• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kunjungan IPAL Cisirung

Dalam dokumen LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (Halaman 51-55)

ANALISI DAN PEMBAHASAN

4.1. Kunjungan IPAL Cisirung

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri yang pesat di Kota Bandung meningkatkan volume limbah cair dari sumber domestik dan industri, yang berpotensi mencemari air tanah jika tidak dikelola dengan baik. Sistem drainase tradisional yang masih banyak digunakan sering kali tidak efektif, sehingga memperburuk risiko pencemaran yang berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Untuk mengatasi masalah ini, Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan standar kualitas air limbah guna memastikan limbah cair yang dibuang ke lingkungan tidak merusak ekosistem atau membahayakan kesehatan masyarakat. Salah satu solusi efektif adalah penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) modern. Dengan teknologi canggih, IPAL mampu mengolah limbah cair hingga mencapai standar aman sebelum dibuang atau didaur ulang.

IPAL tidak hanya mengurangi pencemaran air, tetapi juga membantu menjaga kualitas ekosistem perairan, melindungi organisme laut, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Implementasi IPAL secara luas mendukung keberlanjutan sumber daya alam dan membantu Kota Bandung mewujudkan visi sebagai kota ramah lingkungan dan berkelanjutan.

4.1.1. Profil Perusahaan

IPAL Cisirung dibangun di kawasan yang berdekatan dengan berbagai industri tekstil dan makanan yang beroperasi di sepanjang Jalan Mohammad Toha, Bandung. Pada periode 1997 hingga 2000, terdapat sebanyak 52 industri yang aktif berproduksi di wilayah tersebut. Namun, jumlah ini mengalami penurunan secara signifikan, menyisakan hanya 25 industri yang masih berproduksi pada kurun waktu 2001 hingga 2008. Kemudian, pada tahun 2020, jumlah industri yang

IV-2

beroperasi semakin berkurang menjadi 22 saja. Pada tahun tersebut, total debit limbah cair yang dihasilkan oleh 22 industri tersebut rata-rata mencapai 175 liter per detik.

4.1.1.1. Lokasi Perusahaan

IPAL Cisirung terletak di Jalan Cisirung, bagian dari kawasan strategis di sepanjang Jalan Mohamad Toha. Jalan ini membentang mulai dari jembatan tol Cipularang di area Mohamad Toha hingga wilayah Jalan Cisirung, berdekatan dengan Sungai Citarum. Sebagai salah satu sungai utama di Jawa Barat, Sungai Citarum memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat dan aktivitas industri di sekitarnya.

Lokasi IPAL Cisirung yang strategis dirancang untuk menampung dan mengolah limbah cair dari industri-industri di Bandung Selatan, khususnya yang berada di bagian hulu Sungai Citarum. Posisi ini memungkinkan IPAL berfungsi sebagai pusat pengolahan limbah yang efisien, membantu mengurangi risiko pencemaran dan menjaga kualitas air Sungai Citarum.

Sistem pengelolaan limbah di IPAL Cisirung mencakup jaringan saluran air limbah terintegrasi yang memungkinkan pengumpulan limbah dari berbagai industri di wilayah sekitar. Limbah cair disalurkan dari lokasi industri ke IPAL melalui infrastruktur sesuai standar, sehingga pengolahan dapat dilakukan secara optimal sebelum limbah dilepas ke lingkungan. Lokasi dan sistem penyaluran limbah cair ini dapat dilihat lebih jelas pada Gambar 4.

