BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Komponen Utama PLTS
1. Sel Surya
a. Pengertian sel surya dan panel surya
Sel surya atau sel fotovoltaik adalah elemen yang mengubah energi surya menjadi energi listrik. Sel surya umumnya terbuat dari bahan semikonduktor.
Karena keluaran dari sel surya sangat kecil maka beberapa sel surya digabung secara sejajar atau seri menjadi suatu kumpulan yang disebut modul atau panel surya sesuai kapasitas yang diinginkan.
Definisi panel surya atau modul fotovoltaik adalah suatu unit rangkaian yang lengkap, terdiri dari sejumlah sel fotovoltaik, yang dirancang seri dan atau paralel. Yang dimaksud dengan unit rakitan yang lengkap adalah terdiri dari sel fotovoltaik, penghubung, pelindung dan terminal. Sedangkan susunan modul fotovoltaik merupakan suatu gabungan mekanis yang terdiri dari sejumlah modul fotovoltaik yang dihubungkan seri atau paralel dan dipasang pada suatu kerangka penunjang(mounting structure).
Gambar 3. Simbol Modul Fotovoltaik Gambar 2. Simbol Sel Fotovoltaik
1) Modul fotovoltaik harus terbuat dari bahan dan komponen yang tidak akan rusak bila bila ditempatkan pada udara terbuka selama 5 tahun (untuk tipe I) dan 15 tahun (untuk tipe II) pada berbagai keadaan cuaca di Indonesia, dan memberikan perlindungan terhadap gangguan mekanik dan pengaruh lingkungan dari komponen-komponen yang terbungkus. Bahan yang digunakan pada bagian luar modul harus tahan atau dapat mencegah serangan burung dan binatang lainnya.
2) Permukaan pelindung yang disinari tidak boleh mengikat debu atau kotoran lainnya. Bahan yang digunakan untuk permukaan pelindung ini harus dapat memperkecil pengumpulan kotoran dan dapat dibersihkan secara alami oleh angin atau hujan.
3) Bahan untuk rangka modul fotovoltaik, tempat penyambungan antar modul dan terminal listriknya, tidak diperkenankan dari bahan yang mudah/cenderung untuk “premature ageing”, korosi dan luntur. Juga harus diperhatikan agar bahan dari “sealing” tidak mengotori, melunturi atau menutupi bagian permukaan yang disinari.
4) Modul fotovoltaik, bila dipasang sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat, harus tahan terhadap tekanan angin tetap dengan kecepatan sampai 200 km/jam dan tahan terhadap kondisi hembusan angin ribut berkecepatan sampai dengan 160 km/jam.
5) Pelindung harus tahan terhadap semburan air garam, hujan lebat, gumpalan salju dan hujan es tanpa mengurangi untuk kerja sifat listriknya.
6) Modul harus dirakit dengan cara yang dapat memperkecil pengaruh negatif perbedaan permuaian pada seluruh bagian.
7) Modul harus dirakit sehingga dapat memperkecil kenaikan suhu dari sel dan bahan pelindungnya.
8) Bila menggunakan dioda pengaman yang dipasang pada tempat penyambungan antar modul, maka pemasangannya harus sedemikian rupa sehingga mudah diganti dan juga dilengkapi terminal untuk hubungan ke luar.
9) Terminal sambungan luar/ujung sambungan listrik harus dibuat dari bahan konduktor yang tahan cuaca dan bagian yang berhubungan dengan terminal modul fotovoltaik harus kedap udara.
10) Rangka/bingkai modul harus di anodise bila menggunakan loga aluminium dan harus digalvanize bila menggunakan besi, masing-masing dengan ketebalan 400 g/m2.
11) Semua modul dengan model/tipe yang sama dan dari pabrik yang sama harus dapat saling dipertukarkan baik secara fisik maupun fungsinya.
Gambar 4. Modul Photovoltaik
d. Syarat listrik:
1) Umum
Secara umum persyaratan listrik untuk bahan, komponen listrik dan instalasi listrik harus memenuhi standar ketenagalistrikan yang berlaku.
2) Isolasi listrik
Secara rangkaian listrik pada modul fotovoltaik, termasuk juga pada terminal output, harus terisolasi listrik dari permukaan luar modul.
