• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENERAPKAN PERNIKAHAN MENURUT RENCANA ALLAH

Dalam dokumen Universitas Kristen Petra - CORE (Halaman 97-106)

F. Interaksi dan komunikasi Dosen dan Mahasiswa

I. Penutup : Doa

2. MENERAPKAN PERNIKAHAN MENURUT RENCANA ALLAH

membimbing setiap anaknya berjalan dalam hidupnya sesuai rencana Tuhan. Setiap orangtua akan mempertanggung-jawabkan pendidikan anak-anak mereka di hadapan Tuhan. Berbahagialah setiap orangtua yang mentaati kehendak Tuhan ini.( Scheunemann, 1979)

2. MENERAPKAN PERNIKAHAN MENURUT RENCANA

hati-Nya. Dengan demikian, anak-anak juga akan berproses dan ber- tumbuh dalam hidup yang berpusat kepada Allah, karena mereka meneladani orang tua yang mendedikasikan pernikahan mereka ke- pada Allah.

Dobson (1997) menjelaskan bahwa hidup pernikahan yang berpusat kepada Kristus, diwujudkan dalam kehidupan doa dan persekutuan suami-isteri, yang melakukan ibadah keluarga bersama setiap hari. Melalui doa bersama dan ibadah keluarga, setiap anggota keluarga belajar untuk berkomitmen meletakkan ego, kepentingan diri pribadi, dan mengarahkan hati pada kerinduan untuk melakukan kehendak Tuhan dan hanya menyenangkan hati-Nya. Berkat dari kehidupan keluarga yang berpusat pada Kristus ini, akan menghadirkan kasih, damai dan sukacita dan masih ditambahkan dengan kekuatan untuk menghadapi hidup, tantangan serta kesulitan yang datang.

Keluarga yang berfokus kepada Tuhan dan mengandalkan kasih setia- Nya akan mengalami berkat Tuhan dan sukacita yang limpah, bahkan di tengah kesulitan hidup sekalipun.

Keluarga yang mengandalkan kasih Kristus. Keluarga Kristen sebagai keluarga Allah dibangun berdasarkan kasih pengampunan- Nya. Sehingga sebagaimana Kristus sudah mengampuni dosa-dosa kita, setiap anggota dalam keluarga Allah mempunyai komitmen untuk dapat senantiasa saling mengampuni dan saling mengasihi. Mengandalkan kasih Kristus demikian, sehingga ketika terjadi hal-hal yang melukai, menyakitkan, pengkhianatan yang menyebabkan kehancuran hati, bahkan kekecewaan yang mendalam di antara anggota keluarga, tetap ada kekuatan untuk menghadapinya. Suami-isteri, orang tua dan anak, setiap anggota keluarga mengandalkan kekuatan kasih Tuhan yang dapat mengalahkan kemarahan, kekecewaan dan luka hati;

sehingga tidak menjadi kebencian dan kepahitan atau dendam yang dapat menghancurkan pernikahan dan keluarga. Mengandalkan kasih dan kekuatan yang berasal dari Tuhan, sehingga dapat mengampuni

dan melepaskan semua kepedihan hati kepada Tuhan yang berkuasa menghiburkan dan memulihkan.10

Keluarga tunduk pada otoritas Alkitab, firman Tuhan. Sejak berkomitmen untuk menikah, suami-isteri harus sepakat memutuskan untuk menjalani hidup pernikahan dan membangun keluarga Allah yang sepenuhnya tunduk pada otoritas firman Tuhan. Sebab han- curnya sebuah pernikahan dimulai ketika suami atau isteri melaku- kan tindakan yang melawan firman Tuhan, dengan kehidupan yang tidak kudus, tidak jujur dan tidak setia. Terjadinya perselingkuhan/

perzinahan, sesungguhnya bukan hanya ketidak-setiaan pada pasang- an hidupnya, tetapi terutama adalah ketidak-setiaan kepada Tuhan, sebuah perlawanan terhadap otoritas firman Tuhan. Karena itu, setiap pelanggaran terhadap prinsip Alkitab, meskipun dan bahkan bila tin- dakan pelanggaran tersebut tidak diketahui oleh pasangannya, tetap akan mendatangkan akibat dan penderitaan bagi seisi keluarga, dan dapat memunculkan kesulitan dalam pekerjaan; melahirkan banyak masalah dan problem dalam pendidikan anak-anaknya. Sebaliknya, berkat Tuhan dicurahkan bagi setiap suami yang takut akan Tuhan dan tunduk pada otoritas firman Allah, memberikan teladan yang baik dan benar bagi isteri dan anak-anaknya.11