IV-3 4.1.2. Proses Pengolahan IPAL Cisirung

Gambar 4. 1 Diagram Alir Proses Pengolahan di IPAL Cisirung

4.1.3. Teknologi Pengolahan Air Limbah di IPAL Cisirung

Pengolahan air limbah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Cisirung memanfaatkan dua proses utama, yaitu sistem lumpur aktif (activated sludge) dan kolam stabilisasi. Sistem ini dirancang untuk memastikan pengolahan limbah cair secara efektif dan efisien, sesuai dengan standar pengolahan limbah yang berlaku untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan (Puslitbang, 2016)

4.1.3.1. Proses Lumpur Aktif

Tahapan pertama dalam proses ini adalah pengendapan awal, di mana partikel besar yang tersuspensi dalam limbah cair diendapkan untuk mengurangi beban organik pada proses berikutnya. Selanjutnya, air limbah dialirkan ke bak aerasi, tempat udara disuplai untuk mendukung pertumbuhan koloni bakteri. Koloni

IV-4

bakteri yang tumbuh di bak ini dikenal sebagai lumpur aktif, memiliki warna khas dari kelabu hingga coklat-kehitaman. Koloni ini memainkan peran utama dalam mendegradasi bahan organik yang terkandung dalam air limbah (Darmasetiawan, 2004)

Seiring waktu, koloni bakteri membentuk gumpalan atau flok yang kemudian dialirkan ke bak pengendap akhir. Di bak pengendap akhir, flok-flok ini mengendap ke dasar, membentuk lumpur. Sebagian dari lumpur ini dihilangkan sebagai limbah padat, sementara sebagian lainnya dikembalikan ke bak aerasi untuk mempertahankan jumlah bakteri yang optimal. Cairan yang terdapat di bagian atas bak pengendap akhir terlihat jernih karena sebagian besar bahan organik telah dihilangkan. Cairan ini adalah air limbah yang telah melalui proses pembersihan dan dapat dilepaskan ke lingkungan setelah disinfeksi di bak klorinasi. Skema proses ini dapat dilihat pada Gambar

Gambar 4. 2 Diagram Proses Pengolahan Air Limbah dengan Proses Lumpur Standar Konvensional

Selain menggunakan metode lumpur aktif, IPAL Cisirung juga mengaplikasikan kolam stabilisasi sebagai bagian dari sistem pengolahan limbah.

Proses ini dimulai dengan pencampuran limbah cair dan lumpur dalam tangki reaktor kecil untuk waktu singkat, biasanya antara 20-40 menit. Campuran tersebut kemudian dialirkan ke tangki penjernih, di mana lumpur akan dipisahkan dan sebagian dikembalikan ke tangki stabilisasi untuk memastikan keberlanjutan proses. Waktu tinggal dalam tangki stabilisasi berkisar antara 4-8 jam, memungkinkan proses biologis berjalan optimal.

IV-5

Sistem kolam stabilisasi terdiri dari tiga jenis kolam yang berbeda: kolam anaerobik, kolam fakultatif, dan kolam maturasi. Setiap jenis kolam memiliki fungsi dan karakteristik kedalaman yang berbeda. Kolam anaerobik memiliki kedalaman antara 2,5-4 meter, yang memungkinkan proses dekomposisi anaerobik untuk memecah bahan organik. Kolam fakultatif memiliki kedalaman lebih dangkal, sekitar 1,5-2 meter, dan berfungsi sebagai tempat proses biologis campuran antara kondisi anaerobik dan aerobik. Sementara itu, kolam maturasi, dengan kedalaman sekitar 1 meter, berfungsi untuk penyempurnaan proses pengolahan, memastikan bahwa air limbah yang keluar telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Gambar 4.memberikan ilustrasi skema proses ini.

Gambar 4. 3 Diagram Proses Pengolahan Air Limbah dengan Kolam Stablisasi

Kombinasi antara sistem lumpur aktif dan kolam stabilisasi di IPAL Cisirung memberikan fleksibilitas dan efisiensi dalam mengolah berbagai jenis limbah cair, baik dari sektor domestik maupun industri. Hal ini menunjukkan komitmen untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan, menjaga kualitas sumber daya air, dan mendukung keberlanjutan ekosistem lokal.

Dalam dokumen LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (Halaman 51-55)

Dokumen terkait