BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Lokasi Penelitian
42 BAB III
METODE PENELITIAN
sehingga pondok pesantren tersebut tidak memiliki pemasukan atau penghasilan yang ditujukan untuk suksesnya proses belajar mengajar kecuali hanya mengandalkan dari syahriyah, sehingga pondok pesantren tersebut mencari alternatif lain yaitu dengan berwirausaha.
C. Subyek Penelitian
Penelitian ini menggunakan teknik purposive yaitu pemilihan kelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat populalsi yang sudah diketahui sebelumnya. Purposive menunjukkan bahwa teknik ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.62 Menurut Sugiyono dalam bukunya Purposive adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai seorang penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti.63
Adapun yang dijadikan sebagai informan dalam penelitian, Peneliti menetapkan sebagai berikut:
1. Pengasuh Podok Pesantren
2. Petugas Koprasi Pondok Pesantren 3. Petugas Kantin Pondok Pesantren 4. Tim buku Pondok Pesantren
62Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif, (Malang: UMM Pres, 2010), 89.
63Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), 218- 219.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data sebagai berikut:
1. Metode Observasi (pengamatan)
Dalam metode observasi64 ini peneliti tidak hanya mengamati obyek studi tetapi juga mencatat hal-hal yang terdapat pada obyek tersebut. Menurut Creswell, observasi merupakan sebuah penelitian yang didalamnya peneliti langsung turun kelapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian.65
Kelebihan metode observasi dibandingkan dengan survei adalah data yang dikumpulkan umumnya tidak terdistorsi, lebih akurat dan bebas dari response bias.66 Selain itu metode ini peneliti gunakan untuk mendapatkan data tentang situasi dan kondisi secara universal dari obyek penelitian.
Data yang diperoleh dari observasi adalah:
a) Letak geografis Pondok Pesantren Al-Bidayah.
b) Kegiatan bisnis atau wirausaha yang dijalankan di Pondok Pesantren Al-Bidayah
c) Peran kyai terhadap manajemen di Pondok Pesantren Al-Bidayah
64Metode observasi adalah proses pencatatan pola perilaku subjek (orang), objek (benda), atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan para individu yang diteliti
65John W. Creswell, Rearth Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitaif, dan Mixed, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2016), 267.
66Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Andi Ofset, 2010), 172
Dalam menggunakan metode wawancara67 ini peneliti mengadakan tanya jawab secara langsung dengan membawa instrumen penelitian sebagai pedoman pertanyaan tentang hal-hal yang akan ditanyakan dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan untuk mencari data sebagai berikut:
a) Apa saja bisnis yang dijalankan di Pondok Pesantren b) Bagaimana manajemen bisnis di Pondok Pesantren c) Apa saja peran kyai yang dilakukan dalam bisnis tersebut 3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menelusuri data historis.68 Adapun metode dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah bisnis yang dijalankan, implementasi manajemen bisnis, serta catatan-catatan yang berhubungan langsung dengan penelitian dalam penelitian ini yaitu tentang peran kyai terhadap manajemen bisnis di pondok pesantren Al-Bidayah Tegal besar kecamatan Kaliwates kabupaten Jember.
E. Analisis Data
Adapun yang dimaksud dengan analisis data menurut Bogdan dan Biklen dalam bukunya Moleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
67Metode wawancara/interview adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewancara dengan informan/orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.
68Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial (Surabaya : Airlangga University Press, 2001), 152.
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan terhadap orang lain.69
Adapun langkah-langkah dalam teknik analisis data dalam penelitian ini adalah:
1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, mengfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya jika diperlukan.70
Dalam reduksi data ini peneliti merangkum data dan memilih hal- hal pokok dan membuang hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan dengan judul penelitian.
2. Display Data
Penyajian data dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dengan cara menyajikan data akan diperoleh kemudahan dalam memahami kejadian didalam penelitian, pun juga mempermudah perencanaan kerja selanjutnya. Dalam display data, peneliti menampilkan data secara sederhana terkait dengan judul penelitian.
69Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 248.
