BAB III PENGAMATAN KASUS
E. Implementasi Keperawatan
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal Dx Waktu Pelaksanaan Keperawatan Nama /ttd Jum’at
19 Mei 2023
I 12:00 • Identifikasi penyebab hipertermia
Hasil :
- Ibu mengatakan demam sejak kemarin malam dirumah dikompres meggunakan air hangat tetapi demam tidak turun.
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 41,0ºC
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian paracetmol 12,5cc. IV
• Monitor pemberian cairaa Hasil :
Yohanes Leonardo
- Pemberian cairan IV Asering 500ml
• Sediakan lingkungan yang dingin
Hasil:
- Ruangan Ber-Ac
• Melonggarkan atau melepaskan pakaian
Hasil :
- Ibu mengatakan mengganti pakaian anaknya 2x/hari.
Ibu mengatakan baju yang dia gunakan baik untuk menyerap keringat.
• Memberikan cairan oral Hasil :
- Ibu mengatakan dia menyiapkan air mineral aqua 600ml dan anaknya meminum sekitar 350ml dan jus buahvita guava untuk anaknya.
• Menganjurkan tirah baring
II
Hasil :
- Ibu pasien mengatakan ingin mengistirahatkan anaknya seharaian
- Tampak pasien berbaring seharian
• Mengidentifikasi alergi dan intoleransi makanan
Hasil :
- Ibu mengtakan kalau anaknya itu alergi terhadap telur dan olahan susu sapi.
• Menganjurkan keluarga melakukan kompres air hangat
Hasil :
- Ibu memberikan kompres air hangat di bagian kening anaknya.
• Identifikasi area lingkungan yang berpotensi penyebab cedera
Hasil :
Yohanes Leonardo
I
III
13:00
- Tampak pagar tempat tidur terpasang kiri dan kanan - Ibu mengatakan anaknya
aman terjaga
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian ceftriaxone 250mg. IV/ 2x1 (2,5 cc)
• Gunakan lampu tidur selama jam tidur
Hasil :
- Tampak keluarga menggunakan lampu tidur
• Menjelaskan alasan intervensi pencegahan jatuh ke pasien dan keluarga
Hasil :
- Ibu mengetakan dapat memahami penjelasan
perawat tentang
Yohanes Leonardo
Yohanes Leonardo
I
14:00
pencegahan jatuh
• Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Hasil :
- Tampak ibu menanyakan penanganan kejang
- Ibu mengatakan tidak mengetahui tetang penanganan kejang pada anaknya
• Identifikasi faktro faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Hasil :
- Ibu mengatakan dirinya menjaga anak sambil bekerja
• Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
Yohanis Tende
I
15:20
18:00
Hasil :
- Tersedia media Leaflet kejang demam
• Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai
kesepakatan Hasil :
- Ibu mengtakan siap untuk menerima edukasi esok hari pada jam 10:00
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu 41,0ºC
• Menganjurkan keluarga melakukan kompres air hangat
Hasil :
- Tampak ibu memberikan kompres air hangat
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian paracetamol
Yohanis Tende
21:00
12,5cc. IV
• Monitor pemberian cairan Hasil :
- Pemberian cairan IV Asering 500ml
• Monitor terjadinya kejang berulang
Hasil :
- Ibu mengatakan tidak terjadi kejang hari ini
F. EVALUASI KEPERAWATAN Nama (Inisial) : An.I
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal EVALUASI SOAP Nama/ttd
Jum’at 19 Mei 2023
S : Ibu mengatakan demam yang dialami anaknya masih hilang timbul
- Ibu mengatakan tidak terjadi kejang hari ini.
