Kau juga, teruslah berlayar, O, Perahu Negeri!
Teruslah berlayar, O Persatuan, kuat dan hebat!
Kemanusiaan dengan segala ketakutannya,
Dengan segala harapan akan tahun-tahun mendatang, Bergantung kembang kempis pada takdirmu!
—Henry Wordsworth Longfellow
Kisah tentang air bah yang menghancurkan dunia di mana manusia dan binatang diselamatkan dari kepunahan oleh seorang pahlawan dengan sebuah bahtera nyaris universal dalam khazanah literatur tradisional dunia. Kisah air bah (global), yang tujuan intinya adalah kelemahan kondisi manusia dan ketidakpastian rencana ilahiah, pasti akan ditonjolkan sebagai sebuah entri yang mengusik pikiran dalam Ensiklopedia Mars tentang Dunia Manusia mana pun. Temanya yang kaya telah mengilhami banyak pemikir, penulis, dan pelukis, topiknya berkembang jauh melampaui batas-batas kitab suci dan kesakralan menjadi sebuah inspirasi bagi opera dan film modern, selain kesusastraan.
Banyak cendekiawan telah berusaha mengumpulkan semua spesimen dalam sebuah jaring penangkap kupu-kupu, untuk menjepit mereka, dan menandai mereka sesuai famili, genus, dan spesiesnya. Kisah-kisah Air Bah dalam pengertian yang
paling luas (yang kadang-kadang dibukukan di bawah Kisah- kisah Bencana, karena tidak semua bencana berupa air bah) telah didokumentasikan di Mesopotamia, Mesir, Yunani, Syria, Eropa, India, Asia Timur, New Guinea, Amerika Tengah, Amerika Utara, Melanesia, Mikronesia, Australia, dan Amerika Selatan.
Para cendekiawan yang telah menyumbangkan paling banyak hal dalam upaya ini telah menghasilkan jumlah yang bervariasi, sekitar tiga ratus, dan serangkaian terbitan akan memungkinkan penggemar untuk mencicipi kisah-kisah itu secara melimpah.
Beberapa dari kisah-kisah ini mengurangi segalanya hingga menjadi beberapa kalimat saja, yang lain mengembangkannya menjadi karya tulis yang kuat dan dramatis, dan mengamati mereka membangkitkan kesan bahwa budaya apa pun yang tidak dapat mengolah bentuk tertentu dari kisah air bah adalah budaya yang minoritas.
Pengumpulan dan perbandingan tradisi selalu menakjubkan, dan penciptaan dan pemangkasan sebuah silsilah kisah-kisah air bah barangkali sama-sama memikat seperti proyek sejenis lainnya. Namun, keanekaragaman yang luas dan menyeluruh itulah yang lebih penting daripada kesamaan fundamental apa pun. Lagi pula, kekuatan alam, termasuk sungai-sungai, hujan dan laut (juga gempa bumi, angin puting beliung, kebakaran, dan gunung berapi), tidak dapat dihindari manusia ketika semua itu terjadi dan mungkin mendasari banyak narasi tradisional, meskipun dalam air bah mana pun, betapapun merusaknya, beberapa individu tertentu selalu berhasil selamat, biasanya mereka yang menggunakan perahu. Tidak perlu bersusah payah mencari sebuah jaringan rumit terkait asal usul, penyebaran, dan keterkaitan pada skala terluas. Orang juga pasti selalu memperhitungkan, dengan aliran ‘alamiah’ kisah-kisah yang belum tercemar karena terganggu atau terpengaruh dengan suatu cara yang khusus pada suatu momen yang khusus pula, seperti melalui pengajaran Alkitab oleh para misionaris.
Akan tetapi, contoh penting dari sudut pandang kolektor me- wakili sebuah kasus yang unik, di mana pengaruh dan penyebaran tidak dapat disanggah lagi dan telah menjadi kepentingan global
terbesar. Kisah Nuh, yang ikonis dalam Kitab Kejadian, dan sebagai konsekuensinya, sebuah motif penting dalam Yahudi, Kristen, dan Islam, mengundang perhatian besar para penulis mitologi komparatif. Dalam ketiga kitab suci, Air Bah datang sebagai hukuman atas kesalahan yang dilakukan manusia, bagian dari sebuah resolusi ‘hentikan-takdir-ini-dan-mulai-dari-awal-lagi’
yang mengatur hubungan ilahiah dengan dunia manusia. Ada suatu rangkaian Air Bah yang langsung dan tidak diragukan lagi dari Perjanjian Lama Ibrani ke Perjanjian Baru Yunani di satu sisi dan al-Quran Arab di sisi yang lain. Sejak penemuan- penemuan George Smith pada era Victoria, sudah dipahami bahwa catatan Ibrani berasal, pada gilirannya, dari kuneiform Babilonia, yang jauh lebih tua, jauh lebih panjang, dan pasti asli yang meluncurkan kisah itu pada perjalanannya yang abadi.
