III. METODE PENELITIAN
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yaitu:
1. Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani porang adalah penerimaan yang diperoleh petani setelah dikurangi biaya produksi.
TC = FV + VC Keterangan:
TC = Biaya Total usahatani porang (Rp) FC = Biaya Tetap ushatani porang (Rp) VC = Biaya Variabel usahatani porang (Rp)
26 Penerimaan usahatani porang dapat dihitung dengan rumus:
TR = Py . Y Keterangan:
TR = Total penerimaan usahatani porang (Rp) Py = Harga produksi (Rp/Kg)
Y = Jumlah produksi (Kg)
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya sehingga dapat ditulis dengan rumus:
π = π»πΉ β π»πͺ
Keterangan:
π = Pendapatan usahatani porang (Rp)
TR = Penerimaan Total usahatani porang (Rp) TC = Biaya Total usahatani porang (Rp) 2. Keunggulan komparatif
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix atau PAM). Penggunaan model ini dengan pertimbangan bahwa dengan model ini dapat menjawab tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu mengetahui keunggulan komparatif usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
Pada dasarnya langkah penyusunan PAM terdiri dari empat tahap yaitu:
1. Penentuan Input-output fisik secara lengkap dari aktivitas ekonomi yang dianalisis.
27 2. Pemisahan seluruh biaya kedalam komponen biaya domestik dan asing, serta
menghitung besarnya penerimaan.
3. Penaksiran harga sosial atau harga bayangan (shadow price) dari Input- output.
4. Menghitung dan menganalisis berbagai indikator yang dihasilkan analisis PAM.
Dalam menguji hipotesis dalam penelitian ini, maka digunakan analisis Model Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix atau PAM) dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Matriks Analisis Kebijakan yang Digunakan untuk Analisis
Uraian
Penerimaan
Biaya
Profit Input
diperdagangkan
Input tidak diperdagangkan
Harga Privat A B C D
Harga Sosial E F G H
Dampak
Kebijakan I J K L
Sumber: Monke dan Pearson (dalam Soetriono, 2006) Keterangan:
A = Penerimaan Privat
G = Biaya Input NonTrdable social B = Biaya Input Tradable privat H = Keuntungan Sosial
C = Biaya Input Non TrdablePrivat I = Transfer Output
D = keuntungan Privat
28 J = Transfer Input Tradable
E = penerimaan social K = Transfer Faktor
F = Biaya Input Tradablesocial L = Transfer Bersih
Dari matrik PAM dapat dilakukan beberapa analisis seperti yang dikemukakan oleh Monke dan Pearson dalam Soetriono (2006) yaitu:
1. Analisis keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial a. Keuntungan Privat atau Private Probitability (PP);
D = A-(B+C) Dimana :
D = Keuntungan Privat
A = Penerimaan petani pada harga privat
B = Biaya input diperdagangkan pada harga privat C = Biaya Input tidak diperdagangkan pada harga privat
Apabila D > 0 maka sistem komoditi itu memperoleh profit atas biaya normal, yang mempunyai implikasi bahwa komoditi itu berekspansi, kecuali sumberdaya terbatas atau adanya komoditi alternatif yang lebih menguntungkan.
b. Keuntungan Sosial atau Social Profitability (SP) H = E β (F + G)
Dimana:
H = Keuntungan sosial
29 E = penerimaan petani pada harga sosial
F = Biaya input diperdagangkan pada harga sosial G = Biaya input tidak diperdagangkan pada harga sosial
Apabila H > 0, berarti sistem komoditi memperoleh profil atas biaya normal dalam harga sosial dan dapat diprioritaskan dalam pengembangan.
2. Analisis keunggulan Komparatif
Analisis keunggulan komparatif dilakukan dengan pendekatan Biaya Sumberdaya Domestik atau DRC. DRC digunakan untuk mengukur berapa besar satu satuan devisa yang dapat dihemat apabila suatu komoditas diproduksi didalam negeri.
