GIRIPURNO
3. Mengadakan kenduri bersama di dusun-dusun (Auman) Kenduri bersama atau sering disebut
dengan Auman ini dilaksanakan dalam bulan Suro dengan tanggal yang berbeda-beda di setiap dusun. Acaranya adalah tahlil atau mujadah dengan doa sesuai dengan agama Islam pada umumnya.
Tempat berlangsungnya acara ini sesuai dengan kesepakatan warga masyarakat dusun tersebut, ada yang
1 Suro di masa lalu
Perayaan 1 Suro di masa lampau di desa Giripurno cukup banyak perbedaan. Selain karena adat Jawa yang telah banyak ditinggalkan dengan berkembangnya pengetahuan tentang syariat Islam, aktivitas masyarakat pada tanggal 1 Suro cukup berbeda. Dahulu desa Giripurno merupakan transit untuk aktivitas pendakian ke puncak Suroloyo.
Tempat transit tersebut berada di Pasar Gayam
di dusun Gayam dan Cakruk di dusun Miriombo Wetan.
Kedua tempat tersebut kemudian menjadi tempat berkumpul para pendaki mulai sebelum malam 1 Suro. Di kedua tempat tersebut seringkali ada pertunjukan kesenian tradisional dan jajanan lokal. Di sekitar pasar gayam pertunjukan topeng ireng atau jatilan sering menjadi hiburan para pengunjung. Sedangkan di Cakruk Miriombo Wetan juga sering menampilkan kesenian tradisional.
Para pendaki ke puncak Suroloyo tersebut berasal dari beberapa desa tetangga atau bahkan dari daerah lain. Mereka berangkat berombongan satu atau dua hari sebelum tanggal 1 suro. Jika berombongan, biasanya membawa berbagai perlengkapan berkemah sederhana. Yang paling menarik adalah mereka membawa tape recorder atau alat musik semacam gitar klasik atau ketipung.
Dengan adanya banyak orang maka disitu banyak juga pedagang lokal yang kemudian berjualan jajanan pasar. Dulu yang paling terkenal adalah warung Den Suwito di pasar Gayam yang berjualan nasi beras dengan lauk pupu tekuk. Namun selain
warung Den Suwito banyak juga pedagang jajanan lain yang menjual geblek, tahu susur, pecel, kacang godok dan beberapa jajanan lain.
Selain kuliner, daya tarik lainnya adalah arena perjudian, judi dadu (klutuk). Namun semenjak peraturan perjudian ini gencar dilakukan oleh aparat, aktivitas tersebut saat ini tidak diperbolehkan.
Aktivitas pendakian ke puncak Suroloyo semakin berkurang semenjak berkembangnya infrastruktur jalan dan kendaraan bermotor. Oleh karena hal tersebut sekitar satu dekade terakhir aktivitas di kedua tempat tersebut tidak terjadi lagi. Saat ini pada tanggal 1 suro hampir tidak ada pentas kesenian maupun keramaian lain di Pasar Gayam dan Cakruk Miriombo Wetan.
1 Suro dalam kepercayaan masyarakat jawa Bulan Suro oleh masyarakat jawa dipercaya sebagai bulan yang kurang baik. Mereka percaya jika memulai aktivitas pada bulan suro ini maka akan menerima kesialan pada masa yang akan datang.
Sedangkan khusus untuk hari tertanggal 1 suro sepanjang tahun akan dianggap sebagai hari sangar, dimana orang yang mempercayainya tidak akan melakukan/memulai aktivitas pada hari tersebut.
Beberapa larangan pada bulan suro ini yakni:
1. Mulai membangun dan membuat rumah.
2. Melakukan pernikahan 3. Memulai pekerjaan baru 4. Membeli kendaraan
Setiap prosesi awal atau akhir kehidupan yang ada di masyarakat desa Giripurno selalu diikuti dengan suatu aktifitas tertentu yang berupa doa atau ritual tertentu. Untuk mengetahui hal tersebut saya mendatangi kediaman Bapak Abdul Jabbar yang bermukim di dusun Parakan.
PERNIKAHAN
Pernikahan merupakan sesuatu yang sangat sakral.
Sebab pernikahan merupakan satu-satunya prosesi yang dapat meng-halakan sesuatu yang haram.
Dalam budaya Jawa yang juga masih banyak dilakukan desa Giripurno ada beberapa hal yang dilakukan sebelum prosesi puncak ijab qobul.
