BAB III METODE PENELITIAN
B. Latar Penelitian
Pondok Pesantren Darun Najah berada di Jalan KH. Musthofa No. 5 Sanjaran, Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH. M. Khozin Barizi pada tanggal 28 Agustus 1998. Kiai Khozin adalah salah satu ulama jebolan Pondok Pesantren Tebuireng dan dikenal sebagai ulama yang masyhur yang ada di Kota Lumajang dan sekitarnya. Lokasi Pondok Pesantren sangat strategis karena terletak sekitar 3 km dari jantung kota. Luas tanah yang sekitar 10.000 M2 dan luas bangunan 3.100 M2 dengan status tanah bersertifikat.
Pemberian nama Darun Najah juga dimotori oleh niat KH. M. Khozin Barizi untuk menciptakan ruang bagi umat untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Arti “darun” itu sendiri adalah rumah, sedangkan “najah” artinya yakni kesuksesan. Jika nama ini digabungkan maka artinya adalah rumah kesuksesan, dengan harapan dan doa semoga santri yang menuntut ilmu di Darun Najah ini akan meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
Tidak hanya pesantren yang bertaraf salaf saja, namun dengan seiring bertambahnya ilmu dan teknologi dalam pendidikan, PP Darun Najah juga turut membangun gedung pendidikan formal. Diantaranya pada tahun 1999 didirikannya MTs dan MA, yang kemudian pada tahun 2011, Darun Najah mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki dua jurusan, yakni teknik komputer dan jaringan serta tata busana.
Ketertarikan peneliti terhadap lokus tersebut karena dalam kurikulum yang diajarkan tidak hanya berupa ilmu agama saja, namun diseimbangkan praktik memajukan ekonomi masyarakat maupun santri yang akan keluar dari pesantren. Salah satunya budaya pesantren yang mengacu pada pengembangan kecakapan hidup (lise skill) santri. Pengasuh PP Darul Najah memberi informasi terhadap santri, umat, dan masyarakat pada umumnya bahwa santri tidak hanya dikenal oleh busana peci dan gamisnya. Namun juga kepada praktik produktifitas santri melalui program kewirausahaan pondok untuk kecakapan santri.
C. Kehadiran Peneliti
Peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian kualitatif, memiliki peran menentukan,5 sehingga perlu adanya komunikasi, keakraban, dan keharmonisan timbul antara peneliti dan objek penelitian. Sehingga penyampaian berbentuk tulisan ini mengalir sesuai data yang riil melalui proses bersungguh-sungguh. Peneliti mengenal Kiai/Pengasuh PP Darun Najah dan menjadi modal dasar memperoleh data sesuai fokus. Dan key instrument di kualitatif yakni manusia, dalam konteks ini ialah peneliti.
Sehingga peneliti sebagai instrumen dan pengumpul data ini akan memperoleh informasi yang valid melalui proses triangulasi di PP Darun Najah.
Terdapat studi pendahuluan guna menelusuri dan memahami situasi.
Pertama, wawancara terhadap Gus Labibul Wildan, yang merupakan menantu
5 Lexy J. Moleoang, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2005) 163
dari Kiai Khozin yang juga merupakan direktur Yayasan Darun Najah mengenai Produksi Abon Lele yang dikelola oleh pesantren, terutama oleh santri putri. Kemudian peneliti melakukan observasi berkaitan dengan kegiatan keseharian santri dan kegiatan pesantren serta wawancara dengan Pengasuh sekaligus Pendiri PP. Darun Najah KH. Muhammad Khozin Barizi berkaitan dengan nilai dan norma yang dikembangkan dan ditanamkan di PP.
Darun Najah.
D. Data dan Sumber Data
Terdapat tiga jenis data yang diperoleh dalam penelitian. Pertama, data berbentuk verbal. Data tersebut hasil wawancara dengan kiai, yayasan, asatidz, santri, alumni serta wali santri yang berperan dalam pemasaran produk pesantren. Kedua, data dari observasi dari proses pengolahan produk dan sumber terkait lainnya. Ketiga, dokumen-dokumen sesuai fokus.
Sumber data diantaranya berasal dari kiai, yayasan, asatidz atau guru, santri, alumni, dan wali santri. Mereka sebagai key informants atau informan kunci. Selain itu, terdapat data sekunder. Data sekunder diperoleh dari observasi dan dokumentasi.
Data yang diperoleh perlu sesuai fokus agar tidak melebar luas meliputi data lisan. Dan data tersebut suatu hasil pemaparan narasumber atau informan. Dan data lainnya didapatkan subyek penelitian dalam memberi jawaban terkait fokus secara umum.
Peneliti secara bergiliran melakukan wawancara pada KH. M. Khozin Barizi sebagai pengasuh pesantren, yang selanjutnya akan dikuti wawancara
pada Gus Labibul Wildan sebagai menantu Kiai Khozin sekaligus sebagai Direktur Yayasan Darun Najah. Sistem pengelolaan produk pun kami lakukan observasi dan wawancara kepada sejumlah santri yang berperan langsung pada pengolahan produk.
Peneliti juga menggali data tentang informasi paradigma kebanyakan masyarakat terhadap komunikasi interpersonal kiai.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui tiga teknik pada metode kualitatif.
