• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.2 Makna Metafora

4.2.2.1 Ujaran Retoris dalam Majas Klimaks

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas klimaks ditemukan 4 tuturan dalam data no [19], [39], [55], dan [57] .

(1) [19] Syaikh Ibrahim Musa adalah seorang guru yang sangat baik. Tutur katanya sangat lembut. Perilakunya sangat santun. Lebih dari itu, beliau adalah seorang guru yang sangat menyangi murid-muridnya. Meski beliau seorang ulama terpandang, hal itu tidak merasa besar diri, merasa ujub dan takabur. Justru beliau selalu bersikap arif dan bikjaksana kepada siapa saja. (hlm86)

(2) [39] Kedua perkumpulan kaum terpelajar itu memiliki tujuan yang sama, yaitu memberantas kebodohan, memberantas kemiskinan, dan mengangkat harkat martabat kaum pribumi. (hlm 224)

(3) [55] Gayanya yang tampan, otaknya yang cemerlang, dan tutur katanya yang sangat santun dan fasih membuat siapa saja yang melihat dan

25

mendengar ucapannya langsung terpikat dan merasa betah utuk berlama- lama

(4) [57] Menulis adalah kegiatan yang dapat menenangkan jiwa, menguatkan ingatan, menyehatkan akal pikiran dan memperpanjang umur seseorang. ….

ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas klimaks dalam tuturan di atas tersebut terlihat dalam pernyataan kalimat diurutkan berdasarkan kepentingan, yang paling sedikit kekuatannya akan muncul terlebih dahulu dan yang lain akan muncul berdasarkan potensinya sampai terakhir.

Latar sosial budaya menungjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara langsung

4.2.2.2 Ujaran Retoris dalam Majas Antitesis

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas antithesis hanya ditemukan 1tuturan dalam data [15].

(5) [15] “Orang tuamu ini tidak akan mengekangmu, jika kamu menjadi anak yang penurut, Malik!” Jawab Ayahanda Haji Rasul. (hlm50)

Dalam data [15] terdapat makna yang berlawan. Dalam pernyataan kalimat tersebut sebetulnya Haji Rosul sedang marah.

Latar sosial budaya menungjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara tidak langsung

4.2.2.3 Ujaran Retoris dalam Majas Apostrof

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas apostrof ditemukan 1 tuturan dalam data [45 ]

(6) [45] Tujuannya, agar tidak ada sisa waktuku yang terlewat tanpa sia-sia (hlm 276)

Kalimat tersebut menunjukkan cara agar orang lain berpaling pada pernyataannya.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara tidak langsung.

26 4.2.2.4 Ujaran Retoris dalam Majas Seruan

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas seruan ditemukan 2 tuturan dalam data [9] dan data [58]

(7) [9] Sebagai anak, kamu harus menurut dengan keinginnan orang tua.

(hlm34)

(8) [58] Para penjajah itu benar-benar picik dan licik (hlm 398)

Dalam data [9] dan data [58] terdapat makna seruan yang mengungkapkan emosi yang kuat dengan penanda gramatikal harus dan benar-benar.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara langsung

4.2.2.5 Ujaran Retoris dalam Majas Hiperbola

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas hiperbola ditemukan 6 tuturan dalam data [5], [11],[27].[33], [52], dan [60]

berikut ini.

(9) [5] Jika dilihat dari sikapnya dalam mendidik anak-anaknya, Ayahanda Haji Rasul termasuk tipe orang yang sangat keras. Sekeras dalam melakukan segala sesuatu yang diyakininya (hlm25)

(10) [11] Sesekali aku mendengar suara napas ayahanda yang tersenggal- senggal. Sepertinya Beliau benar-benar sedang emosi dan ingin segera menumpahkannya padaku. (hlm 38)

(11) [27 ]…. Kata-kata seperti anak durhaka, anak tak tahu diuntung, anak lasak, anak tak berguna, dan anak tak tahu balas budi yang keluar dari mulut orang tuaku itu benar-benar membuat hatiku merasa sakit (hlm 128)

(12) [33] Beberapa saat kemudian, setelah topan yang bergemuruh di dadaku mulai reda, aku buka sampul surat itu dengan hati-hati. Aku cium surat itu beberapa kali. Lalu aku mulai membaca tiap-tiap kata yang berjajar anggun di atas kertas warna coklat itu, dengan suasana hati tak menentu.