Buku ini fokus pada tahap pertama dari proses ini, dengan mengamati berbagai kisah Mesopotamia yang lestari pada tablet- tablet kuneiform, dan menyelidiki bagaimana akhirnya kisah itu memasuki dunia kita sendiri dengan begitu efektif.
Pendekatan semacam itu memberikan hak kepada peneliti untuk menghindari sepenuhnya pertanyaan tentang apakah memang ‘pernah ada sebuah bencana Air Bah.’ Namun, orang- orang sudah lama gelisah dengan pertanyaan itu, dan telah mencari bukti-bukti untuk mendukung kisah tersebut, dan saya membayangkan semua arkeolog hebat Mesopotamia telah menyimpan kisah Air bah itu di dalam ingatan mereka, untuk berjaga-jaga. Pada tahun 1928 dan 1929 penemuan-penemuan penting terjadi di Irak yang dianggap sebagai bukti adanya Air Bah seperti yang disebutkan dalam Alkitab itu sendiri. Di Ur, misalnya, penggalian secara mendalam di bawah Royal Cemetery (Pemakaman Raja), menyingkap adanya lebih dari tiga meter lumpur kosong, yang di bawahnya material-material dari permukiman sebelumnya terungkap. Sebuah penemuan yang sama dan nyaris terjadi pada waktu yang bersamaan dihasilkan oleh Langdon dan Watelin di situs Kish di selatang Irak. Bagi kedua kelompok itu tampaknya tidak terbantahkan lagi inilah bukti terhadap lebih dari sekadar banjir kuno, tetapi Banjir seperti
yang disebutkan dalam Alkitab itu sendiri, dan ceramah fasih Sir Leonard Wooley di sekeliling negeri itu, yang didukung oleh karya tulisnya dalam berbagai bidang, tentu saja mendukung gagasan bahwa di Ur mereka telah menemukan bukti bahwa Air Bah Nuh benar-benar pernah terjadi.
Endapan yang sama ditemukan di situs-situs arkeologis lainnya, tetapi ketika itu keraguan muncul apakah semua lapisan kosong itu secara arkeologis benar-benar dari masa yang sama, atau apakah semua itu benar-benar endapan air. Dewasa ini, calon bukti yang nyata semacam in tidaklah penting. Tentu saja lapisan lumpur kosong menegaskan bahwa tempat tinggal manusia di Irak kuno hancur oleh bencana banjir yang merusak, dan dalam pengertian latar belakang umum, penemuan-penemuan seperti itu banyak berarti untuk meningkatkan penghargaan kita terhadap lingkup di mana Mesopotamia kuno, sebenarnya, rentan dalam hal ini. Namun beberapa orang hari ini akan mengklaim penemuan-penemuan seperti itu berhubungan dengan Air bah yang dijelaskan dalam Kitab Kejadian. Sir Leonard, tampaknya, hampir tidak dapat ditandingi sebagai seorang pembicara persuasif begitu dia membicarakan tentang Ur; Lambert mengatakan kepada saya pada suatu momen pengakuan yang langka bahwa pada saat dia masih sebagai anak sekolah yang duduk di tepi bangku nya di sebuah bioskop di Birmingham, mendengarkan Wooley memberikan ceramah tentang penemuan-penemuan, pada saat itulah dia memutuskan untuk menjadi ahli kajian Assyria kuno sepanjang hidupnya.
