HASIL
3. Letusan Gunungapi
(3) Erupsi Tipe Vulkano merupakan erupsi magmatis berkompo- sisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom- bom vulkanik di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti.
Material yang dierupsikan tidak hanya berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Sebagian be- sar gunungapi di Indonesia mempunyai tipe erusi Vulkano den- gan berbagai variannya. Erupsi G. Merapi merupakan salah satu varians tipe erupsi Vulkano yang terjadi karena adanya guguran kubah lava.
(4) Erupsi tipe Plini merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi mag- ma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar.
(5) Erupsi Tipe Ultra Plini merupakan erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa. Salah satu contoh dikenal terbaik adalah letusan Krakatau pada tahun 1883 yang memberikan efek pada iklim du- nia. Salah satu dari bencana gunungapi yang terbesar di zaman sejarah menjadi letusan dari Tambora pada 1815. Selama letu- san ini tentang 150 juta m3 produk gunungapi dikeluarkan dan menyebabkan 92.000 korban yang merupakan seperempat total korban dari letusan gunungapi di dunia.
(6) Erupsi Tipe Sub Plini merupakan erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya meng- hasilkan kubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat menghasil- kan pembentukan ignimbrit.
(7) Erupsi Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplini, merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik.
Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas bentuk kerucut,
kubah, kerucut sinder, maar, plateau. Kerucut dibentuk oleh en-
dapan piroklastik atau lava atau keduanya. Kubah, dibentuk oleh
terobosan lava di kawah sehingga membentuk seperti kubah.
Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria. Maar biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik. Plateau meru- pakan dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.
Struktur gunungapi, terdiri atas struktur kawah, kaldera, graben dan depresi vulkano-tektonik.
(1) Kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar. (2) Kaldera mempunyai bentuk morfologi seperti kawah dengan garis ten- gah lebih dari 2 km. Kaldera terdiri atas kaldera letusan, kaldera runtuhan, kaldera resurgent dan kaldera erosi. Kaldera letusan terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tu- buhnya. Kaldera runtuhan terjadi karena runtuhnya sebagian tu- buh gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma. Kaldera resurgent terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah. Kaldera erosi terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera. (3) Rekahan
dan graben, retakan-retakan atau patahan pada tubuh gununga- pi yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan paralel yang mengakibatkan amblasnya blok di antara rekahan disebut graben. (4) Depresi volkano-tek- tonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungapian yang berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ek- spansi volume besar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan kil- ometer dengan kedalaman ribuan meter.
Gunungapi-gunungapi di Kepulauan Indonesia menunjukkan ting- kat letusan yang tinggi, dicirikan dengan material lepas yang dom- inan dibandingkan dengan seluruh material vulkanik yang keluar.
Ritmann menghitung angka indeks erupsi gunungapi (IEG) dari
Asia sekitar 95%, Filipina-Minahasa lebih dari 80%, Halmahera
lebih dari 90%, Papua New Guinea lebih dari 90%, Busur Sunda
sekitar 99%. Harga tertinggi IEG dalam sejarah tercatat pada letu-
san Tambora tahun 1815. Ragam bahaya yang ada adalah:
• Awan panas dan guguran abu. Guguran abu di lereng gu- nungapi disebut ladu. Ladu merupakan campuran fragmen lava, dengan pasir dan abu yang dibentuk dari kubah aktif.