(hlm 167)

(13) [52] Melihat aku menangis sejadi jadinya, kakak iparku langsung mendekap tubuhku dengan sepenuh cinta yang terhimpun sempurna.

(hlm309)

(14) [60] Hal itu dapat aku ketahui dari tatapan matanya yang kosong, wajahnya yang mendung dan kabut yang semakin pekat menggantung dikedua matanya. (hlm 452)

27

Tuturan yang terdapat pada data data [5 ], [11],[27].[33], [52], dan [60] di atas mengadung makna Hiperbola dengan melebih-lebihkan untuk mendapatkan efek tertentu.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara langsung.

4.2.2.6 Ujaran Retoris dalam Majas Litotes

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Litotes ditemukan 7 tuturan dalam data [1], [10], [29].[35], [40], [47] dan [49]

(15) [1] Dalam waktu singkat, berita mangkatnya proklamator flamboyan itu langsung tersebar ke pelosok-pelosok negeri. (hlm17)

(16) [10] Hingga tak jarang aku pun selalu berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku sering mencuri-curi waktu di sela-sela pelajaran dan keluar meninggalkan kelas. Tapi tidak untuk bermain lagi.Saat itu, aku sudah memiliki kegemaran baru, yaitu mendengarkan kaba. (hlm 36)

(17) [29] Aku diam. Tak terasa dua butir air mataku gugur. Rasa iba melihat perempuan itu menangis membuat hatiku merasa bimbang (hlm 140) (18) [35] Hanya kedua mata beliau yang bergantian memandang-sekali ke

wajahku, sekali menyapukan pandangan ke luasan yang bisa dicakup mata. (hlm 183)

(19) “Bakat saja tak akan pernah membuat seseorang dapat meraih keinginan dan cita-citanya, Malik. Begitu juga dengan kecerdasan dan kepandaian tidak akan membuat seseorang berguna dan berdaya. Sebab kunci utama untuk meraih cita-cita itu adalah kemauan. (hlm 231)

(20) [47] “Begini, haji Malik,” kata Haji Agus Salim dengan rtutur kata yang sangat ramah. Seumpama nasihat orang tua kepada anak kandungnya sendiri,” Jika engkau hanya tinggal dan mengamalkan ilmu yang kamu kuasai di kampung halamanmu sendiri, maka kamu tidak akan pernah berkembang, Nak. Kampung halamanmu terlalu sempit untuk menampung ilmu-ilmumu.” (Hlm 287)

(21) [49] Terik mentari mulai berkurang. Langit yang tadinya Nampak berwarna biru cerah berbalut awan yang menggumpal-gumpal di pelatarnya, kini berangsur-angsur mulai berubah warna (hlm292)

28

Pernyataan dalam uturan dalam data [1], [10], [29].[35], [40], [47] dan [49]

mengandung makna litotes, yaitu pernyataan yang melibatkan pengurangan intensitas untuk meningkatkan efek gagasan yang diungkapkan .

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif diungkapkan secara langsung.

4.2.2.7 Ujaran Retoris dalam Majas Simile

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Simile ditemukan 9 tuturan dalam data [2], [13], [17], [20], [28], [30], [31], [32], dan [56]

(22) [2] Drs. Kafrawi Ridwan mengangguk. Lalu melempar seuntai senyum manis kepadaku (hlm20)

(23) [13] Kedua bola mataku langsung membola mendengar perkataan guruku itu. “Benarkah itu, Syaikh?” tanyaku meminta kepastian (hlm 42))

(24) [17] Saya ingin anak kesayangan saya ini kelak menjadi suluh penerang bangsa ini. (hlm 84)

(25) [20] Enam bulan melesat cepat bagai peluru. (hlm 95)

(26) [28] Padahal, sejak aku masih kecil Ayahanda Haji Rasul selalu mengatakan bahwa keridhaan Allah bergantung pada keridhaan orang tua. (hlm 138)

(27) [30] Kata-kata Angku Rasyad membuat hatiku tersentuh. Tanpa aku sadari dua butir air mataku jatuh…..Orang tua yang sangat tegas dan disiplin itu sudah hampir enam purnama aku tinggalkan (hlm 150) (28) [31] Air mataku berguguran melihat wajah orang tuaku yang terlihat

jauh lebih tua dari umurnya yang seseungguhnya (hlm 154)

(29) [32] Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi sedikit banyak mampu mengobati hatiku yang tengah dirundung duka. (hlm 161)

(30) [56] Hari-hari meluncur cepat bagai peluru. Tidak terasa sudah tiga bulan lebih aku hidup bersama dengan Siti Raham… Banyak sekali kejadian-kejadian yang membuatku terharu (hlm 399)

Makna simile ditunjukkan oleh adanya dua gagasan yang disamakan.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung

29

4.2.2.8 Ujaran Retoris dalam Majas Metonimia

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Metonimia ditemukan 6 tuturan dalam data [18]. [24], [25], [34], [43], dan [48]

(31) [18] Sebab, jika kamu berani membantahnya, itu sama saja kamu telah berlaku durhaka kepada orang tuamu sendiri.‟ (hlm 85)

(32) [24] Rasa takut mulai meruntuhkan nyaliku. Haji Rasul pasti akan marah besar jika melihat aku pulang dengan membawa luka di tangan dan kakiku. Semakin lama perasaan takut itu semakin menyeruak dan menghilangkan keberanianku. (hlm 122)

(33) [25] Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Saat aku siap-siap melangkah ke kamar pribadiku yang terletak di ruang tengah, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan pertanyaan, “Malik, engkaukah itu?”

Deg!Suara itu benar-benar membuat jantungkan serasa ingin meloncat ke luar dari wadahnya. (hlm 123)

(34) [34] Sungguh, aku tak menyangka jika perasaanku berbalas, gayung bersambut. (hmn167)

(35) [43] Tentu saja Tuan. Buku adalah jendela ilmu (hlm 274)

(36) [48] Indonesia adalah sebutan baru untuk Hindia, sebagai nama calon negara yang saat ini sedang diperjuangkan kemerdekaannya oleh kaum terpelajar Hindia. Hlm 289)

Pernyataan yang diungkapkan dalam tuturan data [18]. [24], [25], [34], [43], dan [48] memiliki hubungan yang penting sebagai suatu akibat dari suatu sebab, suatu abstrak untuk sesuatu yang konkret

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung

4.2.2.9 Ujaran Retoris dalam Majas Ironi

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Ironi ditemukan 1 tuturan dalam data [8]

(37) [8] Jawaban Haji Rasul justru membuatku semakin berprasangka buruk kepadanya. Mungkin begini cara orangtuanku menjauhkan aku dari teman-teman. Haji Rasul lebih senang melihat aku diajuhi teman-teman karena sibuk belajar dan tidak memiliki waktu bermain lagi dengan mereka. Aku adalah korban orang tua yang egois. (hlm 33)

Tuturan dala data [8] di atas Ironi mengungkapkan ucapan sedikit sarkastik.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung

30

4.2.2.10 Ujaran Retoris dalam Majas Paradoks

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Paradoks ditemukan 4 tuturan dalam data [3], [21], [23], dan [26]

(38) [3] Di pinggir-pinggir halaman ditanami bunga raya putih, yang secara rutin dipangkas agar selalu terlihat rapi dan mudah digunakan untuk menjemur pakaian. (hlm22)

(39) [21] Hari itu langit sangat cerah. Mega-mega putih bagai kapas berarak, bergerak lambat-lambat mengukuti arah angin. Meski udara di pertengahan kemarau sangat panas, karena sejak pagi matahari bersinar terik, tapi pacuan kuda yang digelar di Payahkumbuh tetap berlangsung meriah. (hlm 114)

(40) [23] “Sudah semakin pandai kamu bersilat lidah, Malik!” sahut Haji Rasul dengan wajah semakin memerah. (hlm 111)

(41) [26] Bah! Omong kosong semua itu,” tukas Haji Rasul sambil melotot ke arahku.”Orang tuamu ini dihormati dan dipuji orang karena ilmu. Bukan karena jurus-jurus selek, Dungu!” (hlm 127)

Pernyataan yang diungkapkan dalam tuturan data [3], [21], [23], dan [26]

adalah sebuah pernyataan yang tampaknya berlawanan atau tidak konsisten.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung.

4.2.2.11 Ujaran Retoris dalam Majas Personifikasi

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Personifikasi ditemukan 14 tuturan dalam data [4], [6], [7], [22], [36], [37], [41], [42], [44], [46], [50], [51, [53], dan [59]

(42) [4] […] untuk membicarakan banyak hal sambil menikmati indahnya Danau Maninjau yang airnya berkilau-kilau bermandikan sinar matahari (hlm23)

(43) [6] Suasana yang ada di sekeliling rumah itu sangat menawan. [….]

(Hlm28)

(44) [7] Biasanya aku mampir terlebih dahulu ke sungai untuk sekedar membasuh muka, sambil melihat matahari yang siap-siap tenggelam di cakrawala barat. (hlm 30)

(45) [22] Sore itu langit mendung. Awan hitam bergerak menyelimuti langit Payahkumbuh. Meski petir bersahut dan kilat menyambar-nyambar, tapi

31

hujan tak kunjung turun. Aku melangkah gontai meninggalkan halaman rumah pemilik kuda yang hampir dua bulan menampungku. (hlm 109) (46) [36] Pagi itu cuaca sangat cerah. Langit berwarna biru cerah. Awan

berarak bagai kapas beterbangan, berkejar-kejaran di angkasa. Suling kapal yang aku tumpangi sejak dari Pelabuhan Teluk Bayur berbunyi tiga kali. Kapal buatan Eropa itu berjalan lambat-lambat menepi. Semua kapal-kapal kecil berlarian menyingkir, saat jangkat kapal berukuran raksasa itu ulai dikeluarkan. Sejurus kemudian, kapal yang aku tumpangi bersama dengan Marah Intan berlanuh dengan cantik di Pelabuhan Tanjung.

(47) [37] Angin sepoi pagi hari menyapa kami dengan ramah. Mengibarkan rambutku yang sepapak daun telinga panjangnya. (hlm 192)

(48) [41] Percakapanku dengan kakanda Sutan Mansyur dan kak Fatimah terus berlanjut. Sampai tak terasa bedug magrib berbunyi, bersahut-sahutan, bertalu-talu. (hlm239)

(49) [42] Kesedihan berangsur-angsur mulai sirna dari wajah orang-orang yang aku jumpai. Saat menatap setiap wajah yang aku temui, aku dapat melihat aura kehidupan mulai terpancar kembali di wajahnya, di mana cahaya dan semangat hidup itu sempat hampir padam karena bencana yang datang tanpa permisi. (hlm 253)

(50) [44] Matahari siang itu menunjukkan kekuatannya. Sinarnya terik, memanggang padang gurun kota Makkah Al Mukkarramah. Nampaknya musim kemarau yang sudah berjalan hampir empat purnama masih ingin terus bertakhta (hlm275)

(51) [46] Debu-debu beterbangan terbawa angin yang berhembus patah patah, melabrak cadas-cadas gurun yang berdiri dengan gagah (hlm 281)

(52) [50] Seiring dengan matahari yang menyingsing di awal hari, maka aku meneruskannya dengan duduk duduk di bawah pohon randu yang menjulang gagah di halaman suaray. (hlm 300)

(53) [51] Embu pagi yang bertengger anggun di pucuk-pucuk dedaunan Nampak berkilatan bagaikan Kristal (hlm 300)

(54) [53] Aku menyeka sisa-sisa air mata yang masih menempel manja di sudut –sudut mataku …(hlm 314)

(55) [59] Matahari sudah hampir rebah di cakrawala barat saat kapal yang aku tumpangi merapat di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang Sumatera Barat. (hlm415)

32

Pernyataan yang diungkapkan dalam tuturan data data [4], [6], [7], [22], [36], [37], [41], [42], [44], [46], [50], [51, [53], dan [59] merupakan suatu reprentasi dari benda atau gagasan abstrak yang digambarkan sebagai hal yang hidup.

Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung.

4.2.2.12 Ujaran Retoris dalam Majas Pertanyaan Retoris

Berdasarkan hasil analisis data ujaran retoris yang diungkapkan dengan majas Pertanyaan Retoris hanya ditemukan 1 tuturan dalam data [14]

(56) [14] Haji Rasul langsung melempar buku itu ke lantai. “Malik, Malik!

Apa kelak kamu bisa jadi orang alim, jika saat ini kamu lebih suka membaca buku cerita daripada belajar ilmu agama?” ujarnya dengan nada putus asa. (hlm 49)

Pertanyaan retoris dalan tuturan data [14] di atas ditujukan bukan untuk mendapatkan informasi melainkan untuk lebih menegaskan jawaban yang sudah jelas dari hal yang ditanyakan. Latar sosial budaya menunjukkan tafsiran personal dan perasaan subjektif yang diungkapkan secara tidak langsung.

Dokumen terkait