• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pendistribusian Bantuan Program Keluarga Harapan di Desa Malimbong Kecamatan

1. Tepat Sasaran

3.Tepat Waktu

Kesejahteraan Masyarakat Permensos RI Nomor 1 Tahun

2018

39

40

Kecamatan dan Desa, serta Kepala Desa, di Desa Malimbong Kecamatan Messawa.

2. Pendistribusian adalah menyalurakan atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen.Dalam pendistribusian bantuan Program Keluarga Harapan penulis menggunakan indikator pencapaian 3T yaitu :

a) Tepat Sasaran : meliputi proses penetapan peserta

b) Tepat Waktu : distribusi dana bantuan berdasarkan waktu yang di tentukan

c) Tepat Jumlah : kesesuaian jumlah dana yang di salurkan kepada peserta

Untuk melihat indikator tersebut maka penulis akan mewawancarai ketua kelompok PKH Desa dan peserta PKH di Kecamatan Messawa Desa Malimbong.

B. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif bertujuan menggambarkan realita empirik dengan yang ada dalam suatu fenomena secara rinci dan mendalam. Adapun penelitian kualitatif dalam penyajian data berupa wawancara, dokumen resmi maupun pribadi, catatatan lapangan, dan bukan berupa angka-angka. dan selanjutnya digunakan teknik deskriptif untuk mengetahui dan menggambarkan tentang bagaimana Tata Kelola Pemerintah Dalam Penyaluran Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Malimbong, Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa.

41

C. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan lebih mudah untuk jangkauan informasi dan pengumpulan data, serta dianggap perlu untuk melakukan penelitian mengenai Tata Kelola Pemerintah Dalam Penyaluran Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di daerah ini.

D. Jenis/Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan didalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif dimaksudkan agar mampu mengemukakan informasi kualitatif sehingga nantinya lebih menekankan pada masalah proses dan makna dengan mendeskripsikan atau menggambarkan suatu masalah. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti atau penelitian perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain (Sugiyono, 2017).

Menurut Sugiyono (2017)penelitian kualitatif pada umumnya didefinisikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang sifatnya alamiah, dimana kemudian peneliti diposisikan sebagai instrumen kunci, dan selanjutnya teknik pengumpulan data dilakukan secaratrianggulasiataugabungan,analisisdatayangsifatnyaindukti,sertahasil penelitian yang menekankan padamakna.

Dalam proses dan juga makna dari penelitian kualitatif lebih ditonjolkan. Dimana landasan teori akan dimanfaatkan sebagai pemandu agar

42

fokus penelitian sesuai dengan fakta yang didapatkan di lapangan. Selain itu juga keberadaan landasan teori akan memberikan manfaat untuk sebagai latar belakang dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.

Pada penelitian ini, penulis juga menggunakan pendekatan komunikasi informasi, dimana peneliti secara langsung mendapatkan informasi dari informan. Peneliti akan menggunakan metode pendekatan ini kepada pihak-pihak yang dianggap relevan untuk dijadikan narasumber atau informan sehingga dapat memberikan keterangan dan informasi terkait penelitian yang akan dilakukan.

E. Unit Analisis

Sehubungan dengan rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, maka yang menjadi unit analisis adalah Program Keluarga Harapan (PKH). Unit analisis ini didasarkan pada pertimbangan bagaimana Tata Kelola PKH sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementrian Sosial untuk memberikan bantuan kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan khususnya di Desa Malimbong Kecamatan Messawa.

F. Informan

1. Informan adalah orang-orang yang paham atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Informan yang dipilih adalah yang dianggap relevan dalam memberikan informasi mengenai Tata Kelolai Pemerintah Dalam Penyaluran Bantuan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Messawa. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:

43

1.Pendamping PKH Kecamatan Messawa 2. Koordinator PKH Kecamatan Messawa 3. Kepala Desa Malimbong

4. Pendamping PKH Desa Malimbogn 5. Koordinator PKH Desa Malimbong 6. Ketua Kelompok PKH Desa Malimbong 7. Peserta PKH Desa Malimbong

G. Jenis Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai sumber dan cara.

Menurut Gunawan(2016)bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan data primer dan data sekunder.

