III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru dengan pertimbangan bahwa di lokasi ini banyak terdapat usaha budidaya ikan nila dan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2021 di Desa Lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru.
3.2 Tehnik Penentuan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode sensus dengan jumlah sample 15 orang. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (2014) yang menyatakan bahwa sensus adalah cara pengumpulan data apabila seluruh elemen populasi diselidiki satu per satu.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data berdasarkan sumbernya terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Data Primer
Data Primer adalah data yang diperoleh melalui proses wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (Kuisioner) yang merupakan sebagai alat bantu dalam pengumpulan data.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi data ini juga dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagaianya.
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data terbagi menjadi dua yaitu data kuantitatif dan kualitatif.
1) Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah jenis data yang dapat diukur (measurable) Atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka atau bilangan.Variabel Dalam ilmu statistika adalah atribut, karakteristik, atau pengukuran yang mendeskripsikan suatu kasus atau objek penelitian. Data yang digunakan untuk menganalisis aspek kelayakan usaha ikan nila yang mencakup kriteria layak yaitu analisis pendapatan usaha ikan nila, analisis R/C ratio, B/C ratio yang kemudian hasilnya akan disajikan dalam bentuk tabulasi.
a. Analisis Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih dari penerimaan total usaha ikan nila dengan biaya total usaha ikan nila yang dikeluarkan. Secara matematis pendapatan dirumuskan sebagai :
Pd =TR-TC Keterangan :
I =Keuntungan/pendapatan usaha ikan nila (Rp)
TR =Total Revenue (total penerimaan usaha ikan nila) (Rp) TC =Total Cost (total biaya usaha ikan nila) (Rp)
b. Analisis Revenue Cost Ratio (R/C)
Revenue Cost Ratio adalah perbandingan antara total penerimaan usaha ikan nila dengan total biaya usaha ikan nila dengan rumus (Soekartawi, 2006) sebagai berikut :
Revenue Cost Ratio (R/C) Keterangan:
R/C ratio = Perbandingan antara Penerimaan dan Biaya usaha ikan nila TR = Total Revenue/Total Penerimaan usaha ikan nila(Rp)
TC = Total Cost/Biaya Total usaha ikan nila (Rp) Keputusan:
Jika R/C < 1, maka usaha yang dijalankan mengalami kerugian atau tidak layak untuk tidak dikembangkan.
1) Jika R/C = 1, maka usaha berada pada titik impas.
2) Jika R/C > 1, maka usaha dalam keadaan layak c. Analisis Benevit Cost Ratio
B/C ratio adalah perbandingan keuntungan usaha ikan nila dengan biaya- biaya yang digunakan untuk merealisasikan perencanaan dan mengoperasikan suatu usaha yang melihat manfaat yang didapat dengan satuan rupiah pengeluaran. rumus matematis yang digunakan yaitu (Yacob, 2003) :
Benevit Cost Ratio (B/C) Dimana :
B/C = Perbandingan antara Total Pendapatan dan Total Biaya usaha ikan nila TI = Total Pendapatan usaha ikan nila(Rp)
T/C = Total Biaya usaha ikan nila(Rp) Kriteria (Yacob, 2003) :
B/C > 1, usahatani layak diusahakan B/C < 1, usahatani tidak layak diusahakan B/C = 1, usahatani dikatakan impas 2) Data kualitatif
Data kualitatif adalah data informasi yang berbentuk kalimat variabel berupa simbol angka atau bilangan. Data kualitatif didapat melalui proses penggunaan teknik analisis mendalam dan tidak bisa diperoleh secara langsung.
a. Data kualitatif yang digunakan pada penelitian ini untuk menguraikan hasil analisis kuantitatif dan mendeproposalkan gambaran umum mengenai biaya dan pendapatan petani Ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.
b. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menggambarkan, mengemukakan fakta-fakta dan keadaan subjek atau objek.
Dalam penelitian ini metode deskriptif digunakan untuk mengetahui dan mengkaji pendapat petani tentang apa saja yang menjadi kendala dalam usaha budidaya ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.
3.5 Definisi Operasional
1. Budidaya adalah suatu upaya yang dilakukan masyarakat di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru dalam memenuhi kebutuhan hidup.
2. Kegiatan yang dilakukan oleh petani tambak di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru untuk mengembangkan kualitas dan nilai jual komoditi perikanan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
3. Produksi adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh petani tambak di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru dalam upaya menambah nilai guna ikan nila.