Keluarga berkomitmen menerapkan nilai hidup keluarga Allah. Kasih adalah nilai hidup keluarga Allah dan sebuah komitmen pernikahan yang paling penting. Ketika komitmen kasih ini berubah, maka berdampak pada hubungan batin antara suami-isteri dan dapat menghancurkan komunikasi. Banyak persoalan/masalah komunikasi antara suami-isteri yang muncul akibat tidak ada lagi komitmen kasih di antara mereka. Komitmen kasih sebagai nilai keluarga Allah yang seharusnya bersifat unconditional, ternyata sudah banyak berubah.

Sebab suami-isteri tidak memelihara komitmen kasih itu dengan

10 Alkitab, 1 Korintus 13:4-7.

11 Alkitab, Mazmur 127, 128.

benar; sehingga kurang kesempatan untuk memperkuat kasih dalam kegiatan bersama, keakraban dan kemesraan; karena masing-masing terlalu sibuk. Sehingga sangat sedikit kesempatan untuk saling menyatakan kasih secara efektif dan akibatnya kasih itu telah menjadi tawar. Apalagi bila ditambahkan dengan peristiwa dan perilaku yang saling melukai, saling menyakiti, saling tidak mempedulikan. Kasih itu bukan hanya menjadi tawar, tetapi dapat berubah menjadi kebencian.

Dalam kondisi demikian, suami-isteri harus kembali kepada komitmen kasih mula-mula, sebagai nilai hidup keluarga Allah. Sebab kasih di antara suami-isteri bukan dibangun berdasarkan kondisi pribadi masing-masing, tetapi berdasarkan kasih kepada Kristus.

Kasih Kristus tidak pernah berubah dan senantiasa dapat diandalkan, sehingga suami-isteri yang berkomitmen menerapkan nilai hidup keluarga Allah, dapat tetap mengasihi pasangannya apapun yang terjadi. Morley dan Delk (2008), meyakini bahwa sangat penting pasangan suami-isteri mempunyai tekad yang kuat untuk memelihara komitmen menerapkan nilai hidup keluarga Allah dalam kehidupan pernikahan. Sebab ini akan menjadi kekuatan yang besar dan indah dalam setiap keluarga Allah dan sekaligus menjadi jalan berkat Allah bagi segenap anggota keluarga. Anak-anak yang diberkati dengan komitmen kasih orang-tua, akan bertumbuh mewarisi nilai kasih, bukan sebagai sebuah ajaran, melainkan sebagai pengalaman hidup.

Anak-anak akan bertumbuh dengan komitmen yang sama, yakni menerapkan nilai kasih sebagai nilai hidup pribadinya.

Nilai hidup keluarga Allah yang juga sangat penting adalah kekudusan dan kesetiaan. Artinya, apapun yang terjadi dalam hidup pernikahan, seberat, sepahit dan sesulit apapun, suami-isteri harus terus memelihara komitmen untuk tetap setia, saling mengasihi dan memelihara kesucian hidup suami isteri. Apabila suami-isteri menerapkan nilai kekudusan dan kesetiaan, akan menjadikan mereka sebagai orangtua yang memiliki otoritas Ilahi dalam mendidik anak- anaknya. Sebaliknya, bila nilai–nilai kasih, kesetiaan dan kesucian

ini ditinggalkan, pernikahan akan kehilangan maknanya dan anak -anak yang dibesarkan dalam keluarga demikian, akan mengalami kekosongan hidup. Mereka kehilangan kasih dan tidak memiliki arah dan tujuan hidup yang pasti. Mereka akan bertumbuh dalam ketahanan dan semangat hidup yang rapuh serta konsep diri yang tidak utuh, sebab dibesarkan dalam keluarga yang hancur (broken- home). Namun bagi anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga Allah yang menghormati nilai kekudusan dan kesetiaan, akan mewarisi nilai hidup yang sama. Mereka akan menjadi anak-anak yang seumur hidup menghormati kekudusan dan kesetiaan, dan mempunyai kekuatan untuk bertahan dan menang menghadapi arus zaman yang semakin melawan kebenaran Tuhan.

