BAB I PENDAHULUAN
E. Landasan Teori
Dalam studi ini menggunakan 2 teori utama yaitu teori Efisiensi berkeadilan Sri Edi Swasono yang berangkat
dari keyakinannya atas Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan hukum sistem ekonomi di Indonesia. Sturktur utama teorinya tersebut dilatar belakangi oleh jiwa Pembukaan UUD 1945 dan dilengkapi oleh Pasal 23, 27 Ayat (2), 34 serta Penjelasan Pasal 2 UUD 1945 yang dihubungkan dengan sila-sila dalam58. Menurutnya seperti dikutip dari Heri Junaidi bahwa nilai-nilai filosofis Efisiensi berkeadilan yang dibangun dalam satu kalimat memberikan nilai kekuatan ekonomi Indonesia untuk tetap berpijak pada kesejahteraan sosial.
Pertama, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Kedua, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ketiga, bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Keempat, perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, Efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional59.
Dalam teori Efisiensi berkeadilan, Sri Edi menegaskan perilaku ekonomi bangsa tidaklah boleh semata- mata mempertimbangkan maksimalisasi keuntungan dan kepuasan dari para pelaku ekonomi tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. terutama hak-hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan seperti yang terdapat dalam Pasal 27 Ayat 2. Sehingga berkeadilan
58Lihat Sri-Edi Swasono, Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisasi dan Pasar Bebas, Jogjakarta: Pusat Studi Ekonomi Pancasila- UGM, 2010), h. 98-99;
59 Heri Junaidi, Efisensi Berkeadilan Pada Kasus Usaha Songket Palembang, Palembang: P3RF, 2010, h. 25
setelah kata Efisiensi seperti yang terdapat dalam pasal 33 ayat 4 tersebut memperlihatkan bahwa individual preferences dirubah menjadi social preference, dan pareto efficiency yang statis dirubah menjadi pareto social-eficiency.60 Teori tersebut digunakan sebagai fondasi memahami posisi perempuan umumnya dan di Indonesia khususnya yang memiliki kepentingan untuk pengembangan ekonomi melalui usaha produktif yang dilakukan dalam upaya menjadi bagian penting dalam proses pembangunan.
Penyatuan Efisiensi berkeadilan dalam satu kalimat untuk mentransformasi makna Efisiensi pada tataran ekonomi mikro maupun pada tataran ekonomi makro yang terbentuk dalam nilai-nilai keadilan. Memberikan kekuatan produktifitas selalu mengarah kepada kemas}lahatan manusia secara menyeluruh dan juga sekaligus menekankan pentingnya Efisiensi sosial.61 Dengan demikian, nilai-nilai Efisiensi berkeadilan juga bersama dengan asas kekeluargaan, sebab tidak akan ada keadilan tanpa berada dalam suasana kekeluargaan (ukhuwah wathoniah). Tanpa adanya asas kekeluargaan maka keadilan akan berarti perebutan, yang kuatlah yang akan menentukan apa adil bagi
60Konsep tersebut mengubah paradigma Efisiensi dalam ilmu ekonomi digunakan untuk merujuk pada sejumlah konsep yang terkait pada kegunaan pemaksimalan serta pemanfaatan seluruh sumber daya dalam proses produksi barang dan jasa, seperti pandangan Schultz yang menyebutkan bahwa sebuah sistem ekonomi dapat disebut efisien bila memenuhi kriteria berikut: (1) tidak ada yang bisa dibuat menjadi lebih makmur tanpa adanya pengorbanan; (2) tidak ada keluaran yang dapat diperoleh tanpa adanya peningkatkan jumlah masukan; (3) tidak ada produksi bila tanpa adanya biaya yang rendah dalam satuan unit. Lihat Walter J. Schultz, The Moral Conditions Of Economic Efficiency (London: Cambridge University Press, 2001), 13.
61Lihat Sri-Edi Swasono, Kembali ke Pasal 33 UUD 1945 Menolak Liberalisme (Jakarta: Yayasan Hatta, 2010), 157.
si lemah, berlakulah di sini peradaban homo homini lupus.
Sebaliknya, dengan dalam masyarakat yang melaksanakan asas kekeluargaan, keadilan akan terwujud sendiri.62
Teori kedua yang digunakan adalah teori maqashid Syari‘ah untuk merealisasikan semua kemaslahatan bagi manusia, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, dengan memberikan manfaat atau menghindarkan manusia dari bahaya dan kerusakan,63 menjamin pemeliharaan tujuan dan maksud-maksud syari‘ah, serta kelestarian sistim alam, dengan mengatur prilaku manusia agar tidak terjebak dalam kerusakan, melalui pencapaian maslahat yang dimaksud64. . Teori ini penting untuk studi ini sebab Chapra menilai Efisiensi sumber daya dalam perekonomian Islam ditentukan berdasarkan maqashid dimana tidak tercapainya realisasi al- Maqashid dipandang sebagai infesiensi (kesia-sian),65 penetapan kesejahteraan dalam pembangunan ekonomi dalam Islam harus bermuara kepada maslahat atau kebaikan, dan kesejahteraan umat manusia untuk pemeliharaan lima maslahat berdasarkan aturan shari‘ah.66
Tiga tingkatan maslahat sebagai upaya membangun hal tersebut yaitu 1) al- Riyah sebagai maslahat pokok bagi kehidupan manusia, baik secara agama maupun kehidupan dunia. ketiadaan maslahat tersebut, merusak sendi kehidupan, hilangnya kenikmatan abadi dan menuai azab di akhirat
62Lihat Sri-Edi Swasono, Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan (Jakarta: UNJ Press, 2005), 179-180.