4. Penerimaan adalah hasil penjualan bersih yang diperoleh dari penjualan ikan nila yang diupayakan oleh petani tambak di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, tanpa memperhitungkan biaya yang dikeluarkan.
5. Pendapatan adalah nilai penjualan setelah dikurangi dengan biaya-biaya dari hasil budidaya ikan nila oleh petani tambak di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru
6. Kelayakan Finansial adalah analisis untuk menghitung perbandingan manfaat (benefit) yang diterima dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani tambak di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.
7. Biaya adalah semua pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh produsen untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan penunjang lainnya.
8. TR-TC merupakan selisih dari penerimaan total usaha ikan nila dengan biaya total usaha ikan nila yang dikeluarkan.
9. R/C Ratio adalah perbandingan antara total penerimaan usaha ikan nila dengan total biaya usaha ikan nila.
10. B/C ratio adalah perbandingan keuntungan usaha ikan nila dengan biaya- biaya yang digunakan untuk merealisasikan perencanaan.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Keadaan Geografis
Letak Desa Lampoko sekitar 10 kilometer ke arah Utara dari pusat kota Barru, Desa Lampoko berada di kecamatan Balusu, Desa ini mempuyai luas 8,25 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 2.967 jiwa.
Desa Lampoko terdiri atas 5 Dusun yaitu Dusun Lampoko, Pallae, Labungnge, Bawasalo, Bulu Lampoko, dan Desa Lampoko mempunyai batas-batas wilayah yaitu diantaranya :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ajjakang 2. Sebelah Selatan kelurahan Takkalasi
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Balusu 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ajjakang 4.2 Keadaan Demografis
4.2.1 Keadaan penduduk berdasarkan kelamin
Penduduk adalah manusia yang berdasarkan hukum memiliki hak penuh untuk tinggal atau menempati suatu daerah atau wilayah. Adapun yang dimaksud hak secara hukum yakni memiliki bukti kewarganegaraan.
Jumlah penduduk di Desa Lampoko dari data kantor Desa Lampoko tahun 2021. Secara keseluruhan berjumlah 2.967 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 1.474 jiwa dan perempuan sebanyak 1.493 jiwa yang tersebar dalam 5 dusun dengan perincian dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Table 4.1. Jumlah Penduduk di Desa Lampoko Kecamatan Balusu
No Jumlah Penduduk Jumlah
1 Laki-Laki 1.474
2 Perempuan 1.493
Total 2.967
Sumber: BPS, Kecamatan Balusu, 2020
Tabel 1. Menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru berjumlah 2.967 jiwa dengan jumlah laki-laki 1.474 jiwa dan Perempuan 1.493 jiwa.
4.2.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan
Kemampuan seseorang yang ikut berusahatani dilingkungan sekelilingnya baik yang bersifat formal maupun informal, pendidikan berarti proses mengembangkan kemanpuan diri sendiri. Oleh karena itu, data penduduk berdasarkan pendidikan merupakan hal yang cukup penting diketahui. Data penduduk berdasarkan pendidikan di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.
No Pendidikan Jumlah(Jiwa) Persentase (%)
1 SD 132 6,72
2 SMP 315 16,05
3 SMA/SMK 1483 75,58
4 S1 32 1,63
5 S2 0 0
Jumlah 1.962 100,00
Tabel 4.2. Penduduk Berdasarkan Pendidikan Sumber: BPS, Kecamatan Balusu, 2020
Tabel 2. Menunjukkan bahwa jumlah penduduk berdasarkan pendidikan SD 132 jiwa, SMP 315 jiwa, SMA/SMK 1483 jiwa, S1 32 jiwa, dan S2 0 jiwa.
4.2.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Matapencarian
Mayoritas pencarian penduduk di Desa Lampoko adalah Petani. Hal ini disebabkan sudah turun temurun sejak dahulu bahwa masyarakat adalah petani dan juga minimnya tingkat pendidikan masyarakat. Dan tidak memiliki ke akhlian lain.
pada akhirnya tidak punya pilihan selain berusahatani.