DRC = Biaya Input Tidak Diperdagangkan Sosial (G)
Penerimaan social (E)- Biaya Input Diperdagangkan Sosial (F) Tolak ukur DRC (Keunggulan Komparatif) yaitu:
1. Komoditas mempunyai keunggulan komparatif jika DRC < 1, yang berarti usaha efesien secara ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya domestik sehingga pemenuhan permintaan domestik lebih menguntungkan dengan peningkatan produksi dalam negeri.
2. Komoditas tidak mempunyai keunggulan komparatif jika DRC > 1, yang berarti usaha tidak efesien secara ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya domestik sehingga pemenuhan permintaan domestik lebih menguntungkan dengan melakukan impor.
30 3.6 Definisi Operasional
Definisi operasional variabel yaitu pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi kosep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dan lingkup objek penelitian/objek yang diteliti. Adapun definisi oprasional yang dimaksud adalah:
1. Tanaman porang adalah salah satu tanaman yang dibudidayakan di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
2. Usahatani porang adalah kegiatan mengorganisasikan atau mengelolah tanaman porang.
3. Harga porang adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang untuk memberikan nilai finansial pada suatu komoditi porang.
4. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak ditentukan oleh besarnya volume usahatani porang yang sifatnya konstan.
5. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya tergantung dari volume usahatani dan sifatnya tidak menentu atau bisa berubah.
6. Penerimaan adalah biaya yang diterima oleh petani yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah produksi yang dihasilkan dikalikan dengan harga jual produk.
7. Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan (biaya tetap dan biaya variabel) dalam melaksanakan kegiatan usahatani.
8. Keuntungan komparatif adalah keunggulan yang muncul karena menghasilkan barang dan jasa dengan biaya peluang yang lebih rendah.
31
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak Geografis
Sinjai merupakan salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan yang memiliki luas wilayah 819,96 km2 dan jarak Kabupaten Sinjai dengan kota Makassar sekitar 131,99 km2. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 819,96 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 236.497 jiwa.
Desa Palangka salah satu lokasi yang berada di bawah wilayah Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai. Desa Palangka memiliki luas wilayah 1.000,68 Ha, jarak dari kantor kecamatan sekitar 9,9 km2 dan jarak dari Ibu Kota kurang lebih 18 km. Berdasarkan letak geografis, maka daerah ini (lokasi penlitian) Sebagian besar wilayahnya berada di atas area dataran tinggi di samping sebagian pula wilayahnya berada di dataran rendah. Berdasarkan letak wilayah Desa Palangka ini, menunjukkan Palangka memiliki produksi pertanian yang cukup baik, dari hasil tanam padi, cengkeh, kakao, kopi, merica, sayur-sayuran dan tanaman lainnya. Ini disebabkan karena wilayah Desa Palangka umumnya dataran tinggi (bersuhu dingin). Wilayah Palangka diapit beberapa desa yang meliputi:
β’ Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Barugae/Kabupaten Bulukumba
β’ Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Puncak
β’ Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Biji Nangka
β’ Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Sangiaserri
32 4.2 Letak Demografis
Keadaan demografis merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan sosial ekonomi yang mempengaruhi mobilitas masyarakat, faktor penduduk ini menempatkan posisi paling utama. Oleh karena itu, seperti yang kita ketahui pembangunan merupakan salah satu upaya manusia untuk dapat merubah pola kehidupan dan pola social dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan.
Desa Palangka memiliki lima dusun yaitu Dusun Sumpang aleβ, Dusun Honto, Dusun Baru, Dusun Pao-Pao dan Dusun Karumassing. Diantara lima dusun penduduk yang terbanyak ada pada Dusun Pao-Pao yakni 829 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil adalah Dusun Karumassing berkisar 434 jiwa. Adapun persebaran penduduk Desa Palangka ke dalam masing-masing dusun dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Tiap Dusun di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai Tahun 2021
Sumber Data: Kantor Desa Palangka Tahun 2021.