Ladu akan disebut sebagai awan-panas guguran ketika vol- ume yang digugurkan menjadi besar dan terdiri dari bong- kah lava membara merah pijar dan bergerak cepat. Apabila jumlah material yang gugur sangat besar, maka diasumsi- kan awan-panas guguran ini sudah merupakan karakter dari awan-panas letusan. Distribusi guguran gunungapi sangat dipengaruhi oleh topografi lokal. Guguran ladu cenderung mengikuti lembah; sementara guguran awan-panas akan me- nerjang melintasi lembah dan punggungan. Suhu awan-panas di bagian dalam sangat tinggi, sementara di bagian tepi lebih cepat mendingin, sampai di bawah 450°C. Aliran awan-panas mampu menghanguskan tumbuh-tumbuhan, berbahaya bagi manusia dan hewan, serta merusak paru-paru. Suhu ladu relatif tinggi, diasumsikan suhu awal setingkat aliran lava antara 800-1000°C. Setelah di kaki kerucut gunungapi suhu menurun menjadi 400-450oC. Kecepatan jatuhan batu seki- tar 30-35 m/detik pada kemiringan 35°, sedang kecepatan awan-panas guguran berawal dari 15-20 m/detik. Apabila ter- jadi peningkatan suhu lava dari 850°C menjadi 950°C, serta peningkatan kandungan gas, maka lava didorong ke luar oleh letusan kecil, sehingga masuk dalam kategori awan-panas le- tusan. Kecepatan awan-panas jenis ini sekitar 30-40 meter/
detik, melebihi kecepatan guguran kubah lava. Penghancuran bongkah lava panas sepanjang peluncuran mendorong kelu- arnya gas yang tertekan. Efek dari pelepasan gas dan udara panas ini menjadikan tidak terjadi gesekan antar fragmen padat batuan. Ini menyebabkan selama terjadi awan-panas tidak terjadi bunyi bergemuruh.
• Longsoran gunungapi. Kerucut gunungapi muda mempunyai struktur labil sehingga mudah longsor dan membentuk rom- bakan di kaki lereng. Contoh kasus longsoran gunugapi ini ter- dapat di G. Raung dan G. Galunggung. Di G. Raung, longsoran gunungapi membentuk bukit-bukit kecil di kaki gunungapi.
Bukit-bukit tersebut merupakan sisa-sisa retas lava sepajang 60 km. Di sekitar G. Galunggung terdapat 3.600 bukit-bukit
kecil yang dikenal dengan Perbukitan Seribu. Total volume bukit 142.4 juta m3, atau hanya 1/20 dari total volume sek- tor yang longsor. Pembentukan perbukitan ini diasumsikan terjadi karena kaldera dengan dinding tipis yang tersisa di- dorong ke luar, maka serakan dinding kaldera membentuk bukit-bukit di kaki gunungapi. Peristiwa di G. Raung dan G.
Galunggung ini mungkin merupakan longsoran sangat besar yang kejadiannya dipicu oleh gempabumi, pembentukan reta- kan, guguran vulcano-tectonic, atau oleh erupsi ultra-volcanic.
• Aliran Lava. Oleh karena explosivitas yang tinggi, breksi dan debu menjadi produk utama gunungapi di Indonesia, namun aliran lava juga merupakan gejala yang umum dijumpai. Con- toh terbaru, lava mengalir dari celah pada G. Batur pada ta- hun 1926 dan 1963, serta aliran lava parasitik terjadi di G.
Semeru pada tahun 1941. Tingkat kemampuan pengaliran sangat bervariasi. Aliran lava G. Merapi selama November-De- sember 1930 rata-rata 300.000 m3 per hari, sedang pada ta- hun 1942-1943 rata-rata 12.000-15.000 m3 per hari. Aliran lava panas relatif dinamis, mengikuti lembah sungai sebagai aliran, atau berlembar seperti tirai lava hasil erupsi fase B dari Tangkuban Parahu. Aliran lava dalam viskositas rendah dapat berbentuk lorong lava, sebab inti cairan lava terus mengalir setelah pembekuan mantel sebelah luar.
• Kubah Lava. Sifat kekentalan magma meningkat sebanding
dengan penambahan kandungan silika. Sebagian andesit
dan dasit yang sangat asam, akan mudah membentuk kubah,
yang kadang-kadang disertai dengan lidah lava tebal menon-
jol pada bagian bawahnya. Banyak contoh dapat ditemukan
di Indonesia, misalnya kubah lava hasil erupsi G. Kelud tahun
2007 dan G. Rokatenda tahun 2013. Kubah lava di Indonesia
telah dideskripsi menjadi beberapa tipe. Bentuk kubah dipen-
garuhi oleh konfigurasi dari tempat lava diekstrusikan. Kubah
tumbuh seiring dengan penambahan energi dari dalam seh-
ingga luar lapisan sangat diregangkan. Akan terjadi semacam
stratifikasi mantel berurutan yang paralel dari luar ke dalam
dengan ketebalan sampai beberapa meter. Kubah yang ter-
bentuk mempunyai kemiringan kubah antara 35°- 40°. Akhir
pembentukan kubah lava akan membentuk depresi di bagian puncaknya. Depresi ini merupakan hasil berbagai faktor, sep- erti penyusutan oleh pendinginan, atau berhentinya tekanan keatas.