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Petani
No Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Petani 160 16,70
2 PNS/ASN/TNI/POLRI 355 37,05
3 Pegawai Swasta 112 11,69
4 Pedagang 106 11,06
5 Petani Tambak 225 23,48
Jumlah 958 100,00
Sumber: BPS, Kecamatan Balusu, 2020
Table 3. Menunjukkan bahwa jumlah orang yang mata pencaharian petani 160 jiwa, Pns/Asn/Tni/Polri 355 jiwa, Pegawai Swasta 112 jiwa, Pedagang 106 jiwa, Petani Tambak 225 jiwa.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Petani Responden
Seorang petani harus memiliki kemampuan yang berhubungan dengan umur, pendidikan, pengalaman usahatani, luas lahan usahatani dan besarnya anggota keluarga yang akan mempengaruhi petani dalam mengelola lahan usahataninnya.
5.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur seorang petani mempengaruhi kemampuan fisik dalam beraktifitas.
Petani yang lebih mudah mempunyai kemampuan yang lebih besar di banding petani yang lebih tua.
Mantra (2004) menyatakan bahwa umur produktif secara ekonomi dibagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu kelompok umur 0-14 tahun merupakan usia belum produktif, kelompok umur 15-64 tahun merupakan kelompok usia produktif dan kelompok umur diatas 65 tahun merupakan kelompok usia tidak lagi produktif.
Untuk lebih jelasnya umur dapat dilihat pada tabel: Tabel 5.1 Responden Berdasarkan Klasifikasi Umur
No Klasifikasi Umur (Tahun) Jumlah (oramg) Presentase (%)
1 38-35 2 0,3
2 38-44 4 0,6
3 45-55 9 40
Jumlah 15 100,00
Sumber: Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 5.1 menunjukan bahwa umur petani responden yang memiliki jumlah petani responden terbanyak yaitu pada kelompok umur 45-55 tahun sebanyak 9 orang atau (40%). Sedangkan kelompok umur yang terbanyak
kedua yaitu pada kelompok umur 38-44 tahun sebanyak 4 orang atau (0,6%). Sedangkan kelompok umur yang terendah yaitu pada kelompok umur 32-35 tahun sebanyak 2 orang atau (0,3%), yang merupakan kelas umur yang masih produktif untuk melakukan usahatani.
Tabel 5.1 menunjukan bahwa umur petani responden iyalah masih tergolong petani yang masih produktif dan masih mampu mengelolah dalam usahataninya.
5.1.2 Karakteristis Responden Berdasarkan Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi seseorang dalam kemampuan berfikir memahami arti pentingnya usahatani dengan tepat mempertimbangkan konserfasi tanah secarah baik dan mencari solusi/pemecahan dalam setiap permasalahan (Adhawati,1997)
Tingkat pendidikan petani responden yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal yang perna diikuti, untuk lebih jelasnya tingkat pendidikan dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 5.2 Responden Berdasarkan Pendidikan
No Tingkat pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 SD 5 0,75
2 SMP 4 0,6
3 SMA 6 1,35
Jumlah 15 100,00
Sumber: Data primer, setelah diolah 2021
Tabel 5.2. Menunjukkan bahwa petani responden yang terbanyak adalah petani respoden yang berada pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 6 orang atau (1,35%) sedangkan responden yang paling sedikit tingkat pendidikannya adalah SMP 4 orang atau (0,6%) dan tingkat SD sebanyak 5 orang atau (0,75%).
5.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga adalah semua orang yang ditanggung oleh kepalah keluarga dalam hal ini petani responden. Jumlah tanggungan keluargam mempunyai peranan penting terhadap ketersedian tenaga kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 5.3 Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga No Jumlah tanggungan
Jumlah (jiwa) Persentase (%) keluarga (orang)
1 2-3 9 1,35
2 4-5 5 0,75
3 6 1 0,15
Jumlah 15 100,00
Sumber: Data primer yang telah diolah 2021
Tabel 5.3. Menunjukkan bahwa petani responden yang memiliki tanggungan keluarga terbanyak adalah terdapat pada 2-3 yaitu dengan jumlah orang atau (1,35%). Sedangkan petani yang memiliki tanggungan terkecil yaitu berjumlah 1 orang atau (0,15%). Hal itu menunjukkan bahwa petani responden di Desa Lampoko lebih banyak memiliki tanggungan keluargga yang sedikit di banding yang memiliki tanggungan keluarga yang banyak.
5.2 Pendapatan Usaha Tambak Ikan Nila
Pendapatan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendapatan bersih dari usaha tambak ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Pendapatan atau laba, dihitung dengan cara mengurangi biaya keseluruhan yang meliputi biaya variabel dan biaya tetap dari penerimaan. Menurut Soekartawi (2006), pendapatan merupakan selisih dari penerimaan total dengan biaya total yang dikeluarkan. Pendapatan usaha tambak ikan nila dalam satu
musim tebar diperoleh dari pengurangan total penerimaan dengan total biaya.