O : Suhu : 37,0ºC
A : Hipertermi belum teratasi P : Monitor suhu tubuh perdua jam
Monitor komplikasi akibat hipertermi Monitor kejang berulang
Intervensi dilanjutkan
S : Ibu mengatakan saat kejang terjadi tidak melakukan apa-apa kepada anaknya
O : Tampak pagar tempat tidur terpasang kiri dan kanan
A : Resiko cidera teratasi sebagian
P : Identifikasi area lingkungan yang berpotensi penyebab cedera
Lanjutkan intervensi
S : Ibu mengatakan tidak mengetahui tetang penanganan kejang pada anaknya
O : Tampak ibu menanyakan penanganan kejang
A : Defisit pengetahuan belum teratasi
P : Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan
Lanjutkan intervensi
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama (Inisial) : An.I
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal Dx Waktu Pelaksanaan Keperawatan Nama /ttd Sabtu
20 Mei 2023
I 08:30 • Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 37,8ºC
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian paracetmol Syrup 1 sendok teh. Oral
• Monitor pemberian cairan Hasil :
- Pemberian cairan IV Asering 500ml
• Memberikan cairan oral Hasil :
- Ibu mengatakan dia menyiapkan air mineral aqua 600ml tampak anak menghabiskan 300ml air
Yohanes Leonardo
I
III
10:00
10:05
mineral, dan jus buahvita guava untuk anaknya.
• Menganjurkan Tirah baring Hasil :
- Ibu pasien mengatakan ingin mengistirahatkan anaknya seharaian
- Tampak pasien berbaring seharian
• Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan Hasil :
- Ibu mengtakan mengerti pendidikan kesehatan penanganan kejang yang diberikan oleh perawat.
• Berikan kesempatan untuk bertanya
Hasil :
- Ibu mengatakan tidak ada pertanyaan yang ingin disampaikan
Yohanes Leonardo
&
Yohanis Tende
14:00
18:00
- Tampak ibu mengerti
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian ceftriaxone 250mg. IV/ 2x1 (2,5 cc) Memberikan cairan oral Hasil :
- Ibu mengatakan dia menyiapkan susu formula soya dalam botol ukuran 240ml.
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 38,6ºC
• Kolaborasi pemberian obat Hasil :
- Pemberian puyer diazepam 1 bungkus. Oral
- Pemberian paracetmol 12,5cc. IV (12,5 cc)
• Menganjurkan keluarga
Yohanes Leonardo
Yohanis Tende
Yohanis Tende
II
I
20:30 melakukan kompres air hangat dan kompres dingin menggunakan aloevera Hasil:
- Tampak ibu memberikan kompres air hangat dan
kompres dingin
menggunakan aloevera
• Monitor terjadinya kejang berulang
Hasil :
- Ibu mengatakan tidak terjadi kejang hari ini
• Memberikan cairan oral Hasil :
- Ibu mengatakan dia menyiapkan air mineral aqua 600ml dan anaknya meminum sekitar 350ml.
EVALUASI KEPERAWATAN Nama (Inisial) : An.I
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal EVALUASI SOAP Nama/ttd
Sabtu 20 Mei 2023
S : - Ibu mengatakan kondisi anaknya masih belum baik
- Ibu mengtakan mengerti pendidikan kesehatan penanganan kejang yang diberikan oleh perawat.
O : Suhu : 36,50ºC
A : Hipertermi teratasi sebagian belum teratasi P : Monitor suhu tubuh perdua jam
Monitor komplikasi akibat hipertermi Monitor kejang berulang
Intervensi dilanjutkan
S : Ibu mengatakan saat kejang terjadi tidak melakukan apa-apa kepada anaknya
O : Tampak pagar tempat tidur terpasang kiri dan kanan
A : Resiko cidera teratasi sebagian
P : Identifikasi area lingkungan yang
berpotensi penyebab cedera Lanjutkan intervensi
S : Ibu mengtakan mengerti pendidikan kesehatan penanganan kejang yang diberikan oleh perawat
O : Tampak ibu mengerti
A : Defisit pengetahuan teratasi sebagian P : Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi Lanjutkan intervensi
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama (Inisial) : An.I
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal Dx Waktu Pelaksanaan Keperawatan Nama /ttd Minggu
21 Mei 2023
I 08:30
09:00
09:20
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 36,8ºC
• Monitor pemberian cairan Hasil :
- Pemberian cairan IV Asering 500ml
• Memberikan cairan oral Hasil :
- Ibu mengatakan dia menyiapkan air mineral aqua 600ml tampak anak menghabiskan 300ml air mineral, dan jus buahvita guava untuk anaknya.