No
Nama Dusun
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Jumlah Laki-Laki Perempuan
1 Sumpangale 344 355 699
2 Honto 270 279 549
3 Baru 368 381 749
4 Pao-Pao 404 425 829
5 Karumassing 225 209 434
Jumlah 1.611 1.649 3.260
33 Jumlah penduduk di Desa Palangka berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan No
Tingkat Pendidikan
Sumpangale
Honto
Baru
Pao-pao
Karumassing
Jumlah 1. Belum
Sekolah 73 47 82 77 44 323
2. SD 218 112 229 261 110 930
3. SMP 80 61 75 116 55 387
4. SMA 106 78 110 83 50 427
5. Diploma 7 5 11 17 3 43
6.
Sarjana
(S1-S2) 28 22 33 38 15 136
Total 512 325 540 592 277 2.246
Sumber Data: Kantor Desa Palangka Tahun 2021.
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa penduduk yang berada di Desa Palangka yang masih belum sekolah sebanyak 323 jiwa, SD sebanyak 930 jiwa, SMP sebanyak 387 jiwa, SMA sebanyak 427 jiwa, Diploma sebanyak 43 jiwa, dan sarjana (S1-S2) sebanyak 136.
4.3 Kondisi Pertanian
Desa Palangka memiliki potensi dibidang pertanian terkhususnya usahatani porang yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan terlihat dari sumber daya alam yang memadai dan juga didukung dengan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia unuk dirawat dan diolah agar mendapatkan keuntungan yang dapat meningkatkan taraf hidup petani porang. Adapun jenis komoditas yang dikembangkan di Desa Palangka adalah tanaman hortikultura, pangan dan paling banyak tanaman perkebunan.
34
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Responden dalam penelitian ini adalah petani porang yang ada di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga.
5.1.1 Umur
Hasil pengumpulan data yang diperoleh menujukkan bahwa umur petani responden bervariasi, mulai dari 26 tahun sampai dengan 70 tahun, umur petani responden dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Umur Responden Petani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan.
No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
26-34 35-43 44-52 53-61 62-70
4 9 12
2 6
12,12 27,27 36,36 6,06 18,18
Jumlah 33 100
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 6. Menunjukkan bahwa rata-rata responden paling banyak berumur 44 sampai 52 tahun dengan jumlah 12 orang (36,36%) dan responden paling sedikit berumur 53 sampai 61 tahun dengan jumlah 2 orang (18,18%) dari keseluruhan sampel. Menurut UU No. 13 tahun 2003 menyatakan bahwa usia yang produktif yaitu 15 sampai 64 tahun. Dengan melihat kelompok umur 44 sampai 52 tahun dapat dikatakan golongan umur yang masih produktif
35 dikarenakan kemampuan fisik yang masih kuat dan juga memiliki pengalaman berusahatani yang luas.
5.1.2 Pendidikan
Hasil pengumpulan data yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat Pendidikan responden berbeda-beda mulai dari yang tidak sekolah, tamatan SD, SMP, SMA, DIPLOMA dan SARJANA. Tingkat pendidikan petani dapat dilihat pada tabel 7.
Table 7. Tingkat Pendidikan Petani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan
No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
TIDAK SEKOLAH SD
SMP SMA DIPLOMA SARJANA
4 12
6 5 2 4
12,12 36,36 18,18 15,15 6,06 12,12
Jumlah 33 100
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa identitas responden berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Palangka bervariasi mulai dari yang tidak sekolah sebanyak 4 orang (12,12%), tingkat SD paling dominan sebanyak 12 orang (36,36%), tingkat pendidikan SMP sebanyak 6 orang (18,18%), tingkat pendidikan SMA sebanyak 5 orang (15,15%), tingkat pendidikan DIPLOMA sebanyak 2 orang (6,06%), dan tingkat pendidikan Sarjana sebanyak 4 orang (12,12%). Tingkat Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berfikir, bertindak dalam mengambil suatu keputusan. Semakin tinggi pendidikannya maka daya
36 serap akan semakin luas, namun tingkat Pendidikan petani di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai tergolong rendah, dengan melihat tingkat pendidikan petani porang yang paling banyak adalah pendidikan SD. Hal ini dikarenakan jarak sekolah dengan tempat tinggal yang jauh dan masih minimnya kendaraan, dan juga masalah finansial mempengaruhi tangkat Pendidikan.
