• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Anggaran Pendidikan

Salah satu dimensi yang sering krusial dalam penyusunan anggaran pendidikan adalah belum bagusnya manajemen anggaran yang dilakukan unit

kerja. Biasanya dalam organisasi skala kecil, penyusunan anggaran biasanya dilakukan oleh staf pimpinan atau atasan dari suatu bagian. Sedangkan dalam organisasi skala besar, penyusunan anggaran diserahkan kepada bagian, seksi atau komisi anggaran yang secara khusus bertugas merancang anggaran di unit kerja tersebut atau unit lainnya.

Belum maksimalnya manajemen anggaran tersebut tentu disebabkan banyak hal, diantaranya pimpinan seringkali belum memahami konsepsi dan operasional manajemen anggaran. Secara umum manajemen anggaran dapat dipahami sebagai keseluruhan proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan atau diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh, serta pembinaan secara kontinu terhadap biaya operasional lembaga pendidikan (sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi dan lembaga penyelenggara pendidikan lainnya), sehingga kegiatan operasional lembaga pendidikan semakin efektif dan efisien, demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Secara garis besar manajemen anggaran di lembaga pendidikan, seperti sekolah- sekolah, kegiatannya meliputi pengumpulan/penerimaan dana yang sah (dana rutin), SPP, sumbangan komite sekolah, Donasi, dan usaha-usaha halal lainnya, penggunaan dana, dan pertanggungjawaban dana kepada pihak-pihak terkait yang berwenang. Untuk lebih detailnya akan dibahas pada bagian lanjutannya. Dalam sistem manajemen anggaran, dana yang datang atau masuk itu disebut dana masukan (input) yang kemudian setelah dilakukan

perencanaan anggaran (budgeting), lalu digunakan dalam pelaksanaan proses/

operasional pendidikan (throughput), dan akhirnya dipertanggungjawabkan

sesuai ketentuan yang berlaku bersama hasil usaha (output) yang dihasilkannya. Menjelang atau pada awal tahun pelajaran, pimpinan sekolah bersama dewan guru harus membentuk suatu manajemen anggaran yang akan digunakan untuk membuat perencanaan anggaran (budgeting), yang sering disebut Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau

sekarang digunakan dengan istilah lainnya Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) untuk diajukan kepada unit kerja di atasnya yang akan melakukan pengawasan dan pembinaan yakni Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan atau dengan sejenis lainnya untuk mendapatkan persetujuan/saran perbaikannya, kemudian diajukan kepada komite sekolah sebagai lembaga mitra sekolah untuk persetujuan tentang besaran sumbangan pendidikannya Di samping SPP yang sesuai persetujuan atau kategori SPP oleh Gubernur masing-masing provinsi, sehingga akhirnya jadilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) atau RKAS yang sah untuk dapat dilaksanakan atau dioperasionalkan.

39

Anggaran Pendidikan

Terhadap setiap penggunaan anggaran uang dilakukan pembukuan (auditing) yang tertib sesuai peraturan yang berlaku. Mengingat kegiatan tata kelola keuangan yang sangat peka dan sensitive serta berimplikasi hukum, maka kegiatan pemeriksaan (auditing) yang rutin harus dilakukan oleh kepala sekolah demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari yang

dapat mengganggu proses operasional pendidikan sekolah. Segala petunjuk dan pedoman pengelolaan anggaran serta keuangan lembaga pendidikan telah banyak diberikan kepada pihak yang mengatur manajemen anggaran biaya operasional sekolah seperti bendahara dan juru bayar, untuk memperkecil sampai meniadakan hambatan-hambatan yang mungkin terjadi.

Di samping manajemen anggaran pendidikan di sekolah, di perguruan tinggi, pondok pesantren serta lembaga pendidikan lainnya juga melakukan hal yang sama.

Untuk masing-masing lembaga tersebut akan diuraikan lebih rinci pada bagian lanjutannya.

41

Anggaran Pendidikan

Bab IV

Pendanaan Pendidikan

A. Pendahuluan

Pendanaan pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam UUD 1945 pasal 31 Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Amanat ini menjelaskan ada tanggung jawab Negara dalam memberikan layanan pendidikan yang merata bagi seluruh warga Negara tanpa diskriminasi

(education for all) guna mendapatkan pengajaran yang bermutu untuk mencerdaskan kehidupannya. Amanat undang-undang dasar 1945 ini sekaligus

membuktikan adanya langkah pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia. Kenyataannya belum semua orang dapat memperoleh pendidikan yang selayaknya, dikarenakan berbagai faktor termasuk mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan orang tua atau masyarakat. Kondisi inilah kemudian mendorong dimasukkannya klausal tentang pendidikan dalam amandemen UUD 1945. Konstitusi mengamanatkan kewajiban pemerintah untuk mengalokasikan dana pendidikan 20%

dari APBN maupun APBD agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan pendidikan yang memadai dan terjangkau. Ketentuan ini memberikan jaminan bahwa ada alokasi dana yang secara pasti digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan.

Namun, dalam pelaksanaannya pemerintah belum punya kapasitas finansial yang memadai untuk menanggung semua biaya, sehingga perlu dukungan dari masyarakat dan orang tua, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Bab XII pasal 46-49 membahas khusus tentang pendanaan pendidikan, sumber pendanaan, pengelolaan dana pendidikan dan pengalokasian dana pendidikan. Dengan pendanaan pendidikan yang memadai tentunya upaya peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manfaat berupa peningkatan kualitas SDM yang siap bersaing di kawasan ASEAN, sebagai konsekuensi dari masuknya Indonesia dalam kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bahkan kita harus menyiapkan SDM Indonesia siap bersaing di kawasan yang lebih luas seperti AFTA, dan World Trade Organization

(WTO) atau dikenal dengan perdagangan bebas dunia.

Di sisi lain, prioritas alokasi pendanaan pendidikan seyogianya diorientasikan untuk mengatasi permasalahan dalam hal aksesibilitas dan daya tamping pendidikan pada level dasar, menengah dan atas. Sehingga upaya pemerintah melakukan kebijakan wajib belajar 9 tahun dan diteruskan ke wajib belajar 12 tahun sebuah upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas SDM atau human capital Indonesia. Menurut Horngren C.T (2009), Human Capital yang berupa kemampuan (ability) dan kecakapan (skill) hanya dapat diperoleh melalui Pendidikan. Bisa juga melalui belajar sendiri atau belajar sambil bekerja, semua itu tetap memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan.

Perolehan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan tentunya akan menghasilkan tingkat balik rate of return yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan human capital ada hubungan

linier antara investment pendidikan dengan higher productivity dan higher earning. Manusia sebagai modal dasar yang diinvestasikan akan menghasilkan

manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan oleh manusia terdidik tersebut, dengan demikian manusia yang memperoleh penghasilan lebih besar dia akan membayar pajak dalam jumlah yang besar dengan demikian dengan sendirinya dapat meningkatkan pendapatan Negara. Jadi pendanaan yang dilakukan Negara adalah stimulus untuk menggerakkan sektor lainnya dalam memperkokoh ketahanan ekonomi, sekaligus ketertiban dan keamanan nasional. Untuk itu menarik untuk dikaji aspek pendanaan pendidikan dalam berbagai perspektif guna memperkokoh komitmen pemerintah, masyarakat dan orang tua memandang pendanaan pendidikan itu adalah tanggung jawab bersama untuk menghadirkan sumber daya manusia yang unggul, produktif, berkarakter baik sebagai asset Negara dan bangsa dalam percaturan global.

43

Pendanaan Pendidikan

B. Manajemen (Pengelolaan) Pendanaan