• Menganjurkan Tirah baring Hasil :
Yohanes Leonardo
III
I,II
10:00
12:00
12:00
13:00
- Tampak pasien berbaring namun sesekali duduk
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu 36,6ºC
• Berikan kesempatan untuk bertanya
Hasil :
- Ibu mengatakan memahami penanganan kejang
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 36ºC
• Identifikasi area lingkunganyang berpotensi penyebab cedera
Hasil :
- Tampak ibu menyediakan lingkungan yang aman
• Monitor suhu tubuh
Yohanes Leonardo
Yohanes Leonardo
16:00
19:00
Hasil :
- Suhu 36,1ºC
• Kolaborasi pemberian obat Hasil : Pemberian ceftriaxone
250mg. IV/ 2x1 (2,5 cc)
• Monitor suhu tubuh Hasil :
- Suhu : 36ºC Aff infus
Yohanes Leonardo
Yohanis Tende
EVALUASI KEPERAWATAN Nama (Inisial) : An.I
Kamar Perawatan : 3007 (Bet 1) St.Yoseph 3 (Keperawatan Anak)
Tanggal EVALUASI SOAP Nama/ttd
Minggu 21 Mei
2023
S : - Ibu mengatakan kondisi anaknya Sudah Membaik
- Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan O : Suhu : 36,ºC
A : Hipertermi teratasi P : Masalah teratasi
Intervensi dihentikan
S : Ibu mengatakan memahami penanganan kejang
O : Tampak ibu menyediakan lingkungan yang aman
A : Resiko cidera teratasi P : Masalah teratasi
Lanjutkan intervensi
S : Ibu mengtakan mengerti pendidikan kesehatan penanganan kejang yang diberikan oleh perawat
O : Tampak ibu mengerti
A : Defisit pengetahuan teratasi P : Masalah teratasi
Intervensi dihentikan.
DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN 1. Nama Obat : Ceftriaxone
Klasifikasi / golongan obat : Antibiotik
Dosis umum :
Dosis untuk pasien yang bersangkutan : Ceftriaxone 250mg. IV 2x1
Cara pemberian obat : Suntikan Intravena (melalui pembuluh darah)
Mekanisme kerja dan fungsi obat : Ceftriaxone merupakan obat antibiotik golongan sefalosporin. Obat ini bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab infeksi di dalam tubuh.
Alasan pemberian obat pada pasien : Mengobati dan mencegah infeksi bakteri
Kontra indikasi : Kontra indikasi ceftriaxone adalah pada individu dengan riwayat hipersensitivitas terhadap obat ini atau golongan sefalosporin lainnya.
Efek samping obat : Bengkak, kemerahan, atau nyeri di tempat suntikan, sakit kapala, pusing, mual atau muntah, diare, sakit perut dan keringat berlebihan.
2. Nama Obat : Dumin 125ml. Rectal. 1x1 Klasifikasi / golongan obat :
Dosis umum : Anak-anak 1-6 tahun 125mg.
Dosis untuk pasien yang bersangkutan : Dumin 125ml. Rectal. 1x1 Cara pemberian obat : Rectal
Mekanisme kerja dan fungsi obat : Mengatasi nyeri dan penurunan demam
Alasan pemberian obat pada pasien : Mengobati dan mencegah infeksi bakteri
Kontra indikasi : Gangguan fungsi hati
Efek samping obat : Reaksi hipersensitivitas, gangguan hematologi, dan pankreatitis akut.