5.1.3 Jumlah Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga yang dimaksud adalah keseluruhan anggota keluarga yang memiliki beban hidup bagi usahatani yang bersangkutan seperti istri, anak, dan anggota keluarga lainnya yang menjadi tanggungan usahatani. Jumlah tanggungan keluarga responden dapat dilihat pada tabel 8.
Table 8. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
No Tanggungan Keluarga Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.
2.
3.
4.
1-2 3-4 5-6 7-8
15 12 4 2
45,45 36,36 12,12 6,06
Jumlah 33 100
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 8 Menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga responden paling banyak adalah 1 sampai 2 orang dengan jumlah 15 orang dengan persentase 45,45% dan yang terendah adalah 7 sampai 8 orang dengan persentase 6,06%. Tanggungan keluarga semakin besar menyebabkan seseorang memerlukan tambahan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai kehidupannya.
37 5.2 Analisis Pendapatan Usahatani Porang
Tabel 9. Analisis Pendapatan Usahatani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
No Uraian Satuan
Jumlah (unit)
Harga/unit (Rp)
Nilai (Rp)
1. Produksi Kg 477,84 7.060,06 3.373.757
2. Biaya Variabel
Pestisida ml
a. Supremo 875,76 47,73 57.342,42
b. Supretox 112,12 70,64 7.884,85
Total Biaya Pestisida 65.227,27
c. Tenaga Kerja
β’ Pembersihan Lahan
β’ Pembedengan
β’ Penanaman Porang
β’ Pembersihan Gulma
β’ Pemanenan
HOK HOK HOK HOK HOK
1 2 2 1 2
34.090,91 36.818,18 39.848,48 33.484,85 47.575,76
34.090,91 73.636,36 79.696,96 33.484,85 95.151,5
Total Biaya TK 316.060,58
Total Biaya Variabel 381.287,85
3. Biaya Tetap
a. Penyusutan Alat 47.964
b. Pajak 68.152
Total Biaya Tetap 116.116
4. Total Biaya 497.403,85
5. Pendapatan 2.532.415
Sumber: Data Primer Setelah Diolah 2021
Tabel 9 menjelaskan bahwa rata-rata produksi porang pertahunnya adalah sebesar Rp. 477,84/kg dengan harga rata-rata Rp. 7.060,06/kg. Total penerimaan usahatani porang adalah rata-rata pertahunnya sebesar Rp. 3.373.757 dengan jumlah pohon tanaman porang rata-rata sebesar 10.484,85. Biaya merupakan semua dana yang dikeluarkan dalam pelaksanaan kegiatan usahatani, sehingga biaya yang dihitung dalam penelitian ini adalah biaya yang dikeluarkan setiap produksi yang tergolong dalam biaya tetap dan biaya variabel.
38 Jumlah rata-rata pestisida supremo adalah 875,76 ml dengan harga Rp.
47,73/ml sehingga nilai rata-rata sebesar Rp. 57.342,42 dan pestisida supretox adalah 112,12 ml dengan harga rata-rata Rp. 70,64/ml sehingga nilai rata-rata per hektar sebesar Rp. 7.884,85 Penggunaan tenaga kerja sesuai dengan perhitungan HOK pada tahap pembersihan lahan sampai panen setiap harinya HOK yang dipakai tidak menentu ada yang menggunakan 1 sampai 4 bahkan lebih tergantung luas lahan yang dimiliki petani porang, sedangkan upah sebesar Rp. 33.484,85 sampai Rp. 47.575,76.
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan yang dimiliki petani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai sebesar Rp 2.532.415 sedangkan penerimaanya rata-rata sebesar Rp. 3.373.757. Hasil ini diperoleh berdasarkan perhitungan rata-rata luas lahan sebesar 0,52 dibagi dengan rata-rata perorang sehingga menghasilkan jumlah rata-rata.
5.3 Hasil Policy Analysis Matrix (PAM)
Perhitungan hasil pada tabel PAM berdasarkan hasil perhitungan pada tabel budget privat dan burdget sosial dapat diketahui daya saing usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
Setelah data diperoleh dan diolah, selanjutnya data di kelompokkan menurut komponennya dan disusun dalam bentuk matrix. Penyusunan matrix yang terdiri dari budget privat dan budget sosial untuk setiap harga dari Input Tradeabl dan harga faktor domestik (Input Non Tradeable).