Yang pertama adalah lamaran yang dilakukan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan. Dalam lamaran ini sesuai dengan adat jawa mempelai laki-laki tidak diperbolehkan untuk melamar sendiri meskipun ia mampu. Ia harus meminta orang tuanya untuk melamarkan calon mempelai perempuan. Kemudian saat lamaran ini prakteknya orang tua calon mempelai laki-laki belum tentu melamarnya seorang diri. Ada yang kemudian meminta kepada pamong (Kadus, Kades, atau Sekdes) untuk melamarkan.
Prosesi yang kedua adalah Bayar Tukon atau Tukonan, yakni sebuah prosesi pemberian mahar dari calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan. Di desa Giripurno tidak ada ketentuan mengenai nilai mahar, yang terpenting memiliki manfaat dan tidak merendahkan kepada calon mempelai perempuan. Prosesi Bayar Tukon ini sebagian besar warga masyarakat tidak melakukannya sendiri, akan tetapi meminta tolong kepada pamong atau tokoh masyarakat setempat untuk menyampaikan mahar kepada calon mempelai perempuan.
Sebelum bayar tukon dilaksanakan, biasanya terlebih dahulu diadakan slametan/gendurenan.
Kemudian setelah selesai slametan para wakil yang akan menyampaikan mahar berangkat ke kediaman calon mempelai perempuan. Wakil penyampai mahar tersebut biasanya berombongan beberapa orang. Ada yang kemudian bertugas membawa mahar, ada juga yang kemudian menjadi juru bicara yang biasanya merupakan orang yang paling di tokohkan di rombongan tersebut. Rombongan ini juga membawa seekor ayam jago yang nantinya akan dilepas di tempat tertentu.
oleh:
Mustofa
Zam Zamil Huda
Daur Hidup
GIRIPURNO
Setelah sampai di rumah mempelai perempuan kemudian juru bicara rombongan tersebut pertama kali akan bertanya apakah musyawarah yang telah dibangun kedua keluarga masih bulat atau telah berubah. Jika jawabanya masih bulat maka juru bicara akan menyampaikan maksud kedatangannya untuk menyampaikan mahar tersebut.
Prosesi yang ketiga adalah kedua keluarga kemudian akan bermusyawarah mengenai kapan waktu ijab qobul yang tepat. Dalam prosesi ini kebanyakan akan menggunakan perhitungan jawa dengan dasar hari lahir dalam hari biasa dan pasaran atau disebut neton atau weton.
Kemudian akan dicari juga nas hari atau tahun. Nas juga diambil dari hari kematian orang tua calon mempelai jika ada yang telah meninggal. Jika kedua keluarga tidak dapat melakukan perhitungan jawa maka biasanya mereka meminta tolong kepada orang yang lebih tua atau dianggap mampu.
Prosesi yang keempat adalah ijab qobul dan jika merupakan keluarga mampu dapat ditambah dengan pesta pernikahan. Sebelum melakukan ijab qobul biasanya terlebih dahulu dilakukan prosesi ngirim ndo’o atau mengirim doa. Prosesi ini merupakan selamatan untuk mengirim doa kepada leluhur dan kemudian berdoa kepada Tuhan agar diberi kelancaran dalam acara nantinya. Jika kemudian akan mengadakan pesta pernikahan maka sebelum memulai pekerjaan persiapan ada ritual “ngunggahke beras” yang dilakukan oleh orang tertentu yang dipercaya dan dianggap mampu agar acara berjalan dengan lancar. Ritual tersebut kadang diikuti dengan ritual penolak hujan.
KEHAMILAN
Pada saat kehamilan seorang perempuan prosesi pertama yang dilakukan adalah pada saat usia kehamilan mencapai 4 bulan 10 hari yang disebut
dengan istilah “ngapati”. Pada waktu tersebut Allah meniupkan ruh dan juga menyelipkan nasib di tulang rusuk sebelah kiri. Oleh karena itu kemudian dibuatkan slametan atau wilujengan yang diikuti dengan pembacaan surat-surat Al-Qur’an.
Harapanya agar diberi ruh yang sehat, baik dan kelak mendapatkan nasib yang bagus.
Pada usia kehamilan 7 bulan kemudian diadakan selamatan kedua yang disebut dengan “mitoni”
atau “kekebo”. Prosesi ini berupa wilujengan dengan doa agar ibu mudah dalam melahirkan, yang melahirkan dan dilahirkan diberi keselamatan.