70Sugiyono, Metode Penelitian.,247.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
Peneliti diupayakan mampu menemukan suatu penemuan baru yang berkaitan dengan fokus masalah penelitian, yakni implementasi manajemen bisnis pondok pesantren Al-Bidayah dan peran kyai dalam manajemen bisnis pondok pesantren Al-Bidayah.
F. Keabsahan Data
Penelitian ini menggunakan uji kredibitas data dalam uji keabsahan data penelitian, uji kredibilitas menurut Sugiyono ada enam jenis, yaitu:
perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan membercheck.71 Dalam hal ini, peneliti menggunakan triangulasi.
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.72 Moleong menjelaskan bahwa triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data
71Sugiyono, Metode Penelitian, 270.
72Ibid., 273.
tersebut.73 Terdapat beberapa pembagian triangulasi, yakni: triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, trianguasi waktu, triangulasi penyidik, triangulasi metode dan triangulasi teori. Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber.
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara megecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.74 Dengan demikian penelitian ini nantinya dalam pengumpulan data dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan pada atasan pemimpin atau penentu kebijakan, kepada para santri yang berkenaan dengan kasus.
G. Tahap-Tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian terdiri atas tahap penelitian secara umum dan tahap penelitian secara siklikal. Tahap penelitian secara umum terdiri atas tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data.75
1. Tahap pra-lapangan meliputi.
a) Menyusun rancangan penelitian
Sebuah penelitian harus disusun sedemikian rupa. Ada beberapa hal yang perlu ditetapkan dalam menyusun rancangan penelitian, yaitu:
1) Judul penelitian
2) Latar belakang penelitian 3) Fokus penelitian
4) Tujuan penelitian
73Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 330.
74Sugiyono, Metode Penelitian, 274.
75Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, 126-127.
6) Metode penelitian b) Mengurus perizinan
Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengurus perizinan yakni meminta surat permohonan penelitian kepada pihak kampus, kemudian setelah meminta surat perizinan peneliti menyerahkan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bidayah untuk mengetahui apakah diizinkan melakukan penelitian atau tidak.
c) Menjajaki dan menilai lapangan
Penjajahan dan penilaian lapangan ini terlaksana dengan baik apabila peneliti sudah terlebih dahulu mengetahui melalui orang pada lembaga yang akan diteliti mengenai situasi dan kondisi tempat penelitian.
d) Memilih dan memanfaatkan informan
Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu menentukan informan atau orang yang dapat memberikan informasi terkait dengan judul yang dijadikan sebagai judul penelitian.
e) Menyiapkan perlengkapan penelitian
Sebelum dilakukannya penelitian, peneliti harus menyiapkan hal-hal yang diperlukan dalam penelitian yakni instrumen observasi, wawancara, dan dokumentasi.
2. Tahap pekerjaan lapangan.
Pada tahap ini dibagi menjadi tiga bagian yakni:
a) Memahami latar penelitian dan persiapan diri.
b) Memasuki lapangan.
c) Berperan serta sambil mengumpulkan data.
d) Mengikuti dan memantau kegiatan serta kondisi masyarakat.
e) Mencatat data.
f) Mengetahui tentang tata cara mengingat data.
g) Kejenuhan data.
h) Analisis di lapangan.
3. Tahap analisis data
a) Reduksi data, memilih data-data yang telah diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan dalam penelitian.
b) Penyajian data, menyajikan dengan jelas data-data yang telah dipilih dan sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Sehingga mudah untuk dipahami.
c) Verifikasi/penarikan kesimpulan ialah memberikan kesimpulan atas hasil analisis terhadap data-data yang ada.76
76Ibid.,127-148.
51 BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Obyek Penelitian
Objek penelitian skripsi ini adalah Santri di Lembaga Pondok Pesantren Al-Bidayah Tegal Besar Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.
Adapun hasil yang diperoleh dari proses penelitian adalah sebagai berikut:
1.
Letak geografis Pondok Pesantren Al-BidayahPondok Pesantren Al-Bidayah berlokasi di daerah yang dekat dengan kota Jember, tepatnya di Jl. Moh. Yamin no. 3b desa Tegal Besar Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. daerah ini memiliki jumlah penduduk yang banyak selain itu masih ada beberapa sawah yang berada di sekitar Pondok Pesantren. Pondok Pesantren berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 60 m².
