• Tidak ada hasil yang ditemukan

Managemen Pengembangan Masyarakat

Dalam dokumen BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT (1).pdf (Halaman 69-73)

Level/Dimensi Psikologis Struktural Personal Mengembangkan

pengetahuan, wawasan, harga

diri, kemam-puan,

kompetensi, motivasi, kreasi dan kontrol diri.

Membangkitkan kesadaran

kritis individu terhadap struktur sosial-politik yang

timpang serta kapasitas individu untuk mengana- lisis lingkungan

kehidupan yang

mempengaruhi dirinya.

Masyarakat Menumbuhkan rasa memiliki, gotong rotong, mutual trust, kemitraan, kebersamaan, solidaritas sosial dan visi kolektif masyarakat.

Mengorganisir masyarakat

untuk tindakan kolektif serta penguatan partisipasi dalam pembangunan.

Berkaitan dengan pengorganisasian kelompok sasaran ini, tampaknya sangat dipengaruhi oleh dukungan positif dari tokoh-tokoh lokal.

Para pekerja sosial menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat untuk mengorganisasikan, membantu, membangkitkan dan memfasilitasi kelompok sasaran agar tumbuh semangat kemandirian/keswadayaannya.

Salah satu pendekatan yang utama adalah dengan menempatkan para kader di wilayah-wilayah yang bersangkutan untuk melakukan pendampingan masyarakat.

Program pengembangan masyarakat umumnya menekankan penerapan CBM (community-based management/managemen berbasis masyarakat), yaitu: pendekatan pengelolaan program yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat lokal sebagai dasarnya. Carter memberikan definisi CBM sebagai : “A strategy for achieving a people-centered development where the focus of decision making with regard to the sustainable use of natural resources in an area lies with the people in the communities of that area

(Latama, Gunarto, et.all, 2000: 2). Menurut definisi ini, CBM adalah suatu strategi untuk mewujudkan praktek pembangunan yang berpusat pada manusia, di mana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan di suatu daerah berada ditangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut. CBM membawa konsekuensi bahwa masyarakat diberikan kesempatan dan tanggung jawab dalam melakukan pengelolaan terhadap sumber daya yang dimilikinya.

Mereka sendiri yang mendefinisikan kebutuhan, tujuan, aspirasi dan membuat keputusan demi kesejahteraannya.

Kebanyakan pekerja sosial menyusun kegiatan pengembangan masyarakat melalui beberapa langkah secara bertahap sesuai kondisi dan kebutuhan warga yang menjadi sasaran kegiatan. Langkah-langkah perencanaan program itu setidak-tidaknya meliputi 6 tahap. Pertama, tahap problem posing (pemaparan masalah) yang dilakukan aktivis dengan mengelompokkan dan menentukan masalah-masalah dan persoalan- persoalan yang dihadapi warga dari kelompok sasaran. Warga masyarakat umumnya menyadari permasalahan-permasalahan mereka sendiri meskipun hal itu tidak diungkapkan. Peran pekerja sosial ketika dalam tahapan ini berjalan adalah memberi penjelasan, informasi dan memfasilitasi kegiatan musyawarah atau diskusi di antara warga dari kelompok sasaran.

Kedua, tahap problem analysis (analisis masalah). Tahap ini dilakukan oleh pekerja sosial dengan mengumpulkan informasi mulai dari jenis, ukuran dan ruang lingkup permasalahan-permasalahan yang dihadapi warga dan membuat informasi tersebut dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Ketiga, tahap penentuan tujuan (aims) dan sasaran (objectives). Tujuan menunjuk pada visi, tujuan jangka panjang dan statemen tentang petunjuk umum. Contoh visi pengembangan masyarakat yang dirumuskan oleh pekerja sosial adalah pembentukan kehidupan masyarakat di mana seluruh

warganya terlibat secara aktif dalam program untuk mempertahankan sistem lingkungan dan membuat faktor sosial, ekonomi dan politik yang ada dapat menjamin persamaan secara maksimal di kalangan warga untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasar dan pelayanan.

Sementara sasaran bersifat lebih khusus dibandingkan tujuan. Para pekerja sosial menetapkan apa yang mereka percayai akan dapat dicapai dan kemudian menyusun proses dan tugas-tugas khusus. Sasaran yang ditetapkan terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dapat diidentifikasi, dianalisis dan diungkapkan secara jelas kepada warga. Seperti halnya tujuan, sasaran tidak dirumuskan sekali untuk selamanya. Sebaliknya sasaran sering dimodifikasi atau kadang-kadang diperbaharui sebagai strategi menghasilkan cahaya baru terhadap permasalahan yang dihadapi dan mengarahkan untuk berpikir tentang permasalahan dengan cara-cara berbeda. Sasaran mungkin berjangka panjang, menengah dan pendek. Sasaran jangka panjang secara umum menuntut sejumlah strategi berbeda-beda dan sering disusun dalam berbagai tahap. Sasaran jangka menengah dan pendek berskala lebih kecil lagi. Dalam memahami dan menjelaskan tujuan dan sasaran jangka panjang, menengah dan pendek, kita bergerak dari sesuatu yang luas ke spesifik dan dari sesuatu yang abstrak ke konkrit.

