CANGKOK ( LAYERING )
B. Macam dan Teknik Cangkokan
Apa yang dimaksud dengan macam dan teknik cangkok atau marcoteren adalah suatu teknik perbanyakan tanaman yang sengaja dilakukan oleh manusia untuk tujuan memperbanyak tanaman atau cloning suatu jenis tanaman hortikultura. Namun demikian, melihat kenyataan di lapang, maka selain secara buatan pembiakan tanaman dengan layering juga dapat terjadi secara alami.
Beberapa macam pembiakan tanaman melalui layering alami adalah tip layering, pembiakan melalui pemanfaatan organ runner, stolon sucker, dan crown. Sedangkan teknik perbanyakan yang sengaja dilakukan oleh manusia (buatan) meliputi simple layering, serpentine layering, trench layering, mound layering, dan air layering (marcoteren).
Gambar 4.2. Ilustrasi pembiakan tanaman melalui Tip-Layering.
Gambar 4.3. Ilustrasi pembiakan tanaman melalui pemanfaatan runner.
Gambar 4.4. Ilustrasi pembiakan tanaman melalui pemanfaatan sucker.
Berikut penjelasan beberapa teknik layering atau cangkok yang umum dilakukan dalam memperbanyak tanaman hortikultura,
1. Ground Layering (layering)
Macam cangkokan ini sering pula dikenal dengan istilah pembumbunan atau perundukan. Terhadap percabangan pohon induk dilakukan pembentukan akar, yaitu perakaran adventisius/adventif. Akar adventif adalah merupakan sistim perakaran yang muncul atau tumbuh dari jaringan yang semestinya tidak membentuk akar. Perangsangan pembentukan sistim perakaran ini dilakukan dengan cara membengkokkan cabang ke arah permukaan tanah dan kemudian membenamkan sebagian percabangan tersebut. Bagian ujung cabang kemudian dibiarkan tumbuh dan berkembang yang kemudian muncul di permukaan tanah. Setelah batang yang tertanam membentuk perakaran, cabang tersebut dapat dipotong atau dipisahkan dari pohon induknya untuk kemudian dipelihara di tempat pembibitan.
Dalam prakteknya, perundukan atau pembumbunan dapat dilakukan dengan cara teknik yang berbeda-beda. Terdapat lima teknik perundukan sebagai berikut ini.
a. Tip Layerage
Teknik pembumbunan ini dilakukan dengan cara merundukkan cabang tanaman ke arah permukaan tanah sehingga bagian ujung cabang tersebut dapat dibenamkan atau ditanam hingga kedalaman 3 – 5 cm.
Setelah terbenam selama 2 – 3 bulan, ujung cabang yang terbenam tersebut akan membentuk akar. Perakaran akan cepat terbentuk dengan menyayat cabang yang terbenam tersebut. Gambaran teknik perbanyakan ini diilustrasikan pada Gambar 4.2. dan Gambar 4.5.
Contoh penerapan teknik perbanyakan ini sering dilakukan pada tanaman murbei, delima, azalea, philodendron, dan apel.
b. Simple Layerage
Perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik pembiakan vegetatif ini hampir mirip dengan teknik perbanyakan Tip Layerage, namun pembenaman bagian cabang yang cukup panjang dan dilakukan hingga kedalaman 10 – 25 cm dengan membiarkan ujung cabang muncul di permukaan tanah hingga 10 – 25 cm pula. Daun-daun pada cabang yang
muncul di permukaan tanah dibiarkan. Untuk mempercepat pembentukan akar, bagian yang terbenam disayat atau dapat pula diberikan zat pengatur tumbuh. Ilustrasi perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik ini ditunjukkan pada Gambar 4.6. Contoh tanaman yang diperbanyak dengan teknik ini meliputi golongan berries, apel, mawar liar/mawar pagar, delima, dan Rhododendron.
Gambar 4.5. Illustrasi perbanyakan tanaman dengan teknik perundukan Tip Layerage
Gambar 4.6. Illustrasi perbanyakan tanaman dengan teknik perundukan Simple/Common Layerage.
A. Membengkokan cabang,
B. Membuat luka sayatan pada batang yang melengkung di bawah permukaan tanah, C. Memasang tiang (ajir) untuk agar ujung cabang
tegak.
c. Trench Layerage
Pada teknik ini, cabang yang dibenamkan atau ditanam lebih panjang dari pada dua teknik di atas. Penanaman cabang tersebut panjangnya berkisar 10 – 15 cm bahkan pada beberapa jenis tanaman dapat mencapai 25 – 50 cm dengan kedalaman tanam 10 cm di bawah permukaan tanah.
Melalui teknik ini akan dihasilkan turunan yang cukup banyak dikarenakan cabang yang ditanam cukup panjang. Pada cabang tersebut akan tumbuh lebih dari 3 bahkan 5 buah tunas yang kemudian akan tumbuh dan berkembang sebagai tanaman muda normal. Gambar 4.7.
mengilustrasikan teknik perbanyakan ini. Contoh tanaman hortikultura yang sering diperbanyak melalui teknik ini adalah cerri, plum, apel, azalea, dan mawar.
Gambar 4.7. Illustrasi perbanyakan tanaman dengan teknik perundukan Trench Layerage
d. Serpentine Layerage
Sering juga dikenal sebagai compound layerage, yaitu cabang atau ranting tanaman dilengkungkan secara memanjang dan kemudian dibenamkan atau ditutup oleh tanah secara berselang-seling ditimbun dan muncul, kemudian ditimbun lagi. Biasanya tunas-tunas akan tumbuh pada bagian tanaman/cabang yang muncul (tidak dibenamkan) sedangkan pada cabang yang tertimbun akan tumbuh akar. Setelah tumbuh tunas dan akar, maka cabang tanaman tersebut dapat dipotong menjadi beberapa individu tanaman muda yang utuh memiliki akar, batang, dan daun.
Ilustrasi teknik perbanyakan Serpentine Layerage ditunjukkan pada Gambar 4.8. Contoh tanaman yang diperbanyak dengan teknik ini meliputi kelompok tanaman yang memiliki sistim percabangan yang bersifat lentur seperti beringin dan anggur.
Gambar 4.8. Illustrasi perbanyakan tanaman dengan teknik perundukan Serpentine/Compound Layerage
Gambar 4.9. Illustrasi perbanyakan tanaman dengan teknik perundukan Mound Layerage
e. Mound Layerage
Perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik Mound Layerage seperti layaknya ratoon pada tanaman padi. Batang utama pohon induk dipotong, kemudian di sekitar batang tersebut ditimbun tanah yang cukup tinggi (dibumbun). Setelah beberapa waktu (bulan) akan tumbuh beberapa tunas. Sejumlah pangkal tunas-tunas yang tertimbun tanah akan tumbuh akar sehingga akan membentuk tanaman muda yang normal dan dapat dipisahkan dari sejumlah tanaman baru lainnya.
Gambar 4.9. mengilustrasikan teknik perbanyakan ini.
Contoh tanaman yang diperbanyak dengan teknik ini meliputi krisan, apel, dan mawar.
2. Air Layering (cangkok)
Teknik perbanyakan tanaman ini merupakan layering di atas tanah atau sering pula disebut sebagai markotten = marcoteren. Istilah yang telah dan lebih populer untuk teknik ini adalah mencangkok. Teknik cangkok dipilih sebagai teknik perbanyakan tanaman hortikultura karena beberapa alasan sebagai berikut ini.
a. Tanaman tidak dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik layerage lainnya atau teknik pembiakan vegetatif lainnya seperti stek karena sulit berakar bila terpisah dengan tanaman induknya, dan
b. Tanaman memiliki percabangan yang cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk dilengkungkan ke arah tanah.
Dalam praktek sehari-hari perbanyakan tanaman melalui layerage lebih umum dengan menggunakan teknik cangkok (marcoteren). Hal ini dikarenakan teknik cangkokan cukup praktis untuk perbanyakan tanaman berkayu baik yang berukuran cukup besar ataupun berukuran kecil.
Terdapat dua teknik mencangkok, yaitu : a. Cangkok Sayat
Cangkok sayat adalah teknik mencangkok dengan menyayat kulit cabang cabang sepanjang beberapa cm ( 5 – 7 Cm ).
Ilustrasi cangkok sayat dapat dilihat pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10. Illustrasi teknik cangkok sayat
Gambar 4.11. Illustrasi teknik cangkok belah
b. Cangkok Belah
Teknik cangkok ini umumnya diterapkan pada tanaman yang memiliki cabang yang berukuran cukup besar. Cabang yang terpilih sebagai bahan perbanyakan dikerat hingga separuh ukuran diameter cabang, dan kemudian cabang tersebut dibelah ke arah atas sepanjang sekitar 15 – 20 Cm. Panjang belahan sangat tergantung pada besarnya cabang, semakin besar ukuran cabang, semakin panjang pula belahannya.
Ilustrasi cangkok belah dapat dilihat pada Gambar 4.11.
Baik mencangkok dengan teknik sayatan ataupun belahan, pencangkokan diawali dengan menyayat kulit bagi cangkok sayat atau membelah dahan atau batang bagi cangkok belah. Penyayatan kulit dilakukan dengan menyayat atau mengupas kulit mengelilingi cabang.
Sedangkan pembelahan batang ataupun cabang dilakukan hanya setengah dari diameter batang. Setelah penyayatan kulit atau pembelahan cabang dilakukan, sayatan atau belahan dibiarkan hingga 2 – 4 hari. Pada bagian luka tersebut, kemudian diletakkan segumpal tanah humus (sebagai media perakaran) dan dibungkus dengan bahan plastik atau sabut kelapa atau potongan bambu atau kaleng ataupun pot tanah.
Cangkokan akan berakar pada rentang waktu berkisar 1 – 3 bulan.
Panjangnya rentang waktu ini sangat tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Bila akar-akar telah tumbuh dan berkembang, cangkokan tersebut sudah dapat dipotong (dipisahkan dari induknya) untuk kemudian ditanam pada pesemaian cangkok ataupun ditanam langsung di lapang produksi.