Untuk lebih mengetahui lebih jelasnya, berikut merupakan batas- batas pondok pesantren Al-Bidayah dengan sekitarnya:77
a) Bagian utara berbatasan dengan rumah penduduk
b) Bagian selatan berbatasan dengan persawahan dan Pondok Pesantren Darussholah
c) Bagian barat berbatasan dengan persawahan dan rumah penduduk d) Bagian timur dengan rumah penduduk.
Letak geografis pondok pesantren Al-Bidayah tersebut menjadikan pondok ini merasakan beberapa keuntungan yang mungkin sulit
77 Observasi pada tanggal 15 sampai 17 Juli 2018.
didapatkan oleh pondok lain karena selain mudah di jangkau, keberadaan pondok ini mudah diketahui oleh masyarakat luas.
2. Profil Pondok Pesantren Al-Bidayah
a. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren
Sejarah berdirinya pondok pesantren Al-Bidayah merupakan hasil dari sebuah kegelisahan sebagian kecil Mahasiswa UIJ dan STAIN Jember yang merasa kering akan intelektual keagamaan khususnya dalam bidang pemahaman kitab kuning, karena yang terjadi di UIJ dan STAIN Jember materi perkuliahan serta pergaulan intelektual yang ada tidak banyak menyentuh terhadap pemahaman serta cara baca kitab kuning yang mana aksesnya terhadap out put yang dihasilkan, karena harus disadari, pemahaman dan pembacaan terhadap kitab kuning menjadi hal yang penting bagi Mahasiswa dalam meneruskan jenjang, eksplorasi kandungan kitab serta pengabdian terhadap Masyarakat dalam hal masalah Keagamaan.78
Untuk mewujudkan harapan para mahasiswa tersebut, Dr. H.
Abdul Haris, M.Ag. yang sering disapa dengan Ustad Abdul Haris merupakan sosok yang mereka pilih sebagai pembimbing untuk mengarahkan dan sekaligus sebagai pembina mereka dalam mengkaji kitab kuning, terutama terhadap gramatikal pembacaannya.
Alasan mereka cukup beralasan menunjuk beliau sebagai pembimbing dan Pembina, karena Ustad Abdul Haris merupakan
78 Abdul Haris, wawancara, Jember, 25 Agustus 2018.
sosok orang yang memiliki latar belakang Pesantren yang kuat, yang mana beliau memang ahli dalam bidang ilmu alat (Ilmu Nahwu dan Sharf) dan Ilmu Fiqh.
Bidang keahlian yang dimiliki oleh Ustad Abdul Haris itu diketahui oleh para Mahasiswa berdasarkan forum perkuliahan yang beliau isi di STAIN Jember, yang mana beliau merupakan salah satu dosen yang memegang mata kuliah Qowaid (pada jurusan Bahasa Arab) yang metodologi pengajaran qowaidnya bersifat rasional sistemik dan telah berhasil mensistematiskan metodelogi pengajaran qowaid yang disebut dengan nahwu aplikatif. mereka juga mengetahui figure Ustad Abdul Haris ini dalam setiap forum Bahtsul Masail, dialog Agama di radio RRI serta menjadi dewan Fatwa MUI cabang Jember.79
Pertimbangan-pertimbangan di atas menjadi alasan mereka untuk mengkaji kitab terutama dalam hal gramatikal Bahasa Arab.
Kitab yang pertama kali dikaji ialah Ushul Fiqh karangan Syekh Abdul Wahab yang awal pengajiannya bertempat di serambi rumah beliau yaitu di Jl. Moh. Yamin No. 3b Tegal Besar Kaliwates Jember.
Dalam proses selanjutnya jumlah Santri yang mengaji di tempat beliau mulai bertambah, dan ngajinya pun ditambah pula menjadi ba’da Shubuh dan ba’da Ashar, tetapi kondisi santri pada waktu itu masih nduduk atau sebagai Santri kalong (Bahasa Jawa yang
79Abdul Haris, wawancara, Jember, 25 Agustus 2018.
berarti: berangkat dari rumah dan setelah ngaji langsung pulang rumah). Ternyata kendala nduduk tadi menyebabkan menyebabkan santri kurang istiqomah dalam belajar, dan sebelum bisa menguasai target yang ditetapkan yaitu membaca dan mengartikan kitab kuning sudah banyak santri yang berhenti mengaji.