3) Pembumian
Khusus untuk modul kelas B, semua rangka loga dan kerangka logam lainnya yang terbuka harus disambungkan bersama secara listrik pada terminal pembumian modul. Resistans pembumian maksimum dari masing-masing kerangka logam tersebut dengan titik pembumian dari modul harus kurang dari 0,6 ohm, bila diukur pada tegangan arus bolak balik terbatas 6 ± 1 Vrms dan arus 10 ± 1 A.
4) Sambungan luar
Kabel keluaran (Flying lead conductor) harus tahan cuaca, tahan korosi dan dilengkapi dengan “seal” yang sesuai pada tiap-tiap ujung masuk ke modul.
Semua lubang kabel harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mencegah kerusakan kabel yang melaluinya.
5) Penutup blok terminal
Bila digunakan terminal tipe sekrup atau tipe lainnya pada modul kelas B harus digunakan penutup yang sesuai sehingga dapat mencegah kecelakaan akibat tegangan sentuh.
2. Charger
Charger atau charge controller atau kontrol pengisian baterai adalah alat elektronik yang berfungsi untuk mengatur arus yang masuk ke baterai dari panel surya. Tanpa alat ini, pengisian baterai tidak optimal, dalam artian kurang pengisian atau kelebihan pengisian.
Untuk mendapatkan tingkat keluaran daya yang maksimal dari panel surya/modul fotovoltaik maka diperlukan adanya suatu sistem yang berfungsi agar modul fotovoltaik dapat mencapai titik kerja optimalnya. Sistem ini dikenal denganMaximum Power Point Tracker (MPPT).
Gambar 5. MPPT
MPPT biasanya dilengkapi dengan DC-DC Converter yang digunakan sebagai penstabil tegangan dengan nilai keluarannya mempunyai nilai yang lebih rendah daripada masukannya.
Dalam penggunaan umum, MPPT biasanya digunakan sebagai pengatur pengisian untuk battery charger, dimana biasanya MPPT akan dikombinasikan dengan battery charger sebagai sistem charger controller. Keluaran dari penggabungan kedua sistem ini akan menghasilkan tegangan dc teregulasi yang digunakan untuk proses pengisian baterai.
Jika penggunaan modul surya langsung ke beban (dc), maka tegangan PV akan langsung mengalami drop voltage, akan tetapi arus modul surya akan tetap bergantung pada intensitas cahaya matahari yang diterimanya, sehingga modul surya tidak akan pernah mencapai titik kerja maksimumnya. Jadi selain untuk pengaturan charging baterai, penggunaan MPPT berfungsi agar modul surya dapat mencapai titik kerja maksimumnya dengan kondisi pembebanan apapun.
Gambar 6. Kurva Maximum Power Point Fotovoltaik
3. Baterai
Baterai adalah suatu perangkat kimia yang digunakan untuk menyimpan tenaga listrik dari tenaga surya. Tanpa baterai, energi surya hanya dapat digunakan pada saat ada sinar matahari.
Proses yang terjadi pada baterai adalahcharge (pengisian arus),discharge (pengeluaran arus) danovercharge(pengisian arus berlebih).
Kapasitas baterai dinyatakan dalam Ampere Hour (AH) atau kilo Watt hour (kWh).
a. Tipe baterai berdasarkan penggunaan:
1) Bateraistarter
Batere Starter dibuat untuk memungkinkan penyalaan mesin/starting engine. Batere Starting memiliki banyak pelat tipis yang memungkinkan untuk melepaskan energi listrik yang besar dalam waktu singkat.
2) Baterai Deep Cycle
Batere Deep Cycle dibuat dengan pelat lebih tebal yang memungkinkan untuk melepaskan energi dalam selang waktu panjang.
Gambar 8. Baterai Deep Cycle Gambar 7. Baterai tipe starter
b. Tipe Baterai Berdasarkan Desain Kontainer:
1) FLOODED
Seluruh elektroda terendam dalam elektrolit dan terbuka bebas ke atmosfer karena kontainer tidak tertutup rapat, kehilangan elektrolit karena gassing saat overcharge perlu diganti dengan penambahan air aki.