3. Nama Obat : Stesolid 10ml. Rectal. 1x1 Klasifikasi / golongan obat : Psikotropika
Dosis umum : Stesolid 5mg/2,5ml; stesolid 10mg/2,5ml
Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 10ml. Rectal. 1x1
Cara pemberian obat : Rectal
Mekanisme kerja dan fungsi obat : Obat ini bekerja mempengaruhi system saraf otak dan memberikan efek penenang
Alasan pemberian obat pada pasien : Untuk mengantisipasi tearjadinya kejang
Kontra indikasi : Hipersensitivitas, gangguan fungsi hati (sirosis hepatis), syndrome sleep apnea dan myasthenia gravis.
Efek samping obat : Dapat menurunkan kemampuan beraktivitas, sehinggah pasien tidak boleh melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan bahaya, seperti mengemudi atau mengoprasikan mesin berat.
4. Nama Obat : Paracetamol syrup 1 spl. Oral Klasifikasi / golongan obat :
Dosis umum : Anak 2 bulan-12 tahun 10- 15mg/kgBB. Tiap 4-6 jam
Dosis untuk pasien yang bersangkutan : Paracetamol syrup 1 spl.
Oral
Cara pemberian obat : Oral
Mekanisme kerja dan fungsi obat : Menghambat sintesis prostaglandin si system saraf pusat.
Alasan pemberian obat pada pasien : Mengatasi menurunkan demam
Kontra indikasi : Jangan diberikan kepada penderita dengan gagal ginjal, gangguan fungsi hati, dan alergi atau mengalami hipersensitivitas terhadap paracetamol
Efek samping obat : Kerusakan fungsi hati penggunaan untuk jangka waktu lama
5. Nama Obat : Paracetamol 125ml. IV 4x1 Klasifikasi / golongan obat : Golongan non-opioid dengan onset analgesic dan antipiretik yang cepat
Dosis umum : Paracetamol 125ml. IV 4x1 Dosis untuk pasien yang bersangkutan : Paracetamol 125ml. IV Cara pemberian obat : Suntikan Intravena (melalui pembuluh darah)
Mekanisme kerja dan fungsi obat : Menghambat sintesis prostaglandin si system saraf pusat.
Alasan pemberian obat pada pasien : Mengatasi menurunkan demam
Kontra indikasi : Jangan diberikan kepada penderita dengan gagal ginjal, gangguan fungsi hati, dan alergi atau mengalami hipersensitivitas terhadap paracetamol
Efek samping obat : Kerusakan fungsi hati penggunaan untuk jangka waktu lama
108 BAB IV
PEMBAHASAN KASUS A. Pembahasan Asuhan Keperawatan
Dalam BAB ini penulis akan membahas mengenai masalah kesenjangan yang diperoleh dari hasil perawatan yang dilakukan selama 3 hari melaksanakan “Asuhan Keperawatan pada An.I dengan Kejang Demam di Ruang Santo Yoseph III Rumah Sakit Stella Maris Makassar”.Adapun masalah tersebut ditemukan beberapa kesenjangan antara teori dan pelaksanaan praktek secara langsung serta masalah yang penulis temukan selama melaksanakan asuhan keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Data diperoleh melalui wawancara langsung kepada pasien dan keluarga pasien, Dari pengkajian yang dilakukan pada An.I diketahui bahwa pasien masuk ke Rumah Sakit pada tanggal 19 Mei 2023 dengan keluhan demam tinggi sejak pagi tadi disertai kejang 1 kali di rumah dan kejang 1 kali saat pindah ke ruang perawatan. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien diberi diagnosis keperawatan hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (infeksi) serta risiko cedera berhubungan dengan kegagalan mekanisme pertahanan tubuh, dari hasil pemerikasaan laboratoriun RBC 3.98 HCT 32.1 MCHC 36.1 PDW 8.8 NEUT% 69.8 LYMPH% 16.9 MONO% 3.1 EO% 0,2
Pada An. I, tanda dan gejala kejang demam yang ditemukan pada teori tidak semua didapatkan pada pasien. Tanda dan gejala yang dialami oleh An.I yaitu demam (suhu tubuh 40°C), kejang 1 kali dalam waktu kurang dari 24 jam, kejang berlangsung < 10 menit, mata mendelik, tungkai dan lengan kaku, tubuh berguncang,
saat kejang diawali kejang tonik kemudian klonik berlangsung < 10 menit. Hal ini sesuai dengan teori khususnya pada jenis kejang demam sederhana (simple febrile seizure).