Pada situasi dimana santri yang nduduk tinggal sedikit, yaitu sekitar 3-4 santri, maka ada seorang Santri yang berasal dari Jambi dan juga berstatus sebagai mahasiswa STAIN Jember berniat untuk menetap dan mendirikan gota’an (gota’an: tempat tinggal santri) dibelakang rumah Ustad Abdul Haris, santri tersebut bernama Muhammad Iqbal.80
Setelah menetapnya Muhammad Iqbal itu, proses penambahan gota’an sudah mulai bertambah dengan I’tiqod yang kuat dari para Santri yang lain yang memang merasa butuh terhadap pengetahuan keagamaan, kemudian I’tiqod tersebut ditindak lanjuti dengan pembuatan Musholla. Dari banyaknya santri yang berminat dan menetap untuk menuntut ilmu agama tersebut, kemudian Ustad Abdul Haris berniat untuk memformulakan eksistensi lembaga pengajiannya tersebut menjadi sebuah lembaga kajian pembelajaran kitab kuning.
Maka disusunlah perangkat lunak mulai dari penentuan lembaga atau Pondok Pesantren, Nama, Lambang serta infrastruktur lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, dari pertimbangan yang
80Abdul Haris, wawancara, Jember, 25 Agustus 2018.
matang maka dipilihlah lembaga Pondok Pesantren yang bernama Al- Bidayah.
Proses selanjutnya, sebagaimana sebagai seorang pengasuh seperti di Pondok Pesantren lainnya, beliau memiliki fungsi sebagai administrator, artinya beliau malakukan hal seperti: perencanaan, perorganisasian, mengkomunikasikan, supervise, evaluasi dan memberikan sistematika kerja dalam mengelola pendidikan untuk memajukan lembaganya serta terlaksananya pendidikan yang dimiliki secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu mensukseskan pembelajaran kitab kuning.81
b. Stuktur Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Bidayah
Untuk mencapai tujuan bersama, yakni tujuan pembelajaran di pondok pesantren Al-Bidayah, maka didapati adanya susunan hubungan personalia dalam kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab serta kewajiban-kewajiban dan hak-hak sesuai dengan kedudukannya, dalam struktur organisasi sebagai berikut:
81Abdul Haris, wawancara, Jember, 25 Agustus 2018.
Bagan 4.1
Struktur Organisasi Pondok Pesantren Al-Bidayah
*keterangan : Garis komando
Garis koordinasi
Sumber data : dokumentasi Pondok Pesantren Al-Bidayah Kaliwates Jember pada tanggal 17 Juli 2018.
c. Jumlah Santri Al-Bidayah
Pondok Pesantren Al-Bidayah merupakan Pondok Pesantren khusus bagi Santri putra, jumlah Santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Bidayah tersebut berasal dari berbagai macam jenjang pendidikan, ada yang sudah Mahasiswa, Siswa SMA, Siswa MTs dan siswa SD, akan tetapi sebagian besar adalah Siswa. jumlah keseluruhan mencapai 186 Siswa dan Mahasiswa. Dengan rincian 79 Santri yang berstatus Mahasiswa dan 107 Santri yang berstatus Siswa.