Diantaranya ialah:
1. Observasi Partisipan
Guba dan Lincoln mengungkapkan bahwa observasi peran serta digunakan dengan alasan-alasan tertentu. Pertama, observasi berasal dari faktor empiris yang dilalui. Kedua, kemungkinan teknik observasi tersebut membuat peneliti melakukan pengamatan secara langsung dan dapat objektif. Sehingga ia dapat menulis setiap tindakan dan peristiwa sesuai kejadian sebenarnya secara riil dan objektif. Ketiga, observasi dilakukan guna mengecek data yang dianggap absah. Keempat, teknik pengamatan memberi kemungkinan terhadap peneliti untuk mengetahui dan memahami kerumitan dan keabstrakan kondisi dan situasi di lokus. Terakhir, observasi atau pengamatan menjadi solusi dan sebagai alat terhadap situasi tertentu saat tidak adanya kemungkinan penggunaan teknik komunikasi. 6
6 Lincoln, Naturalistic Inquiry (New Delhi: Sage Publication, inc, 1995), 124.
Alasan penggunaan teknik ini karena terdapat korelasi antara teknik tersebut dan fokus budaya pesantren melalui norma dan nilai sebagai indikator yang berpengaruh terhadap pengembangan Life Skill santri, pengamatan dilakukan memiliki korelasi terhadap pola pengembangan budaya organisasi yang harus diamati dan dikontrol setiap waktu. Dan observasi ialah data penunjang wawancara yang berhubungan dengan pengembangan budaya pesantren berupa nilai dan norma untuk meningkatkan kemampuan Life Skill santri dan alumni.
Penggunaan teknik ini dilakukan karena peneliti berpartisipasi secara nyata dengan hal yang dilakukan kiai terhadap setiap prosesnya secara mendalam. Dan peneliti mengikuti kegiatan dan agenda kiai sehingga terdapat data observasi yang dirangkum sesuai pengamatan partisipan.
Data yang ingin didapatkan melalui observasi partisipan adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Indikator Data Pengamatan
NO DATA YANG DIAMATI
1. Kegiatan Harian Santri PP. Darun Najah Lumajang
2. Komunikasi Pengasuh/Kyai dan Bu Nyai terhadap santri, pengurus, alumni dan wali santri.
3. Kerjasama dalam Pelaksanaan Program & Kegiatan Pesantren 4. Proses pengolahan produk dan kegiatan unit usaha pesantren 5. Fasilitas Pelatihan dan praktikum dalam pengembangan Life Skill
santri.
2. Wawancara mendalam
Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah teknik mengumpulkan informasi dan data yang dilakukan dengan tatap muka kepada informan dalam rangka mendapatkan informasi yang lengkap secara mendalam. Tanya-jawab tersebut guna memperoleh data pola komunikasi Pengasuh/Kiai dan Bu Nyai Pondok Pesantren Darun Najah Lumajang serta Direktur Yayasan sesuai metode kualitatif. Dan terdapat beberapa informan sebagai pembanding. Hal tersebut sesuai triangulasi, yakni mengecek terhadap sumber-sumber lain.
Wawancara mendalam memerlukan pedoman khusus, agar dapat menggali informasi secara mendalam dan terbuka sesuai fokus penelitian dan senantiasa diarahkan pada pusat penelitian. Dalam hal ini peneliti menggunakan pedoman wawancara terstruktur berdasarkan jenis pertanyaan dan fokus pembahasan.
Terdapat beberapa informasi dan data yang diperlukan melalui teknik wawancara mendalam sebagaimana dalam tabel berikut:
Tabel 3.2
Indikator Data wawancara
NO Fokus Keterangan
1. Budaya Pesantren a. Nilai yang dikembangkan di Pesantren
b. Norma yang diterapkan di Pesantren
c. Karakter santri yang akan diwujudkan setelah menerapkan nilai dan norma pesantren.
2. Life Skill Santri a. Soft skill b. Hard skill
3. Legitimasi a. Formal/Legal/Pemerintah b. Non Formal/Soaial
Metode tanya jawab juga sangat diperlukan untuk studi pendahuluan di Darun Najah Lumajang guna menginformasikan tentang budaya pesantren dalam mengembangkan Life Skill santri di Pondok Pesantren Darun Najah Lumajang.
3. Dokumentasi
Dokumen berguna sebagai pelengkap triangulasi. Seperti bahan atau rekaman, surat, buku harian, foto, naskah, acuan pendidikan.7 Hal tersebut diketahui melalui dokumen yang dipersiapkan guna spesifikasi orientasinya.
Dokumentasi sebagai data penunjang dan pendukung data utama.
Dan metode ini sebagai pelengkap data dokumen terkait pola kepemimpinan dan kebijakan. Selain itu, terdapat hal-hal yang berhubungan dengan fokus dan relevansinya. Data dokumentasi dalam penelitian ini, yakni:
Tabel 3.3
Indikator Data Dokumentasi
NO NAMA DOKUMEN
1. Sejarah Pesantren
7 Lexy J Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 161.
2. Visi Misi Pesantren 3. Struktur Pesantren 4. Jumlah santri
5. Peraturan dan Tata Tertib Pesantren 6. Program dan kegiatan Pesantren 7. Unit-unit usaha pesantren