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dari narasumber atau informasi yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan.

2. Data sekunder adalah sebagian data pendukung data primer dari literature dan dokumen serta data yang diambil dari suatu organisasi atau instansi dengan permasalahan dilapangan yang terdapat pada lokasi penelitian berupa bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.

Guna memperoleh data dan informasi serta keterangan-keterangan bagi kepentingan penulis, selanjutnya maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu :

1. Wawancara Sistematis

Wawancara adalah tanya jawab secara langsung dengan informasi yang telah ditetapkan sesuai dengan kapasitas, pengalaman, dan pengetahuan masing- masing. Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang diperoleh melalui obsevasi.

2. Telaah Dokumen

Telaah dokumen yaitu mengkaji dokumen-dokumen baik berupa buku referensi maupun peraturan atau pasal yang berhubungan dengan penelitian yang penulis lakukan. Telaah dokumen dilakukan dengan jalan melakukan penelusuran terhadap beberapa dokumen yang berkaitan dengan obyek penelitian guna mendapatkan data sekunder yang akan digunakan dalam menganalisis permasalahan, yaitu yang berhubungan dengan teori-teori, undang-undang dan dokumen yang relevan.

3. Observasi

Observasi adalah pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data peneltian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui panca indra

45

I. Teknik Keabsahan Data

Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk menyanggah balik yang dituduhkan kepada penelitian Kualitatif yang mengatakan tidak ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif (Gunawan, 2016). Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar- benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Sugiyono, 2017).Agar data dalam penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkansebagai penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Adapun uji keabsahan data yang dapat dilakukan.

1. Credibility (derajat kepercayaan)

Uji credibility (kredibilitas) atau uji kepercayaan terhadap data hasil penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang dilakukan tidak meragukan sebagai sebuah karya ilmiah dilakukan.

a. Perpanjangan pengamatan

Perpanjangan pengamatan dapat meningkatankan kredibilitas/kepercayaan data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti penelitian kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang ditemui maupun sumber data yang lebih baru. Perpanjangan pengamatan berarti hubungan antara penelitian dengan sumber akan semakin terjalin, semakin

46

akrab, semakin terbuka, saling timbul kepercayaan, sehingga informasi yang diperoleh semakin banyak dan lengkap.

Perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh. Data yang diperoleh setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, ada perubahan atau masih tetap. Setelah dicek kembali ke lapangan data yang telah diperoleh sudah dapatdipertanggungjawabkan atau nemar berarti kridibel, maka perpanjangan pengamatan perlu diakhiri.

b. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian

Meningkatkan kecermatan atau ketekunan secaraberkelanjutan maka kepastian data dan urutan kronologis peristiwa dapat dicatat atau direkam dengan baik, sistematik.

Meningkatkan kecermatan merupakan salah satu cara mengontrol/mengecek pekerjaan apakah data yang telah dikumpulkan, dibuat, dan disajikan sudah benar atau belum.Untuk meningkatkan ketekunan penelitihan dapat dilakukan dengan cara membaca berbagi referensi, buku, hasil-hasil penbelitian terdahulu, dan dokumentasi- dokumentasi terkait dengan membandingkan hasil penelitian yang telah diperoleh. Dengan cara demikian, maka penelitian akan semakin cermat dalam membuat laporan yang pada akhirnya laporan yang dibuat akan semakin berkualitas.

c. Triangulasi

47

Sugiyono(2017)mengatakan trigulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagi sumber dengan berbagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu. Dengan demikianterdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.

2. Transferability (keteralihan)

Sebagai persoalan yang empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Untuk keperluan itu peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk memastikan usaha memverifikasi tersebut.

3. Dependability (kebergantungan)

Konsep kebergantungan lebih luas dari pada reabilitas. Hal tersebut disebabkan peninjauan yang dari segi bahwa konsep itu diperhitungkan segala-galanya yaitu yang ada pada reabilitas itu sendiri ditambah faktor- faktor lainnya yang bersangkutan.

