BAB III METODE PENELITIAN
3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli. Waktu penelitian ini dilakukan pada tanggal 4 September 2019 sampai tanggal 6 September 2019.
3.9 Deskripsi Ringkas Objek Penelitian
a. Gambaran Umum Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli terbentuk berdasarkan peraturan Daerah Kota Gunungsitoli no 8 tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan perangkat Daerah Kota Gunungsitoli dan peraturan Walikota Gunungsitoli no 47 tahun 2016 tentang susunan organisasi dan tata kerja Dinas-Dinas Daerah Kota Gunungsitoli. Sesuai dengan peraturan ini, penyelenggaraan urusan perdagangan, perindustrian, koperasi dan usaha mikro kecil menengah dilaksanakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli.
b. Visi dan Misi 1) Visi
Visi perangkat daerahDinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli periode tahun 2016-2021 yaitu:“TERWUJUDNYA PEREKONOMIAN YANG KOKOH DAN BERKEADILAN DI SEKTOR PERDAGANGAN, PERINDUSTRIAN, KOPERASI,DAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH KOTA GUNUNGSITOLI”.
2) Misi
Untuk mencapai cita-cita sebagai sebagaimana tergambar dalam visi yang ditetapkan di atas ditetapkan misi sebagai berikut :
a) Mewujudkan produktifitas sektor jasa dan perdagangan.
b) Mewujudkan produktifitas sektor industri rumah tangga, industri kreatif, serta industri kecil dan menengah.
c) Mewujudkan daya saing Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi.
d) Mewujudkan tata kelola pelayanan pemerintahan yang akuntabel, profesional dan melayani.
c. Struktur Organisasi
Berdasarkan peraturan Walikota Gunungsitoli no 47 tahun 2016 tentang susunan organisasi dan tata kerja Dinas-Dinas Daerah Kota Gunungsitoli,struktur organisasi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli sebagai berikut :
1. Kepala Dinas, Eselon II.b 2. Bagian Sekretariat terdiri dari :
a. Sekretaris, Eselon III.a
b. Kasubbag Umum dan Kepegawaian, Eselon IV.a c. Kasubbag Program dan Keuangan, Eselon IV.a 3. Bidang Perindustrian terdiri dari :
a. Kepala Bidang Perindustrian, Eselon III.b
b. Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Usaha Industri, Eselon IV.a c. Kepala Seksi Pembinaan Industri Kimia Agro dan Hasil Hutan dan Industri
Logam Mesin Elektronik dan Aneka, Eselon IV.a
d. Kepala Seksi Perlindungan Iklim Usaha, Pengawasan dan Standarisasi, Eselon IV.a
4. Bidang Perdagangan terdiri dari :
a. Kepala Bidang Perdagangan, Eselon III.b
b. Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Usaha Dagang dan Pasar Tradisional, Eselon IV.a
c. Kepala Seksi Kemitraan dan Distribusi Perdagangan dan Perlindungan Konsumen, Eselon IV.a
d. Kepala Seksi Metrologi dan Pendaftaran Perusahaan, Eselon IV.a 5. Bidang Koperasi dan UKM terdiri dari :
a. Kepala Bidang Koperasi, Eselon III.b
b. Kepala Seksi Promosi Fasilitasi dan Pembiayaan, Eselon IV.a c. Kepala Seksi Koperasi, Eselon IV.a
d. Kepala Seksi UKM, Eselon IV.a
6. Jumlah staf PNS sebanyak 17 orang dan tenaga pendukung non PNS sebanyak 13 orang, terdiri dari 5 orang tenaga komputer, 2 orang tenaga keamanan kantor, 1 orang tenaga supir, 1 orang tenaga kebersihan kantor dan 4 orang tenaga kebersihan pasar.
50 4.1 Penyajian Data
Bab ini membahas dan menyajikan data yang telah didapat dari hasil penelitina yang dilapangan atau yang dikenal dengan pendekatan kualitatif yaitu data yang diperoleh dengan cara tanya jawa dengan narasumber sehingga memberikan gambaran yang jelas dan kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dilapangan melalui wawancara secara langsung di Kantor Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli serta beberapa sumber data berupa dokumen, arsip, dan referensi lainnya yang diperoleh di kantor Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli terkait implementasi peraturan pemerintah RI no 8 tahun 2008 dalam penyusunan rencana strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli.