Selain itu ada beberapa ritual yang kemudian dilakukan baik pada saat slametan maupun setelah selamatan usai. Saat slametan maka menggunakan menu “minuman dawet”. Menu ini merupakan sebuah kiasan agar anaknya yang lahir nanti bertubuh segar dan manis, jika laki-laki berwajah tampan dan jika perempuan berwajah cantik.
Kemudian setelah slametan usai semua orang harus keluar dari rumah. Bersamaan dengan itu ada orang yang kemudian menarik “galar”, yakni papan amben yang terbuat dari bambu. Kemudian sebuah kendil akan dipecahkan dihalaman rumah. Prosesi ini juga merupakan sebuah kiasan agar dalam prosesi kelahiran nanti dapat berjalan dengan lancar dan mudah.
KELAHIRAN
Pada saat kelahiran, jika Ayah bayi tersebut berada di rumah maka penolong bayi tidak diperbolehkan untuk berbicara sebelum bayi dibersihkan, dipotong tali pusarnya dan diadzani pada telinga bagian kanan dan iqomah di telinga bagian kiri oleh ayahnya. Prosesi ini dimaksudkan agar yang terdengar pertama kali oleh bayi adalah suara- suaran yang baik dengan lafal yang mengagungkan Allah SWT.
Prosesi selanjutnya adalah penguburan plasenta atau lebih dikenal dengan nama “ari-ari”. Prosesi ini menggunakan beberapa perkengkapan yakni kain kafan, kendil, dan kembang boreh. Cara penguburanya adalah, ari-ari dicuci bersih kemudian dibungkus dengan kain kafan, setelah itu kembang boreh dimasukan kedalam kendil, dan bungkusan ari-ari tersebut dimasukan kedalam kendil, ditutup kemudian dimasukan ke dalam lubang kemudian ditutup kembali dengan tanah.
Tempat mengubur ari-ari tersebut berada di depan pintu rumah depan. Jika bayi tersebut laki-laki maka ditempatkan disamping kanan pintu, namun jika perempuan ditempatkan disamping kiri pintu depan.
Tempat mengubur ari-ari tersebut tidak boleh diinjak-injak. Konon jika diinjak-injak maka bayi akan sesak nafas. Oleh karena hal tersebut maka tempat mengubur ari-ari tersebut kemudian di buatkan tempat perlindungan. Tempat perlindungan tersebut biasanya terbuat dari bambu dengan bagian atas lebih sempit. Kemudian pada malam hari tempat tersebut biasanya diberi obor dengan pelita.
Setelah kelahiran tersebut kemudian ibu-ibu lain akan berbondong-bondong untuk menjenguk, prosesi ini dikenal dengan nama “ngendong’. Pada waktu ngendong ini ibu-ibu tidak diperbolehkan untuk membawa anak kecil, sebab anak tersebut bisa saja terkena sawan bayi. Konon sawan merupakan debu dari hancurnya iblis atau roh jahat. Ketika akan pulang maka ibu-ibu tersebut akan meminta dadah atau bedak milik bayi tersebut sebagai penangkal sawan untuk anaknya.
Ngendong atau tilik bayi juga dilakukan oleh kaum lelaki namun pada malam hari. Acara ini merupakan solidaritas dan tidak ada peraturan yang
mengikat. Ngendong akan selesai setelah prosesi
“kekerik”, yakni proses pemberian nama dan cukur rambut bayi. Biasanya kekerik ini akan dilakukan setelah “puputan” atau telah lepasnya tali pusarnya, namun untuk keluarga yang kurang mampu tetap diperbolehkan untuk kekerik lebih awal. Hal tersebut bertujuan agar proses ngendong berhenti karena keluarga tersebut kurang mampu untuk menanggung biaya acara ngendong.
Ngendong yang dilakukan oleh laki-laki pada awalnya bertujuan untuk ikut menjaga keamanan bayi yang lahir dari pencurian, dimakan binatang buas, atau dimakan makhuk jahat. Saat ini acara ngendong banyak diisi dengan membaca sholawat Al-Barjanji dan waktu ngendong pun sebatas di tengah malam. Namun dulunya ngendong bisa mencapai subuh dan kegiatan yang dilakukan adalah berjudi.