2) VRLA (Valve Regulated Lead Acid)
Elektrolit dan elektroda tidak terbuka bebas ke atmosfer tetapi tertutup rapat (sealed)oleh kontainer batere, gassing yang berlebihan dikeluarkan melalui suatu sistem katub (valve). Gassing normal yang terjadi akibat overcharge akan dikembalikan menjadi air oleh rekombinator sehingga kehilangan elektrolit tidak perlu diganti dengan penambahan air aki.
c. Parameter Baterai:
1) State Of Charge (SOC)
SOC merupakan suatu ukuran seberapa penuhnya muatan listrik dalam baterai. SOC dinyatakan dalam persen (%).Baterai dengan SOC 50% berarti masih tersedia kapasitas baterai sebesar 50% dari kapasitas (C) nominal
2) Deep Of Discharge (DOD)
DOD merupakan suatu ukuran seberapa dalam/banyak muatan listrik telah dilepaskan/ dikeluarkan dari sebuah baterai. Jika baterai penuh atau 100% SOC, maka DOD baterai adalah 0%. Sebaliknya jika baterai kosong atau 0% SOC maka DOD baterai tersebut adalah 100 %.
3) Cycle atau siklus.
Merupakan suatu interval yang meliputi satu perioda pengisian dan satu perioda pelepasan. Idealnya batere selalu diisi/charge sampai dengan 100% SOC selama perioda pengisian pada tiap siklus.
4. Inverter
Listrik yang dihasilkan oleh modul surya adalah DC. Untuk dapat dimanfaatkan lebih banyak lagi maka listrik DC dari beberapa module digabungkan dan dikonversikan menjadi AC dengan alat yang disebut Power Conditioneratau dikenal juga dengan nama AC Module atau Inverter.
Inverter adalah suatu perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah (DC - direct current) menjadi tegangan bolak balik (AC - alternating current).
Gambar 9. Inverter Pure Shine Wave
Macam-macam inverter pada PLTS:
1) Grid Inverter
Grid Inverter atau Grid Tie Inverter atau Grid Export Conditioner (GEC) adalah merupakan perangkat konversi arus listrik DC yang dihasilkan modul
surya atau kelompok modul surya menjadi arus AC yang langsung mensuplai ke beban AC (jaringan listrik). Grid Inverter bekerja berdasarkan tegangan referensi dari jaringan listrik/PLN. Jika tidak ada tegangan referensi dari jaringan listrik (grid)maka inverter ini tidak akan bekerja.
2) Bidirectional inverter
Bidirectional inverter dikenal juga dengan Power Conditioner ataupun PIM (Power Inverter Modul). Inverter jenis ini selain berfungsi untuk mengkonversi arus listrik DC ke AC, dapat juga berfungsi mengkonversi Arus AC menjadi arus DC (Converter). Input DC untuk inverter ini dapat berasal Modul surya atau kelompok modul surya, Charge Controller ataupun baterai. Sedangkan input AC-nya dapat berasal dari Genset ataupun keluaran Grid Inverter untuk pengecasan baterai.
5. Converter
Converter adalah peralatan yang memiliki fungsi mengkonversi arus AC menjadi arus DC (kebalikan dari Inverter). Fungsi converter pada PLTS dapat dijumpai pada perangkat bidirectional inverter. Input converter dapat berasal dari output grid inverter ataupun mesin genset. Converter di sistem PLTS lebih ditujukan untuk pengecasan baterai.
Gambar 10. Konverter
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan agustus 2016 berlokasi di Jl. Skarda N, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan.
B. Jenis Penelitian
Metode yang dipakai adalah penelitian lapangan yang didasarkan pada data pengamatan dan pengukuran.
C. Peralatan dan Bahan
Adapun peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peralatan
Beberapa peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Obeng
b. Tang kombinasi c. Multimeter 2. Bahan
Beberapa bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Panel Surya e. Kabel
b. Charge Controller f. Lampu
c. Baterai g. Sakelar
d. Inverter
D. Skema Penelitian
Gambar 11. Skema Penelitian MATAHARI
PANEL MODUL
MPPT
BATERAI
BEBAN DC
INVERTER BEBAN AC
E. Jadwal Penelitian Tabel 1. Tabel penelitian
No. Kegiatan Bulan
APR
2016 MEI
2016 JUN
2016 JUL
2016 AGU 2016 SEP
2016 1 Membuat desain rangkaian
eksperimen
2 Membuat daftar alat dan bahan yang akan digunakan dalam eksperimen
3 Pengadaan alat dan bahan yang akan digunakan dalam eksperimen
4 Perakitan rangkaian eksperimen sesuai perencanaan 5 Uji coba rangkaian
eksperimen
6 Analisa data hasil pengujian 7 Pembuatan laporan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembahasan
1. Panel modul sel surya
Panel modul surya yang penulis gunakan pada percobaan ini yaitu panel modul jenis poly-cristalinemodel BP350J dengan daya 50 Wp, tegangan 17,5 V, arus 2,9 A.