Pada masa kini perburuan terhadap lapisan-lapisan banjir arkeologis demi kepentingan mereka sendiri sudah ketinggalan zaman, sementara lebih jauh lagi penemuan-penemuan semacam itu tergantung pada bukti yang hanya dapat diperoleh dari penggalian yang sangat dalam dan luas yang sangat tidak praktis pada masa kini. Pada masa yang lebih modern, para cendekiawan telah beralih pada penelitian geologis dibanding arkeologis, dengan mencari data tentang gempa bumi, pasang surut gelombang, atau pencairan gletser dalam memburu Air Bah pada sebuah tahap yang memusingkan, tetapi itu jauh di
KISAH AIR BAH DI MESOPOTAMIA
Secara psikologis tidaklah mengherankan bahwa sebuah mitos air bah harus ditanamkan secara mendalam dalam jiwa orang-orang Mesopotamia, karena hal itu berasal dari dan mencerminkan lanskap negeri mereka sendiri. Ketergantungan mereka terhadap Sungai Tigris dan Eufrat bersifat mutlak dan tidak mungkin dihindari, tetapi kehampaan langit yang mengagumkan di atas mereka, datangnya badai secara tiba-tiba, dan kekuatan nyata dari dewa-dewa kuno seperti dewa Matahari, Bulan, dan dewa Badai berarti bahwa orang-orang paling maju sekalipun tidak pernah jauh dari kenyataan kekuatan alam. Air bah, sebuah kekuatan tak terbendung yang dapat menyapu peradaban di hadapan nya seperti sebuah tsunami modern, pasti bukanlah hantu yang aman dan menyenangkan yang digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil, tetapi sesuatu yang mengabadikan ingatan jauh tentang sebuah bencana atau beberapa bencana sungguhan. Mungkin versi tertentu dari kisah itu telah diceritakan selama beribu-ribu tahun.
Secara budaya Air Bah berguna sebagai sebuah cakrawala masa, yang mengatur peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sebelumnya atau sesudahnya. Orang-orang Bijak Besar hidup
‘sebelum Air Bah’, dan semua elemen peradaban dianugerahkan kepada orang-orang setelah itu. Adakalanya dalam literatur kuneiform muncul frasa, ‘Sebelum Air Bah’, yang terkesan klise, mengingatkan orang meskipun begitu samar akan ungkapan
‘Sebelum Perang Besar …’
Banjir secara universal ditujukan sebagai semacam pendekatan
‘sapu baru’ yang efisien yang akan memungkinkan dewa-dewa untuk mulai menciptakan kembali bentuk-bentuk kehidupan yang lebih baik setelahnya di sebuah dunia yang bersih dan kosong.
Dewa Enki (pandai, jenaka, pemberontak) ngeri dengan usulan itu dan tampaknya sendirian dalam mengantisipasi akibatnya, jadi dia memilih seorang manusia yang cocok untuk menyelamatkan umat manusia dan makhluk yang lain. Kisah Air Bah dengan demikian merupakan bahan dalam literatur lisan. Tema intinya memengaruhi semua orang dan semua yang mendengarkan.
Semua laki-laki dan perempuan tahu bahwa, jika dewa-dewa begitu berkehendak, mereka semua bisa celaka; dan bahwa terhentinya aliran air sungai Eufrat dan Tigris yang memberi kehidupan akan menjadi kehancuran bagi mereka jika sampai hal itu terjadi, atau jika sungai-sungai itu meluap menjadi banjir bandang yang melanda segalanya. Kisah Air Bah penuh dengan drama menakutkan, perjuangan manusia dan, pada saat terakhir, penyelamatan diri ala Hollywood.
Banyak kisah dari Mesopotamia, dalam bahasa Sumeria atau Akkadia, mengandung petunjuk bahwa mereka berasal dari masa yang lebih kuno sebelum komposisi-komposisi semacam itu dituliskan. Pengulangan bagian-bagian yang penting, misalnya, membuat kisah yang panjang menjadi lebih mudah diingat dan memberikan keakraban pada para pendengar yang mungkin saja datang ‘bergabung’ pada bagian-bagian tertentu, seperti yang dilakukan anak-anak kecil ketika sebuah buku favorit dibacakan dan dibacakan lagi. Tak lama ketika penulisan mencapai tahap pencatatan bahasa secara lengkap, pada awal milenium ketiga SM, kita melihat bahwa kisah-kisah tentang dewa-dewa mulai dituliskan.
