun 2009). Pendidikan karakter dalam hal

ini merupakan expositions berkelanjutan dan tak pernah berakhir (ceaseless cycle), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang kesinambungan (consistent quality improvement), yang ditujukan pada terwujudnya sosok manusia masa depan dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa (Mulyasa, 2011: 1). Gaffar dalam Kesuma (2011: 5) menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah expositions transformasi nilai-nilai kehidupan untuk di tumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Pendidikan karakter dalam penelitian ini adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya dan dapat menghasilkan sosok manusia yang berkualitas dan memiliki masa depan.

Berdasarkan urian yang kemudian di uraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter adalah expositions pemberian tuntutan secara sadar dan sungguh-sungguh kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Pendidikan karakter dapat pula dimaknai sebagai upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan yang baik.

b. Bentuk-Bentuk Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dapat teridentifikasi sejumlah bentuk Menurut Zubaedi (2011:74) yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab berikut penjelasannya:

1) Religius

Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksana kan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Religius juga bisa diartikan sebagai nilai karakter dalam hubungannya dengan Allah Swt. Menunjukkan bahawa fikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya. Mustari (2011:2) mengemukakan manusia religius berkeyakinan bahawa semua yang ada di alam semesta ini adalah merupakan bukti yang jelas terhadap adanya Tuhan. Narwanti, (2011: 64) menulis kan tentang unsur-unsur pewujudan serta benda-benda alam mengukuhkan keyakinan bahawa ada Maha Pencipta dan Pengatur, dengan indikator pencapaian pembelajaran meliputi beberapa hal yaitu: Beraqidah lurus, beribadah yang benar, berdo'a sebelum mulai dan sesudah selesai pembelajaran, mengikuti materi pembelajaran dengan kekuasaan Allah Swt, melaksanakan shalat dhuha, melaksanakan shalat zuhur secara berjemaah, melaksana kan shalat Ashar secara berjemaah, dan Tahfiz Al-Qur'an min 1 juz (Program Tahfiz: setoran hafalan 1 juz ayat Al Qur'an dan Program penunjang: Tilawah AlQur'an/tahfiz sesudah shalat dzuhur berjamaah selama 5 menit).

2) Jujur

Jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. Suyadi (2013 :8) mengemukakan bahwa jujur diartikan sebagai sikap dan perilaku yang mencerminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan dan perbuatan mengetahui yang benar,mengatakan yang benar dan melakukan yang benar, sehingga menjadikan orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Mustari (2011: 15) mengemukakan jujur merujuk pada suatu karakter moral yang mempunyai sifat-sifat positif dan mulia seperti integritas, penuh kebenaran dan lurus sekaligus tiadanya bohong, curang ataupun mencuri. Narwanti (2011: 65) menuliskan dengan indikator pencapaian pembelajaran meliputi beberapa hal dibawah ini:

(a) Membuat laporan hasil percobaan sesuai dengan information yang diperoleh;

(b) Tidak pernah menyontek dalam ulangan; (c) Tidak pernah berbohong dalam berbicara; (d) Mengakui kesalahan;

(e) Terbuka dalam memberi penilaian kepada peserta didik. 3) Toleransi

Toleransi dalam pandangan Fathurrohman (2013: 19) adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Toleransi diartikan sebagai sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan terhadap agama, aliran kepercayaan, suku adat, bahasa, ras, etnis, pendapat dan hal-hal lain yang berbeda

dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serat dapat hidup tenang di tengah perbedaan tersebut. Narwanti (2011: 65) menuliskan dengan indikator pencapaian pembelajaran meliputi beberapa hal dibawah ini:

(a) Pelayanan yang sama terhadap peserta didik tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial dan status ekonomi;

(b) Memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus;

(c) Bekerja dalam kelompok dengan teman-teman yang berbeda jenis kelamin, agama, suku dan tingkat kemampuan;

(d) Tidak memaksakan pendapat atau kehendak kepada orang lain; (e) Hormat menghormati;

(f) Raso jo pareso (Raso berarti rasa atau perasaan manusia). Raso dapat berbentuk malu, takut, senang atau bahagia. Ukuran rasio didasarkan pada nilai budi yang dimiliki manusia;

(g) Basa basi; (h) Sopan santun;

(i) Manyauk dihikie bakato dibawah-bawah (Hati-hati tidak boleh tinggi hati atau berbicara tinggi.

4) Disiplin

Disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Mustari (2011: 42)mengemukakan bahwa disiplin merujuk pada instruksi sistematis yang diberikan kepada murid (supporter). Untuk mendisiplinkan berarti menginstruksikan orang untuk mengikuti tatanan tertentu melalui aturan-aturan tertentu. Biasanya customized organization "disiplin" berkonotasi

negatif, karena untuk melangsungkan tatanan dilakukan melalui hukuman. Disiplin dalam arti lain berarti suatu ilmu tertentu yang diberikan kepada murid. Narwanti (2011: 66) menuliskan dengan indikator pencapaian pembelajaran meliputi beberapa hal yaitu: Hadir tepat waktu, mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran, mengikuti prosedur kegiatan pembelajaran dan menyelesaikan tugas tepat waktu.

5) Kerja Keras

Kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Mustari (2011: 52) mengemukakan bahwa kerja keras yang mesti dilakukan adalah hal-hal yang baik-baik, memperhatikan supaya segala urusannya dapat berbuah lezat dan dapat dirasakan manfaatnya, baik usaha itu tertuju pada bidang pelajaran maupun pekerjaan. Kepentingannya agar apa-apa yang diusahakan itu tidak mudah roboh dan hancur, tidak mudah rusak dan punah, dihindarkan dari rasa mempermudah pekerjaan, sehingga menyebabkan mudah binasa dan terbengkalai. Nurwanti (2011: 66) menuliskan dengan indikator pencapaian pembelajaran meliputi beberapa hal dibawah ini:

(a) Berupaya dengan gigih untuk menciptakan semangat kompetisi yang sehat; (b) Substansi pembelajaran menantang peserta didik untuk berpikir keras; (c) Menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh master;

(d) Berupaya mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi. 6) Kreatif

cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Suyadi (2013: 8) mengemukakan kreatif sebagai sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbaBerdasarkan bentuk-bentuk pendidikan karakter yang disebutkan di atas merupakan bentuk-bentuk yang mendasari program sekolah yang menerapkan pendidikan karakter dalam menyiapkan peserta didik yang cerdas dan memiliki karakter yang baik. Kepala sekolah beserta Guru-guru harus saling mendukung dalam menerapkan pendidikan karakter, mengingat pendidikan karakter tidak sepenuhnya dituangkan dalam mata pelajaran khusus namun terintegrasi secara sistematis dengan menitikberatkan pada nilai-nilai pendidikan karakter yang telah diterapkan.

c. Proses Pembentukan Karakter Religius.

Al Ghazali memberi perhatian yang sangat besar untuk menempatkan pemikiran Islam dalam pendidikan. Al-Ghazali menekankan pentingnya pembentukan karakter. Dengan memberikan pendidikan karakter yang baik maka orang tua sudah membantu anak-anaknya untuk hidup sesuai jalan yang lurus. Namun, pendidikan yang buruk akan membuat karakter anak-anak menjadi tidak baik dan berpikiran sempit sehingga sulit membawa mereka menuju jalan yang benar kembali. Ibnu Qayyim mengemukakan empat sendi karakter baik dan karakter buruk. Karakter yang baik didasarkan pada:

1) Sabar, yang mendorongnya menguasai diri, menahan marah, tidak mengganggu orang lain, lemah lembut, tidak gegabah, dan tidak tergesa-gesa. 2) Kehormatan diri, yang membuatnya menjauhi hal-hal yang hina dan buruk,

yang merupakan pangkal segala kebaikan, mencegahnya dari kekejian, bakhil, dusta, ghibah dan mengadu domba.

3) Keberanian, yang mendorongnya pada kebesaran jiwa, sifat- sifat yang luhur, rela berkorban, dan memberikan sesuatu yang paling dicintai; dan

4) Adil, yang membuatnya berada di jalan tengah, tidak meremehkan, dan tidak berlebih-lebihan.

Adapun karakter yang buruk juga didasarkan pada empat sendi yaitu:

1) Kebodohan, yang menampakkan kebaikan dalam rupa keburukan, menampakkan keburukan dalam rupa kebaikan, menampakkan kekurangan dalam rupa kesempurnaan, dan menampakkan kesempurnaan dalam rupa kekurangan.

2) Kedhaliman, yang membuatnya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, memarahi perkara yang mestinya diridhai, meridhai sesuatu yang mestinya dimarahi, dan lain sebagainya dari tindakan-tindakan yang tidak proporsional.

3) Syahwat, yang mendorongnya menghendaki sesuatu kikir, bakhil, tidak menjaga kehormatan, rakus dan hina, dan

4) Marah, yang mendorongnya bersikap takabur, dengki, dan iri,

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan karakter religius itu adalah nilai baik atau buruk. Nilai baik disimbolkan dengan nilai Malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai Setan. Karakter manusia merupakan hasil tarik-menarik antara nilai baik dalam bentuk energi positif dan nilai buruk dalam bentuk energi negatif. Energi positif itu berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber

dari keyakinan kepada Tuhan, sedangkan energi negatif itu berupa nilai nilai yang amoral yang bersumber dari taghut (Setan). Nilai-nilai etis moral itu berfungsi sebagai sarana pemurnian, penyucian dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani)

d. Faktor Pendorong Terbentuknya Pendidikan Karakter Religius

Menurut Zubaedi (2011:177-184) adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter religius diantaranya melalui:

1) insting.

Insting disini maksudnya adalah tindakan dan perbuatan manusia yang dikehendaki. Insting ini merupakan bawaan sejak lahir. Insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku. Setiap siswa tentunya mempunyai tingkah laku yang berbeda dan merupakan bawaan sejak lahir. Ada beberapa siswa ketika mereka membuat kesalahan kemudian siswa tersebut memperbaiki kesalahan tersebut. Misalnya, ada siswa yang belum melaksanakan sholat, karena dia merasa bersalah dan berdosa kemudian siswa tersebut melaksanakan sholat.

2) Kebiasaan.

kebiasaan adalah tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Di sekolah, siswa diajarkan untuk selalu mengaji sejak kelas I dan kegiatan mengaji sudah terjadwal, sehingga dari ajakan tersebut menjadi kebiasaan yang memang dilaksanakan oleh siswa setiap harinya.

3) Lingkungan.

Lingkungan di sini adalah seseorang mempunyai tingkah laku baik buruk dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. Lingkungan sekolah yang semua siswa dan gurunya beragama islam menjadi salah satu faktor pendukung implementasi pendidikan karakter religius. Tidak hanya karena semua beragama islam tetapi juga sarana prasarana dari sekolah tersebut yang dapat mendukung terbentuknya karakter religius siswa. Selain itu, lingkungan keluarga yang nyaman dan faktor pendukung dari orang tua siswa juga berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi pendidikan karakter religius. Orang tua yang selalu mendukung Kegiatan anaknya, dan ada kolaborasi antara orang tua dan guru juga berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi pendidikan karakter religius siswa.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan faktor Pendorong Terbentuknya Pendidikan Karakter Religius adalah sarana prasarana sekolah sendiri yaitu, sudah adanya tempat wudhu yang bisa digunakan oleh siswa dan guru, ter sedianya iqro dan al-qur’an yang dapat di gunakan untuk sanggar dan pelajaran iqro seta tahfiz.

e. Faktor Penghambat Terbentuknya Pendidikan Karakter Religius.

Faktor penghambat karakter religius yaitu: faktor dari diri siswa yang belum dapat menginternalisasikan nilai karakter religius ke dalam dirinya sehingga siswa tidak sadar dalam melakukan sesuatu. Kemudian lingkungan keluarga, masih ada beberapa orang tua yang kurang memperhatikan pengamalan karakter religius, padahal di sekolah anak di didik oleh gurunya semaksimal mungkin agar anak tersebut mempunyai karakter religius. Selain itu dari sekolah sendiri, belum terdapat masjid atau

mushola di dalam lingkungan sekolah, sehingga kegiatan sholat dzuhur berjamaah harus terlaksana di dua tempat yaitu sekolah dan masjid dekat sekolah.

Kesimpulan yang diambil dari penjelasan diatas adalah faktor penghambat terbentuknya karakter religius yaitu faktor lingkungan keluarga yang kurang memperhatikan anak dalam pembentukan karakter religius.

f. Tujuan Pendidikan Karakter

Mulyasa (2011: 9) menjelaskan pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada pembentukan budaya sekolah/madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah/madrasah dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah/madrasah merupakan ciri khas, karakter atau watak dan citra sekolah/madrasah tersebut di mata masyarakat luas. Zubaedi (2012: 18) berpendapat bahwa pendidikan karakter secara rinci memiliki lima tujuan, yaitu sebagai berikut:

1) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa; 2) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan

sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; 3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik

sebagai generasi penerus bangsa;

4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,kreatif dan berwawasan kebangsaan;

5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

Wiyani (2013: 70) mengemukakan tujuan pendidikan karakter adalah menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan, mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah dan membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab karakter bersama.

Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan di atas maka. Tujuan pendidikan karakter dalam penelitian ini adalah mengembangkan sikap peserta didik agar memiliki perilaku terpuji, sifat mandiri, kreatif, rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan serta menciptakan lingkungan yang bersahabat di sekolah melalui kegiatan Intrakulikuler dan Ekstrakulikuler.

Dokumen terkait