Prosesi selanjutnya adalah “puputan”, yakni terputusnya tali pusar sisa yang telah dipotong kemudian diikat atau dijepit. Waktunya berbeda- beda antara 5 hari sampai 1 bulan. Potongan tali pusar tadi kemudian akan disimpan dan kelak akan digunakan jika bayi tersebut sakit. Jika bayi sakit maka tali pusar tersebut akan dicelupkan kedalam air dan kemudian airnya akan dijadikan bedak untuk bayi tersebut agar cepat sembuh. Namun ada juga yang konon tali pusar tersebut ditelan ayahnya.
Dengan menelan tali pusar tersebut konon ayahnya akan mampu menyembuhkan anak tersebut jika sakit hanya dengan meniupnya saja. Akan tetapi hal tersebut juga menyebabkan resiko, jika ayahnya sampai menyakiti anak tersebut maka ia akan sulit sembuh dan tidak akan ada obatnya. Kemudian hanya ayahnya tersebut yang dapat menyembuhkan jika dengan iklas dan tulus menyembuhkan anaknya.
Selamatan prosesi puputan biasanya dilakukan bersamaan dengan kekerik. Pada tahap ini bayi akan diberi nama dan kemudian dicukur rambutnya. Proses cukur rambut tersebut akan diiringi dengan pembacaan kitab Al-Barjanji.
Pencukur rambutnya adalah 7 orang tokoh masyarakat sesepuh dusun tersebut. Mereka akan berdoa kemudian mencukur beberapa helai rambut.
Bayi tersebut saat dicukur akan digendong oleh seorang lelaki dan berada ditengah perkumpulan.
Seorang yang lain akan membawa payung untuk memayungi bayi tersebut. Kemudian para pencukur akan bergiliran untuk mencukur. Mereka akan berdoa kemudian mencukur beberapa helai rambut.
Pasca kelahiran ini Ibu bayi tersebut juga akan mendapatkan perlakukan khusus dan juga beberapa ritual. Yang pertama adalah pijat syaraf setelah kelahiran yang biasanya dilakukan oleh dukun bayi hingga hari ke-14 atau 21. Pijat ini bertujuan untuk menfungsikan kembali seluruh urat syaraf tubuh. Selain itu Ibu bayi akan mengkonsumsi jamuan khusus, anggur, dan sayuran untuk memperbaiki kualitas ASI. Kemudian Ibu bayi juga akan melakukan kegiatan fisik yang dinamakan
“wuwung”. Kegiatan ini adalah mandi dengan gayung yang besar, biasanya dengan “entik” atau
“tenggok kecil”. Jumlah siraman waktu mandi tersebut akan dihitung dengan jumlah tertentu.
Setelah itu kemudian Ibu bayi akan melakukan terapi dengan memijit bagian pilingan disamping luar kedua mata, di pelipis, di bagian dalam sebelah mata atau disamping hidung atas, dan di bawah mata.
Ibu bayi setelah proses melahirkan tersebut dilarang untuk duduk bersila atau timpuh, ia tidak boleh terlalu banyak menekuk kaki agar nanti tidak muncul garis-garis putih atau muncul gumpalan di perut. Dukun bayi akan mengawasi dan memandu
kesehatan ibu dan bayinya hingga hari ke 40.
Biayannya bervariasi, biasanya hingga kekerik ada biaya tersendiri dan setelah itu juga ada biaya sendiri setiap kali datang. Tidak ada patokan harga tertentu, biasanya akan menggunakan pengalaman dari keluarga lainnya. Setelah 40 hari biasanya dalam kurun waktu tertentu dukun bayi akan datang untuk memijat ibu dan bayinya.
Setelah bayi mampu merangkak kemudian akan dilakukan proses yang dinamakan “ngedun- duni”, yakni proses menurunkan bayi di tanah.
Sebelum bayi dapat merangkak, bayi tersebut tidak diperbolehkan untuk diletakan di tanah. Jika terpaksa maka harus ada alas berupa tikar atau lainnya untuk praktek yang ada saat ini. Namun dahulu sama sekali tidak diperbolehkan. Bayi hanya akan ada digendongan atau di atas amben.
