BAB II HISTORISITAS ETNIS ARAB
C. Masuknya kelompok Arab di Ambulu Jember
ini namun tidak pernah membuahkan hasil dikarenakan kedua belah pihak tetap kokoh dengan pendapatnya masing-masing. Akhirnya pada bulan Mei 1931 pada kongres Al-Irsyad di Batavia mengeluarkan keputusan bahwa mereka tidak menganggap gelar sayyid sebagai hak istimewa karena bukan gelar kebangsawanan, namun di sisi lain para syarif (sebutan lain dari sayyid) dari kelompok Rabitah Awaliyah (kelompok yang berisi para sayiid dan syarif atau keturunan nabi) mengajukan perlindungan hukum atas gelar sayyid.
Karena dalam dunia Muslim hal tersebut masih memegang jabatan tinggi.
Hingga beberapa tahun kemudian belum ada titik terang dari masalah itu, pemerintah akhirnya mengeluarkan suara untuk memutuskan mereka tidak ikut campur masalah ini dan mempersilahkan para sayyid menaruh gelar Al- Alawi di belakang namanya. Meskipun begitu masih ada penolakan dari beberapa pihak namun pemerintah sudah angkat tangan dalam masalah itu, dan hingga akhir tahun 1930-an masalah tersebut masih belum selesai bahkan mendorong ke banyak masalah internal lain antara dua kelompok tersebut. 25
tercetus disaat Mpu Patrang mencari putranya Pangeran Arjasa yang kabur untuk mengejar cintanya yakni Rara Mangli. Diceritakan dalam Babad Djember26 Dalam pengejaran tersebut Mpu Patrang melewati banyak sekali tempat. Pada suatu hari tidak sengaja ia terjerembab ke dalam tanah yang becek ia menyebut tempat itu dengan sebutan Djembrek atau Djember yang akhirnya dari situlah nama Jember tercipta. Kalau dilihat dari sejarahnya sesungguhnya umur dari Kabupaten Jember sendiri sudah lebih dari 600 tahun.27
Jember memiliki banyak julukan terkenal bahkan sampai keseluruh dunia salah satunya adalah Kota Tembakau. Tembakau adalah komoditas utama dan terbesar yang dihasilkan oleh Kota Jember yang sudah menjadi ikon kota ini sejak lama bahkan terkenal di seluruh dunia. Spesifikasi yang sangat khas dari tembakau Jember membuatnya berbeda dengan di daerah lainnya dan juga membawa kabupaten Jember tercatat sebagai kota penting dalam sejarah.
Selain kota Tembakau julukan Kota Karnaval kerap kali ditujukan pada Jember karna agenda tiap tahunnya yang memiliki tradisi karnaval, dengan dihiasi oleh busana yang spektakuler yang dikenal sebagai acara Jember Fashion Carnival (JFC).
Memiliki banyak Etnis adalah salah satu ciri dari kota Jember juga. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat beberapa daerah di Jember yang memiliki bagian pemetaan penggunaan bahasa daerahnya. Hal ini terjadi karna Jember sendiri bisa dikatakan tidak memiliki penduduk asli melainkan para perantau
26 Mistarum, “Babad Djember”, (Radar Jember, 1-4 Januari, 2002)
27 Imam Dukut Widodo, Djember Tempo Doeloe, ( Jepe Press Media Utama ), 2014) h. 17. 35. 36.
dari beberapa daerah di Jawa Timur. Menurut pembagiannya para pendatang di Jember terdiri dari suku Madura, Osing, Jawa, Belanda Eropa, Arab dan Tionghoa. Madura menempati sebagian besar wilayah dari bagian utara, tengah, dan barat tepatnya di daerah Kalisat, Sukowono, Jember, Mayang dan Arjasa. Sementara bagian Selatan dihuni oleh suku Jawa meliputi daerah Puger, Wuluhan, Tanggul, Rambipuji dan Ambulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang datang dari daerah Ponorogo, Tuban, Kediri dan sebagian berasal dari Jawa Tengah.
Sementara itu, orang-orang Belanda Eropa, Arab dan Tionghoa menyebar secara merata berkelompok maupun tidak berkelompok di seluruh bagian kota Jember. Pernyataan ini bisa di buktikan sendiri dengan melihat ke daerah Pasar Tanjung kota Jember. Disana berisi berbagai macam etnis berkumpul untuk berdagang dan bisa kita lihat ciri khasnya yang mana dari warga lokal biasanya berjualan bahan pokok dan palawija, orang Arab yang berjualan parfum, jamu, baju muslim dan alat ibadah dan orang Tionghoa pemilik toko- toko besar di pinggir jalan raya. Asal tempat tinggal mereka bisa ditandai dari cara penggunaan bahasa mereka saat berbicara. Pengguna bahasa Jawa biasanya berasal dari Jember Selatan, bahasa Madura dari Jember Utara, Tengah dan Barat dan Jember kota biasanya didominasi oleh bahasa Madura dan sisanya berbahasa Jawa.28
Berbicara mengenai etnis. Bangsa Arab di Jember memiliki cerita dan sejarah yang cukup bagus untuk dibahas. Selain merantau untuk berkerja
28 Ibid, h. 175.
mereka juga menyebarkan Agama Islam hingga berkembang di daerah Jember. Salah satu yang menarik untuk diceritakan adalah golongan Arab di daerah Ambulu Jember. Ambulu adalah nama sebuah kecamatan yang terletak di Jember bagian selatan. Secara historis dulu Ambulu berbentuk tegal atau hutan yang akhirnya dihabiskan oleh seorang yang bernama H. Abdul Ghani.
dan juga orang Arab yang berasal dari pulau Sumatra bernama Habib Ahmad Al-Kaff. Setelah itu jadilah Desa Ambulu ini sebagai desa yang bisa di huni oleh masyarakat. Pada saat itu juga Habib Ahmad bersama dengan saudara sepupunya yang bernama Habib Husin Al-kaff mulai hidup di Ambulu hingga mempunyai keturunan di sana. Dari wawancara bersama dengan salah seorang cucu dari Habib Ahmad Alkaff mengatakan
“Mbiyen wong Arab nang Ambulu kui yo mek Habib Med karo Habib Husin tok, lak Habib Med kui mulai enom wes nang Ambulu kerjone dagang kerupuk sampek mbangun mesjid mesjid seng enek nang Ambulu” 29 ”Dulu orang Arab di Ambulu itu ya hanya Habib Ahmad sama Habib Husin saja, kalo Habib Ahmad sudah ada dari dia muda di Ambulu kerjanya jualan kerupuk hingga dia bangun masjid masjid yang ada di Ambulu”
Dari hasil wawancra tersebut bisa disimpulkan bahwa pembawa etnis Arab di Ambulu adalah Habib Ahmad AlKaff dan sepupunya Habib Husin Alkaff. Mereka berprofesi sebagai pedagang dan tidak hanya itu Habib
29 Wawancara dengan Habib Hasan Alkaff di Warung Sate Lumayan Ambulu pada tanggal 22 Maret 2022.
Ahmad juga membangun masjid untuk sarana ibadah dan belajar agama Islam untuk masyarakat Ambulu dan sekitarnya. Bisa disimpulkan bahwasannya tidak hanya untuk berdagang saja orang Arab ke Ambulu, namun mereka juga menyebarkan dan mengembangkan ajaran agama Islam kepada masyarakat di Ambulu.