Berdasarkan teori menurut Samantha & Almalik (2019) terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan kejang demam seperti usia (6-60 bulan) pada usia ini anak rentan mengalami kejang demam karena pada masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas neural lebih tinggi dibandingkan otak yang sudah matang, sehingga pada masa ini rentan terhadap bangkitan kejang. Faktor selanjutnya adalah suhu tubuh , tingginya suhu tubuh pada keadaan demam sangat berpengaruh terhadap terjadinya kejang demam karena pada suhu tubuh yang tinggi dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga terjadi perbedaan potensial membran di otak yang akhirnya melepaskan muatan listrik dan menyebar ke seluruh tubuh. Selanjutnya jenis kelamin, faktor genetik, kadar hemoglobin, kadar leukosit serta penyakit infeksi merupakan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kejang.
Pada kasus An.I kejang demam disebabkan oleh faktor peningkatan suhu tubuh akibat penyakit infeksi ditandai dengan hasil pemeriksaan diagnostik foto thorax yang menunjukkan gambaran bronchitis serta pemeriksaan laboratorium darah lengkap yang menunjukkan penurunan RBC (3.98 ) dan penurunan HCT (32,1).
Kadar hematokrit dalam tubuh berperan penting dalam proses transport oksigen ke jaringan tubuh. Keadaan berkurangnya kadar hematokrit dibawah nilai normal tentunya akan mengurangi jumlah pasokan oksigen. Hal ini dapat menimbulkan gangguan dalam pembentukan ATP yang berguna untuk aktifitas transport aktif ion Na+
dan K+. Transport aktif ion Na dan K+ ini memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ion di dalam dan di luar sel. Perubahan konseritrasi ion natrium intrasel dan ekstrasel tersebut akan
mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran sel dalam keadaan depolarisasi sehingga melepaskan muatan-muatan listrik yang dapat mencetuskan kejang. Selain itu penyebab lainnya karena faktor usia, pasien berusia 2 tahun 0 bulan dimana pada usia ini anak rentan mengalami kejang akibat belum sempurnanya perkembangan otak.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis Keperawatan Diagnosis keperawatan yang lazim ditegakkan pada kejang demam yakni ada 3 (lima) diagnosis tetapi penulis hanya mengangkat 2 (dua) diagnosis keperawatan berdasarkan manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien. Diagnosis yang diangkat pada pasien yaitu:
a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit. Penulis mengangkat diagnosis keperawatan hipertermi berhubungan dengan proses penyakit sebagai diagnosis prioritas karena didapatkan data-data dari hasil observasi pada pasien yaitu, keadaan umum lemah, suhu 40°C, badan teraba hangat, kejang
<10 menit 1 kali di IGD , nadi 120 kali per menit, pernapasan 22 kali per menit,. Data tersebut didukung dari hasil wawancara dengan keluarga pasien yang mengatakan pasien masuk RS dengan demam tinggi.
b. Risiko Cedera dibuktikan dengan faktor risiko kegagalan mekanisme pertahanan tubuh. Penulis mengangkat diagnosis keperawatan ini dengan data yang didapatkan berdasarkan hasil observasi yaitu : keadaan umum lemah, badan teraba hangat,tampak pasien terbaring dengan posisi kejang otot serta mengatupkan gigi, suhu 40° C, status neurologi : babinski dan kernig signs negatif. Data tersebut didukung dengan hasil wawancara dengan keluarga pasien yang menyatakan pasien
demam tinggi sejak tadi pagi dan mengalami kejang. sampai di IGD dan kejang ke tiga kalinya dan durasi kejang < 10 menit.