Tablet-tablet tanah liat awal sekali yang berasal dari Irak selatan berisi literatur naratif yang menampilkan dewa-dewa, meskipun secara luas contoh-contoh pertama ini masih menantang untuk diterjemahan. Kisah Air Bah, sebaliknya, tampaknya tidak berhasil
‘dicetak’ pada masa awal itu. Tablet-tablet paling awal yang berisi bagian mana pun dari kisah itu muncul pada milenium kedua SM, seribu tahun atau lebih setelah pengalaman pertama penulisan di atas tanah liat. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana para pendongeng Sumeria atau Babilonia mungkin saja mengarang kisah-kisah Banjir Besar dalam kurun waktu itu, karena hal itu pastinya sudah lama menjadi sebuah bahan pokok bagi keahlian mereka. Namun, pada awal milenium kedua, ketika kisah itu mulai muncul dalam bentuk tulisan, kita tidak hanya memiliki satu Kisah Air Bah Mesopotamia, tetapi komposisi- komposisi yang terpisah di mana Kisah Air Bah merupakan komponen pusatnya. Hal ini dengan sendiri merupakan sebuah
indikasi terhadap kekunoan kisah itu, karena kekuatan dan drama dari narasi air bah itu tidak lekang, menyibukkan para penyair dan pendongeng selama budaya Mesopotamia masih bertahan, jikapun tidak melampauinya.
Kisah Air Bah Mesopotamia muncul ke permukaan dalam tiga wujud kuneiform yang berbeda, satu dalam bahasa Sumeria dan yang lainnya dalam bahasa Akkadia. Ini adalah Kisah Air Bah Sumeria, dan bagian-bagian narasi utama dalam Epos Atrahasis dan Epos Gilgamesh secara berturut-turut. Setiap wujud memiliki pahlawan air bahnya sendiri. Ini berarti tidak sepenuhnya sesuai untuk membicarakan tentang sebuah ‘Kisah Air Bah Mesopotamia’ saja, karena ada perbedaan-perbedaan penting di antara mereka, meskipun inti dari ketiga kisah itu sama. Di dalam tiga tradisi ini, versi-versi yang berbeda dari teks kisah air bah itu beredar, beberapa sangat berbeda, di mana format, jumlah kolom penulisan, atau bahkan unsur plotnya bisa beragam, juga bahasanya. Apa yang kita sebut Epos Atrahasis tidak syak lagi memang populer, muncul dalam banyak format, tidak pernah benar-benar ‘dikanonkan’, sedangkan Epos Gilgamesh, akhirnya ditetapkan menjadi sebuah format tertulis yang disepakati. Tablet-tablet Gilgamesh dari milenium pertama dengan Kisah Air Bah dari Perpustakaan Kerajaan di Nineveh benar-benar merupakan salinan dari satu sama lain yang secara harfiah menceritakan kisah yang sama. Tidak ada versi Atrahasis dari Kisah Air Bah Mesopotamia sejauh ini dari milenium pertama SM. Kita memerlukannya.
Tablet-tablet Kisah Air Bah tersebar ke dalam periode waktu yang luas berikut ini:
Babilonia Kuno 1900–1600 SM Babilonia Madya 1600–1200 SM Assyria Akhir 800–600 SM Babilonia Akhir 600–500 SM
Inilah sembilan tablet yang dikenal yang menyumbang gambaran kita tentang kisah air bah Mesopotamia dan membantu kita
dalam memahami dan menghargai Tablet Bahtera yang baru ditemukan.
KISAH AIR BAH SUMERIA
‘SUMERIA BABILONIA KUNO’
Catatan Sumeria tentang Air Bah tersebut ditemukan dalam sebuah tablet kuneiform yang sepantasnya terkenal di University Museum di Philadelphia. Dulunya tablet itu memiliki tiga kolom tulisan pada masing-masing sisinya, tetapi kira-kira dua pertiga bagiannya hilang sama sekali sehingga pemahaman kami terhadap keseluruhannya tetap tidak meyakinkan. Kisah itu dituliskan kira-kira pada 1600 SM di kota Nippur, Sumeria, sebuah kota penting pusat keagamaan dan kebudayaan tempat banyak tablet karya sastra telah digali dari dalam tanah.
Tablet Kisah Air Bah Sumeria dari Philadelphia.
Meskipun kisah ini sampai di tangan kita dalam bahasa Sumeria ada ciri-ciri utama dalam pemilihan katanya—seperti bentuk-
bentuk kata kerja yang ganjil—yang membuat penerjemahnya, Miguel Civil, menyimpulkan bahwa tema Air Bah yang meng- hancurkan umat manusia mungkin tidak termasuk bagian utama dalam tradisi kesusastraan Sumeria. Meskipun catatan Kisah Air Bah Sumeria ini tampak seolah-olah berasal dari sebuah catatan Babilonia, sumbernya pastilah sebuah versi yang belum pernah kita lihat, dan layak ditunjukkan bahwa kisah yang berbeda dalam versi Sumeria, yang tidak kita ketahui, mungkin saja juga beredar.