Proses ngedun-duni ini memerlukan berbagai perlengkapan dan juga selamatan. Perlengkapan itu antara lain kurungan ayam besar, jadah diatas nampan, tangga dari tebu hitam, perlengkapan tukang, perlengkapan bertani, perlengkapan kantor, perlengkapan sekolah dan sebagaimya. Proses ngedun-duni dimulai dengan mendudukan bayi di atas jadah. Proses ini merupakan sebuah kiasan agar kelak anak tersebut mendapatkan kedudukan yang baik dalam masyarakat. Kemudian bayi akan dilepaskan agar memilih berbagai perlengkapan yang disediakan. Setiap perlengkapan yang dipilih kemudian akan memiliki arti tersendiri. Jika memilih perlengkapan petani mungkin besok ia akan menjadi petani, jika perlengkapan tukang maka akan menjadi tukang, dan sebagainya. Jika anak tersebut memilih tangga dari tebu hitam, konon ia akan mendapatkan derajat yang luar biasa pada suatu saat nanti.
Prosesi lain adalah setiap 35 hari sekali pada
hari yang sama saat ia lahir yakni hari biasa dan pasaran jawanya. Prosesi tersebut dikenal dengan nama “nyelapani”. Pada selapanan pertama setelah kelahiran biasanya akan diadakan slametan dengan gendurenan. Namun setelah itu slametan dilakukan cukup dengan membuat “among-among”, yakni menu makanan yang berupa nasi dan sayur kluban yang ditempatkan di atas cowek dan ditutup dengan kukusan. Among-among tersebut akan diletakan di tempat bayi tersebut tidur atau dikamar tersebut. Tidak ada batasan kapan among-among ini dihentikan, biasanya hingga anak sudah cukup besar.
Setelah sampai pada waktunya untuk menghentikan pemberian ASI maka dilakukan prosesi dengan nama “mareni”. Proses mareni ini kadang dilakukan dengan mendatangi orang tertentu yang dianggap mampu. Setiap orang kadang memiliki cara yang berbeda-beda, namun pada intinya mereka melakukan ritual denga doa tertentu. Setelah proses ritual tersebut si anak akan diberi “ilo-ilo” yang kadang berupa makanan.
AQIQOH
Aqiqoh merupakan salah satu prosesi
penyembelihan kambing secara islami dengan maksud untuk menebus seorang anak atau diri sendiri kepada Allah SWT. Jika laki-laki maka kambingnya berjumlah 2 ekor, jika perempuan 1 ekor. Pada prosesi aqiqoh ini daging kambing didistribusikan dalam bentuk masakan. Sedangkan jenis makanannya harus masakan gurih dan tidak boleh terlalu pedas. Waktu pelaksanaan aqiqoh bebas. Ada yang berbarengan dengen kekerik, pada saat khitan, ada yang memang menggunakan waktu tersendiri, dan sebaginya.
KHITAN
Khitan merupakan proses pembersihan penutup khasafah untuk menghilangkan sumber najis. Warga masyarakat Giripurno kebanyakan menggunakan jasa “bong supit” dalam proses ini. Jauh hari sebelumnya, biasanya warga mencari hari baik terlebih dahulu. Hari tersebut dihitung dengan hitungan hari lahir/neton dan hari nas. Waktu pelaksanaan berupa hari lengkap dengan pasaran jawa beserta jam untuk “pagas/waktu potong”.
Sebelum pelaksanaan terlebih dahulu dilakukan
“ngirim ndo’o” atau berkirim doa. Dalam prosesi ini ada yang kemudian berbarengan dengan aqiqoh atau pengajian. Akan tetapi kebanyakan hanya sekedar pagas kemudian selesai, hal ini tergantung kemauan dan kelas ekonomi orang tersebut.
oleh:
Mustofa
Zam Zamil Huda
Petilasan dan Tempat Sakral Desa Giripurno
GIRIPURNO
PETILASAN DAN TEMPAT SAKRAL DI DESA GIRIPURNO
Sebagian besar warga masyarakat desa Giripurno mempercayai tempat-tempat tertentu yang dianggap werid atau sakral. Tempat-tempat semacam itu bisanya karena sebab tertentu seperti tempat yang disinggahi tokoh-tokoh tertentu, dianggap ada penunggunya yang berupa makhluk halus dan sejenisnya. Saya mendatangi beberapa tokoh masyarakat untuk mengetahui hal tersebut.
PETILASAN KERAMAT
Petilasan keramat berada di dusun Parakan.
Menurut Bapak Abdul Jabbar, tempat tersebut dulu menjadi tempat singgah atau pinarak Sunan Kalijogo dalam perjalanan mencari soko guru atau tiang masjid Agung Demak. Di tempat tersebut Sunan Kalijaga memotong jenggot dan kumisnya.