4. Confirmability (kepastian)

Objektifitas-subjektifitasnya sesuatu hal bergantung pada orang ke seseorang. Selain itu, masih ada unsur kualitas yang melekat pada konsep objektivitas itu. Hal itu digali dari pengertian bahwa jika sesuatu itu

48

objek, berarti dapatdipercaya, factual, dan dapat dipastikan. Subjektif berarti tidak dapat dipercaya, atau melenceng. Pengertian terakhir inilah yang dijadikan tumpuan pengalihan pengertian objektivitas-subjektifitas menjadi kepastian.

49

3. Penyajian data (data display) yaitu kegiatan sekumpulan informasi dalam bentuk naratif, grafik jaringan, tabel dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel ataupun uraian penjelasan.

4. Pada tahap akhir adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/verification), yang mencari arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan di lapangan sehingga data-data dapat diuji validitasnya.

Gambar 2. Teknik Analisis Data Miles dan Huberman PENGUMPULAN

DATA

REDUKSI DATA

PENYAJIAN

DATA PENARIKAN

KESIMPULAN

50

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Desa Malimbong adalah Desa yang terletak di Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, yang masyoritas penduduknya bersuku Toraja ( barat ), pada umunya berprofesi sebagai petani sawah, lading ( kopi, cengkeh, kakao ) dan juga beternak kerbau dan sapi.Agama mayoritas adalah Kristen Protestan, dimana terletak ada 3 Gereja dan semuanya adalah GTM ( Gereja Toraja Mamasa ).Luas Wilayah 18.14 KM persegi, dengan pengunaan lahan sawah (115 ha), Kolam (4 ha), Tanah Kering (1068 ha) tanah lainnya (627 ha)

Secara tofografi Desa ini masuk dalam kategori daerah dataran tinggi dengan ketinggian 13 KM dari permukaan laut.Kondisi fisik terdiri dari daerah dataran tingga yang memiliki sudut lereng 0 – 8 % skala maberry.Secara geologi Desa ini memiliki tanah yaitu tanah keras, gambut, dan tanah persawahan.Potensi sumber daya airnya juga melimpah( cukup besar ) sehingga dapat di gunakan untuk pembuatan PLTA di daerah ini atau Pembangkit Listrik Tenaga Air.Secara iklim Desa Malimbong masuk dalam kategori daerah sub tropis terdiri dari 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.

1 Keadaan Geografis:

Desa ini dibatasi oleh sebelah utara : Kelurahan Messawa dan Desa Rippung sebelah timur : Kabupaten Tana-toraja, sebelah selatan : Desa

51

Matande, sebelah barat : Desa Makuang.Jarak dari ibukota kecamatan: 3 KM, Jarak dari Ibukota kabupaten 50 Km, Ketinggian dari Permukaan laut 882 m.

2 Kependudukan

Jumlah penduduk (sensus 2017) 701 jiwa dengan 332 Pria dan 369 Wanita dengan kepadatan penduduk 39 jiwa/perkilometer.Jumlah Rumah Tangga 137 dan jumlah kepala keluarga 205

3 Sosial

• Pengunaan Listrik : 81 (PLN), 111 (non PLN), 13 Lainnya

• banyaknya Sekolah : SDN (2)

• Facilitias Kesehatan : Pustu 1, Posyandu 1

• Tempat Ibadah : Gereja (3)

Nama Kepala desa (2017 Yulianus) Tabel 2

Jumlah Penduduk Desa Malimbong

Jenis Kelamin Jumlah

Pria 332

Wanita 369

Jumlah 701

Sumber : Wikipedia

52

B. Pengelolaan Bantuan Program Keluarga Harapan di Desa Malimbong Kecamatan Messawa.

Pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Desa Malimbong, Kecamatan Messawa telah berjalan dari tahun 2014 hingga sekarang, adapun tujuan utama dari Program Keluarga Harapan ( PKH ) adalah mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan Messawa terutama di Desa Malimbong itu sendiri.Namun pada pelaksanaan program keluarga harapan ini masih kurang efektif, karena masih banyak data masyarakat yang seharusnya menerima tidak terdaftar sebagai penerima bantuan PKH tersebut, yang dimana program keluarga harapan itu sendiri merupakan program bantuan untuk keluarga miskin.