Pembina
Dr. KH. Abdul Haris, M.Ag
Pengawas M. Syifaul Hisan
Ketua Rahmad Hidayat
Bendahara A. Imam Khoironi Sekretaris
M. Sholihin
Seksi-seksi
Dokumentasi : Achmad Hadi Mubarok Kesehatan : Tirto Lukmanul Hakim Pendidikan : Khoirul Ikhwan Keamanan : Sofyan Agus Mustofa Kebersihan : Imam Nasuha Ubudiyah : Bahruddin Perlengkapan : Dani Izza G
NIM : 084131410
Untuk kategori mukim dan juga tidak mukim (dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah santri kalong) dari jumlah 186 Santri terdapat 181 Santri yang mukim di Pondok dan terdapat 5 Santri yang tidak mukim di Pondok (Santri kalong).82
d. Kegiatan Pondok Pesantren Al-Bidayah
Kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Al-Bidayah dimulai dari sebelum waktu subuh, santri dianjurkan untuk melakukan shalat sunah malam atau biasa disebut shalat tahajud, setelah itu semua santri tanpa terkecuali melakuakan shalat subuh berjama’ah di mushola, setelah shalat subuh berjama’ah semua santri wajib mengikuti proses pembelajaran, untuk kegiatan proses pembelajaran ba’da subuh dibagi menjadi tiga kelas, Kelas A berada di mushola, Kelas B berada di atas perpus, dan kelas C ada di halaman kamar PK Senior, proses pembelajaran berakhir pada pukul 05:30 WIB, setelah itu santri diperbolehkan untuk makan pagi di kantin sebelum berangkat sekolah,
Kegiatan dimulai lagi ba’da Magrib, semua santri tanpa terkecuali wajib mengikuti proses pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren, untuk kegiatan pembelajaran ba’da Magrib penguatan qowaid (penguatan Nahwu Sharf) dan berakhir sampai pukul 19:30 WIB. Diteruskan kegiatan selanjutnya penguatan mufrodat (kosa kata) dengan aplikasi dalam kitab kuning, kegiatan berakhir pukul 20:30
82dokumentasi Pondok Pesantren Al-Bidayah, pada tanggal 11 April 2018.
WIB. Setelah penguatan mufrodat dilanjutkan dengan kegiatan muhadasah (percakapan Bahasa Arab) dan berakhir pukul 21:00 WIB, setelah itu kegiatan individu.83
e. Awal Terciptanya Bisnis Di Pondok Pesantren Al-Bidayah
Pada mayoritasnya setiap pondok pesantren memiliki kegiatan bisnis apakah itu berskala kecil atau besar, lebih-lebih bagi pondok pesantren yang kurang mendapatkan pemasuk baik itu disebabkan karena tidak mau menerima bantuan dari pemerintah, sehinggga pondok pesantren tersebut hanya mengandalkan uang syahriyah, dan ketika hanya mengandal uang syahriyah pasti akan terkendala ketika sebagian dari santri ada yang tidak membanyar, atau hanya bertujuan untuk memenuhi kebetuhan santri sehingga santri tidak lagi berbelanja di luar dan secara nyata pondok pesantren juga mendapatkan laba.
Begitu juga dengan pondok pesantren Al-Bidayah, pondok ini juga memiliki beberapa usaha yang sedang dijalankan seperti halnya percetakan, dengan alasan untuk menopang ekonomi pondok pesantren, serta kantin dan koprasi santri yang bertujuan supaya santri tidak lagi berbelanja diluar atau untuk memenuhi kebutuhan santri dan yang pasti labanya nanti sedikit banyak akan juga menopang keuangan pondok pesantren. Hal semacam ini sesuai dengan hasil wawancara terhadap Dr. KH. Abdul Haris, M. Ag selaku pengasuh di pondok pesantren Al-Bidayah. Beliau memaparkan:
83Observasi pada tanggal 15 sampai 17 Juli 2018.
“memang pada awal mulanya pondok ini tidak memiliki usaha dan juga pengeluaran masih sedikit, akan tetapi lama- kelamaan sesuai dengan bertambahnya santri maka pondok ini juga mengalami penigkatan pengeluaran kalau pondok ini hanya mengandalkan syahriyah, maka keuangan pondok akan mengalami kendala ketika ada santri yang nunggak syahriyah iya kalau satu bulan, kalau dua bulan kalau tiga bulan, iya kalau satu anak, kalau dua anak dan seterusnya maka kegiatan pondok ini akan terganggu, ditambah lagi kalau ada biaya tak terduga seperti, pintu rusak, wc jebol dan semua itu butuh uang, oleh karna itu pondok tidak bisa hanya mengandalkan syahriyah, maka saya memutuskan untuk mencetak karya-karya saya dalam bidang nahwu, yang menurut saya itu sangat bagus apalagi bagi pemula dan kalau nanti memang laku di pasaran maka nanti batinya dibagi, ada yang buat pondok, saya, hisan, karna hisan yang melayout dan juga teman-teman yang ikut andil disitu”.
