• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Stres

Dalam dokumen Home - Open Access Repository (Halaman 34-40)

2.4.1 Pengertian stres

Menurut Isaacs (2004, disitasi Imelisa et al. 2021) stres adalah kejadian yang dialami oleh manusia sepanjang hidupnya. Stres adalah stimulus atau situasi yang menghasilkan distres dan menimbulkan tuntutan fisik dan psikologis pada seseorang. Stres membutuhkan koping dan adaptasi. Teori Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa memperhatikan apakah penyebab stres tersebut positif atau negatif. Respon tubuh dapat diprediksi tanpa memperhatikan faktor pemicu atau penyebab tertentu.

2.4.2 Etiologi stres

Menurut Hawari (2006, disitasi Imelisa et al. 2021) penyebab yang dapat menimbulkan stres disebut sebagai stressor. Stressor dapat dikelompokkan sebagai berikut :

2.4.2.1 Stressor fisik biologis : suhu dingin atau panas, infeksi, rasa sakit, benturan, kehilangan atau kekurangan air, oksigen, makanan, kecacatan, dan lain-lain.

2.4.2.2 Stressor psikologis : ketakutan, kekhawatiran, ansietas, kemarahan, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta, peningkatan beban kerja, dan lain-lain.

2.4.2.3 Stressor sosial budaya : perceraian, konflik, perubahan tempat tinggal, masalah ekonomi, dikucilkan, dan lain-lain.

2.4.3 Tanda dan gejala stres

Menurut Goliszek (2005, disitasi Ulfah, 2019) gejala stres, yaitu:

2.4.3.1 Gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri otot, nyeri pinggang, rasa lemah, gangguan pencernaan, rasa mual atau muntah- muntah, sakit perut, nafsu makan menurun atau meningkat, jantung berdebar-debar, sering buang air kecil, tekanan darah tinggi, susah tidur atau tidur berlebihan, berkeringat secara berlebihan, dan sebagainya.

2.4.3.2 Gejala emosional, seperti mudah tersinggung, gelisah terhadap hal-hal kecil, perubahan suasana hati, mimpi buruk, khawatir, panik, sering menangis, tidak berdaya, perasaan kehilangan kontrol, muncul pikiran untuk bunuh diri, pikiran kacau, ketidakmampuan mengambil keputusan, dan sebagainya.

2.4.3.3 Gejala perilaku, seperti merokok, memakai obat-obatan atau mengkonsumsi alkohol berlebihan, berjalan mondar-mandir, kehilangan minat pada penampilan fisik, menarik atau memutar-mutar rambut, perubahan mendadak dalam berperilaku sosial, dan sebagainya.

Indikator stres menurut Goliszek (2005, disitasi Ulfah, 2019) bisa dilihat dari dua gejala yaitu gejala fisik dan gejala mental, antara lain :

2.4.3.1 Gejala fisik, seperti tidak mempedulikan pada penampilan fisik, menggigit kuku, berkeringat, mulut kering, sering mengetukkan atau menggerakkan kaki, wajah tampak lelah, pola tidur yang terganggu, cenderung makan yang berlebihan dan terlalu sering ke toilet.

2.4.3.2 Gejala mental yaitu kemarahan yang tak terkendali, atau cepat marah atau agresif, mencemaskan hal-hal yang kecil, ketidakmampuan dalam memprioritaskan, berkonsentrasi

dan memutuskan apa yang harus dilakukan, suasana hati yang tidak dapat ditebak atau perilaku yang tidak wajar, ketakutan atau fobia yang berlebihan, hilangnya kepercayaan pada diri sendiri, cenderung menjaga jarak, terlalu banyak bicara atau menjadi benar-benar diam, ingatan terganggu dan dalam kasus yang ekstrim benar-benar kacau.

2.4.4 Level stres

Menurut Imelisa et al. (2021) tahapan-tahapan stres sebagai berikut : 2.4.4.1 Stres tahap 1

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan seperti :

a. Semangat kerja yang berlebihan (over acting).

b. Penglihatan yang “tajam” tidak seperti biasanya.

c. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari energi semakin menipis.

2.4.4.2 Stres tahap 2

Dalam tahapan ini dampak stres yang semula

“menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap 1 diatas mulai hilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena energi yang tidak lagi mencukupi sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Keluhan- keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada tekanan tahap 2, seperti :

a. Merasa lelah saat bangun pagi yang seharusnya merasa segar.

b. Merasa mudah lelah setelah makan siang.

c. Cepat merasa lelah menjelang sore hari.

d. Sering mengeluh perut tidak nyaman (bowel discomfort).

e. Detakan jantung semakin cepat dan tidak teratur.

f. Otot punggung dan tengkuk terasa kaku.

g. Sulit untuk bersantai.