Dalam tablet ini, dewa-dewa besar, lama setelah pendirian kota-kota itu, memutuskan untuk menghancurkan ras manusia (meskipun kita tidak tahu alasannya), meskipun ada permohonan dari dewi pencipta, Nintur. Tugas membuat perahu dan menyelamatkan kehidupan jatuh pada Raja Ziusudra, yang berhasil dilakukannya, sehingga dia sepatutnya menjadi abadi:
Lalu, karena Raja Ziusudra
Telah menyelamatkan binatang-binatang dan benih umat manusia,
Mereka menempatkannya di sebuah negeri di seberang laut, di negeri Dilmun.
Tempat matahari terbit.
Kisah Air Bah Sumeria: 258–260
‘SUMERIA SCHØYEN’
Tablet Kisah Air Bah Sumeria sudah lama menjadi satu-satunya, tetapi kemudian bagian kedua ditemukan di Schøyen Collection di Norwegia. Tablet ini memberi tahu kita bahwa Raja Ziusudra, yang disebut sebagai ‘Sudra’, adalah seorang pendeta-gudu dari dewa Enki. Pahlawan Ziusudra dengan demikian seorang raja sekaligus pendeta, sebuah penunjukan bersama yang mungkin sering terjadi pada masa-masa awal. Instructions of Shuruppak, yang sudah disebutkan dalam Bab 3, menganggap ayah Ziusudra adalah sosok yang disebut Shuruppak, memberikan sebuah silsilah yang tampak meyakinkan:
Shuruppak, putra dari Ubar-Tutu
Memberi nasihat kepada Ziusudra, putranya.
Shuruppak sebenarnya adalah sebuah kota Sumeria. Daftar Raja Sumeria yang sangat penting, yang mencatat raja-raja dan masa kekuasaan sebelum dan sesudah Air Bah, memberi tahu kita bahwa Ubar-Tutu adalah raja di kota Shuruppak selama 18.600 tahun dan merupakan raja terakhir yang memerintah sebelum Air Bah, tetapi tidak menyebutkan Shuruppak—yang sebaliknya dikenal sebagai seorang laki-laki bijak dan kadang- kadang disebut sebagai ‘Laki-laki dari Shuruppak’—maupun Ziusudra! Namun, dalam dokumen lainnya yang disebut Dynastic Chronicle (Sejarah Dinasti), Ubar-Tutu digantikan oleh putranya Ziusudra sebelum terjadi Air Bah, dengan demikian menegaskan bahwa dialah pahlawan yang mengalami Air Bah Besar tersebut. Ini masalah yang cukup besar, tetapi saya rasa kita bisa memaafkan para pencatat sejarah hebat kita karena bingung tentang tanggal-tanggal dan silsilah raja-raja yang hidup sebelum Air Bah, meskipun, menurut kesaksian Yunani, teks-teks kuneiform penting telah dikuburkan sebelum Air Bah untuk pengamanan.
Nama Ziusudra sangat cocok untuk seorang pahlawan air bah yang abadi, karena dalam bahasa Sumeria nama itu berarti sesuatu seperti Dia-yang-Panjang-Umur. Nama dari pahlawan banjir yang sama dalam Epos Gilgamesh adalah Utnapishti, yang kurang lebih artinya sama. Kenyataannya, kita tidak yakin apakah nama Babilonia itu merupakan terjemahan dari bahasa Sumeria atau sebaliknya.
Epos Atrahasis dari Akkadia
‘ATRAHASIS BABILONIA KUNO’
Epos Atrahasis adalah karya sastra dalam bentuk tiga tablet yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun, karena merupakan salah satu dari karya paling penting dari kesusastraan Mesopotamia dan berkutat dengan permasalahan abadi umat manusia. Kisah
Air Bah dan Bahtera yang dikenal hanyalah bagian dari sebuah narasi yang jauh lebih luas. Kisah itu secara keseluruhan akan bisa menjadi, saya berani katakan, sebuah opera yang luar biasa.