Gambar 12. Sel surya poly-cristaline 2. Charge Controller(MPPT)
Pada percobaan ini penulis menggunakan charge controller (MPPT) yaitu MPPT15, Rated Voltaeg 12 V/24 V/48 V, Maximum Load Current 10 A.
Gambar 13. Charge controller MPPT 3. Baterai/Aki
Pada percobaan ini penulis menggunakan satu buah baterai/aki merek Yuasa YTZ6V 12 V 5 Ah.
Gambar 14. Baterai/aki 12 V 5 Ah
Untuk mengetahui daya dari baterai maka digunakan rumus sebagai berikut:
Daya baterai = V x I
= 12 V x 5 Ah
= 60 Watt/jam
4. Inverter
Pada percobaan ini penulis menggunakan Inverter Modified Sine Wave merek Totas dengan spesifikasi Input Voltage (DC) 12 V, Output Voltage (AC) 220- 240 V, Frequensi 50 Hz, Output Power 300 W.
Gambar 15. Inverter modified sine wafe
Adapun bentuk gelombang frekuensi dari inverter modified sine wafe ditunjukkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 16. Gelombang frekuensi modified sine wafe
B. Hasil
1. Hasil perancangan
Hasil perancangan yang diperoleh merupakan hasil pengetesan pembuatan pembangkit listrik tenaga surya yang mengubah energi panas dari matahari menjadi energi listrik. Penelitian melakukan observasi dan survei lapangan yang dilakukan di Jl. Skarda N, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Makassar.
Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam perancangan serta jadwal penelitian:
a. Bahan yang digunakan dalam perancangan
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam perancangan
No Nama bahan Banyaknya
1 Besi siku 2 m
2 Pipa besi 10 cm
3 Baut 10 buah
4 Panel modul surya
50 Wp 1 buah
5 Charger controller
(MPPT 12 V) 1 buah
6 Inverter 300 W 1 buah
7 Baterai/aki 12 V 1 buah
8 Tripleks 30 cm²
9 Paku Tripleks Secukupnya
10 Lampu LED 7 W 1 buah
11 Kabel Serabut NYYHY 5 m
12 Sakelar 1 buah
13 Fitting 1 buah
14 Stekker 1 buah
15 Lampu TL 13 W 1 buah
b. Alat yang digunakan dalam perancangan
Tabel 3. Alat yang digunakan dlam perancangan
No Nama alat Banyaknya
1 Tang kombinasi 1 buah
2 Obeng 1 buah
3 Multimeter 1 buah
4 Kunci ring 1 buah
5 Las listrik 1 buah
6 Bor listrik 1 buah
7 Martil 1 buah
c. Jadwal penelitian
Tabel 4. Jadwal penelitian
No Tanggal Keterangan
1 27-28 Maret 2016 Membuat desain sistem
2 14-15 April 2016 Membuat daftar alat yang akan digunakan 3 2-4 Mei 2016 Pengadaan besi siku dan pipa besi
4 8 Mei 2016 Pengadaan panel modul surya 5 12 Mei 2016 Pengadaan inverter dan baterai/aki 6 20 Mei 2016 Pengadaan charger controller (MPPT) 7 24 Mei 2016 Pengadaan kabel, fitting, sakelar dan lampu 8 28 Mei 2016 Pengadaan tripleks dan paku
9 4-5 Juni 2016 Pengelasan dan pengeboran besi siku dengan pipa besi
10 10 Juni 2016 Pemasangan modul sel surya ke stand besi 11 25 Juni 2016 Pemasangan seluruh peralatan utama 12 3 Jui 2016 Survei lokasi penelitian
13 10 Juli 2016 Uji coba rangkaian eksperimen 14 11 Juli 2016 Analisa data hasil percobaan 15 2 Agustus 2016 Pembuatan laporan
2. Wiring diagram penelitian
Gambar 17. Wiring diagram
3. Hasil pengukuran tegangan output sel surya
Data hasil pengukuran tegangan output sel surya yang didapatkan di Jl.
