• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Konsep Ta‟awun

26

adat dan hukum adat terletak ada atau tidak ada ancaman hukuman atau saksi.50

Ada tiga syarat agar adat atau kebiasaan dapat menjadi hukum adat, yakni:51

a. Syarat materil

Yaitu adanya tingkah laku tetap yang di ulang-ulang artinya serangkaian perbuatan yang sama, berlangsung untuk beberapa waktu lamanya (longa et inveterate consuetude).

b. Syarat intlektual

Yaitu adat atau kebiasaan itu harus memiliki dan menimbulkan keyakinan pendapat umum bahwa perbuatan itu merupakan kewajiban hukum

c. Adanya akibat hukum atau menimbulkan akibat hukum apabila adat itu dilanggar

3. Konsep Ta‟awun

27

































“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.52

b. karakteristik Simbiosis Ta‟awun

Ada 4 ciri-ciri atau kaarakter orang dalam tolong menolong baik dalam keadaan menolong ataupun saat diberi pertolongan:

1) Orang yang mau menolong dan ditolong

Pada dasarnya sifat asli manusia adalah mengharapkan ditolong ketikan sudah memberi pertolongan. Istilahnya dalam Bahasa Arab disebut Al-Mu‟in wal Musta‟in, yang artinya mereka yang mengutamakan keseimbangan. Ini memperlihatkan bahawa Ketika suatu saat di tolong maka saatnya nanti harus menolong.

2) Orang yang tidak mau menolong dan tidak mau ditolong

La yu‟in wa la yasta‟in istilah Bahasa arab ini mengartikan bahwa tidak suka di tolong dan tidak suka menolong atau individualis. Hal ini diibiratkan seperti orang yang hanya ingin hidup dan tinggal sendiri seperti tarzan yang tinggal di hutan. Menurut mereka meminta bantuan atau pertolongan kepada orang lain hanya akan menyusahkan orang tersebut. Pantang bagi mereka untuk meminta pertolongan, Ketika bisa dilakukan sendiri maka dilakukan semuanya sendiri.

Mereka mengandalkan sepenuhnya kemampuan dirinya dan pantang melakukan atau mengerjakan di luar kemampuannya. Sama halnya Ketika orang

52 Kementerian Agama RI, Al Qur‟an dan Tafsirnya, Jilid II,( Jakarta: Penerbit Lentera Abadi, 2010), .352

28

membutuhkan bantuannya mereka seolah tidak perduli akah hal tersebut. Mereka tidak ingin terlibat pada urusan orang lain begitu juga sebaliknya alasannya adalah tidak ingin di susahkan dan menyusahkan orang lain.

3) Orang yang tidak mau menolong, tetapi mau ditolong Terima jadi adalah sebutan yang pas untuk orang yang memiliki karakter mau di tolong akan tetapi enggan menolong. Orang dengan karakter ini selalu mencari orang lain untuk membantunya Ketika dia memiliki kesulitan. Karakter ini tidak segan melimpahkan permasalahannya kepada orang lain untuk diselesaikan sepenuhnya. Namun sebaliknya dia enggan menolong orang lain dalam dan selalu mencari alas an agara dapat terhindar dan menolaknya. Baginya masalah kecil adalah masalah yang besar dan selalu merasa tidak bisa menyelesaikan permasahan tersebut, sehingga ia bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan permasalahannya, minimal mencari jalan keluar dengan segera. Umumnya dia tidak percaya pada kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan dan melakukan sesuatu untuk permasalahannya sendiri.

Kecenderungannya adalah menganggap dirinya lemah sehingga berhak untuk ditolong dan tidak mereasa layak untuk menolong. Orang yang bersedia menolongnya akan dipuji setinggi langit dan orang yang memperingatinya untuk saling bantu akan di tinggalkan. Mereka cendrung “terima jadi” saat bekerjasama dalam kelompok ataupun komunitas.

Kerana mereka yang memiliki karakter ini tidak mau direpotkan untuk kersama tim ataupun di atur dan disuruh-suruh dalam kelompok tersebut kecuali jika hal itu dapat mendongkrak nama dan popularitasnya dengan kata lain orang yang bekarakter seperti ini adalah orang yang apatis.

4) Orang yang mau menolong, tetapi tidak berharap ditolong

29

Seseorang dengan karakter ini adalah seseorang yang mempunyai ilmu ikhlas yang sangat tinggi. Setiap kali dia menolong orang, tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk meminta balasan atau pertolongan yang sama. Dia melakukan semuanya hanya karena Allah.

Dia ingin hanya Allah yang membalasnya. Dia tentu akan dicintai oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Dia tidak akan segan-segan menolong jika ada orang Iain yang kesusahan. Menurutnya, derita yang dialami oleh seseorang adalah deritanya. Melihat orang lain susah, pasti hatinya juga susah. Orang seperti ini tidak menafikan bahwa mereka membutuhkan bantuan orang lain karena dia bukan orang super yang dapat mengerjakan semuanya seorang diri. Dia tidak pernah berharap orang yang pernah dia tolong membalas kebaikannya sesuai dengan apa yang pernah dia berikan. Apa pun pertolongan dari orang Iain akan diterimanya dengan rasa syukur. Tanpa perlu meminta bantuan orang lain pun, jika dia sedang kesulitan, orang lain pasti mengetahui dan akan segera membantu dengan senang hati. Allah yang menggerakkan hati orang lain untuk membantunya karena keikhlasannya saat membantu orang lain.53

c. Manfaat Ta‟awun

hakikatnya sifat dasar manusia sebagai makhluksosial adalah ingin selalu tolong menolong (ta‟awun) dalam kebutuhan hidupnya. Pada realitanya semua pekerjaan tidak dapat dikerjakan sendiri dan membutuhkan orang lain untuk membantunya jelas memperlihatkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk saling membantu dalam kehidupan sehari-hari. manfaat ta‟awun diantaranya adalah:

53 Lutfi Avianto, Prinsip Ta‟awun Untuk Meraih Kesuksesan, Jakarta: Bina Sarana Pustaka,2012, 10

30

1) Cepatnya suatu pekerjaan selsai dengan saling menutupi kekurang masing-masing dengan saling tolong menolong.

2) Penyebaran syiar Islam lebih mudah

3) al Jama‟ah adalah pegangan teguh Ta‟awun yaitu perkara ushul (pokok). Salah satu ajaran agama islam adalah tolong menolong sehingga dengan ta‟awun ajaran tersebut dapat terealisasi.

4) Dengan bekerja sama dan saling membantu, dapat mewujudkan amar ma‟ruf nahi mungkar sehingga akan memberikan kemudahan dalam menjalankan perinta Allah. Selain itu dapat mempertahankan tali ukhwah antar sesama sesuai perintah baginda Nabi Muhammad Saw.

5) Menumbuhkan rasa kasih saying dan cinta serta menjauhkan dari fitnah, sesuai dengan fiman Allah yang terdapat dalam surat Al Ashr.

6) Menghemat waktu dan mempercepat selesainya pekerjaan, dan dapat memperhemat waktu.

7) Kebiasaan tolong menolong dan saling membantu, merupakan modal umat manusia dalam kehidupannya.54

Dokumen terkait