Kalau untuk koprasi, kantin sebenarnya supaya santri tidak beli-beli atau makan diluar, kalau semua santri beli sabun, cemilan, dan makan di pondok, otomatis pondokkan dapat bati, kan lumayan untuk penghasilan pondok, jadi kalau butuh apa atau ingin mendatangkan ustad siapa ya silahkan selama uang pondok masih ada, kan uangnya di pegang hoironi tidak di pegang saya.84
Diperkuat lagi dengan hasil wawancara Terhadap Sofyan sebagai petugas kantin, ia mengatakan:
“Pada awal santri itu bebas mau beli makan di mana saja, mau beli di Darus Sholah, dekat MTs 1 terserah, tapi lambat laut, karena santri juga tambah banyak maka kyai mengintruksikan semua santrinya untuk beli nasi di pondok, pada waktu itu masih satu kali yaitu di sore hari, ya kalau untuk yang masak ya di bagi dua, separuhnya bu Nyai, dan separuhnya lagi saudaranya bu Nyai, tapi mulai tahun kemaren semua santri wajib makan atau beli dua kali di pondok, kan lumayan itu pondok ada tambahan penghasilan, untuk yang pertama itu pada waktu pagi ya sekitar jam enaman, sampai jam setengah tujuh, kenapa kok cuma sampai setengah tujuh karena yang jaga juga masih kuliah, kalau untuk yang masak sore ya tetep bu Nyai dan saudaranya tapi kalau untuk yang pagi, itu masaknya pada waktu malam hari, dan yang masak itu tetangga, ya pasti itu
84 Abdul Haris, wawancara, Jember, 25 Agustus 2018.
dibayar tapi kalau urusan di bayar berapa saya kurang tau, yang tau itu bendahara karena bendahara yang pegang uang.85 Diperkuat lagi dengan hasil wawancara Terhadap Subairi sebagai petugas koprasi, ia mengatakan:
“Kalau untuk koprasi sendiri itu pada mulanya dirintis oleh santri senior sendiri yaitu fiki sama Roni tanpa adanya perintah dari kyai, ya jelas nanti hasilnya dibagi untuk mereka berdua, tapi pada ahirnya dipasrakhan semua ke pondok karena mereka tahu bahwa pondok ini hidup mandiri tanpa tanpa menerima bantuan dari lembaga apapun, ya tujuan mereka sama dengan kyai biar temen-temen tidak usah belanja, baik itu minuman, cemilan ataupun peralatan mandi di luar, sehingga hasil dari penjualan itu masuk ke pondok, meskipun tidak besar karena memang kami mengambil ke untungan tidak banyak, ada yang cuman dua ratus, lima ratus, paling banyak itu mungkin diminuman sekitar seribu sampai seribu lima ratus, ia kalau itu laku semua, kalau ada yang sisa ya kan pakpok kalau dak ya rugi, pokoknya yang penting teman-teman itu tidak beli-bli diluar.86
Diperkuat lagi dengan hasil wawancara Terhadap Faisol sebagai petugas buku atau percetakan, ia mengatakan:
“memang adanya percetakan ini sesuai apa yang didauhkan kyai yaitu untuk menopang keuangan pondok, memang percetakan ini dibuat untuk menerbitkan buku kyai tentang nahwu, tapi sebenarnya buku ini sebelumnya sudah terbit tapi hanya untuk kalangan sendiri, setelah sekian lama, karena kyai merasa buku ini bagus dan layak untuk diperkenalkan ke luar, terutama bagi para pemula yang ingin belajar nahwu, maka barulah pondok mencetak buku tersebut secara besar- besaran dan mulailah pondok mengadakan seminar tetang nahwu dan bedah buku tersebut dan alhamdulilah menurut saya buku ini laku di pasaran sehingga buku tersebut banyak terjual, dan otomatis ketika sudah banyak yang terjual maka pondok ini dapat laba, 20% untuk pondok, 20% lagi untuk pemodal, ya pemodalanya kyai sendiri, tapi biasa sama kyai labanya tersebut tidak diambil sendiri melainkan diberikan kepondok, 30% untuk tim tapi timnya sembilan orang, 15%
85 Sofyan, wawancara, Jember, 18 Agustus 2018.
86 Subairi, wawancara, Jember, 19 Agustus 2018.