Biaya terbagi atas dua yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Analisis biaya produksi dan pendapatan dalam satu musim tebar dapat dilihat dalam Tabel 5.4
Tabel 5.4 Tabel Rata-rata PendapatanPetani Tambak Ikan Nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kapupaten Barru. 2021
No Uraian Jumlah
Harga Kg (Rp) Jumlah (Rp/MT) (unit / ha)
1 Produksi (Kg) 1.035 Rp 27.200 Rp 28.172.667
2 Biaya Variabel :
Nener (Ekor) 6000 Rp 33 Rp 993.333
Pestisida (L) 1,5 Rp 35.000 Rp 52.500
Pupuk Urea (Kg) 500 Rp 1.900 Rp 950.000
Pemberian Pakan Comfeed
802 Rp 8.000 Rp 6.416.000
(Kg)
Total Rata-Rata Biaya Variabel Rp 8.411.833
- Tenaga Kerja :
Perbaikan Pematang (HOK) 9,8 Rp 36.333 Rp 325.000
Pemberian Pestisida (HOK) 2,1 Rp 37.000 Rp 73.667
Pemupukan (HOK) 2,13 Rp 30.000 Rp 64.000
Pengairan (HOK) 1,13 Rp 30.000 Rp 34.000
Penebaran Nener (HOK) 2,13 Rp 38.667 Rp 80.667
Pemberian Pakan (HOK) 113,33 Rp 7.033 Rp 797.833
Pemanenan (HOK) 13,5 Rp 36.667 Rp 486.000
Total Rata-Rata Biaya Tenaga Kerja Rp 1.861.167
3 Biaya Tetap :
Penyusutan Alat (Rp) Rp 1.064.117
Pajak (Rp) Rp 35.078
Total Biaya Rata-Rata Tetap Rp 1.099.196
4 Pendapatan TR-TC (Rp) Rp 16.800.471
Sumber: data primer yang diolah 2021.
Berdasarkan tabel 5.4. Menunjukan bahwa Jumlah rata-rata produksi per musim per hektar sebanyak 1.035 Kg/Ha/Musim tebar (MT) dan jumlah rata-rata harga/Kg sebesar Rp 27.200, pada biaya variabel ada beberapa jenis biaya yang dikeluarkan dengan rata-rata biaya perhektar permusim tebar (MT) diantara Nener Rp 994,333, Pestisida Rp 52,500, Pupuk urea Rp 950,000 Permberian Pakan Rp 6,416,000 dan pembagian biaya tenaga kerja diantaranya seperti: Perbaikan Pematang Rp 325,000 Pemberian Pestisida Rp 73,667 Pemupukan Rp 64,000 Pengairan Rp 34,000. Penebaran Nener Rp 80,667 Pemberian Pakan Rp 797,883, Pemanenan Rp 486,000.
Sedangkan rata-rata biaya tetap perhektar permusim tebar (MT) yang dikeluarkan diantaranya: Penyusutan Alat Rp 1,064,117 Dan Pajak Rp 35,078.
Maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh oleh petani ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru dengan menggunakan rumus I = TR-TC sebesar Rp 16,800,471 Kg/Ha/Musim tebar (MT).
Pendapatan petani ikan Nila sebesar Rp 16,800,471 per Musim adalah diatas Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) di Kabupaten Barru Tahun 2021 sebesar Rp 2.860.000,00 yang berarti pendapatan pengusaha ikan di Desa Lampoko Kecamatan tergolong tinggi dengan kata lain pendapatan dari usaha budidaya ikan Nila menguntungkan.
Berdasarkan hasil penelitian maka hipotesis pertama yang menyatakan bahwa pendapatan dari usaha ikan Nila di daerah penelitian menguntungkan dapat diterima
5.3 Analisis Kelayakan Usaha Tambak Ikan Nila
Menurut Soekartawi, (2006) menjelaskan bahwa kelayakan juga dapat diartikan suatu usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan non finansial sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Layak atau tidaknnya suatu usaha dapat dilihat dari berbagai aspek, setiap aspek untuk dapat dikatakan layak memiliki suatu standar nilai tertentu, namun kepetusan penilaian tidak hanya dapat dilakukan pada satu aspek. Penilaian untuk menentukan kelayakan harus didasarkan kepada saluran aspek yanag akan dinilai nantinya.
