• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMAHAMKAN VISI ILMU DALAM AL-QUR’AN

Dalam dokumen DUA SUARA TUHAN - Repository UIN Mataram (Halaman 157-163)

MEMAHAMKAN VISI ILMU

membukakan mushaf dan menerjemahkan ayat yang disetor. Saya menekankan penerapan critical think- ing, sekalipun mereka masih semester awal. Mereka menunjukkan letak kata, frase, atau ayat yang mereka dapatkan dalam surah dan nomor ayat, lalu membaca, menerjemahkan, dan mencoba menjelaskannya. Dari situ saja, kami berhasil mengoleksi banyak bahan baku untuk mengkonstruksi kerangka wawasan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan yang bertebaran di berbagai penjuru al-Qur’an.

Mahasiswa pertama menyetor ayat 79 Surah al-An- biya’ yang berbunyi: “Maka kami telah memberi penger- tian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung- gunung dan burung-burung, semuanya bertasbih bersa- ma Daud, dan kamilah yang melakukannya…” Segera setelah itu, ayat demi ayat sambung-menyambung menjadi satu.

Kami pun terus berselancar di “danau” al-Qur’an dengan sesekali karam oleh benturan tebing-tebing dari ayat-ayat mutasyabihat atau fenomena ghara’íb (kata-ka- ta asing). Tetapi justru di situlah seninya. Kami lalu berkesempatan mengoperasikan alat menyelam yang bernama ta’wil atau tafsir bil-raýi (burhani/rasio), taf- sir bil-ma’tsur (bayani/tekstual), juga tafsir isyary (irfani/

sufistik). Hanya saja perangkat metodologi ini sengaja tidak dijelaskan atau disembunyikan agar tidak mem- bebani. Akan ada saatnya untuk dijelaskan, setelah di

awal ini mereka sudah mengalami menerapkan secara sederhana dan di bawah bimbingan dari apa yang dise- but al-Jabiri sebagai Nalar Arab (Islam?) itu.

Yang menggembirakan dari aktivitas ini adalah penangkapan yang lumayan baik akan “makna jauh”

(al-makna al-ba’íd) dari teks-teks yang mereka ajukan.

Menggembirakan, karena mereka bukan mahasiswa Jurusan Ilmu Qur’an dan Tafsir, jurusan sebelah mer- eka. Mereka adalah mahasiswa Sosiologi Agama yang sedang dibentuk cara berpikir (paradigma) integrasi-in- terkoneksi-interdisiplin dari batang tubuh ilmu sosial yang duniawi dan ilmu agama yang ilahiyat. Hanya karena ada satu-dua dosen yang kesengsem sama Ilmu Sosial Profetik ala Kuntowijoyo, maka mereka “dipak- sa” ditempa untuk lentur. Dan kiranya mereka punya potensi untuk itu.

Saya memuluskan lagi kelenturan itu dengan cara mendemonstrasikan “ketidakkakuan” dalam berceng- kerama dengan al-Qur’an. Misalnya, saya coret-coret, bundarin, kasih garis, atau stabilo, lipat, kasih catatan pinggir di atas lembaran al-Qur’an atau di samping ayat-ayat yang sedang kami bahas – sesuatu yang selama ini tabu, padahal itu cara klasik-asyik-unik memesrai al-Qur’an. Selain itu, saya buka salah satu “rahasia” al- Qur’an, yakni gaya bahasanya yang cenderung metafor- ik (simbolik). Ini juga tidak dijelaskan terlalu panjang, karena “provokasi” ini hanya dibutuhkan agar mereka mau terbuka dan mengkerut dahi untuk makna jauh (konotasi, mafhum mukhalafah) dari firman Tuhan.

Hasilnya lumayan, berupa wawasan akan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi al-Qur’an untuk ilmu. Dengan gampang (meskipun berbau apologetik) mereka bilang bahwa secara ontologi al-Qur’an sudah menarasikan adanya sains bahkan dengan kecanggihan yang sama atau lebih dengan capaian peradaban mu- takhir. Misalnya disimpulkan dari Surah al-Anbiya’

ayat 79, sejak zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ilmu yang terkait dengan pemerintahan (tata negara), teknologi, forestri, pertambangan, transportasi, biologi, bahkan mitigasi bencana, dan sebagainya sudah men- galami sophistikasi. Kesimpulan ini diambil dari ek- splorasi kata-kata “hukman,” “ilman,” “sakhkharnaal-jibalawaththoira” (membuat tunduk gunung dan burung), “’allamnahu shon’ata lubus” (mengajari pem- buatan baju besi), dan “walisulaimana al-riiha” (kami menundukkan bagi Sulaiman angin kencang).