Nilai hidup keluarga yang sangat dibutuhkan adalah menghor- mati dan mempercayai. Hidup bersama dalam satu keluarga memang tidak dapat menghindari terjadinya konflik. Bahkan seringkali dapat mengalami kenyataan hidup yang sangat berat dan tidak terbayangkan pada saat masih berpacaran. Kenyataan yang tidak menyenangkan ini dapat memicu rasa sakit hati, kecewa, terhina, marah, benci, muak dan kepahitan. Sangat dibutuhkan komitmen suami-isteri untuk tetap dapat saling menghormati dan mempercayai. Sebab dengan berkomit- men demikian, suami-isteri dapat saling mengampuni dan rela melaku- kan komunikasi yang positif dan membangun. Di dalam rasa respect ini, sekalipun ada keinginan kuat dalam diri masing-masing untuk mengubah pasangannya, hal tersebut akan dilakukan dengan santun, sehingga tidak memberi tekanan bagi pasangan hidupnya. Yang harus dilakukan secara aktif dan efektif adalah keinginan kuat dalam diri masing-masing untuk berubah menjadi lebih baik terhadap pasangan- nya. Dalam komitmen saling menghargai ini, suami-isteri menghindari perkataan dan tindakan kekerasan, kasar dan tidak sopan. Bila kondisi salah satu pasangan sedemikian parah, sehingga memerlukan perto- longan konselor, sangat dianjurkan untuk segera mungkin mencari pertolongan.

Strauss (1988) menekankan pentingnya menggunakan hati dan bukan emosi kita pada saat berkomunikasi dengan pasangan hidup kita. Sebab dengan peka mendengarkan suara hati kita yang paling dalam, kita dapat lebih peduli dan mau mengerti serta menghormati apa yang dirasakan, dipikirkan dan dibutuhkan pasangan hidup kita.

Sangat penting bagi suami-isteri berkomitmen menerapkan nilai meng- hormati ini dengan saling menerima kelemahan dan mengam puni.

Rasa respect di antara suami-isteri akan menumbuhkan nilai saling mempercayai yang kuat terhadap pasangannya. Saling mempercayai ini sangat penting karena suami-isteri adalah pribadi yang unik, me- miliki cara pandang yang dalam beberapa aspek berbeda secara sig- nifikan. Mempercayai pasangannya berarti memberikan kesempatan untuk bertindak mengembangkan diri dengan cara terbaiknya. Bagi anak-anak yang mengalami pendidikan orang tua dengan nilai meng- hormati dan mempercayai ini, akan bertumbuh menjadi pribadi yang memandang hidupnya berharga. Ada saat yang sangat berat ketika ni- lai mempercayai ini harus diuji dengan kenyataan bahwa nilai mem- percayai ini diuji sampai taraf mengampuni kesalahan pasangannya, yang tidak setia dalam pernikahan (melakukan perzinahan). Dalam keadaan yang sangat berat ini, suami-isteri harus datang ke hadapan Tuhan Yesus, bergumul dalam doa bersama, sebab hanya Dia yang berkuasa untuk menolong dan memulihkan keadaan keluarga yang hancur sekalipun. Tuhan Yesus satu-satunya yang dapat mengubah, membarui, menguatkan, menghiburkan dan memberi pertolongan yang ajaib bagi suami-isteri dan anak-anak.

Setiap anggota keluarga menjalankan perannya sesuai prinsip Alkitab. Apa yang akan terjadi bila keluarga gagal menjalankan peran?

