مورلا
C. Manajemen Qolbu dalam Pendidikan Akhlak
Secara umum, manusia memiliki tiga potensi penting. Potensi pertama adalah potensi fisik, yang kedua potensi akal, inilah potensi ketiga yang ada pada diri manusia yang tidak setiap orang mampu menjaga serta mengembangkannya. Dialah yang dinamakan hati atau qolbu, hati inilah potensi yang bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia.
Dengan hati yang hidup inilah orang yang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu cerdas pun dapat menjadi mulia.
Ada sebuah syair :
“Bila hati kian bersih, pikiran pun selalu jernih, semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlak pun kian terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit.”47
Hati kian bersih, tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini.
Kalau hati kita ini bersih dan sehat, pikiran pun bisa menjadi cerdas.
Mengapa? Karena tidak ada waktu untuk berpikir licik, dengki, atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Sebab kalu tidak hati-hati benar maka hidup akan terasa melelahkan. Sekali saja kita tidak suka kepada seseorang, maka lambat laun kebencian itu akan memakan waktu, produktivitas, dan memakan kebahagiaan kita. Kita akan lelah memikirkan orang yang kita benci.
Karenanya bila hati bersih, pikiran bisa menjadi jernih. Tidak ada waktu buat iri, semua input akan masuk dengan mudah, karena tidak ada ruang untuk meremehkan siapapun. Akibatnya kita akan memiliki akses data yang sangat tinggi, akses informasi yang benar-benar melimpah, akses ilmu yang benar-benar meluas, ujungnya akan mampu mengambil ide-ide yang cemerlang dan gagasan-gagasan yang jitu.
Berbeda dengan orang yang sombong, dia akan merasa bahwa dirinyalah yang paling tau semua hal. Akibatnya, dia tidak pernah mau mendengar masukan dari orang lain. Padahal, setiap orang tentu memiliki
47 Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qolbu, Cet. 1. Jakarta:
Gema Insani, 2002., h. 26-30
kelemahan. Dan, untuk memperbaiki kelemahan itulah, kita membutuhkan koreksi dan masukan dari orang lain.
Dengan kebersihan hati, insya Allah, otak akan lebih cerdas, ide lebih brilian, gagasan lebih cemerlang dan memiliki akhlak yang baik.
Orang yang bersih hati itu punya kemempuan berfikir lebih cepat daripada orang lain. Namun orang yang kotor hatinya, Cuma akan berjalan di tempat. Dia akan sibuk memikirkan kekurangan orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah kejelekan orang lain. Hatinya akan menjadi sempit.
Coba perhatikan, jika ada ular atau kerbau di lapangan yang sangat luas, tentunya relatif tidak akan menjadi masalah. Apalagi lapangannya teramat sangat luas, sebab ruang untuk bergerak jauh lebih leluasa. Tapi apabila kita sedang di kamar mandi, lalu muncul seekor tikus saja, pasti akan menjadi masalah. Kita tidak akan nyaman, jijik, atau malah ketakutan. Artinya, bagi orang-orang yang berhati sempit, perkara kecil saja bisa menjadi masalah besar, apalagi perkara yang benar-benar besar.
Jika hati bersih maka wajah pun akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan. Bukankah Nabi Muhammad SAW. Juga demikian?
Beliau tidak pernah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah. Senyum yang penuh keikhlasan memang sangat bernilai besar, karena selain menjadi sedekah juga akan menyehatkan tubuh.
Bahkan, menurut pendapat para ahli, senyum itu hanya menggunakan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot, makannya orang yang sering cemberut akan mengalami kelelahan otot.
Dalam berbicara pun harus berhati-hati, sebab tak jarang melalui tutur kata, akan terlihat drajat seseorang. Sebab mulut ini ibarat teko yang mengeluarkan isinya. Jika di dalamnya berisi kopi, tentu yang keluar juga kopi, tapi jika isinya air yang bening pasti akan keluar air yang bening.
Orang yang berkualitas itu, jika berbicara ada struktur dan cirinya. Kalau dia berbicara maka yang keluar adalah ide, gagasan, hikmah, solusi, ilmu dan zikir, sehingga pembicaraannya senantiasa bermanfaat. Kalau bunyi itu efektif. Semakin banyak omongan sia-sia, maka semakin turun kualitas orang itu. Padahal, ciri-ciri kualitas keislaman seseorang itu dilihat bagaimana kesanggupan menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kalau kita senantiasa berusaha mengendalikan hati, detak jantung normal, akhlak baik, wajah cerah, lisan enak, dan badan sehat. Lebih dari itu, bergaul dengan siapa pun akan menyenangkan.
Hati adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan.
Kita tidak bisa mengatur dan menata hati, kecuali dengan memohon pertolongan Allah agar Dia selalu menjaga hati kita. Hati adalah pangkal kehidupan. Jika Allah memberi kita hati yang bening, kita akan mendapat banyak keuntungan dan bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan.
Bisnis menjadi lancar dan sukses, menjadi pemimpin yang dicintai, suami yang dihormati, ayah yang disegani, menjadi apapun bisa terwujud jika akhlak kita mulia di sisi Allah. Dan kuncinya adalah qolbun salim, yaitu hati yang selamat, selamat dari segala kezaliman.48
48 Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qolbu, h. 30
Akhlak merupakan pondasi yang kokoh bagi terciptanya hubungan baik antara hamba dan Allah SWT (hablumminallah) dan antar sesama (hablumminannas). Akhlak yang mulia tidak lahir berdasarkan keturunan atau terjadi secara tiba-tiba, akan tetapi, membutuhkan proses panjang.
Yakni melalui pendidikan akhlak. Banyak sistem pendidikan akhlak, moral atau etika yang ditawarkan oleh Barat, namun banyak juga kelemahan dan kekurangannya. Karena memang berasal dari manusia yang ilmu dan pengetahuannya sangat terbatas.
Sementara pendidikan akhlak yang mulia yang ditawarkan oleh Islam tentunya tidak ada kekurangan apalagi kerancuan di dalamnya.
Mengapa? Karena berasal langsung dari Al Khalik Allah SWT, yang disampaikan melalui Rasulullah Muhammad SAW, dengan Al Qur’an dan Sunnah kepada umatnya. Rasulullah SAW sebagai Uswah, Qudwah dan manusia terbaik selalu mendapatkan tarbiyah “Pendidikan” langsung dari Allah melalui Malaikat Jibril. Sehingga beliau mampu dan berhasil mencetak para sahabat menjadi sosok-sosok manusia yang memiliki Izzah di hadapan umat lain dan akhlak mulia di hadapan Allah.