Yang menarik tentu saja cara kami “menyimpan dulu” rahasia mukjizat dalam merefleksikan ayat ini.

Biarlah itu menjadi senjata pamungkas ketika semua metode pemahaman buntu. Di sini saya coba instalasi cara kerja hermeneutika yang sederhana, yaitu meng- konstruksi atau membayangkan “konteks” zaman (da- hulu) sambil memberi ruang bagi persepsi akal kita di zaman sekarang. Di situlah otonomi pembaca teks bek- erja. Maka, yang disebut “memahamkan,” “mengajari,”

“menundukkan” bukanlah kejadian sekilas sebagaimana dibayangkan untuk durasi sebuah mukjizat, tetapi pros- es panjang dari konversi hukum-hukum objektif men-

jadi teknologi, yang melibatkan pengajaran dan kerja epistemologi yang rasional.

Cara paham seperti ini akhirnya menjalar pada penalaran tentang narasi mengenai “mukjizat” berpin- dahnya singgasana Ratu Seba (Balqis) dalam sekejap mata. Kelas kami mengkonstruksi pemahaman lain, bahwa itu semacam “hiperbola” dari proses “perang”

untuk penaklukan dan pengambilalihan kekuasaan atas wilayah tetangga oleh Nabi Sulaiman dengan teknolo- gi perang dan strategi ekspansi yang canggih saat itu.

Moda komunikasi dan teknologi pendukungnya serta modus proxi-war sebagaimana di zaman sekarang ha- nyalah siklus dan copycat belaka dari preseden sejarah masa lampau itu. Dengan demikian makan waktu yang panjang, tidak kilatan sekejap mata.

Sebelum mahasiswa megap-megap untuk teng- gelam, kami beralih ke ayat-ayat yang lebih rileks, dan itu terkait dengan tuntunan al-Qur’an akan cara mencari/mendapatkan ilmu (epistemologi). Dan epis- temologi ilmu dalam al-Qur’an itu sarat etis-estetis.

Mereka menunjuk, misalnya, Surah Yunus ayat 101- 103, bahwa potensi iman juga harus terlibat dalam penggalian ilmu; Surah Thaha ayat 114 tentang etos keilmuan untuk menunda mengambil kesimpulan atau generalisasi sebelum jelas benar duduk perkaran- ya; Surah al-Nahl ayat 43 tentang pentingnya “bergu- ru” kepada otoritas ilmu baik itu ilmuwan berintegritas (ahl al-zikr) ataupun institusi keilmuan yang kredibel.

Kata “alamtara” “undhur” dan sejenisnya yang teru-

lang beberapa kali dalam ungkapan (sighat) al-Qur’an menggambarkan kokohnya empirisme Islam. Masih banyak lagi aspek epitemologi yang ditunjukkan oleh al-Qur’an. Kami periksa kitab Fathurrahman, ternyata ada 9 halaman yang menunjuk kata “ilmu” dan segala bentukannya, dan terlihat begitu dominan isyarat ten- tang epistemologi ini.

Ketika bertemu Surah al-Baqarah ayat 30-33 yang menarasikan cerita penciptaan Adam, kami mengaitkan dengan aspek aksiologi ilmu, di samping ajarannya mengenai etos merendah dalam berilmu. Di situ ada isyarat bahwa ilmu itu haruslah dialirkan terus (tsumma aradhahum), maksudnya ditransformasikan untuk pe- rubahan, baik mentalitas maupun aspek fisikal lainnya.

Kiranya kedua aspek ilmu, epitemologis dan aksi- ologi ini akan terus tergali seiring dengan terbangunnya minat (curiosity) dari kelas ini. Minat itu saya bangun dengan cara sederhana, misalnya saya suka mengiyakan mereka, untuk membesarkan hati sekaligus memper- kaya pengertian. Mereka pada akhirnya “berani” mem- bangun argumen misalnya, al-Qur’an sengaja tidak menggunakan narasi tutur dalam beberapa kisah sep- erti kisah Nabi Musa dalam Surah al-Qashahsh, agar kita tidak memahaminya sebagai sejarah “masa lampau”

belaka, yang kronologis, tetapi semata-mata ibrah. Se- lebihnya kita berserah kepada yang empunya sejatinya makna, Allah Taála.◆

SALAH DUGA DALAM

Dalam dokumen DUA SUARA TUHAN - Repository UIN Mataram (Halaman 157-163)