2.4.4.3 Stres tahap 3

Jika seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap 2, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, seperti :

a. Gangguan lambung dan usus semakin nyata, misal gastritis (maag), dan diare.

b. Ketegangan otot semakin terasa.

c. Perasaan tidak tenang dan ketegangan emosional semakin meningkat.

d. Insomnia misal sulit untuk mulai tidur (early insomnia), terbangun tengah malam dan sulit tidur kembali (middle insomnia), dan bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat tidur kembali (late insomnia).

2.4.4.4 Stres tahap 4

Jika seseorang masih terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap 4 akan muncul, seperti :

a. Sangat sulit bertahan sepanjang hari.

b. Aktivitas pekerjaan yang dulunya menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan sulit.

c. Menurunnya kemampuan untuk merespon situasi dengan adekuat.Tidak mampu melaksanakan aktivitas harian yang biasa dilakukan.

d. Gangguan pola tidur dengan mimpi yang menakutkan.

e. Sering menolak ajakan karena kurang semangat dan gairah.

f. Kemampuan konsentrasi dan ingatan menurun.

g. Munculnya rasa takut dan cemas tanpa sebab yang jelas.

2.4.4.5 Stres tahap 5

Terjadi ketika situasi terus berlanjut, maka seseorang akan mengalami stres tahap 5 ditandai dengan hal-hal, seperti : a. Kelelahan fisik dan mental yang semakin parah.

b. Tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas ringan.

c. Gangguan pencernaan semakin parah.

d. Muncul rasa takut, ansietas, bingung, dan panik yang semakin meningkat.

2.4.4.6 Stres tahap 6

Tahapan ini adalah puncak stres di mana seseorang mengalami serangan panik (panic attact) dan merasa takut akan kematian. Gejala stres tahap 6, seperti :

a. Detak jantung yang sangat kencang.

b. Kesulitan bernapas (sesak dan napas terengah-engah).

c. Tubuh gemetar, dingin, dan berkeringat.

d. Rasa lelah yang sangat untuk hal-hal yang sepele.

e. Pingsan atau kolaps.

2.4.5 Respon fisiologi terhadap stres

Menurut (Imelisa et al., 2021) respon fisiologi terhadap stres, sebagai berikut :

2.4.5.1 Local Adaptation Syndrom (LAS)

Tubuh menghasilkan banyak respon lokal terhadap stres, seperti pembekuan darah dan penyembuhan luka, penyesuaian mata terhadap cahaya, dan lain-lain. Respons lokal ini bersifat sementara dan berlangsung dalam jangka pendek.

Karakteristik dari LAS adalah, sebagai berikut :

a. Respon yang terjadi adalah setempat : respon yang tidak melibatkan seluruh sistem tubuh. Respon bersifat

adaptif, artinya stressor dibutuhkan untuk merangsang respon tersebut.

b. Respons berjangka pendek. Respon tidak dapat terus berlangsung secara terus-menerus.

c. Respon adalah restoratif, yang berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan keseimbangan region atau bagian tubuh. Dua respon setempat yaitu respon refleks nyeri dan respon inflamasi.

1) Respon refleks nyeri adalah reaksi setempat dari sistem saraf pusat terhadap rasa sakit. Reaksi ini adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih lanjut.

2) Reaksi inflamasi dipicu oleh trauma atau infeksi.

Reaksi ini memusatkan peradangan, sehingga menghambat penyebaran peradangan dan meningkatkan penyembuhan.

2.4.5.2 General Adaptation Syndrome (GAS)

GAS adalah respon pertahanan dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon ini melibatkan beberapa sistem tubuh, terutama sistem saraf otonom dan sistem endokrin.

a. Reaksi alarm

Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor.

b. Tahap Resistensi

Dalam tahap resistensi, tubuh kembali menjadi stabil, kadar hormon, frekuensi jantung, tekanan darah, curah jantung kembali ke tahap normal. Seseorang mencoba beradaptasi dengan stres yang ada.

c. Tahap Kelelahan

Tahap kelelahan terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu melawan stres dan energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan adaptasi sudah menurun.

d. Respon Psikologis.

Terpapar terhadap stressor menghasilkan respon adaptasi psikologis dan fisiologis.

Dalam dokumen Home - Open Access Repository (Halaman 34-40)

Dokumen terkait