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui wawancara terhadap narasumber penelitian, maka data-data tersebut akan di deskripsikan sehingga masalah penelitian tentang implementasi peraturan pemerintah RI no 8 tahun 2008 dalam penyusunan rencana strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitolidapat terjawab dan di analisa.
Untuk mendukung peroleh data selain data primer maka data sekunder juga dapat membantu menjelaskan hasil wawancara terutama yang terkait dengan tingkat karakteristik jawaban para narasumber selanjutnya hasil wawancara dapat diuraikan secara sistematis sesuai dengan sifat metode penelitian deskipsi kualitatif.
a. Deskripsi Data Narasumber
1) Distribusi Narasumber Menurut Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, narasumber dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu narasumber berjenis kelamin laki-laki dengan narasumber berjenis kelamin perempuan. Pada tabel 4.1 berikut dijelaskan frekuensi untuk masing-masing kategori.
Tabel 4.1
Distribusi Narasumber Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1 Laki-laki 2 66,67
2 Perempuan 1 33,33
Jumlah 3 100%
Sumber : Data wawancara Narasumber Tahun 2019
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa narasumber dari jenis kelamin laki-laki dengan frekuensi 2 orang sedangkan responden perempuan sebanyak 1 orang.
2) Distribusi Narasumber Menurut Jenis Kelamin
Berdasarkan umur, narasumber dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu narasumber dengan umur 25 - 35 tahun, narasumber dengan 36 – 45 tahun. Pada tabel 4.2 berikut dijelaskan frekuensi untuk masing-masing kategori.
Tabel 4.2
Distribusi Narasumber Menurut Umur
No Umur Frekuensi Persentase (%)
1 25-35 1 33,33
2 36-45 2 66,67
Jumlah 3 100%
Sumber : Data wawancara Narasumber Tahun 2019
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa narasumber dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu narasumber dengan umur 25-35 tahun sebanyak 1 orang, narasumber dengan umur 36-45 tahun sebanyak 2 orang.
3) Distribusi Narasumber Menurut Jabatan/Pekerjaan
Bedasarkan yang dilihat dari tingkat jabatan atau pekerjaaan narasumber dikelompokkan menjadi satu kelompok yaitu pegawai di Kantor Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli. Pada tabel 4.3 berikut dijelaskan frekuensi untu kategori tersebut menurut jabatan atau pekerjaan yang dimiliki oleh peserta wawancara.
Tabel 4.2
Distribusi Narasumber Menurut Jabatan/pekerjaan
No Jabatan/Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1 Pegawai 3 100
Jumlah 3 100%
Sumber : Data wawancara Narasumber Tahun 2019
Berdasarakan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa narasumber dikelompokkan menjadi satu kelompok yaitu narasumber dengan pekerjaan sebagai pegawai di kantor Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli sebanyak 3 orang.
b. Deskripsi Hasil Wawancara Berdasarkan Kategorisasi
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli, maka dapat dianalisis satu persatu tentang jawaban dari responden sehingga diperoleh kapitulasi data sebagai berikut :
a) Adanya Komunikasi
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 4 September 2019 dengan Ibu Buteniat Lase, S.E selaku kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mengatakan bahwa komunikasi antara atasan dengan staf/pegawai dalam hal penyusunan rencana strategis berlangsung dengan baik dan saling berbagi informasi yang menyangkut dengan perencanaan kemudian atasan selalu memberikan pembinaan kepada staf/pegawai dalam hal pelaksanaan tugas dan fungsinya masing-masing agar sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi.
Menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa, S.E Kepala Bagian Program dan Keuangan yang telah diwawancarai pada tanggal 5 September 2019 mengatakan bahwa proses komunikasi yang berlangsung sejauh ini dengan atasan dan pegawai sudah terjalin dengan baik saling bertukar informasi dan memberikan masukan- masukan yang membangun agar tujuan tercapai sesuai yang diinginkan dan demi berjalannya segala program yang telah direncanakan.