5.3.1 Analisis Kelayakan R/C Ratio
R/C ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan seluruh biaya yang digunakan pada saat proses produksi sampai hasil. R/C ratio yang semakin besar akan memberikan keuntungan semakin besar juga kepada petani dalam melaksanakan usahataninya (Soekartawi, 2006). Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang analisis kelayakan R/C Ratio Usaha Tambak Ikan Nila di Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru dapat dilihat pada tabel 11 berikut:
Tabel 5.5. Hasil Analisis kelayakan R/C Ratio Usaha Tambak Ikan Nila di Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, 2021
No Uraian Jumlah rata-rata permusim/ha
1 R/C Ratio 2,22
Sumber: Data primer setelah diolah 2021.
Berdasarkan tabel 5.5. Menunjukkan bahwa hasil analisis kelayakan R/C Ratio sebesar 2,22, hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha tambak ikan Nila
di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten barru layak untuk diusahakan. Hasil tersebut sesuai dengan teori (Soekartawi, 2006) bahwa Jika R/C >
1, maka usaha yang di jalankan mengalami keuntungan atau layak untuk dikembangkan. Hal ini dapat diartikan bahwa jika petani mengeluarkan biaya sebesar Rp 1 maka petani responden akan mendapatkan keuntungan Rp 2,22 dalam satu kali musim panen .
5.3.2 Analisis Kelayakan B/C Ratio
B/C Ratio merupakan rasio perbandingan keuntungan dengan biaya- biaya yang digunakan dalam merealisasikan perencanaan pendirian dan mengoperasikan suatu usaha untuk melihat manfaat yang didapat oleh proyek dengan satu rupiah pengeluaran.
Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang analisis kelayakan B/C Ratio usaha tambak ikan Nila di Desa Balusu Kecamatan Balusu Kab Barru dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut:
Tabel 5.6. Hasil Analisis kelayakan B/C Ratio Usaha Tambak Ikan Nila di Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, 2021
No Uraian Jumlah rata-rata permusim/ha
1 B/C Ratio 1,49
Sumber : Data primer setelah diolah 2021.
Berdasarkan Tabel 5.6. Menunjukkan bahwa hasil analisis kelayakan B/C Ratio sebesar 1.49, hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha tambak ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru layak untuk dikembangkan atau
dikerjakan. Jika nilai B/C ratio lebih besar dari 1 usaha menguntungkan dan layak untuk dikerjakan. Jika lebih kecil dari 1 usaha tidak menguntungkan dan sebaiknya tidak dilanjutkan (Yacob, 2003). Hal ini dapat diartikan bahwa jika petani mengeluarkan biaya sebesar Rp 1 maka petani responden akan mendapatkan keuntungan Rp 1,49 dalam satu kali musim panen.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Produksi usaha tambak ikan nila di Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru sebesar Rp 16.800.471,00 perhakter permusim tebar.
2. Kelayakan usaha tambak ikan nila menunjukkan bahwa nilai R/C ratio sebesar 2,22, B/C Ratio sebesar 1,49, Sehingga usaha tambak ikan nila di Desa
Lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru Layak untuk dijalankan karena memberikan keuntungan kepada petani tambak ikan nila.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan sebagai berikut:
1. Petani tambak diharapkan dapat meningkatkan produksi dengan memenuhi ketersediaan input sehingga dapat memenuhi permintaan pasar serta
meningkatkan pendapatan.
2. Agar pemerintah dapat lebih memperhatikan petani ikan nila dan membantu untuk mengembangkan usaha ikan nila untuk dapat memberikan pendapatan yang lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2014. Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Amri dan Khairuman. 2008. Budidaya Ikan nila Secara Insentif. Jakarta: PT. Agro Media Pustaka.
Anonim. 2014. Kategori Pangan. Indonesia: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Asaduzzaman, M., M.A. Wahab, M.C.J. Verdegem, S. Huque, M.A. Salam, and M.E.
Azim. 2008. C/N Ratio Control and Substrate Addition for Periphyton Development Jointly Enhance Freswater Prawn Macrobrachium rosenbergii Production in Ponds. Aquaculture, 280: 117 – 123.
Bachtiar, I. H., & Nurfadila. (2019). Akuntansi Dasar; Buku Pintar untuk Pemula.
Cahyono B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta.
Deni Dejee, B. Prasetya W, 2007 Pembenihan 6 ikan konsumsi di pekarangan
Dahuri,R et al.2001.”Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Peisisir dan Lautan Secara Terpadu.”Jakarta: PT.Pradnya Paramita.