3. Perencanaan Keperawatan
Setelah dilakukan proses pengkajian, menentukan masalah dan menegakkan diagnosis keperawatan, penulis menyusun rencana asuhan keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh pasien. Perencanaan yang dilakukan meliputi tindakan mandiri perawat, tindakan observatif pendidikan kesehatan dan tindakan kolaboratif. Pada setiap diagnosis keperawatan memfokuskan sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.
a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit, intervensi yang disusun oleh penulis adalah manajemen hipertermia yang meliputi tindakan observasi : identifikasi penyebab hipertermi (mis.dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator), monitor suhu tubuh, serta monitor komplikasi akibat hipertermi. Tindakan terapeutik : sediakan lingkungan yang nyaman, berikan cairan oral, ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis (keringat berlebuhan), serta lakukan pendinginan eksternal (mis.selimut hipotermi atau kompres aloevera pada dahi, leher,). Tindakan edukasi : anjurkan tirah baring. Tindakan kolaborasi : kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu.
b. Risiko cedera dibutikan dengan faktor risiko kegagalan mekanisme pertahanan tubuh, intervensi yang disusun penulis adalah manajemen kejang yang meliputi tindakan observasi : monitor terjadinya kejang berulang, monitor status neurologis, serta monitor tanda- tanda vital. Tindakan terapeutik : baringkan pasien agar tidak jatuh, berikan alas empuk di bawah kepala, jika memungkinkan, pertahankan kepatenan jalan napas, dampingi selama periode kejang, jauhkan benda benda berbahaya terutama
benda tajam, serta catat durasi kejang. Tindakan edukasi : anjurkan keluarga menghindari memasukan apapun kedalam mulut pasien saat periode kejang serta anjurkan keluarga tidak menggunakan kekerasan untuk menahan gerakan pasien saat kejang. Tindakan kolaborasi : kolaborasi pemberian antikonvulsan, jika perlu.
4. Implementasi Keperawatan
Pada implementasi keperawatan yang dilakukan kepada An.I , penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan intervensi keperawatan. penulis tidak menemukan hambatan dalam pelaksanaan, semua dapat terlaksana karena penulis bekerja sama dengan keluarga pasien dan juga didukung oleh sarana yang ada di rumah sakit. Selama penulis melakukan implementasi dari hari pertama sampai hari ketiga didapatkan keadaan pasien yang cukup membaik. Pada hari ketiga Kamis, 20 Mei 2023 didapatkan pasien sudah tidak demam ditandai dengan suhu 36°C, keadaan umum baik, keluarga mengatakan pasien juga sudah tidak kejang serta paham penanganan kejang apabila anak kejang kembali.
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan yang didapatkan dari implementasi pada , 21 Mei 2023 pada pasien An.I merupakan tahap untuk menilai tujuan yang diharapkan tercapai atau tidak. Dalam tahapan evaluasi ini dilakukan 3 kali dalam 14 jam selama 3 hari:
a. Diagnosis keperawatan hipertermi berhubungan dengan proses penyakit sampai pada perawatan hari ketiga teratasi dibuktikan dengan anak sudah tidak demam, suhu 37 °C, nadi 120 kali per menit.
b. Diagnosis keperawatan risiko cedera berhubungan dengan faktor risiko kegagalan mekanisme pertahanan tubuh, sampai pada
perawatan hari ketiga teratasi dibuktikan dengan anak sudah tidak kejang lagi serta ibu tahu dan paham terkait penanganan kejang demam di rumah, suhu tubuh juga sudah dalam rentang normal setelah diobservasi selama 24 jam yaitu 36°C.