39 Tabel 10. Hasil Perhitungan PAM (Policy Analysis Matrix) Usahatani Porang Di
Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai.
Uraian
Penerimaan
Biaya
Profit Input
diperdagangkan
Input tidak diperdagangkan
Harga Privat 3.373.757 64.772,8 384.212,58 2.924.771,62 Harga Sosial 3.344.880 59.833,4 384.212,58 2.900.834,02
Divergensi 28.877 4.939,4 0 23.937,6
Sumber: hasil PAM, Diolah 2021
Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa jumlah penerimaan privat usahatani porang diperoleh sebesar Rp. 3.373.757 Nilai ini didapat dari total output yang dihasilan yaitu Rp. 477,84 kg dikalikan dengan harga output sebesar Rp. 7.060,60, biaya input diperdagangkan pada tingkat harga privat sebesar Rp.
64.772,8 nilai ini didapat dari total Input tradeable yang digunakan petani porang yaitu pestisida, dimana pestisida yang digunakan adalah supremo dan supretox dikalikan dengan harga privat. Biaya faktor domestik atau Input tidak diperdagangkan sebesesar Rp. 384.212,58 Jadi keuntungan privat usahatani porang sebesar Rp. 2.924.771,62 dimana nilai ini didapat dari penerimaan yang diperoleh petani porang dikurangi dengan penggunaan semua input dalam usahatani porang, baik input diperdagangkan maupun input tidak diperdagangkan, karena keuntungan privat > 0 maka dapat di simpulkan bahwa sistem komoditi porang yang ada di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan memperoleh profit atas biaya normal, yang mempunyai implikasi bahwa komoditi porang berekspansi.
Penerimaan sosial usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai dapat dilihat pada angka baris kedua tabel PAM yaitu:
penerimaan pada tingkat harga sosial sebesar Rp. 3.344.880. Nilai didapat dari
40 total yang dihasilkan yaitu sebesar 477,84 kg dikalikan dengan harga sosial yaitu sebesar Rp. 7.000 per kg. Biaya input diperdagangkan pada tingkat harga sosial sebesar Rp. 59.833,4 Nilai ini didapat dari total semua input diperdagangkan yaitu pestisida supremo dan supretox dikalikan dengan harga sosial. Biaya input tidak diperdagangkan yang di gunakan pada tingkat harga social adalah sebesar Rp.
384.212,58. Jadi keuntungan sosial usahatani porang sebesar Rp. 2.900.834,02.
Nilai didapat dari penerimaan yang diperoleh petani porang dikurangi dengan penggunaan semua input diperdagangkan maupun input tidak diperdagangkan.
Karena keuntungan sosial > 0, maka dapat disimpulkan bahwa system komoditi memperoleh profit atas biaya normal dalam harga sosial dan dapat diprioritaskan dalam pengembangan.
Pada baris ketiga disebut dengan divergensi (effect of divergences).
Divergensi adalah selisih antara harga privat dan harga sosial, terdiri dari divergensi penerimaan, biaya input diperdagangkan dan faktor domestik. Pada usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai, tingkat divergensi penerimaan sebesar Rp. 28.877 tingkat divergensi input tradeable sebesar Rp. 4.939,4 tingkat faktor domestik Rp. 0, hal ini disebabkan karena harga sosial diestimasikan sehingga harga privat dan harga sosial sama.
Sedangkan net transfer effect dimana untuk mengukur dampak total dari seluruh divergensi dari profit sebesar Rp. 23.937,6.
Berdasarkan hasil perhitungan tabel PAM keunggulan komparatf usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai dapat
41 diketahui dengan menggunakan indikator Domestic Resaurces Cost Ratio (DRCR) berdasarkan nilai domestic resaurces cost yang dihitung pada komponen pada tabel PAM.