Melihat bahwa tidak sesuainya harapan dan kenyataan yang terjadi dari pelaksanaan program keluarga harapan ( PKH ) tersebut, dimana program tersebut sudah berjalan 4 tahun hingga sekarang maka penulis ingin melihat pengelolaan Bantuan Program Keluarga Harapan ( PKH ) dengan menggunakan indikator pengendalian internal menurut ( COSO ) communitte of sponsoring of the treadway commission ( COSO )

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian merupakan lingkungan perusahaan yang mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pengendalian yang ada di organisasi tersebut.Komponen ini meliputi sikap managemen di semua tingkatan secara umum dan konsep kontrol secara khusus, hal ini mencakup etika , kompetensi,

53

integritas dan kepentingan terhadap kesejahteraan sosial.Untuk mengetahui mengenai struktur organisasi PKH ini sendiri dan pembagian tugas setiap staffberdasarkan hasil wawancara dengan informan yaitu Koordinator PKH Kecamatan Messawa, Bapak Yulius Kila’ yang mengatakan bahwa:

“Strukturorganisasi PKH sendiri ini kami berpedoman pada Pedoman Pelaksanaan PKH terkait pembagian tugas tiap-tiap staff dari Unit pelakksana PKH, telah tercantum dalam buku pedoman pelaksanaan PKH yang di keluarkan oleh Kemensos dimana pada struktur jabatannnya terdiri dari Kepala Penanggungjawab Pelaksana, Bendahara, Koordinator Kecamatan,Koordinator Desa Operator, serta pendamping tingkat Kecamatan dan Desa dan Ketua Kelompok Peserta PKH.Sebagai Koordinator saya bertanggung jawab merangkul semua pendamping agar bekerja dengan baik dan menenamkan rasa tanggunng jawab dengan pekerjaan yang mereka geluti secara khusus saya juga melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan yang di lakukan di lapangan.Yulius Kila’ ( 29/06/2021)

Kemudian lanjutnya tugas dan tanggungjawab koordinator PKH di antanya yaitu :

1. Menyusun rencana kerja PKH wilayah dampingnya

2. Melakukan sosialisasi PKH kepada aparat pemerintas tingkat Desa, calon KPM PKH dan masyarakat umu

3. Melakukan pemeetaan dan organisasi kelompok PKH berdasarkan pendekatan geografis

4. Melaksanakan proses bisnis PKH yang meliputi validasi, penyaluran bantuan, verfikasi, pemutakhiran data, pertemuan bulanan

54

5. Memastikan KPM memperoleh bantuan dengan cepat dan merata

6. Melakukan pendampingan PKH melalui madiasi, fasilitas dan advokasi guna perubahan perilaku KPM PKH.

Dari hasil wawancara bersama informan mulai dari struktur organisasi dan tugas masing – masing staff sesuai dengan buku pedoman PKH 2021 dan melakukan telah melaksanakan kegiatan pendampingan.

Kemudian untuk menambah informasi mengenaitugas masing – masing staff, peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Adrian, Koordinator PKH Desa Malimbong Messawa yang mengatakan bahwa Pelaksanaan rekrutmen SDM PKH di dalam buku pedoman PKH harus di lakukan secara transparan, obyektif dan akuntabel yang bertujuan untuk mendapatkan SDM pelaksana PKH sesuai dengan persyaratan dan kriteria yang di tetapkan.Proses rekrutmen di laksanakan melalui tahapan publikasi, pendaftaran, pengumuman seleksi administrasi, pelaksanaan psikotes, uji kompetensi bidang dan pengumuman hasil kelulusan.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa :

“Untuk tugas masing - masing posisi sudah ada di dalam buku pedoman PKH, jadi kami tinggal menjalankan yang sudah ada.Untuk saya sendiri sebagai pendamping yang berdekatan langsung dengan peserta PKH, baik memberi informasi langsung maupun mengarahkan dan memberi motifasi bahwa pentingnya mengangkat perekonomian” Andrian ( 29/06/2021)

55

Dari hasil wawancara yang telah di lakukan mengenai lingkungan pengendalian bahwa dalam struktur kepengurusannya, unit pelaksana PKH Desa Malimbong, Kecamatan Messawa terdiri dari penanggungjawabpelaksana, bendahara, koordinator Kecamatan,koordinator Desa Operator, dan Pendamping, dan Ketua Kelompok Peserta PKH.Terkait perekrutan SDM pelaksana, untuk posisi operator dan pendamping di pilih langsung oleh Kepala Dinas Sosial.Koordinator Koordinator Kecamatan dan Desa di pilih berdasarkan kesepakatan semua pegawai yang ada di unit pelaksana.Adanya pembagian tugas bagi semua staff pelaksana di harapkan dapat memberikan koontribusi optimal melihat dan bisa menjalankan tugas masing – masing dengan efektif.

56

Mengenai kebijakan di lakukan oleh pemerintah berdasarkan hasil wawancara dengan informan yaitu Koordinator PKH Kecamatan Messawa, Bapak Yulius yang mengatakan bahwa:

“Dari mulai perencanaan PKH kami berpedoman pada Pedoman Pelaksanaan PKH di mulai dari Validasi, Penyaluran bantuan, pertemuan kelompok, Dan terakhir verifakasi.Validasi itu di laksanakan setahun sekali, di lakukan oleh pendamping menetapkan apakah calon KPM ( Keluarga Penerima Manfaat )tersebut layak di berikan bantuan PKH atau tidak.Kemudian jadwal atau tanggal mengikuti instruksi langsung dar pusat, karena validasi ini sifatnya menyesuaikan dimana data dari setiap daerah masing – masing yang ke pusat akurat.Begitu juga dalam perencanaan penyaluran, penyaluran di lakukan setiap 3 bulan setelah di lakukan validasi dan waktu pelaksanaannya pun kita menunggu SK dari pusat.Setelah SK keluar, kita di berikan waktu kurang dari 1 minggu untuk persiapan penyaluran.Dan kami memanggil setiap pendamping dan kami berikan instruksi untuk menghubungi Ketua Kelompok peserta penerima bantuan PKH adanya penyaluran bantuan.Setelah penyaluran selesai di lakukan, mendekati 3 bulan sebelum kami melakukan verifikasi, kami menyampaikan kepada pendamping kecamatan agar melakukan pertemuan kelompok, tujuannya untuk menampung saran – saran dari perserta penerima PKH dari kekurangan kami dalam pelaksanaan PKH ini.Kemudian verifikas di lakukan pendamping untuk mengetahui apakah dana bantuan PKH ini di gunakan sesuai dengan Kriteria Penerima.Verifikasi di sini ada 2 yaitu verifikasi fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan”.Yulius Kila’ ( 29/06/2021).

57

Pernyataan tersebut sejalan dengan wawancara penulis denganpendamping PKH Kecamatan Messawa Kak Nur Indah tentang tahapan penting dalam pelaksanaan PKH sebagai berikut :

“Untuk pelaksanaan PKH ini sendiri ada 4 tahap inti, yaitu validasi, penyaluran, verifikasi dan pertemuan kelompok.Saya sebagai pendamping yang telibat langsung di semua tahap tersebut, dan untuk perencenanaan seperti tanggal kegiatandi lakukan fleksibel saja karena ketentuan jadwal kegiatan di lakukan berdasarkan buku pedoman pelaksanaan PKH, dari mulai validasi sekali setahun, penyaluran 3 bulan sekali dan di lakukan empat kali setahun, lalu tahap verifikasi kita lakukan sebelum penyaluran selanjutnya, untuk kecamatan sendiri kami lakukan 1 bulan setelah penyaluran.Kemudian tahap keempat pertemuan yang di lakukan setiap bulan biasanya saya lakukan di hari libur kerja sabtu atau minggu, namun karena adanya wabah virus covid – 19 saat ini, saya mengkondisakan jadwal pertemuan” Nur Indah ( 3/07/2021 )