FAO (2005) cultured Aquatic Species Information Programe. Oreochromis miloticus.
Tex by Rakocy,J.E.In.FAO Fisheries and Aquaculture Departemen.
Mardani, Nur, T. M., dan Satriawan, H. Analisis Usaha Tani Tanaman Pangan Jagung di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Jurnal S. Pertanian. Volume 1.
Nomor 3.Hal : 203 – 204.
Marza, A. R., Ismono, R. H., & Kasymir, E. (2018). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Minat Pemuda Pedesaan Dalam Melanjutkan Usahatani Padi Di Kabupaten Lampung Tengah.
Ma'sum, H. (2020). Analisis Kelayakan Usahatani Wortel di Kecamatan Pujon kabupaten Malang (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).
Mustika, L., Agustina, F., & Pranoto, Y. S. (2019). Analisis kelayakan finansial usahatani lada putih (muntok white pepper) dengan metode gap dan kelayakan usaha lada bubuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Journal of Integrated Agribusiness, 1(1), 12-26.
Putri, A., Widjaya, S., dan Kasymir, E., 2018.Pendapatan Usahatani Polikultur Udang Windu–Ikan Bandeng Dan Efisiensi Pemasaran Ikan Bandeng Di Kecamatan Pasir SaktiKabupaten Lampung Timur. Jurnal IIA.Volume 6. Nomor 3.
Pontoh, Otniel. (2012). Analisa Usaha Ikan Dalam Jaring Apung Di Desa Tandengan Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara.Jurnalno 1907-9672, vol 7, halaman 1424-1428. Dosen. Manado : FPIK-UNSRAT.
Rizal. 2009. Pembenihan Ikan nila. Jakarta
Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta:
Kanisius.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
PT Alfabet.
Soekartawi. 2011. Ilmu Usaha Tani. Universitas Indonesia : Jakart Soekartawi. 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta : UI Press.
Taufik, D.K., Isbandi., dan Dyah M. 2013. Analisis pengaruh sikap peternak terhadap pendapatan pada usaha peternakan itik di Kelurahan Pesurungan Lor Kota Tegal. JITP. Volume 2. Nomor 3 : 201-208. Anonim (2019) Peluang Usaha Ikan nila.
Yacob. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka cipta. Jakarta.
Zaldi Naziri, 2010, blogspot.ikan nila dan rajungan, http//ikan nila-dan rajungan.htm, diakses pada tanggal 8 Agustus 2016.
L A M
P
I
R
A
N
Lampiran 1.Kuiseoner penelitian
KUESIONER PENELITIAN
Judul Penelitian :
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA BUDIDAYA IKAN NILA DI DESA LAMPOKO KECAMATAN BALUSU KABUPATEN BARRU
Hari/tanggal : ………..
No.Responden : ………..
A. IDENTITASRESPONDEN
1.NamaResponden :...
2. Umur :... tahun
3. Pendidikan Terakhir :TTSD/SD/SLTP/SLTA/
Diploma / Sarjana
4. Pekerjaan Pokok :...
5.PekerjaanSampingan :...………...
6. PengalamanBerusahatani ... tahun 7. LuasLahanUsahatani ... ha 8. Jumlahtanggungankeluarga ... orang B. BIAYA USAHATANI TAMBAK IKAN NILA
1. Biaya Variabel (Sarana Produksi dan Tenaga Kerja)
PersiapanLahan
Uraian Satuan Jumlah Tk Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp) a. Tenaga Kerja HOK
Penyebaranbenih
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp)
a. benih Ekor
b. Tenaga Kerja HOK
PemberianPupuk
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Harga Nilai (unit) (unit) Hk (Rp/unit) (Rp)
(unit)
a. Kg
b. Kg
c. Tenaga Kerja HOK
PemberianPakan
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp)
a. kg
b. kg
c. Tenaga Kerja HOK
Obat-obatan
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp)
a. kg
b. kg
c. Tenaga Kerja HOK
Pestisida
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp)
a. kg
b. kg
e. Tenaga Kerja HOK
Pengairan
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp) a. Tenaga Kerja HOK
Panen
Uraian Satuan Jumlah Jumlah Hk Harga Nilai (unit) (unit) (unit) (Rp/unit) (Rp) a. Tenaga Kerja HOK
ProduksiProduksi
Satuan(unit)
Jumlah (unit)
Harga (Rp/unit)
Nilai (Rp)