DRC = biaya input non treadeable sosial Pendapatan sosial-biaya input treadeable sosial = 384.212,58
3.344.880 β 59.833,4 = 0,11
Usahatani porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai memiliki nilai DRC<1 yaitu 0,11 hal ini menunjukkan bahwa usahatani porang memiliki keunggulan komparatif.
42
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Usahatani porang yang ada di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai memiliki penerimaan rata-rata sebesar Rp. 3.373.757 per tahun dan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 2.532.415 per tahun.
2. Usahatani porang yang ada di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai memiliki DRC sebesar 0,11. Dengan nilai DRC<1 menunjukkan bahwa usahatani tani porang memiliki keunggulan komparatif.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan maka adapun saran yaitu :
1. Usahatani porang yang ada di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai penting untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan keuntungan dan keunggulan komparatif usahatani porang.
2. Wawasan petani terkait metode-metode penanaman tanaman porang yang lebih moderen harus lebih ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan hasil produksi umbi porang.
43
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Endriyeni, E. dan N. Harijati. 2010. Beberapa Varian Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di Klangon, KPH Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010.
Gray, dkk,. 2005. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gustiyana. 2004. Anlisis Pendapatan Usahatani Untuk Produk Pertanian.
Salemba empat: Jakarta.
Hafsah. 2003. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hermanto. 1994. Ilmu Usahatani. Jakarta: Bumi Aksara.
Husnan, Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek Bisnis. Unit penerbit UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Jansen, Flach and Rumawas. 1996. Amorphophallus Blume Ex Decaisme.
Backhuys Publisher. Leiden.
Kementrian Pertanian, 2019. Luas Lahan Pertanian Sulawesi Selatan.
http://www. Litbang. Pertanian.go.id
Luntungan. 2012. Analisis Pendapatan Usahatani Tomat dan Apel di Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa. Jurnal Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PEKD).
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Pearson, Scott, dkk. 2006. Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Indonesia. Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.
Perhutani, 2013. Revisi Penjarangan Tanaman. Jakarta.
Saleh, 2015. Tanaman Porang, Pengenalan, Budidaya, dan Pemanfaatannya.
Bogor: Pusat Penelitian.
Santoso. 2004. Mengatasi Berbagai Statistik. Jakarta:Elex Medua Komputindo.
44 Shinta, 2011. Ilmu Usahatani. Malang : Penerbit Universitas Brawijaya Press.
Soetriono, 2006. Daya Saing Pertanian dalam Tinjauan Analisis. Malang:
Bayumedia Publishing.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dsar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Penerbit Rajawali.
Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Soemarwoto, 2005. Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume); Deskripsi dan Sifat-sifat Lainnya. Jurnal Biodiversitas. Volume 6, Nomor 3. -Juli 2005:
Hal: 185-190.
Sudjana, 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sulaeman, Suhaedar, 2004. Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam Menghadapi Pasar Regional dan Global. Jakarta: Jurnal Ekonomi &
Bisnis.
Suratiyah, 2015. Ilmu Usahatani. Edisi Revisi. Jakarta Timur: Penebar Swadaya.
Thiku, G, V, 2008. Analisis Usaha Pendapatan Usahatani Padi Sawah. Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakiltas Pertanian, Institut pertanian Lampung.
Winardi, 1992. Management Perilaku Organisasi. Bandung: Citra Aditya. Bakti.
Wursanto.
45
L A M
P
I
R
A
N
46 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Analisis Keunggulan Komparatif Usahatani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai
A. Identitas Responden
1. Nama Responden :β¦β¦β¦..
2. Umur :β¦β¦β¦..
3. Pendidikan Terakhir :SD/SLTP/SLTA/DIPLOMA/SARJANA 4. Pengalaman Usahatani :β¦β¦β¦β¦ Tahun
5. Luas Lahan Usahatani :β¦β¦β¦β¦ Ha 6. Status Kepemilikan Lahan : milik/sewa/sakap 7. Jumlah Tanggungan Keluarga :β¦β¦β¦β¦ Orang B. Usahatani Porang
1. Biaya Variabel (Sarana Produksi danTenaga Kerja) 1.1 Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Porang
No Uraian Satuan Jumlah harga(Rp/satuan) Jumlah(Rp) 1.
2.