Pernyataan di atas berarti kebijakan yang di lakukan oleh sudah mengikuti buku pedoman PKH dan sesuai dengan 2 tujuan utama PKH yaitu :

1. Melaksanakan interaksi terencana dengan pendamping dalam suatu lingkungan yang aman dan mendukung sehingga tercipta suatu proses pembelajaran dan analisis untuk menjdamin kualitas layanan PKH terhadap KPM 2. Mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan

dengan kebijakan PKH untuk pencapaian tujuan yang sudah di tentukan.

58

Kemudian untuk menambah informasi mengenai syarat penentuan kepersertaan, wawancara dengan Bapak Adrian, Koordinator PKH Desa Malimbong Messawa yang mengatakan bahwa :

“Peserta PKH pertama kali di tentukan berdasarkan pada data dari Badan Pusat Statistik untuk menjadi pegangan informasi bagi kita mengenai jumlah kemiskinan yang ada di daerah, kemudian data ini di kirim ke daerah – daerah untuk di lakukan validasi atau pengecekan ulang.Lalu kita tahu PKh ini adalah Bantuan Tunai Bersyarat, maka pendataan pesertapun harus berdasarkan kriteriadan ketentuan yang dalam pedoman pelaksanaan PKH.Apabila ada orang yang masuk dalam data dan saat di lakukan validasi ia tidak memenuhi syarat dan kriteria PKH maka ia tidak akan menjadi peserta PKH.Pernah ada temuan peserta yang terdata masuk dalam kelompok miskin namun secara ekonomi saat pendamping melakukan validasi ia tergolong orang yang mampu, maka kami memberikan laporan ke pusat dan begitu juga jika kami menemukan masyarakat yang memenuhi kriteria kepersertaan PKH ini, maka kami akan melaporkan ke pusat agar masyrakat tersebut terdaftar sebagai peserta penerima bantuan.Untuk itulah validasi di lakukan sebelum melakukan penyaluran”.Andrian ( 29/06/2021)

Berdasarkan hasil wawancara dari Koordinator PKH Desa Malimbong bahwa penetuan kepesertaan PKH sendiri berdasarkan data dari BPS ( Badan Pusat Statistik ) sebagai langkah awal informasi.Prosedur yang di lakukan sesuai dengan buku pedoman PKH mengenai mekanisme pelasanaan PKH yaitu :

59

1. Pemuktakhiran data Keluarga Penerima Manfaat di laksanakan setiap ada perubahan sebagian atau seluruh data Keluarga Penerima Manfaat PKH.

2. Kegiatan pemutahiran data di lakukan oleh Badan Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial

3. Dalam melakukan kegiatan pemutakhiran data melibatkan pendamping

4. Pendamping di supervise oleh koordinator daerah kabupaten dan dikoordinasikan dengan dinas/instansi setempat.

PKH Kecamatan dan Pendamping PKH Kecamatan Messawa, mengenai rencana yang berkaitan dengan penyusunan program kerja PKH, mulai dari rencana program pemerintah kecamatan dimana perencanaan dan pelaksanaannya berpedoman dengan buku pedoman pelaksanaan PKH, maka dari itu semua kegiatan mengenai perencanaan mengikuti buku pedoman PKH, untuk itu segala kegiatan mengenai pelaksanaan PKH, dan unit pelaksana melaksanakan kegiatan berdasarkan prosedur yang sudah ada.Sebagaimana di jelaskan pada wawancara, pelaksanaan PKH memiliki 4 tahap inti yang terdiri dari validasi, penyaluran bantuan berupa dana tunai, verifikasi, dan pertemuan kelompok.Dalam rencana kegiatan validasi dilakukan setiap satu sekali.Dengan adanya validasi ini di harapkan agar kesalahan data peserta bisa di perbaiki, tujuannya untuk mencocokkan data yang di

Dokumen terkait