Skarda N, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Makassar dengan menggunakan multimeter.
Tabel 5. Hasil pengukuran tegangan modul yang dilakukan pada hari kamis tanggal 25 agustus 2016
No Tegangan modul
(Volt) Waktu
1 12,137 06.00
2 14,032 07.00
3 16,512 08.00
4 13,133 09.00
5 17,023 10.00
6 17,724 11.00
7 18,444 12.00
8 18,474 13.00
9 18,175 14.00
10 13,036 15.00
11 13,093 16.00
12 12,975 17.00
13 12,944 18.00
Gambar 18. Diagram output sel surya 4. Data hasil percobaan
Tabel 6. Data hasil percobaan pembebanan langsung output MPPT dengan beban DC 7 W dengan sumber daya dari aki yang dilakukan pada hari rabu malam sampai kamis pagi tanggal 24 – 25 agustus 2016.
No Input MPPT(Volt)
Output BATERAI
(Volt)
Beban
(Watt)DC Waktu
1 12,922 12,824 7 18.00
2 12,751 12,723 7 19.00
3 12,596 12,581 7 20.00
4 12,509 12,499 7 21.00
5 12,438 12,429 7 22.00
6 12,360 12,351 7 23.00
7 12,286 12,277 7 00.00
8 12,208 12,200 7 01.00
10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 20,000
Tegangan (Volt)
Waktu
Diagram output sel surya
Output sel surya
9 12,152 12,145 7 02.00
10 12,018 11,987 7 03.00
11 11,967 11,945 7 04.00
12 11,888 11,881 7 05.00
13 11,797 11,791 7 06.00
Gambar 19. Diagram output Baterai dan input MPPT dengan beban DC 7 W Keterangan : Dari hasil pengamatan percobaan yang dilakukan dengan menggunakan beban DC sebesar 7 W rata-rata tegangan aki berkurang selama satu jam sebanyak 0,1 V dan percobaan dilakukan dari pukul 18.00 sampai 06.00 dan menggunakan daya sebesar 5,52 W.
11,200 11,400 11,600 11,800 12,000 12,200 12,400 12,600 12,800 13,000 13,200
Tegangan (Volt)
Waktu
Diagram Input MPPT/output Baterai
Input MPPT Output Baterai
Tabel 7. Data hasil percobaan pembebanan langsung output inverter dengan beban AC 13 W dengan sumber daya dari modul dan aki yang dilakukan pada hari kamis tanggal 25 agustus 2016.
No
ModulDaya (Watt Peak)
Output suryaSel (Volt)
Input MPPT(Volt)
Output (Volt)AKI
Input Inverter
(Volt)
Output Inverter
(Volt)
Beban
(Watt)AC Pukul 1 50 12,137 12,137 13,015 13,015 236,93 13 06.00 2 50 14,032 14,032 13,025 13,025 237,81 13 07.00 3 50 16,512 16,512 13,110 13,110 239,82 13 08.00 4 50 13,133 13,133 13,020 13,020 245,81 13 09.00 5 50 17,023 17,023 13,119 13,119 252,81 13 10.00 6 50 17,724 17,724 13,122 13,122 256,73 13 11.00 7 50 18,444 18,444 13,221 13,221 258,52 13 12.00 8 50 18,474 18,474 13,225 13,225 257,84 13 13.00 9 50 18,175 18,175 13,219 13,219 257,04 13 14.00 10 50 13,036 13,036 13,027 13,027 248,89 13 15.00 11 50 13,093 13,093 13,058 13,058 248,82 13 16.00 12 50 12,975 12,975 13,019 13,019 248,41 13 17.00 13 50 12,944 12,944 13,018 13,018 237,88 13 18.00
Gambar 20. Diagram output sel surya/input MPPT dengan beban AC 13 W
Gambar 21. Diagram output AKI/input inverter dengan beban AC 13 W
10,000 11,000 12,000 13,000 14,000 15,000 16,000 17,000 18,000 19,000
Tegangan (Volt)
Waktu
Diagram output sel surya/input MPPT
Output sel surya/input MPPT
13,000 13,050 13,100 13,150 13,200 13,250
Tegangan (Volt)
Waktu
Diagram output AKI/input inverter
Output AKI/input inverter
Gambar 22. Diagram output inveter dengan beban AC 13 W
Keterangan : Dari hasil pengamatan percobaan yang dilkukan dari pukul 06.00 sampai dengan 18.00 dengan beban AC 13 W tegangan yang dihasilkan dari modul bervariasi dan hanya pada saat pukul 12.00 sampai dengan pukul 14.00 output modul menghasilkan tegangan yang paling tinggi.