3.
1.2 Tenaga Kerja No
Jenis Kegiatan
Jumlah Orang
Waktu Kerja (Hari)
Upah Kerja
Jumlah Upah/Hok
(Rp)
1 Pembersihan lahan
2 Pembedengan
3 Penanaman porang
4 Pembersihan gulma
5 Pemanenan
HOK = HARI KERJA X JUMLAH TENAGA KERJA X UPAH/HARI 2. Biaya Tetap
2.1 Penyusutan Alat No Nama Alat Harga
Beli (Rp)
Jumlah (unit)
Nilai (Rp)
Umur Ekonomis (tahun)
Penyusutan(Rp)
47 3. Penerimaan Usahatani Porang
Jumlah (Kg) Harga (Rp) Nilai (Rp)
4. Menghitung analisis pendapatan privat
Uraian Input Biaya
Tanaman Porang
Tradable
Nontradable
Amortisasi
Penerimaan
Keuntungan
5. Menghitung Analisis Policy Anlysis Matrix
Uraian
Penerimaan Output
Biaya
Keuntungan input
Tradeable Non tradeable
48 LAMPIRAN 2. Peta Lokasi Penelitian di Desa Palangka Kecamatan Sinjai
Selatan Kabupaten Sinjai
49 LAMPIRAN 3. Identitas Responden Petani Porang di Desa Palangka Kecamatan Sinjai
Selatan Kabupaten Sinjai No
Nama Responden
Umur
Pendidikan Terakhir
Pengalaman Berusahatani
Luas Lahan
(Ha)
Status Kepemilikan
Tanggungan Keluarga
Pekerjaan Pokok
1. Jamaluddin 44 SMA 29 0,30 Milik 3 Petani
2. Emmang 68 SD 52 0,90 Milik 5 Petani
3. Jusmang 41 SMA 26 0,65 Milik 1 Petani
4. Lampe 70 - 50 0,60 Milik 7 Petani
5. Irsan 32 SARJANA 15 0,30 Milik 2 Petani
6. Jumali 65 - 50 0,80 Milik 5 Petani
7. Syahrir 40 SARJANA 25 0,50 Milik 3 Petani
8. Huldang 46 SD 31 0,60 Milik 2 Petani
9. Kama 59 SD 44 0,20 Milik 3 Petani
10. Alwi 26 DIPLOMA 10 0,20 Milik 1 Petani
11. Arsyad 64 SD 38 0,50 Milik 2 Petani
12. Herianto 52 SD 36 0,30 Milik 3 Petani
13. Mannang 47 SMP 30 0,30 Milik 2 Petani
14. Nua 52 SD 40 0,80 Milik 4 Petani
15. Nurjanna 33 SMA 13 0,50 Milik 2 Petani
16. Darwis 50 SMA 35 0,70 Milik 5 Petani
17. Rudi 42 DIPLOMA 27 0,40 Milik 3 Petani
18. Syukur 47 SMP 35 0,25 Milik 3 Petani
19. Rusmang 35 SMP 20 0,50 Milik 1 Petani
20. Faisal 41 SD 31 0,50 Milik 3 Petani
21. Amiluddin 48 SMP 35 1 Milik 6 Petani
22. Irwan 45 SD 30 0,20 Milik 1 Petani
23. A.Rasyid 39 SARJANA 20 0,35 Milik 2 Petani
24. Askar 38 SMP 25 0,30 Milik 1 Petani
25. Dasri 35 SMP 20 0,25 Milik 1 Petani
26. Sultan 69 SD 55 1 Milik 7 Petani
27. Budi 44 SD 25 0,80 Milik 3 Petani
28. Macci 60 - 50 0,45 Milik 4 Petani
29. Halilintar 42 SARJANA 27 0,20 Milik 1 Petani
30. Syamsia 46 SD 33 0,75 Milik 4 Petani
31. Ulla 27 SMA 12 0,40 Milik 1 Petani
32. Warni 43 SD 28 1 Milik 4 Petani
33. Hape 65 - 50 0,80 Milik 2 Petani
Rata-rata 47,12 - 31,73 0,524 - 2,94 -