B. Pembahasan Penerapan EBN 1. Judul EBN
Kompres Aloevera dapat menurunkan demam pada pasien kejang demam
2. Diagnosis Keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan Ibu mengatakan demam yang dialami anaknya pada malam hari dan keesokan paginya di larikan ke rumah sakit dikarenakan demam yang dialami anaknya tak kunjung turun. Suhu : 41,0 °C
3. Luaran yang Diharapkan
Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil (SLKI) : suhu tubuh dan suhu kulit membaik
4. Intervensi Keperawatan Prioritas pada Kasus Askep
Manajemen hipertermi menggunakan kompres aloevera dengan cara meletakkan daging Aleovero yang telah di kupas dan di cuci untuk menghilangkan gelnya di bagian axila atau ketiak pada anak atau responden
5. Pembahasan Tindakan Keperawatan Sesuai EBN a. Pengertian tindakan
Pemberian Aloevero merupakan intervensi nonfarmakologi yang dilakukan pada kondisi demam, aloevero memiliki efek antipiretik yang dapat menurunkan demam pada anak. (Zakiyah 2022 )
b. Tujuan/rasional EBN pada kasus askep
Tujuan dilakukan pemberian Kompres Aloevera adalah untuk menurunkan suhu tubuh pada anak yang mengalami hipertermia dan memiliki efek antibakteri dan antipiretik. (Zakiyah 2022 ).
Dari pemberian kompres aloevera mengandung saponin berfungsi dalam tubuh manusia sebagai agen hipokolesterolomik, imunostimulator, antikarsiogenik dan antioksidan. Kompres aloevera juga mengandung air 95% yang banyak memberikan efek dingin pada saat bersentuhan dengan kulit.kandungan air yang melimpah ini yang di manfaatkan untuk menurunkan demam melalaui mekanisme penyerapan panas dari tubuh dan mentransfer panas tersebut ke molekul-molekul air kemudian menurunkan suhu.
Pemberian kompres ini juga menyebabkan vasodilatasi pada tubuh.
Vasodilatasi,inilah yang menyebabkan pelepasan panas dari dalam tubuh melalui kulit sehingga suhu tubuh akan turun, memberikan rasa nyaman,dan mengurangi rasa elergi pada kulit Tindakan ini dilakukan dengan cara memotong ealoevera lalu di kupas dan di cuci sehingga bersih dari gel nya di tempat pada dahi dengan durasi 15 menit dan dapat di lakukan 3x sehari hingga suhu tubuh.
c. PICOT EBN
1) Penerapan (PICOT kasus)
Pemberian kompres aloevera untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien yang demam
a) P (Population / Patient Problem)
Tindakan ini dilakukan pada populasi anak dengan jumlah subjek sebanyak 1 orang yang mengalami kejang demam dan mengalami masalah hipertermia, dengan demam 41,0 °C dikarenakan demam yang dialami anaknya tak kunjung turun.
b) I (Invention)
Pada tindakan ini penulis melakukan kompres aloevera dengan cara di kupas dan di cuci dan di letakkan di ketiak atau di dahinya, dan mengobservasi suhu tubuh sebelum dan setelah tindakan dilakukan.
c) C (Comparison)
Dalam tindakan ini penulis tidak melakukan intervensi pembandingan.
d) O (Outcome)
Pada tindakan ini setelah penulis melakukan pemberian kompres aloevera suhu tubuh pasien berangsur-angsur menurun suhu 41,0 °C menjadi 38,7 °C selama implementasi hari pertama. Selama intervensi hari ke satu sampai hari ketiga dengan suhu tubuh 41,0°C, setelah hari ke tiga suhu tubuh pasien berangsur-angsur turun menjadi normal yaitu 36,9°C.
e) T (Time)
Penulis melakukan tindakan tersebut selama 3 hari dimulai tanggal 19-21 Mei 2023.
2) PICOT EBN
a) Penerapan kompres menggunakan aloevera untuk menurunkan suhu tubuh anak dengan hipertermia
Population Populasi berjumlah 2 orang pasien
Intervensi Kompres aloevera sebagai antipiretik untuk penanganan hipertermi pada anak
Comparison Dalam penelitian ini peneliti tidak melakukan perbandingan
Outcome Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan