• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontestasi Kekuasaan Pemerintah dan Masyarakat

Dalam dokumen KONTESTASI KUASA PADA WARISAN BUDAYA (Halaman 63-68)

DINAMIKA KONTESTASI II

2.2 Dinamika Sistem Pengelolaan

2.3.4 Kontestasi Kekuasaan Pemerintah dan Masyarakat

Kontestasi kekuasaan pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot merupakan arena bertemunya berbagai kepentingan yang saling berinteraksi yang menunjukkan adanya diskursus kekuasaan pemerintah di satu sisi dan kekuasaan masyarakat di sisi lain. Keduanya memiliki kekuatan yang saling memengaruhi satu sama lain dalam relasi kekuasaan yang terdistribusi dalam ranah

pemerintahan dan masyarakat. Kontestasi terjadi karena di satu sisi kekuasaan pemerintah sebagai “pengendali” sangat dominan atau menghegemoni, di sisi lain terdapat kekuatan masyarakat yang melakukan perlawanan. Kontestasi kekuasaan pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot merupakan proses perebutan antara kekuasaan pemerintah dan kekuasaan masyarakat.

Dalam hal ini kekuasaan pemerintah berada di tangan legislatif (DPRD) dan eksekutif (bupati). Kekuasaan legislatif dapat dicermati dari pembentukan Pansus DPRD yang bertugas membahas persoalan pengelolaan Tanah Lot. Berdasarkan hasil pembahasan Pansus, selanjutnya DPRD Kabupaten Tabanan mengeluarkan rekomendasi. Hal ini tampak dari Keputusan DPRD Nomor 188.53/03/DPRD, Tahun 1983 tentang persetujuan mengontrakkan objek-objek wisata di Kabupaten Tabanan dan rekomendasi Nomor 170/1976/DPRD Tahun 2011 yang memuat pengelolaan Tanah Lot dilakukan hanya oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan dan Desa Pakraman Beraban.

Kekuasaan eksekutif dapat dicermati dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah berupa surat tugas, surat keputusan, dan surat perjanjian keja sama seperti surat tugas menunjuk koordinator pengelola Tanah Lot (1971);

Surat Perjanjian Kontrak Nomor 55/5543/SDW (1984), Surat Perjanjian 01/HK/ 2000 yang mengontrakkan pengelolaan Tanah Lot dengan pihak swasta; melakukan kolaborasi dalam pengelolaan Tanah Lot; memutuskan hubungan dengan swasta dalam pengelolaan Tanah Lot, penetapan struktur organisasi badan pengelola, dan menetapkan pembagian hasil distribusi pengelolaan Tanah Lot. Di samping itu, kekuasaan pemerintah juga dapat diamati dari pernyataan bupati terkait dengan Keputusan 01/BP/DTWTL/

XI/2011 tentang pengangkatan Manajer Operasional Tanah Lot yang ditolak oleh masyarakat Beraban seperti dikutip dari Bali Post, 26 November 2011 berikut ini.

“Keputusan yang ditandatangani sudah melalui prosedur dan proses keluarnya keputusan adalah wewenang penuh dari pemerintah yang dilindungi undang-undang. Bupati juga mengatakan akan menghormati pihak yang menolak dan memprotes keputusan

tersebut. Silahkan saja menolak, yang jelas keputusan harus jalan terus karena semua sudah sesuai prosedur”

Kekuasaan pemerintah yang diimplementasikan melalui kebijakan ternyata mendapat perlawanan dari masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat mengganggap dirinya memiliki kekuasaan sehingga mereka juga berhak mengeluarkan kebijakan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa keputusan seperti Keputusan Desa Pakraman Beraban Nomor 120/DP/Brb/2011 yang menyatakan “untuk menjaga kondusivitas dan kelancaran manajemen operasional, desa pakraman tetap menunjuk manajer operasional yang telah ditugaskan selama ini”. Keluarnya keputusan desa pakraman ini menyebabkan adanya dua manajer operasional daya tarik wisata Tanah Lot.

Kekuasaan masyarakat juga dapat dicermati pada rapat warga 1 Desember 2011 yang membahas keluarnya keputusan bupati tentang pengangkatan manajer operasional. Dalam rapat tersebut sejumlah warga yang mendapat kesempatan protes hampir seluruhnya mendesak mundur bendesa pakraman seperti dapat dilihat pada lampiran 10 (Bali Post, 3 Desember 2011). Di samping itu, ada warga yang menyatakan mosi tidak percaya dan warga yang emosi meneriakkan yel-yel “mundur”.

Seorang warga yang emosi sempat menggebrak meja lalu berusaha menghampiri bendesa pakraman yang duduk di meja. Dalam hal ini tampak krama desa merasa memiliki kekuasaan. Untuk desakan mundur, bendesa pakraman menyatakan bahwa proses mundurnya bendesa pakraman sudah ada aturannya karena jabatan bendesa dipilih oleh rakyat. Hal senada juga diungkapkan Perbekel Beraban Made Sumawa, ia siap mundur jika dinilai salah dalam proses keluarnya SK Manajer Operasional Tanah Lot. Protes warga terhadap bendesa pakraman dapat dilihat seperti pada lampiran 11 (Nusa Bali, 3 Desember 2011). Protes warga terhadap Bendesa Pakraman Beraban dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Protes Warga Terhadap Bendesa Pakraman Beraban

Sumber: Bali Post, 3 Desember 2011

Di pihak lain, Karang Taruna GAPERA juga menyampaikan Surat Nomor 50/KTR/BRB/X/ 2011, 6 Desember 2011 kepada Bendesa Pakraman Beraban, Perbekel, Ketua BPD, kelihan adat dan banjar se- Desa Beraban yang menjelaskan “(1) menolak SK Ketua Umum Badan Pengelola Nomor 01/DP/DTWT/XI/2011 dan (2) menurunkan jabatan Bendesa Pakraman Beraban dengan mekanisme yang benar”.

Untuk mengakhiri persoalan Tanah Lot yang semakin melebar dan berkepanjangan, prajuru Desa Pakraman Beraban mengambil kesepakatan dengan mengeluarkan Surat Pernyataan Sikap Nomor 40/DP/BRB/II/2012 yang ditandatangani oleh 27 prajuru adat beserta strukturnya (Bali Post, 21 Februari 2012; Denpost, 21 Februari 2012). Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa prajuru adat di Desa Pakraman Beraban mendukung dan menghormati perjanjian yang telah ditandatangani Bupati Tabanan dengan bendesa pakraman tentang pengelolaan Tanah Lot dan siap untuk mengamankan pelaksanaan perjanjian tersebut.

Terkait dengan keputusan tersebut, I Made Sumawa mantan Perbekel Beraban yang sekarang sebagai Bendesa Pakraman Beraban dalam wawancara (27 Juli 2014) menerangkan sebagai berikut.

“Yang berhak menyelesaikan persoalan Tanah Lot adalah Bendesa Pakraman Beraban dan kelihan adat yang ada di Desa Beraban yang mewakili masyarakat. Oleh sebab itu, supaya persoalan ini tidak berkepanjangan kami sepakat untuk mengakhiri masalah ini dengan menyampaikan pernyataan mendukung keputusan bupati”. Untuk jelasnya lihat pula lampiran 12 (Denpost, 21 Februari 2012).

Penjelasan di atas menggambarkan bahwa pemerintah dan masyarakat sama-sama menunjukkan kekuasaannya melalui kebijakan yang dikeluarkan. Dalam hal ini kontestasi kekuasaan tidak hanya terjadi antara pemerintah dan masyarakat, tetapi juga terjadi antara kekuasaan masyarakat dengan masyarakat.

Fenomena ini sejalan dan pandangan Foucault bahwa pola hubungan kekuasaan tidak hanya berasal dari penguasa atau negara.

Kekuasaan bersifat jaringan (Saruf, 2011: 112) dan menyebar ke mana-mana (Foucault, 2007: xxxvii). Menurut Barker (2004: 408), kekuasaan umumnya berhubungan dengan kekuatan yaitu individu atau kelompok mampu mencapai tujuan atau kepentingan mereka melawan kehendak orang lain. Kekuasaan bersifat menghambat (menguasai) dan merupakan model zero-sum (mendapatkan atau tidak sama sekali) yang ditata di dalam blok kekuasaan biner. Sejalan dengan pandangan cultural studies dan mengikuti pandangan Foucault bahwa dalam penelitian ini menekankan kekuasaan bersifat produktif dan memberdayakan (memiliki kemampuan untuk sesuatu), serta kekuasaan beredar pada semua level masyarakat dan semua relasi sosial.

Sebagaimana disebutkan Barker (2004: 411) bahwa perlawanan merupakan suatu kategori penilaian normatif tentang tindakan.

Perlawanan muncul dari hubungan kekuasaan dan subordinasi dalam bentuk penentangan dan negosiasi terhadap tatanan yang melakukan infiltrasi dan perlawanan bersifat rasional konjungtural. Hegemoni

dari kelompok dominan setidaknya terlihat mendapatkan perlawanan (counter hegemoni) dari kelompok yang didominasi dan berimplikasi terhadap pergulatan yang belum selesai.

Praktik kontestasi kuasa pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot yang menyangkut kontestasi sistem pengelolaan, kedudukan manajer, kepemilikan warisan budaya, dan kekuasaan sejalan dengan Teori praktik Bourdieu bahwa praktik merupakan gabungan habitus, ranah, dan modal dan juga teori Foucault tentang kekuasaan yang menyebar kemana-mana. .

Dalam dokumen KONTESTASI KUASA PADA WARISAN BUDAYA (Halaman 63-68)