• Lahar. Lahar merupakan aliran lumpur yang mengandung material rombakan dan bongkah-bongkah menyudut berasal dari gunungapi. Endapan lahar mampu mencapai ketebalan beberapa meter sampai puluhan meter. Fragmen-fragmen penyusun terletak diantara matriks yang membulat sampai menyudut. Bongkah lava yang tertranspor dapat mencapai beberapa meter kubik. Lahar dapat dibedakan menjadi lahar hujan (dingin) dan lahar letusan (panas). Lahar hujan tidak secara khusus berhubungan dengan aktivitas gunungapi. Ia dipicu oleh hadirnya hujan di atas normal pada lereng yang tertutup oleh material lepas. Contoh lahar yang dipicu oleh
hujan antara lain terda- pat pada pelaharan G.
Merapi yang mempunyai kisaran sebaran 25-30 km. Contoh lahar terba- ru jenis ini terjadi pada pelaharan pada tahun 2011, terhadap hasil erupsi G. Merapi 2010.
Lahar letusan disebab- kan oleh pengosongan danau kawah, baik kare- na pembentukan kawah oleh amblesan maupun letusan. Letusan danau kawah akan menyebab- kan arus lumpur panas, sehingga air akan ber- campur dengan material gunungapi yang panas.
Contoh pembentukan la- har ini terjadi di G. Kelud.
Pengelolaan gunungapi saat ini dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) – Badan Geologi – Ke- menterian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia.
Mandat yang dimiliki PVMBG adalah (1) Penelitian dan peman- tauan aktivitas gunungapi; (2) Peringatan Dini Bencana Letusan Gunungapi, melalui penentuan tingkat kegiatan gunungapi: aktif, waspada, siaga, awas; (3) Penetapan Kawasan Rawan Bencana;
(4) Pembentukan Tim Tanggap Darurat; (5) Sosialisasi kepada Pemerintah daerah dan masyarakat: pelatihan evakuasi dan pe- nataan tata ruang (Gambar 26).
Indonesia memiliki beragam tipe gunungapi yaitu Tipe-A (79
buah), yakni gunungapi yang pernah mengalami erupsi sekurang-
kurangnya satu kali sesudah 1600 Masehi. Tipe-B (28 buah),
yakni gunungapi yang sesudah 1600 Masehi belum mengalami
erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan
Gambar 26. Sebaran Gunungapi tipe A di Indonesia
Tabel 17. Matriks jumlah paparan risiko bencana erupsi gunungapi (rekapitulasi risiko bencana sedang-tinggi) misalnya solfatara dan fumarola. Tipe-C (20 buah), yakni gunung-
api yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia namun masih terlihat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapa- ngan fumarola. Dari beragam gunungapi yang ada tercatat bahwa gunungapi Tipe A tersebar di Sumatra (13 buah), Jawa (21 buah), Bali (2 buah), Nusa Tenggara (19 buah), Sulawesi (11 buah), dan Kepualuan Maluku (13 buah). Di setiap provinsi tersebut memi- liki lebih dari satu gunungapi aktif yang berpotensi dapat meletus dan diantaranya menjadi prioritas utama.
b. Matriks Kajian Risiko
Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang disusun oleh
BNPB pada tahun 2015, terlihat bahwa jumlah jiwa terpapar
risiko bencana erupsi gunungapi banyak tersebar pulau Jawa,
Bali dan Nusatengara dengan total seluruh Indonesia melebihi
3 juta jiwa. Secara rinci, hasil kajian risiko bencana gunungapi
dapat terlihat dalam tabel berikut.
Dalam dokumen
BUKU RBI RISIKO BENCANA INDONESIA
(Halaman 70-80)