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis pada saat pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00 dengan menggunakan beban DC sebesar 7 W langsung dari output MPPT dengan sumber daya dari baterai/aki dan dapat diketahui bahwa daya baterai/aki tetap mampu dibebani selama 12 jam tanpa adanya input daya dari modul surya.
Kemudian dari hasil penelitian yang dilakukan dengan membebani inverter dengan beban AC 13 W yang diambil langsung dari modul selama 12 jam dimulai dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 18.00, penyerapan sel surya
225 230 235 240 245 250 255 260 265
Tegangan (Volt)
Waktu
Diagram output inverter
Output inverter
yang paling maksimal selama 12 jam pada pukul 11.00 sampai dengan 14.00 selain dari itu proses penyerapan matahari bervariasi.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Mendesain serta merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam upaya untuk menyalakan lampu yakni dengan menghubungkan peralatan utama PLTS mulai dari panel sel surya/modul fotovoltaik dengan fungsi sebagai penyerap cahaya matahari. Kemudian dihubungkan dengan solar charge controller jenis MPPT (Maxsimum Power Point Tracker) agar modul dapat mencapai titik kerja optimalnya. Selanjutnya dihubungkan ke baterai/aki untuk menyimpan daya yang diserap oleh sel surya dari sinar matahari kemudian dihubungkan ke inverter untuk mengubah arus DC menjadi arus AC dan siap digunakan untuk menyalakan lampu yang berarus AC.
2. Dari hasil pengujian peralatan PLTS yang dilaksanakan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa sinar surya yang diserap oleh panel surya selama 12 jam mulai dari pukul 06.00 sampai dengan 18.00 rata-rata memperoleh tegangan sebesar 12 V sampai dengan 18 V. Pengujian yang dilakukan selama 12 jam diperoleh penyerapan sinar surya yang maksimal pukul 11.00 sampai dengan 14.00. Sesuai dengan hasil pengujian, pada waktu tersebut tegangan yang dihasilkan modul surya sebesar 17,725 V sampai dengan 18,175 V.
B. Saran
1. Dalam penggunaan modul surya photovoltaic pada PLTS sebaiknya menggunakan modul yang lebih efisien yaitu modul mono-cristalline.
2. Fungsi dari alat, diharapkan bisa dikembangkan lagi agar dapat mensuplai peralatan elektronik lainnya yang membutuhkan daya yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir. 1995.Energi.Universitas Indonesia. Jakarta.
Agung Bayu Kusumo. 2014.Diklat Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Makassar.
Agung Bayu Kusumo. 2014. PLN Corporeate University. Makassar
Chris Timotius. dkk. 2009.Laporan Penelitian. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Program Studi Pendidikan Teknik Elektrik Fakultas Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia.
Djiteng Marsudi. 2005.Pembangkit Energi Listrik. Erlangga.
Hasnawiya Hasan. 2012. Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pulau Saugi. Jurusan Teknik Perkapalan - Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
Makassar.
http://kunaifi.wordpress.com/category/209-tenaga-matahari/
http://tenagamatahari.wordpress/sejarah-solar-cell
https://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-sel surya/
Rocky Alfanz. dkk. 2015. Rancang Bangun Penyedia Energi Listrik Tenaga Hibrida (PLTS PLTB-PLN) Untuk Membantu Pasokan Listrik Rumah Tinggal. Jurusan Teknik Elektro, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Banten.
Soehardi. 2010. PLTS Sebagai Salah Satu Energi Alternatif. D3 Teknik Elektro.
Politeknik Harapan Bersama. Tegal.
Supranto, SU. 2015.Teknologi Tenaga Surya. Global Pustaka Utama.
Yogyakarta.
LAMPIRAN FOTO
(pemasangan kabel penghubung peralatan PLTS)
(menghubungkan setiap peralatan PLTS)
(posisi penempatan panel surya)
(pengukuran tegangan output modul surya)
(pengukuran tegangan output MPPT)
(penyalaan beban AC)