BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Konsep Pengelolaan Sampah
Klarifikasi sampah menurut istilah teknis terbagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
1. Sampah Organik ialah sampah yang mudah busuk (garbage), yang berbentuk padat semi basah berupa bahan-bahan organik yang mudah busuk.
2. Sampah Anorganik tidak membusuk (rubbish) yaitu sampah padat kering yang sulit terurai oleh mikro organisme, sehingga sulit membusuk, misalnya kertas, plastik, kaca dan logam.
3. Sampah abu (ashes), yaitu sampah padat yang berupa abu, biasanya dari hasil pembakaran.
4. Sampah bangkai binatang (bead animal), yaitu semua sampah yang berupa bangkai binatang.
5. Sampah sapuan (street sweeping), yaitu sampah padat hasil sapuan jalanan yang berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan.
6. Sampah industry (industry waste), yaitu sampah yang dihasilkan dari buangan industry.
Sumber : Jurnal Ilmiah “Advokasi” Vol.04. No.1 Maret 2016
(Purwanto, 2009). Secara umum pengelolaan ialah suatu kegiatan yang dapat mengubahsesuatu hingga menjadi baik serta memiliki nilai-nilai yang tinggi dari semula.Pengelolaan juga dapat diartikan sebagai serangkaian
20
20
kegiatan untuk mencapati sasaran-sasaran tertentu dengan mengangkat orang- orang sebagai pelaksanaannya.
(Dwiyanto, 2011). Pengelolaan sampah bersasis masyarakat dengan pelaksanaan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang dapat digunakan kembali dengan fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti meminimalisi atau mengurangi barang atau material serta dapat menimbulkan sampah. Recycle berarti mendaur ulang barang atau benda yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang berguna atau barang baru yang bermanfaat. Serta EPR (Extended Production Responsibility) yang berarti konsep yang didesain untuk mengintegrasikan biaya-biaya lingkungan kedalam proses produksi suatu barang sampai produk ini tidak dapat dipakai lagi, sehingga biaya lingkungan menjadi komponen harga pasar produk tersebut. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukan lagi tempat pembuangan tetapi Tempat Pemprosesan Akhir Sampah.Pembagian kewenangan pemerintah, provinsi dan pemkab/kota, termasuk kerjasama antar daerah (regional).
(Sikula, 2011). Pengelolaan merupakan sebuah aktivitas-aktivitas yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian penempatan, serta mengambil keputusan untuk menghasilkan suatu barang dan jasa yang lebih efektif dan efisien.
(Kastaman, 2004). Mengemukakan bahwa pengelolaan sampah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu pendekatan pengelolaan sampah
21
yang didasarkan pada partisipasi masyarakat. Pemerintah beserta lembaga lainnya hanyalah sebagai motivator dan fasilitator.
(Nugroho, 2003). Pengelolaan adalah istilah yang sering dipakai dalam ilmu manajemen. Dan secara etimologi istilah pengelolaan berasal dari kata kelola yang dapat berujuk pada proses yang menangani sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
(Adisasmita, 2011). Merupakan rangkaian pelakasanaan kegiatan yang meliputi fungsi-fungsi manajemen pengelolaan seperti perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dalam mencapai tujuan tertentu.
(Fatmawati, 2019). Pengelolaan sampah dapat dikembangkan dengan prinsip 5R = 5M, yaitu Rethink atau merubah pola pikir tentang sampah bahwa jika sampah dikelola dengan secara baik maka akan menjadi sebuah sebuah sumberdaya, Reduce atau mengurangi pemakaian produk yang berpotensi menimbulkan sampah, Reuse atau menggunakan kembali barang- barang yang masih bisa digunakan, Recycle atau mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bernilai kereatif dan Replant atau menanam kembali/penghijauan.
(Atmosudirjo, 2005). Pengelolaan adalah pengendalian serta pemanfaatan dari semua faktor sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tujuan tertentu. Dari pengertian diatas menjelaskan pengelolaan pada proses pengendalian serta pemanfaatan dari semua faktor dari sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
22
22
(Kiyosaki, 2000). Pengelolaan merupakan sebuah kata yang mencakup tentang pengelolaan uang, waktu, orang, dan sumber daya, serta pengelolaan informasi yang paling utama. Pengelolaan juga merupakan upaya agar mengurangi terjadinya kemungkinan resiko terhadap lingkungan hidup seperti terjadinya pencermaran atau kerusakan lingkungan hidup, serta mengingat kembali tentang bahan yang berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif, pengelolaan ialah suatu proses yang akan digunakan untuk menyesuaikan strategi dalam pengelolaan agar mereka dapat mengatasi perubahan dalam interaksi antar manusia.
(Terry, 2009). Menyebutkan bahwa dalam pengelolaan ada empat peran dan fungsi manajemen sebagai berikut :
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sesuatu hal yang mencakup pendefinisian tujuan tentang, penetapan strategi, dan mengembangkan rencana untuk merencanakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan. Fungsi perencanaan ini adalah proses rangkaian keputusan untuk mengambil tindakan pada waktu yang akan datang agar tercapainya suatu tujuan.
Perencanaan ini dilakukan untuk menyusun rangkaian tindakan atau kegiatan agar mencapai tujuan yang diawali dengan kegiatan identifikasi dimana dijelaskan identifikasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengumpulkan warga masyarakat. Planning merupakan suatu proses yang menerus serta melibatkan keputusan-keputusan, dan pilihan-pilihan,
23
tentang bagaimana cara-cara penggunaan yang alternatif tentang sumber- sumber daya, dengan tujuan agar menghasilkan sasaran-sasaran yang spesifik untuk waktu yang akan datang.
b. Pengorganisasian (Organizing).
Pengorganisasian adalah proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang sangat dibutuhkan agar mencapai tujuan, dan menempatkan pula orang-orang pada setiap aktivitas ini, dan menyediakan alat-alat yang diperlukan, kemudian menetapkan wewenang yang secara relatif yang diberikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktifitas-aktifitas tersebut.
Pengorganisasian juga merupakan kegiatan yang dapat menghimpun dan menyusun sumber daya manusia agar kegiatan pencapaian pelaksanaan tujuan yang telah ditetapkan tersebut dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
c. Pelaksanaan / Penggerakan (Actuating).
Pelaksanaan/Penggerakan merupakan orang-orang yang mau bekerja dengan mandiri atau dengan kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dihendaki secara efektif. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kepemimpinan untuk mengatur jalannya suatu pelaksanaan tersebut.
d. Pengawasan (Controling)
Pengawasan atau pengendalian tersebut adalah sebagai salah satu kegunaan untuk mengadakan perbaikan bila hasil atau jasa yang sudah
24
24
distandarisasikan itu tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Standarisasi ialah salah satu tindakan awal dari proses perencanaan dan standar itu dapat dipercayai sebagai dasar untuk mengevaluasi dan membandingkan dalam kegiatan pengawasan.
(Nisandi 2007). Sampah dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Sampah organik yaitu sampah yang seperti tumbuhan dan hewan yang dihasilkan dari alam dan kegiatan pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Jenis-jenis sampah ini sangat mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar berbentuk sampah organik, misalnya dari sampah dapur, sayuran, kulit buah, sisa-sisa tepung, daun dan lain sebagainya.
2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang seperti mineral dan minyak bumi atau dari pabrik dan proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat dialam seperti plastik dan aluminium. Termasuk dari sebagian zat anorganik secara keseluruhan yang tidak dapat diuraikan atau dihasilkan oleh alam, sedangkan sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sedikit lama.
C. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Terhadap Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Gowa Terhadap Lingkungan.
Masalah persampahan kota di Indonesia dapat diselesaikan secara baik apabila masyarakat berperan aktif dan meningkat. Pada umumnya proses pengelolaan sampah dimulai dari tahapan pengelolaan sampah yang diproses pada tahap awal dapat mulai dari jumlah timbulan sampah itu sendiri (seperti di lingkungan rumah tangga). Dengan cara mengelola sampah organik
25
menjadi kompos dan sampah anorganik diolah dengan cara dipilah setelah itu dikumpulkan sesuai jenisnya sehingga memungkinkan untuk di daur ulang.
Dan tahapan akhir yaitu pengangkutan sisa akhir sampah. Sampah yang tidak dapat diolah dan didaur ulang tidak dapat dimanfaatkan lagi dan diproses dengan cara penimbunan atau pembakaran sampah akhir.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam pengelolaan sampah rumah tangga memiliki tujuan agar penerapan pengelolaan sampah dilingkup Kelurahan Sungguminasa dapat terwujud dengan mewakili aspirasi masyarakat untuk menyampaiakan kepada pemerintah tentang apa saja keluhan-keluhan dan kekurangan dalam peduli terhadap lingkungan agar pemerintah bisa menerapkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara menyiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat.
D. Standar Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Standar pengelolaan sampah rumah tangga menurut UU No. 18 Tahun 2008 yaitu: Pengelolaan sampah rumah tangga, sampah domestik yang berasal dari lingkungan pemukiman masyarakat setempat, pendaurulangan sampah, pembatasan timbulan sampah. Dalam pengelolaan sampah yang dapat diperlukan yaitu adanya kepastian hukum, adanya kejelasan tanggung jawab serta kewenangan pemerintah, pemerintah daerah, dan peran masyarakat dan juga dalam dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan sesuai proporsional, efektif, dan efisien.
26
26
Gambar 1. Model Pengelolaan Sampah Umum
https://sditinsanutama.wordpress.com/2011/05/27/mengenal-bermacam-macam- sampah/
E. Konsep Manajemen Persampahan di Indonesia
Sektor persampahan di Indonesia amat rumit dan beragam.untuk meningkatkan manajemen persampahan diseluruh nusantara, pemerintah Indonesia berperan dalam memberikan dukungan teknis dan membuat standar. selain itu pemerintah pusat juga mendorong pemerintah provinsi dan kota, sektor swasta, serta masyarakat untuk menerapkan srtategi yang lebih memperhatikan lingkungan. Diperkirakan sekitar 10-20 persen sampah Indonesia didaur ulang oleh masyarakat aktif dan sektor swasta. Pemerintah pusat secara aktif mendorong para pemangku kepentingan untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang serta menyediakan fasilitas pengelolaan antara dan tempat pemilihan sampah bagi para pemulung di tempat pemprosesan akhir.
27
Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2008 mengenai pengelolaan sampah dalam pasal 22 ayat 1 menjelaskan tentang kegiatan penanganan sampah meliputi:
a. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan serta pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan sifat sampah.
b. Pengumpulan dengan bentuk pengambilan serta pemindahan sampah dari sumber sampah ketempat penampungan yang sementara atau tempat pengelolaan sampah terpadu.
c. Pengangkutan dalam bentuk mengangkut sampah dari tempat penampungan sampah sementara dari tempat pengelolaan sampah terpadu menuju ke TPA.
d. Pengelolaan dalam bentuk mengubah karakteristik.
F. Hasil Penelitian Terdahulu
Sepanjang penelusuran yang dilakukan oleh penulis mengenai judul ini maka ada beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian terkait judul yaitu :
Peneliti oleh (Hasibuan R, 2016). Tentang Analisis Dampak Limbah/
Sampah Rumah Tangga Terhadap Pencemaran Lingkungan Hidup Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan kurangnya akan perhatian masyarakat terhadap lingkungan disekitarnya. Untuk mengelola sampah rumah tangga dapatdilakukan dengan cara seperti mendaur ulang, pembakaran, pemisahan, pengomposan dan pembusukan.
28
28
Peneliti (Dwiyanto, 2011). Pada studi kasus di kecamatan tembalang kota semarang, dengan tujuan menganalisis model pengelolaan sampah perkotaan. Sistem pendekatan yang dipakai untuk menyusun model tentang pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat ini merupakan sebuah pendekatan bagi pemberdayaan masyarakat yang melalui peningkatan partisipasi terhadap suatu organisasi yang meliputi :
1. Dilakukan dengan pengenalan tentang bagaimana karakteristik sampah dan bagaimana metode pembuangan yang diterapkannya.
2. Merencanakan serta menerapkan pengelolaan persampahan dengan secara terpadu (pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir).
3. Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga atau organisasi yang ada agar fungsi operator dapat memberikan pelayanan, dengan lebih tegas dalam melaksanakan penghargaan dan (Hukuman) dalam pelayanan.
29 G. Kerangka Pikir
Gambar 2.
Berdasarkan dari teori yang ada maka dapat digambarkan dengan kerangka pikir sebagai berikut:
H.
H. Fokus Penelitian
Penelitian ini yang menjadi fokus penelitian yaitu pengelolaan sampah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya agar lebih mudah melakukan klarifikasi didalam meneliti. Adapun deskripsi fokus yang diuraikan oleh
Tata Kelola Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kelurahan Sungguminasa
Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa (Terry, 2009)
(Terry, 2009)
Faktor Penghambat
Kurangnya sarana dan prasarana
Kurangnya anggaran khusus dalam
pengelolaan sampah
Kurangnya TPA dan bank sampah di Kelurahan Sungguminasa Faktor Pendukung
Adanya dukungan penuh dari Bupati Gowa dengan di terbitkannya PERDA tentang pengelolaan persampahan
Dapat bernilai ekonomi bagi masyarakat
setempat.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengawasan
Efektifitas Pengelolaan Sampah Rumah Tangga sehingga teratasinya masalah persampahan yang dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat dan terbebas dari sampah.
30
30
peneliti semoga dapat membantu pemerintah untuk memecahkan permasalahan dalam pengelolaan sampah.
I. Deskripsi Fokus Penelitian
a. Tata Kelola adalah suatu proses atau cara dalam melakukan kegiatan pelaksanaan untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Pengelolaan Sampah adalah Proses pendaurulangan dari sampah-sampah yang masih dapat dimanfaatkan dan digunakan kembali.
c. Perencanaan (Planning). Proses perencanaan adalah proses menyusun target atau rencana kerja yang dikelolah oleh dinas lingkungan hidup yang berhubungan dengan Tata Kelola Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga meliputi penentuan tarif retribusi, pengangkutan, pemilahan.
d. Pengorganisasian (Organizing). Pengorganisasian dalam hal ini adalah suatu bentuk pembagian tugas yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dalam bentuk struktur organisasi dalam menangani persampahan di Kecamatan Somba Opu.
e. Pelaksanaan (Actuating). Pelaksanaan yaitu proses pelaksanaan atau menggerakkan organisasi yang dilakukan oleh dinas lingkungan hidup dalam mengelola mulai dari sampah rumah tangga sampai ke TPA berupa pengangkutan, penampungan, sampai pembuangan ke TPA.
f. Pengawasan (Controling). Pengawasan tersebut adalah sebagai salah satu upaya dinas lingkungan hidup untuk mengawasi dalam hal penanganan persampahan agar sesuai dengan hasil yang diharapkan.
g. Teratasinya masalah persampahan sehingga dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat dan terbebas dari sampah.
31 A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 2 bulan yaitu pada bulan Juli sampai bulan September 2019. Karena dalam penelitian ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengatasi pengelolaan sampah di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
Tempat atau lokasi penelitiannya adalah di Kantor Dinas Lingkungan Hidup, dan Kelurahan Sungguminasa Kabupaten Gowa. Penulis memilih penelitian ini di kantor Dinas Lingkungan Hidup karena untuk mengetahui bagaimana solusi dari penanggulangan Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa agar bebas dari sampah masyarakat dan untuk menjaga lingkungan sekitar agar menjadi bersih.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif, dimana penelitian ini berangkat dari data lapangan dan menggunakan teori yang sudah ada sebagai pendukung, kemudian hasil yang diperoleh dari proses penelitian akan memunculkan teori dari data-data tersebut. Artinya data, fakta dengan himpunan yang berbentuk kata atau gambar dari pada angka.
Mendeskripsikan tentang Tata Kelola Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
32
32 2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah tipe fenomenologi yang digunakan untuk memberikan gambaran dengan jelas mengenai masalah-masalah apa sajakah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami informan.
Adapun masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami informan. Adapun masalah yang diteliti adalah mengenai Tata Kelola Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
C. Sumber Data
Sumber data yang paling utama digunakan dalam penelitian kualitatif ini ialah kata-kata berupa informasi, dan sisanya ialah data tambahan berupa dokumen dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan dua sumber data yaitu sebagai berikut:
1. Data primer
Data primer ialah sumber data yang di dapatkan melalui kegiatan wawancara dengan subjek penelitian dan dengan observasi atau dari pengamatan langsung dilapangan. Dalam penelitian ini data primer berupa catatan hasil wawancara dan hasil pengamatan langsung di lapangan yang diperoleh melalui proses wawancara, observasi dan dokumentasi dengan Kepala Seksi pengurangan Sampah (Dinas Lingkungan Hidup), Kepala Kelurahan Sungguminasa, Peduli Gowa (LSM), dan Masyarakat setempat.
33 2. Data sekunder
Data sekunder ialah sumber data penelitian yang telah diperoleh dari sumber yang sudah ada, melalui proses studi keperpustakaan, peraturan perundang-undangan, referensi-referensi, laporan-laporan atau dokumen- dokumen yang di peroleh dari lokasi tempat penelitian. Adapun laporan atau dokumen yang bersifat informasi tertulis yang dikumpulkan peneliti adalah data dokumentasi dan data-data yang lainnya.
D. Informan Penelitian
Informan penelitian ialah orang yang mampu memberikan informasi yang kita butuhkan, memahami tentang objek penelitian. Dalam menentukan informan penulis menggunakan cara atau metode Purposive Sampling dengan menentukan informan atau pihak-pihak yang terkait di dalam Pengelolaan Sampah tersebut:
Tabel 3. Informan Penelitian
No. Nama Jabatan / Instansi Jumlah
1 Abidzar Husain, ST, MT KaBid Pengelolaan Persampahan dan Pertamanan
Sampah (Dinas Lingkungan Hidup) 1 Orang 2 Henry Alfa, S.IP Kepala Seksi Pengurangan Sampah (Dinas
Lingkungan Hidup) 1 Orang
3 Nur Hidayat Peduli Gowa (LSM) 1 Orang
4 Andi Pangeran Zubair, A.Md Kepala Kelurahan Sungguminasa 1 Orang
5 Nur Reskia, S.Pd dan Atikah Masyarakat Setempat 2 Orang
Total Informan 6 Orang
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling bagus dan strategis dalam sebuah penelitian, sebab tujuan yang paling utama dari penelitian ini yaitu memperoleh dan menghasilkan data yang akurat, sehingga
34
34
tanpa adanya teknik pengumpulan data, kita tidak mungkin memperoleh data yang diperlukan selama penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.
1. Teknik wawancara (interview)
Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua orang atau kedua belah pihak yaitu pewawancara (interview) yang mengajukan pertanyaan dan diwawancara (interview).
Metode wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang Tata Kelola Pemerintah Daerah dalam Mengelola Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur yaitu wawancara yang dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Pewawancara memberikan pertanyaan kepada informan namun dapat berkembang dan lebih bebas sesuai dengan situasi dan informasi yang dibutuhkan oleh informan.Wawancara semi terstruktur bertujuan untuk mendapatkan suatu permasalahan dengan cara lebih terbuka, yang dimana pihak yang akan diwawancarai dimintai pendapat dan ide-idenya. Dalam penelitin ini wawancara dilakukan secara langsung dengan informan, mengenai Tata Kelola Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
35 2. Teknik Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah pengumpulan data yang menggunakan cara yaitu dengan mencatat dan mengamati secara sistematis dengan fenomena-fenomena yang telah diselidiki.
Penelitian ini menggunakan teknik observasi non partisipatif, dimana pada pelaksanaannya peneliti tidak terlibat langsung dengan aktivitas-aktivitas orang-orang yang sedang diamati, dan hanya sebagai pengamat independen. Kegiatan observasi pada penelitian ini dilakukan di Dinas Lingkungan Hidup, Masyarakat Setempat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Peduli Gowa, dan Kelurahan Sungguminasa, 3. Teknik Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa masa lampau yang sudah berlalu dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berupa tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, biografi, peraturan dan kebijakan. Dokumen- dokumen berupa gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain- lain. Dokumen berupa karya-karya yang dapat dilihat dari karya seni yang berupa gambar, patung, film dan sebagainya.Studi dokumen juga dapat dikatakan sebagai pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.
Penelitian ini dalam dokumentasi diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Kelurahan Sungguminasa, Masyarakat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Peduli Gowa. Kecamatan Somba Opu berupa data,
36
36
foto, laporan kegiatan pengelolaan sampah, atau segala bentuk dokumentasi yang merekam aktivitas Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
F. Teknik Analisis Data
Proses analisis data menurut model Miles dan Huberman yaitu meliputi aktivitas pengumpulan data, data reduction (reduksi data) data display (penyajian data), dan conclusion drawing atau penarikan kesimpulan/
verifikasi. Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan data (Data Collection)
Data yang muncul dalam wujud kata-kata dan bukan angka dikumpulkan melalui berbagai cara seperti observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman yang melalui proses pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih tulis. Sebab yang paling utama dari penelitian ini ialah memperoleh data yang lebih akurat, dan data-data yang memenuhi standar yang telah ditetapkan.
2. Reduksi data (Data reduction)
Mereduksi data dapat diartikan dengan merangkum, atau memilih hal-hal yang pokok, dan memfokuskan pada hal-hal yang penting, juga dicari pada tema dan polanya, sebab data yang dihasilkan dari lapangan jumlahnya cukup bayak dan diperlukan untuk dicatat secara teliti dan rinci. Dengan melakukan reduksi data akan memberikan contoh gambar yang lebih jelas, serta dapat mempermudah peneliti untuk melakukan
37
pengumpulan data selanjutnya, dan setelah itu menyimpannyaapabila diperlukan kembali. Reduksi data juga dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer agar dapat memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. (Sugiyono, 2016).
3. Penyajian Data (Data display)
Data yang disajikan adalah data yang telah melewati tahap reduksi.
Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar penulis lebih gampang dalam memahami masalah yang menyangkut dengan penelitian dan bisa meneruskan langkah berikutnya. Umumnya penyajian yakni suatu pengaturan, segala informasi yang sudah di dapat dan disimpulkan.
penyajian data bisa dilakukan dengan menggunakan bagan, uraian dan skema.
4. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion drawing/verification) Langkah ketiga ialah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan mendapatkan makna data yang telah disajikan. Dari data-data yang telah terkumpul selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dan kemudian kesimpulan tersebut diverifikasi serta diuji validitasnya.
G. Teknik Pengabsahan Data
Pengabsahan data yaitu bentuk batasan yang berkaitan dengan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga bisa didapat dengan cara pengumpulan data yang cepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan proses triangulasi,