Tirai tersingkap di sebuah dunia yang asing. Manusia belum lah diciptakan, dan dewa-dewa muda harus melakukan segala pekerjaan yang diperlukan. Mereka menggerutu dan memberontak, dan pada akhirnya membakar perkakas kerja mereka. Keluhan mereka bukan tanpa alasan; dewa-dewa senior akan mempertimbahkan penciptaan manusia, Lullû, untuk melakukan pekerjaan itu. Dewi kelahiran Mami, yang juga dikenal sebagai Nintu dan Bēlet-ilī, dipanggil, tetapi dia menyatakan bahwa dia tidak dapat menciptakan makhluk itu sendirian. Maka dewa Enki mengumumkan kepada semuanya bahwa rekan mereka dewa We-ilu akan dipenggal dan manusia pun tercipta (lihat kutipan dalam Lampiran 1). Umat manusia sekarang melakukan pekerjaan untuk para dewa, tetapi pada saat yang sama, berkembang biak dengan bersemangat tanpa tunduk pada kematian. Dalam kelimpahan jumlah mereka manusia menjadi sangat berisik. Sebagaimana yang dikatakan Enlil kepada teman-teman sesama dewanya:
“Kebisingan umat manusia sudah menjadi terlalu tajam bagiku,
Dengan hiruk-pikuk mereka aku tidak bisa tidur.”
Kegaduhan yang mengerikan itu menuntut adanya suatu wabah yang melenyapkan seluruh umat manusia. Ea (Enki dalam Sumeria), salah satu dari dewa senior yang bertanggung jawab atas penciptaan manusia, menghalangi rencana ini. Keputusasaan Enlil memuncak dan kali ini dia memutuskan untuk memusnahkan umat manusia dengan kelaparan, jadi dia menahan hujan. Sekali lagi, Ea-lah yang campur tangan dan menurunkan hujan lagi dan mengembalikan kehidupan. Rencana ketiga Enlil adalah mengirimkan air bah pemusnah sekali untuk selamanya, dan untuk menghindari bencana inilah Ea memerintahkan Atra-hasīs untuk membuat bahteranya guna menyelamatkan kehidupan
manusia dan binatang. Dewa-dewa, pada akhirnya, merasa senang atas campur tangan Ea. Anggota keluarga Atra-hasīs dijadikan abadi dan kehidupan umat manusia diizinkan untuk berlanjut, meskipun kini ditambahkanlah kematian, dan kemandulan, para pendeta selibat dan kematian saat lahir diadakan untuk pertama kalinya demi menjaga jumlah manusia.
Bagi pemikiran kita, peredam kebisingan sebagai pembenaran untuk pemusnahan total kehidupan tampaknya agak berlebihan.
Namun, tidak dapat diragukan lagi bahwa inilah alasannya:
keributan manusia yang bergolak telah mencapai batas yang tidak dapat dimaklumi. Kejengkelan Enlil dalam Atrahasis selalu membuat saya berpikir tentang orang tua di atas kursi lipat seusai makan siang di pantai yang merasa terganggu oleh anak- anak dan radio orang lain; ini jauh dari sudut pandang moral dalam Perjanjian Lama. Beberapa ahli kajian Assyria kuno telah berpendapat, secara tidak meyakinkan, bahwa kata kunci dalam Babilonia, rigmu, ‘kebisingan’, dalam hal ini mungkin saja sebuah eufemisme untuk perilaku buruk, tetapi masalah sebenarnya yang sedang dipertaruhkan adalah kelebihan jumlah manusia.
Kebisingan adalah hasil dari kelebihan jumlah manusia dan Air Bah adalah sebuah obat untuk sebuah keadaan dunia kuno di mana tidak ada satu pun populasi yang harus mati. Namun, Enlil bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya: ada mantra-mantra kuneiform untuk meredam seorang bayi rewel yang rigmu atau ‘kebisingan’-nya mengganggu dewa-dewa penting di langit hingga pada titik yang dapat dikendalikan.
Kisah Air Bah, oleh karena itu, berkaitan erat dengan Atrahasis sebagai satu episode dalam sebuah rangkaian yang terstruktur.
Pahlawan kisah itu adalah Atra-hasīs sendiri, yang namanya berarti Teramat Bijaksana.
Tablet-Tablet Kisah Air Bah dari Epos Atrahasis
Salinan paling terkenal dari seluruh Epos Atrahasis dalam bahasa Akkadia ditulis oleh seorang juru tulis bernama Ipiq-Aya, yang tinggal dan bekerja di kota Sippar di selatan Mesopotamia pada abad ke-17 SM. Ahli kajian Assyria Frans van Koppen tidak