Dapatkah seorang suami dan ayah tidak menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah yang seharusnya? Hal yang sama dipertanyakan bagi seorang ibu dan isteri. Kenyataan bahwa salah satu pasangan tidak menjalankan peran dan tanggung jawab dengan benar, dapat memunculkan konflik yang hebat dan mengarah pada

kehancuran keluarga. Suami atau isteri, orangtua atau anak, masing- masing hanya menjalankan aktifitas dan kegiatan hidup bersama di bawah satu atap, namun masing-masing tidak menjalankan perannya dengan bertanggung-jawab. Yang sering tejadi dalam keluarga yang telah kehilangan peran adalah tidak ada lagi ikatan secara batin di antara anggota keluarga. Kehilangan rasa memiliki, rasa berharga, kebanggaan dan sukacita. Tidak ada lagi komunikasi inter personal yang bersifat dari hati ke hati, yang tinggal hanyalah komunikasi verbal dan formal. Rumah hanya menjadi tempat tinggal. A House but not A Home. Menurut Christenson (1997) dalam keluarga Allah, setiap anggota keluarga mempunyai tugas dan tanggung jawab masing- masing yang dijalankan bersama dalam kesehatian dan kasih. Suami- isteri, orang tua bersama anak-anak saling menghargai dan mendukung peran masing-masing, sesuai dengan prinsip dan hukum pernikahan Kristen, sesuai pengajaran Alkitab. Keluarga yang menjalankan peran dengan konsisten, akan menjadi keluarga Allah di muka bumi, yang menghadirkan damai, sukacita dan pengharapan dalam hati setiap anggota keluarga. A heavenly home J

Mengutamakan hal yang penting. Dalam hidup berkeluarga, sangat bijaksana untuk tidak melakukan hal ini yakni mempermasalahkan hal yang tidak penting dan mengabaikan hal yang penting. Betapa banyak pernikahan menjadi tidak bahagia karena masalah ini. John Ng (2011) memberi pesan untuk kita berhati-hati pada kebiasaan kecil yang menjengkelkan dan belajar untuk mementingkan hal-hal yang lebih utama. Pernahkah Anda mendengar kisah suami isteri yang baru memasuki tahun pertama pernikahan mereka dan akhirnya berakhir dengan perceraian; karena meributkan masalah menggantungkan handuk yang tidak pada tempatnya, namun akhirnya bertengkar hebat karena merembet melecehkan orang tua yang dinilai tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, sampai kepada masalah harga diri yang terluka. Kita harus sangat berhati-hati menyikapi kebiasaan kecil pasangan kita yang seringkali menjengkelkan. Karena sesungguhnya kita selalu dapat berbicara dengan baik, sopan dan benar kalau kita

menghendakinya. Maka sebaiknya kita memilih cara yang santun itu, daripada memaki dan marah emosional kepada pasangan kita.

Sangat baik bila kita dapat belajar untuk mendengar perspektif pasangan hidup kita. Memandang pribadi pasangan kita jauh lebih berharga daripada fokus pada kesalahan kecil yang dilakukannya.

Yang dianggap penting dan harus diutamakan adalah bagaimana mewujudkan tujuan pernikahan kita, yang telah disepakati sejak awal pernikahan. Anak-anak akan meneladani bagaimana orang tua menjadi model, sehingga mereka trampil untuk memaknai hidup mereka juga dengan hal-hal yang berharga dan penting. Bahwa setiap anggota keluarga adalah pribadi yang sangat dikasihi dan berharga di hadapan Tuhan, sehingga tidak boleh ada siapapun serta keadaan bagaimanapun yang mengijinkan antara anggota keluarga tidak saling menghargai. Sebaliknya setiap anggota keluarga harus menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.12

 

12 Alkitab, Filipi 2:3-4.

Pendahuluan

Dasar utama perwujudan pernikahan yang bahagia dan diberkati Tuhan adalah kasih Tuhan Yesus Kristus yang mengikat suami-isteri seumur hidup mereka. Kasih di antara suami-isteri apabila tidak dibangun dalam kasih Tuhan Yesus, dapat menjadi tawar dan tidak tahan uji kesetiaan. Pernikahan yang bahagia bukanlah pernikahan yang bebas dari masalah, melainkan pernikahan yang senantiasa dalam berkat Tuhan dan mengalami damai serta kasih-Nya. Melalui pernikahan, suami-isteri bersama-sama memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya sesuai rencana-Nya.(Dobson, 1996)

1. KASIH KRISTUS MENJADI DASAR KELUARGA ALLAH

Dalam dokumen Universitas Kristen Petra - CORE (Halaman 97-106)