Keempat, tahap action plans (perencanaan tindakan). Tahap ini dilakukan oleh pekerja sosial dengan kegiatan perencanaan berbagai aksi untuk mencapai tujuan. Dalam merencanakan aksi, pekerja sosial memperhatikan tenaga kerja, peralatan, jaringan sosial, dana, tempat, informasi, waktu tersedia, faktor-faktor penghambat, faktor-faktor pendukung, permasalahan-permasalahan stake holder, tugas-tugas nyata yang dilakukan, pihak-pihak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil, pemain-pemain kunci baik secara individual dan kelompok, dilema atau kontradiksi atau ketegangan antara alat dengan tujuan dan hasil-hasil yang mungkin dicapai.

Kelima, tahap pelaksanaan kegiatan. Tahap ini dilakukan oleh pekerja sosial dengan mengimplementasikan langkah-langkah pengembangan masyarakat yang telah dirancang. Para aktivis ketika berada dalam tahapan ini dituntut untuk memperhitungkan konsekuensi yang mungkin timbul sebagai akibat dari aksi yang dilakukan. Keenam, tahap evaluasi yang dilakukan oleh pekerja sosial secara terus menerus baik secara formal atau semi formal pada akhir proses pengembangan masyarakat. maupun secara informal dalam setiap bulan, mingguan dan bahkan harian.

Strategi yang bisa diterapkan ketika para pekerja sosial menangani program pengembangan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut:

Siklus kehidupan pengembangan masyarakat bisa digambarkan ke dalam empat tahapan. Pertama, innovation stage (tahap penemuan). Warga mengakui dan mengalami sebuah kebutuhan khusus, masalah atau peluang Problem

possing

Problem analysis

Objec- tives

Action Plans

Action Evalua- tion

dan menggabungkan kekuatan sebagai sebuah kelompok informal untuk membahas persolan. Tahap ini merupakan salah satu energi dan semangat besar.

Kedua, establishment stage (tahapan penetapan). Anggota kelompok setuju untuk bekerja bersama untuk mewujudkan tujuan mereka. Mereka mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan seperti peralatan dan dasar pemikiran, mengembangkan basis keanggotaan serta struktur formal dan informal. Karena kelompok telah terbentuk, maka umumnya mereka telah menyusun peraturan dan memikirkan kerjasama.

Ketiga, maintenance stage (tahap pemeliharaan). Setelah kelompok terbentuk, maka akan muncul semangat untuk berprestasi. Tahapan ini difokuskan pada pemeliharaan dan perluasan fasilitas.

Keempat, evaluation stage (tahap penilaian). Kelompok mengevaluasi apakah mereka telah bekerja, mempelajari dan memulai perencanaan ke depan (Susan Kenny, 1994: 152).

Secara ringkas, perencanaan program pengembangan masyarakat perlu diusahakan untuk memenuhi kriteria SMART. SMART maksudnya adalah simple (mudah dipahami), measurable (terukur), achievable (dapat dicapai), realistic (mungkin dikerjakan sesuai sumber yang tersedia) dan time-related (dapat dikerjakan sesuai waktu yang tersedia).

Dalam tinjauan managemen, perencanaan strategis yang dilakukan dalam sejumlah aksi pengembangan masyarakat bisa digambarkan dalam sebuah proses yang disebut VMOSA dalam kebanyakan program- programnya. VMOSA adalah proses perencanaan praktis yang sering digunakan oleh organisasi kemasyarakatan. VMOSA terdiri dari visi, misi, tujuan, strategi dan rencana tindakan. Perencanaan komprehensif ini dapat membantu sebuah organisasi dengan memberikan rencana untuk bergerak dari mimpi kepada tindakan lalu kepada hasil positif yang dirasakan masyarakat.

BAB II.

LSM DAN DISKURSUS PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

LSM adalah organisasi swasta yang secara umum bebas dari intervensi pemerintah. Ia didirikan dengan sebuah idealisme untuk memberikan perhatian terhadap isu-isu sosial, kemanusian, perbaikan kesejahteraan kelompok marjinal, perlawanan terhadap kesenjangan dan kemiskinan; perlindungan lingkungan atau sumber daya alam; manajemen dan pengembangan sumber daya manusia (Jalal, F, Kazi, 1999: 5).

LSM lahir dalam konteks untuk mengimbangi peran dominatif negara.

Tujuannya adalah untuk menjadi sparing patner pemerintah secara kritis dan memberdayakan masyarakat agar mereka memiliki kekuatan dalam bernegoisasi dan berjaringan guna menentukan masa depannya sendiri. Tidak jarang peran LSM cenderung menjadi radikal dan galak terhadap pemerintah lantaran kebijakan pembangunannya yang dianggap elitis. Peran LSM seringkali menjadi tumpuan dan harapan masyarakat yang hak-hak sosial politik dan ekonominya telah terampas.

Sebaliknya, LSM tidak didirikan dengan tujuan untuk mendapatkan uang atau material. Jika ada LSM yang proses pendiriannya dimotivasi oleh tujuan- tujuan material maka ia telah menyalahi kodratnya sebagai LSM.

Dalam dokumen BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT (1).pdf (Halaman 69-73)