Dalam hal komunikasi untuk penyampaian informasi dari atasan kepada staf di Disperindag Kota Gunungsitoli menurut Sekretaris Dinas Bapak Budiyanto Edisaputra Silaban, ST yang telah diwawancarai pada tanggal 6 september 2019 menyatakan di kantor Dinas ini komunikasilah yang diutamakan demi tercapainya tujuan bersama baik itu dari kepala Dinas kepada Staf atau staf kepada staf, hal ini selalu dijaga agar selalu ada keseimbangan atau keselarasan pikiran bersama dan mengetahui bagaimana perkembangan dari program atau kegiatan masing-masing.
Untuk terwujudnya proses perencanaan strategis yang baik itu semua tidak terlepas dari keterlibatan stakeholder sebagai unsur penting dalam penyusunan rencana strategis, berdasarkan hal tersebut menurut Ibu Buteniat Lase SE mengatakan memang stakeholder merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam penyusunan rencana strategis terkhusus di Disperindag Kota Gunungsitoli keterlibatan stakeholder ini dapat dilihat dari proses kegiatan yang ada, dan pihak ini terlibat dalam menetapkan tujuan. Menurut pendapat dari bapak Fajar Setia Mendrofa, sepengetahuannya Stakeholder ini merupakan pihak yang berasal dari luar Dinas yang memiliki pengaruh dalam proses perencanaan strategis karena dari merekalah Dinas mendapatkan isu-isu yang berhubungan dengan masyarakat
sehingga isu itulah yang menjadi tolak ukur dalam perencanaan strategis untuk kesejahteraan masyarakat. Bapak Budiyanto Edisaputra Silaban juga sependapat dengan Bapak Fajar Setia Mendrofa dalam hal keterlibatan Stakeholder dalam proses penyusunan perencanaan strategis, dia menambahkan stakeholder ini juga terlibat dalam pengambilan kebijakan yang ada pada perencanaan strategis.
Setelah perencanaan strategis ditetapkan pihak Dinas akan melakukan pemantauan terhadap perencanaan ini, dalam hal ini peneliti melakukan wawancara terhadap Ibu Buteniat Lase SE menurutnya perencanaan strategis di buat untuk menentukan arah tujuan kegiatan perangkat daerah 5 tahun kedepan, untuk itu Dinas melakukan pemantauan terhadap perencanaan tersebut dengan membuat Laporan Kinerja (LKj) setiap tahun dengan menyajikan hasil capaian kinerja organisasi perangkat daerah Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli dan mempertanggungjawabkannya kepada pemerintah daerah Kota Gunungsitoli, Bapak Fajar Setia Mendrofa SE juga mengatakan hal yang sama dengan Ibu Buteniat Lase SE mengenai pemantauan Dinas terhadap perencanaan strategis yaitu dengan membuat laporan kinerja tahunan, sedangkan menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silaban proses pemantauan yang dilakukan dengan evaluasi langsung di lapangan untuk melihat kemajuan dari kegiatan yang telah direncanakan, apakah berjalan dengan baik atau mengalami kendala.
Yang terlibat dalam proses perencanaan strategis Disperindag Kota Gunungsitoli yaituberdasarkan hasil wawancara kepada Ibu Buteniat Lase SE mengatakan Seperti yang kita bahas di atas mengenai stakeholder merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam penentuan kebijakan kemudian perencanaan
strategis ini juga melibatkan Bappeda sebagai pendukung terlaksananya rencana strategis, dan Kepala Dinas, pegawai juga terlibat di dalam nya sebagai pelaksana perencanaan strategis itu sendiri. Menurut hasil wawancara dari Bapak Fajar Setia Mendrofa menurutnya yang terlibat dalam proses perencanaan strategis yaitu ada dari pihak eksternal dan internal, dari pihak eksternal menurutnya yaitu Bappeda dan stakeholder sedangkan dari pihak internal yaitu Kepala Dinas dan pegawai.
Bapak Budiyanto Edisaputra ST juga mengatakan hal yang sama dalam hal yang terlibat dalam proses penyusunan rencana strategis yaitu Bappeda, Stakeholder, Kepala Dinas dan pegawai.
b) Adanya Sumber Daya
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan Ibu Buteniat Lase SE mengenai profesionalisme pegawai di kantor Disperindag Kota Gunungsitoli terhadap penyusunan rencana strategis yaitu menurutnya profesionalisme inilah yang menjadi permasalahan dalam pencapaian target dapat dilihat dari laporan kinerja tahun 2017 dimana ada sebagian sasaran strategis yang masih belum memenuhi target yang disebabkan oleh masih lemahnya sumber daya manusia aparat yang berkualitas. Menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa ada sebagian pegawai yang masih belum memahami tugas dan fungsinya sehingga kegiatan yg dilakukan tidak memenuhi target yang direncanakan, sedangkan menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silaban pegawai yang ada di Disperindag masih membutuhkan pembinaan yang lebih untuk memenuhi standar pegawai yang professional pada bidangnya masing-masing karena sebagian pegawai kurang maksimal melakukan tugasnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Buteniat Lase SE mengenai ketersediaan dokumen dan data dalam penyusunan rencana strategis di Disperindag Kota Gunungsitoli mengatakan dokumen yang menjadi dasar dalam penyusunan rencana strategis yaitu RPJMD dan data-datanya di ambil dari Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) yang menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan perencanaan, hal yang sama juga di katakan oleh Bapak Fajar Setia Mendrofa bahwa dokumen dan data yang tersedia hanya berdasar dari RPJMD dan SIPD sedangkan Bapak Budiyanto Edisaputra Silaban mengatakan dokumen dan data yang ada berdasarkan RPJMD dan SIPD.
Dalam hal dukungan sarana dan prasarana dalam penyusunan rencana strategis di Disperindag Kota Gunungsitoli menurut Ibu Buteniat Lase SE masih sangat terbatasnya sarana dan prasarana yang ada sehingga menghambat target yang direncanakan, dan menurut bapak Fajar Setia dukungan sarana dan prasarana ini yang perlu ditingkatkan di Disperindag Kota Gunungsitoli karena ketersediaannya masih sangat minim, Bapak Budiyanto Edisaputra juga memberikan pernyataan yang sama dalam hal sarana dan prasarana yang ada perlu diperhatikan karena ini bisa menunjang terealisasinya suatu kegiatan.
c) Adanya Disposisi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Buteniat Lase mengenai kedisplinan pegawai dalam melakasanakan rencana strategis mengatakan bahwa pegawai atau staf sudah melakukan dan menjalankan tugas dengan pengawasan dari atasan dan telah berusaha mensukseskan rencana program-program yang telah direncanakan.Sementara Bapak Fajar Setia Mendrofa mengatakan kalau di
Dinas ini rata-rata pegawai sudah melakukan tugasnya dengan baik, disiplin waktudan pengawasan yang dilakukan sudah lebih ketat dengan adanya finger print di kantor, dan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan juga dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebelumnya.Menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silababan, sesuai peraturan pemerintah RI no 8 tahun 2008 tentang tahapan penyusunan rencana dan pengendalian rencana pembangunan daerah pegawai di Dinas perdagangan dan perindustrian sudah melaksanakan tugasnya sesuai fungsinya dengan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat.
Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli dalam mengimplementasikan rencana strategis menurut Ibu Buteniat Lase, pelaksanakan rencana strategis yang dilakukan sudahsesuai sasaran dan target dengan meningkatkan pelayanan perangkat daerah dan mempertanggungjawabkan segala kegiatan sesuai dengan perencanaan.Adapun menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa, tanggungjawab Dinas berusaha mewujudkan apa yang telah dibuat dalam rencana strategis dan meningkatkan kinerja yang kami miliki agar lebih baik, sementara menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silababan, rencana strategis yang dibuat akan menjadi kewajiban untuk menjalankannya dengan mengsukseskan semua kegiatan yang telah ditetapkan.
Hubungan kerjasama antara Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli dengan BAPPEDA dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) menurut Ibu Buteniat Lase, dilakukan dengan koordinasi kepada instansi-instansi yang terkait seperti kepala Dinas dalam hal penyusunan perencanaan strategis. Selain itu, menurut Bapak Fajar Setia
Mendrofa, Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan rencana trategis yang bertujuan untuk memastikan rancangan telah selaras dengan rancangan awal RPJMD. Menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silababan, kerjasama yang dilakukan selama ini dengan Bappeda yaitu membantu dalam menentukan kebijakan dibidang perencanaan untuk mencapai tujuan daerah yang disusun dalam RPJM.
d) Adanya Struktur Birokrasi
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan IbuButeniat Lase dukungan dari pihak Bappeda dalam penyusunan rencana strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli salah satunya dukungan untuk meningkatkan SDM dengan memberikan sosialisasi kepada pegawai dalam penyusuna rencana strategis. Menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa memberikan apa yang dibutuhkan dalam penyusunan rencana strategis baik itu sarana dan prasarana ataupun pendanaan untuk kegiatannya. Menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silababan salah satu bentuk dukungan Bappeda di Dinas perdagangan dan perindustrian dengan memfasilitasi sarana dan prasarana, pendanaan kegiatan yang telah direncanakan.
Standar Operasional Prosedur (SOP) perencanaan strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli, menurut Ibu Buteniat Lase,tiap tahunnya mengalami kemajuan disetiap bidang di Dinas pedagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli. Menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa, untuk SOP di Dinas perdagangan dan perindustrian sudah berjalan dengan baik dan mengalami peningkatan.Bpk Budiyanto Edisaputra Silababan, mengatakan SOP di Dinas
perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli dari tahun ke tahun terus meningkat.
Dalam proses penyusunan rencana strategis yang ada pada Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli sudah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat menurut Ibu Buteniat Lase Dinas sudah melakukan semua kegiatan yang ada pada rencana strategis yang tujuannya itu untuk kebutuhan masyarakat, jadi rencana strategis yang ada di Dinas sudah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Menurut Bapak Fajar Setia Mendrofa, perencanaan strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli tujuannya memang untuk melakukan pelayanan terhadap masyarakat jadi apa yang dibutuhkan masyarakat itulah yang diusahakan semaksimal mungkin. Menurut Bapak Budiyanto Edisaputra Silababan, penyusunan rencana strategis di Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli disusun berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam melakukan sebuah program karena apa yang dilakukan semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
4.3 Pembahasan Hasil Analisis Data 1) Adanya Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Sementara menurut Widodo (2011:97) komunikasi kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada pelaksana kebijakan (policy implementors.)
Dalam proses komunikasi penyusunan rencana strategis yang dilakukan oleh pihak Dinas perdagangan dan perindustrian Kota Gunungsitoli mulai dari komunikasi internal antar pejabat Dinas dengan Bappeda berupa proses penetapan rencana strategis yang disampaikan dalam bentuk formal seperti rapat dan non- formal seperti perintah langsung atasan terhadap bawahan, komunikasi eksternal terjadi antara pejabat Dinas dengan stakeholder yang bertujuan agar mengetahui keadaan lapangan yang sesungguhnya, apa yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan guna tujuan kebijakan penyusunan rencana strategis agar dapat tercapai dan terwujud. Kejelasan komunikasi atau informasi merupakan hal yang penting karena dengan adanya kejelasan komunikasi diharapkan tidak terjadi perbedaan persepsi antara pembuat kebijakan, pelaksana dan masyarakat. Hasil wawancara dengan Sekretaris Dinas Bapak Budiyanto, Ibu Buteniat dan Bapak Fajar Setia kejelasan informasi yang dilakukan oleh atasan sudah terlaksana dengan baik hal ini dapat dilihat dari hasil kegiatan yang sudah mencapai target, dan dapat dilihat dari konsistensi pemantauan agar kebijakan yang diambil tidak simpangsiur sehingga membingungkan pelaksana kebijakan dan pihak-pihak yang bekepentingan dalam melaksanakan tugasnya di lapangan.
Jadi, setelah melakukan penelitian langsung proses penyusunan rencana strategis yang telah dilakukan oleh Dinas perdagangan dan perindustrian dalam hal komunikasi sudah terlaksana dan sesuai dengan kebijakan yang ada serta terus membangun kerjasama yang baik dengan instansi-instansi dan pihak-pihak yang berkepentingan agar mendapatkan informasi-informasi penting mengenai proses kegiatan yang telah terlaksana.
2) Adanya Sumber Daya
Edward III dalam Widodo (2011:98) mengemukakan bahwa : bagaimanapun jelas dan konsistensinya ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan serta bagaimanapun akuratnya penyampaian ketentuan-ketentuan atau aturan- aturan tersebut, jika para pelaksana kebijakan yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber daya untuk melaksanakan kebijakan secara efektif maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan efektif.
Sumber daya yang dipilih sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi karena implementasi kebijakan memerlukan dukungan sumber daya manusia maupun sumber daya anggaran untuk melaksanakan implementasi kebijakan tersebut.
Sumber daya manusia di Disperindag Kota Gunungsitoli dibagian tim penyusunan rencana strategis hanya berjumlah 4 orang yang terdiri dari 1 Kepala Dinas, dan 3 staf yang terjun ke lapangan. Menurut beberapa sumber, pegawai yang berada di Disperindag Kota Gunungsitoli masih kurang dalam tiap bagian . apalagi tersendatnya regenerasi dari pegawai yang pensiun setiap tahunnya, seperti yang tercantum dalam laporan kinerja setiap tahun di Disperindag Kota Gunungsitoli dan juga masih lemahnya kinerja pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan kebijakan perencanaan strategis.
Sumber daya anggaran Disperindag Kota Gunungsitoli mengandalkan dari APBD, anggaran yang di alokasikan untuk implementasi perencanaan strategisuntuk program dalam hal penyediaan sarana dan prasarana masih terbatas sehingga menyulitkan pelaksana dalam membuat program secara optimal di lapangan.
Jadi dapat disimpulkan sumber daya yang tersedia di Disperindag Kota Gunungsitoli baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya anggaran masih perlu perhatian untuk terus ditingkatkan agar tujuan yang direncanakan tercapai sesuai target.
3) Adanya Disposisi
Disposisi menurut Edward III dalam Widodo (2007:104) dikatakan sebagai “kemauan, keinginan, kecenderungan para pelaku kebijakan untuk melaksanakan kebijakan tadi secara sungguh-sungguh sehingga apa yang menjadi tujuan kebijakan dapat diwujudkan”.Sikap dari pelaksana kebijakan akan sangat berpengaruh dalam implementasi kebijakan. Apabila implementasi memiliki sikap yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan, sebaliknya apabila sikapnya tidak mendukung maka implementasi tidak akan terlaksana dengan baik.
Dalam implementasi kebijakan penyusunan rencana strategis di Disperindag Kota Gunungsitoli, kemauan dan kesungguhan para pelaksana melakukan implementasi kebijakan penyusunan rencana strategis dinilai sudah baik. Walaupun dengan berbagai kekurangan dan kendala yang ada, mereka tetap berusaha untuk mensiasatinya seperti penggunaan fasilitas pribadi untuk
menunjang kelancaran pelaksanaan kebijakan. Sesuai dengan teori Edward IIIyang menjadi perhatian mengenai masalah rekruitmen pegawai dan pemberian insentif. Rekruitmen pegawai yang berada di tim penyusunan rencana strategis merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Terkait masalah pemberian insentif, berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan terdapat insentif dalam hal kegiatan kebijakan penyusunan rencana strategis di Disperindag Kota Gunungsitoli .
Dalam hal ini menurut hasil penelitian proses yang dilakukan oleh Disperindag sudah sesuai dengan peraturan pemerintah RI no 8 tahun 2008 dan terus melakukan peningkatan kinerja agar semua perencanaan terealisasi dengan baik.
4) Adanya Struktur Birokrasi
Menurut Edward dalam Widodo (2011:96-110)Aspek struktur organisasi ini melengkapi dua hal yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu sendiri. Aspek pertama adalah mekanisme dalam implementasi kebijakan biasanya sudah dibuat standart operation procedur (SOP).
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, struktur organisasi pada Disperindag Kota Gunungsitoli telah menggambarkan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain sehingga hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi.
Implementasi kebijakan penyusunan rencana strategis di Disperindag Kota Gunungsitoli sudah memiliki SOP atau Standar Operasional Perencanaan hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa narasumber.