Beliau kemudian meninggalkan sajadah dan tasbih yang konon saat ini masih ada namun berbentuk ghaib dan hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya.
Warga masyarakat kemudian membuat cungkup berupa rumah kecil yang awalnya dari kayu
dan kemudian dibangun secara permanen menggunakan batu-bata. Selain cungkup terdapat juga prasasti yang berupa batu yang saat ini berada di samping rumah Bapak Ali Muchtar. Batu tersebut pada awalnya dapat digoyang-goyang akan tetapi tidak dapat dicabut. Dulu pernah dicoba untuk dipindahkan dengan digali sedalam 3-5 meter namun tidak bisa ditemukan ujung bawahnya dan bentuk batunya tetap sama.
Saat ini meski cungkup petilasan keramat tersebut telah dibuat permanen namun lantainya tetap dibiarkan begitu saja. Konon orang-orang telapak kaki Sunan Kalijaga tetap akan berada di atas, meskipun lantai tersebut dibangun atau bahkan terkubur dalam.
Dahulunya area petilasan keramat cukup luas, akan tetapi saat ini dengan bertambahnya penduduk dan kemajuan zaman, areanya digunakan menjadi jalan dan sebagian menjadi halaman tempat tinggal penduduk. Kemudian dulu kegiatan-kegiatan seperti majemukan dusun dan peringatan hari atau bulan- bulan tertentu juga diadakan di Petilasan Keramat, akan tetapi saat ini tidak lagi digunakan dengan area lahan yang semakin menyempit.
SENDANG SEBANDOT
Sendang Sebandot merupakan sebuah Area seluas kurang lebih 2000 m2 dan berada di wilayah dusun Gayam. Berada di sebelah Selatan dari kantor pemerintah desa Giripurno berjarak kurang lebih 400 meter. Lahan tersebut menurut Bapak Abdul Jabbar merupakan lahan OO atau GG yang tidak berpajak yang saat ini berada dikuasa Pemerintah Desa Giripurno.
Sendang Sebandot berupa hutan kecil dengan pohon besar yang menjulang tinggi dan berumur ratusan tahun. Di tempat tersebut juga terdapat mata air yang dikeramatkan oleh warga masyarakat.
Menurut Bapak Abdul Jabbar, Sunan Kalijogo dalam perjalanan mencari soko guru atau tiang masjid Agung Demak berniat untuk melaksanakan sholat Dhzuhur. Akan tetapi kemudian beliau tidak menemukan air. Karena kepokoh/kepepet beliau kemudian menancapkan tongkatnya yang konon muncul mata air. Dan mata air tersebut alirannya mengucur seperti air kencing kambing sebendot.
Sedangkan kambing sebendot sendiri merupakan jenis kambing domba yang besar dan berbeda dengan kambing gibas. Hingga saat ini nama Sebendot menjadi nama untuk lokasi tersebut.
Mata air Sendang Sebandot hingga saat ini menjadi salah satu penyuplai kebutuhan air di wilayah dusun Gayam dan beberapa dusun lain. Dulu mata air memiliki manfaat yang besar bagi warga masyarakat baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Oleh karena hal tersebut dulunya di Sendang Sebandot pun menjadi tempat untuk Sedekah Bumi pada bulan Sofar yang berjalan hingga saat ini meski dengan tradisi yang berbeda.
Warga masyarakat sempat membangun tempat tersebut secara permanen dengan membuat kolam
kecil dari semen. Akan tetapi pada tahun 2021 ada seorang warga yang mendapatkan mimpi atau sebuah ‘kejadian ghaib’ dan mendapat perintah untuk mengembalikan tempat tersebut seperti sedia kala. Namun kejadian tersebut secara rinci tidak boleh diceritakan, didokumentasi dan disebarluaskan.
Karena tempat tersebut dikeramatkan, maka warga masyarakat desa pun tidak berani untuk memanfaatkan hasil dari tanaman yang ada di Sendang Sebandot. Warga masyarakat tidak berani memotong atau menggunakan kayu maupun tanaman yang ada ditempat tersebut.
Kepengelolaan dan perawatan Sendang Sebandot saat ini berada dibawah tiga dusun, yakni dusun Gayam, dusun Pokoh, dan dusun Jombor.
Kemudian ada satu warga masyarakat yang menjadi juru kunci dari sendang Sebandot. Juru kunci ini menurut Bapak Abdull Jabbar merupakan orang yang mendapatkan mimpi untuk menjaga tempat tersebut.