63 Al-Syatib, alMuwafaqqat, Beirut: Dar. al-Kutb alslamiyah t.t., jld. 2, h. 6
64 Muhammad UmerChapra, Islam dan tantangan ekonomi, Jakarta, IIIT, 1996, h. 25
65Muhammad Umer Chepra, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjuan Islam, 60.
66Ahmad Raisuni, Nażariyat al-Maqasid „Inda al-Imam al- Syatibi (Beirutt: al-Ma‘had al-‗Lami li al-Fikri al-Islami, 1995, 19. .
kelak. Pemeliharaannya pada agama, jiwa, akal, keturunan dan harta; 2) Hajiah tidak menyentuh eksistensi hidup manusia, tapi hanya menyebabkan kesulitan dalam hidup, tidak menimbulkan masalah atas maslahat pokok, sifatnya hanya untuk memenuhi kesenangan dan kenyamanan hidup;
3) Tahsiniyah yaitu maslahat berkenaan dengan kemewahan hidup, tingkatannya tidak sepenting dua maslahat di atas67.
Kedua teori tersedut dilakukan dengan pendekatan Gender Dalam Pembangunan, sebab Diakui ataupun tidak, perempuan telah cukup aktif dalam berbagai bidang kehidupan, walaupun kuantitas tidak sebanyak laki-laki dalam sektor publik. Hal tersebut tidak lepas dari kebijakan pembangunan masih netral Gender yang memberikan damfak tersendiri bagi perempuan. Kondisi netral Gender didasari atas asumsi bahwa kebijakan dan program dibuat memberikan manfaat dan berdampak sama kepada perempuan dan laki-laki. Padahal perempauan tidak akan pernah sama dengan laki-laki karena memiliki perbedaan kodrati dan Gender.
Upaya merekonstruksi pembangunan menuju pembangunan berwawasan Gender memerlukan rencana pembangunan responsif Gender dan sekaligus perubahan kebijakan pembangunan yang mengarah pada indentikasi ada tidaknya kesenjangan Gender dari sisi kekuasaan, status, dan kemampuan. 4 faktor utama sebagai identifikasi teori Gender dalam pembangunan adalah:
1. Profil Kegiatan. Yaitu bagaimana interaksi perempuan dalam salah satu proyek pembangunan dari sisi waktu, tempat kerja, beban kerja, pendapatan;
67 Al-Syatib, al-Muwafaqqat, jld. 1, h. 38
2. Faktor akses, yang menilai tingkat keseimbangan dan persamaan dalam memperoleh akses kredit/modal, rumah, tanah, informasi, dan pendidikan;
3. Faktor kontrol dengan melihat tingkat penguasaan antara laki-laki dan perempuan dalam menerima sumber-sumber daya pembangunan
4. Faktor partisifasi dengan melihat bagaimana perempuan dan laki-laki berfartisifasi dalam program pembangunan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Seperti contoh, dalam kepengurusan suatu usaha, berapa perbandingan jumlah pengurus laki-laki dan perempuan; berapa jumlah laki-laki dan perempuan sebagai angota biasa, maupun sebagai simpatisan;
5. Faktor manfaat dari hasil pembangunan, mulai dari sisi pendapatan, sampai pada kesejahteraan yang didapat antara laki-laki dan perempuan68.
Dengan demikian usaha memahami hak-hak tersebut tidak lepas dari pengkajian mendalam tentang (1) pandangan sosial kedudukan laki-laki dan perempuan; (2) tipologi kebijakan itu sendiri; dan (3) kondisi objektif yang membentuk terjadinya pembagian hak dan kewajiban serupa itu. Hak dasar kebutuhan ekonomi, sebagai kebutuhan setiap individu warga masyarakat yang mesti diprioritaskan pemenuhannya; hal tersebut juga merupakan kebutuhan akan barang dan jasa paling besar dari secara kuantitatif, maka untuk itu juga diperlukan produksi yang besar pula;
sehingga hal tersebut akan meningkatkan demand atas tenaga kerja, yang berarti akan mengurangi pengangguran.
68Eva Lidya, ―Peranan Perempuan Dalam Pembangunan Berwawasan Gender‖, Artikel Umum, Bulletin Bakohumas Kota Palembang, 2003, h. 6
Untuk membangun tersebut digunakan prinsip-prinsip keadilan.
F. Metodologi Penelitian