BAB I LATAR BELAKANG
BAB 5 PERAN ULAMA DALAM PERLINDUNGAN HUTAN
5.2 Peran Ulama dalam Melindungi Hutan Tropis
5.2.1 Peran Ulama terkait Aspek Substansi Ajaran Agama
5.2.1.3 Merevitalisasi pemahaman ajaran agama bahwa
ukhrawi.
Hal ini merupakan implementasi pemahaman terhadap firman Allah Taala:
اَيْن ُّدلا َن ِم َكَبْي ِصَن َسْنَت َلاَو َة َر ِخٰ ْلاا َرا َّدلا ُ ّٰللا َكىٰتٰا ٓا َمْيىِف ِغَتْباَو َّنِاۗ ِضْرَ ْلاا ِف� َدا َسَفْلا ِغْبَت َلاَو َكْيَلِا ُّٰللا َن َسْحَا ٓاَ َك ْن ِسْحَاَو َف ْي� ِد ِسْفُ ْلما ُّب ُِي� َلا َ ّٰللا.
”Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS.Al-Qashash [28]:77) 5.2.1.4 Menegaskan keutuhan pemahaman ajaran Islam mencakup
hablum minallah dan hablum minannas, termasuk pula hablum minal ‘âlam (hubungan baik dengan lingungan).
Agama Islam bersifat komprehensif, tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama makhluk (termasuk lingkungan hidupnya), yang menjadi landasan bagi pengelolaan lingkungan hidup.
”Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-An’am [6]: 165) 5.2.1.6.5 Kerusakan yang terjadi di muka bumi oleh karena ulah
tangan manusia
ٍۗ ْي�ِثَك ْنَع اْوُفْعَي َو ْ ُكْي ِدْيَا ْتَب َسَك اَمِبىَف ٍةَبْي ِصُّم ْن ِّم ْ ُكَبا َصَا ٓاَمَو.
Artinya: "”Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-
kesalahanmu).” (QS.Asy-Syûrâ [42]: 30) 5.2.1.6.6 Larangan melakukan kerusakan di muka bumi.
َّنِا ۗاًعَمَطَّو اًفْو َخ ُهْوُعْداَو اَ ِح َل ْصِا َدْعَب ِضْرَ ْلاا ِف� اْو ُد ِسْفُت َلاَو
َف ْي�ِن ِس ْحُ ْلما َنِّم ٌبْي ِرَق ِ ّٰللا َتَ ْحمَر
”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.
Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS.Al-A‘râf [7]:56) Begitu juga Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua untuk tidak melakukan hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun pihak lain, dalam sabdanya:
َرا َ ِف� َلاَو ر َ َف� َلا.
“Jangan berbuat hal yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR.
Ahmad) Melalui sabdanya beliau menyatakan larangan untuk untuk tidak berbuat hal dapat merugikan atau membahaya diri sendiri dan orang lain, 5.2.1.6.3 Alam semesta merupakan anugerah Allah SWT untuk
manusia.
َغَب ْسَاَو ِضْرَ ْلاا ِف� اَمَو ِتٰوٰم َّسلا ِف� اَّم ْ ُكَل َرَّف َ� َ ّٰللا َّنَا اْوََق� ْ َلَا
ِ ْي� َغِب ِ ّٰللا ِف� ُلِداَبُّي� ْنَم ِساَّنلا َنِمَوۗ ًةَنِط َب� َّو ًةَرِهاَظ ٗهَمَعِن ْ ُكْيَلَع
ٍ ْي�ِن ُّم ٍبٰتِك َلاَّو ى ًدُه َلاَّو ٍْلمِع.
”Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS.Luqmân [31]: 20)
ًءۤا َم ِءۤاَم َّسلا َن ِم َلَف ْف�َاَو َضْرَ ْلااَو ِتٰوٰم َّسلا َقَل َخ ْي ِذَّلا ُ ّٰللَا
ِف� َيِر ْجَتِل َكْلُفْلا ُ ُكَل َرَّف َ�َوۚ ْ ُكَّل اًقْزِر ِتٰرَمَّثلا َنِم ٖهِب َجَر ْخَاَف
َرٰ ْف�َ ْلاا ُ ُكَل َر َّف َ�َوۚ ٖه ِرْمَ ِب� ِر ْحَبْلا.
”Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah- buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai- sungai bagimu.” (QS.Ibrahim [14]: 32) 5.2.1.6.4 Manusia adalah khalifah untuk menjaga kemakmuran
lingkungan hidup.
ٍض ْعَب َقْوَف ْ ُكَضْعَب َعَفَرَو ِضْرَأ ْلاٱ َفِئَٰٓل َخ ْ ُكَلَع َج ى ِذَّلٱ َوُهَو ۥُهَّنِإ َو ِباَق ِع ْلٱ ُعي ِ َ� َكَّب َر َّنِإ ْ ُكٰىَتاَء ٓاَم ِف� ْ ُكَوُلْبَيِّل ٍت َٰجَرَد
ٌ ي� ِحَّر ٌروُفَغَل.
”Apa yang dimaksud dengan air dalam hal ini adalah mata air yang tidak ada pemiliknya, yang dimaksud padang rumput adalah tempat-tempat pengembalaan yang tidak ada pemilikanya, dan yang dimaksud dengan api adalah kayu dimana manusia mengumpulkannya kemudian memanfaatkannya”.
Sebagai milik bersama, maka apa yang tumbuh-kembang di hutan masuk ke dalam kategori al-mâl al-mubâh, sehingga setiap orang boleh mengambil manfaat darinya apabila itu berada dalam tanah yang tidak dimiliki oleh seseorang. Sungguhpun demikian, negara memiliki kewenangan untuk mengatur dan membatasi apa-apa yang boleh dimanfaatkan dari hutan tersebut dengan mengacu kepada prinsip kemaslahatan umum dan pelesatarian kekayaan hutan itu sendiri. Batasan dimaksud antara lain, larangan untuk menebang pepohonan yang tumbuh di hutan.
Dalam literatur fiqh dijelaskan:
ِ ْي� َغ ٍضْرَأ ي ِف� ْتَن َكا ْنِإ ِةَحاَبُ ْلما ِلاوْمَأ ْلاا َنِم َي َِف� ُما َجآلاا اَّمَأَو
،اَ ْف� ِم ُه ُجاَتْ َي� ا َم ُذ ْخَأَو ،اَ ْي�َلَع ِء َليِت ْسِْلاا ُّقَح ٍد ِحاَو ُِّكِلَف .ٍةَكوُلَْم
ٍء ْي َش� َلىَع ٌصْف َش� َلْوَت ْسا اَذِإَو ،اَْف�ِم ِساَّنلا ُعْنَم ٍدَحَأِلا َسْيَلَو
ِع ْطَق ِع ْن َ َب� ِحاَبُ ْلما ُديِيْقَت ِقَلهْو َّدلِل ْنِكَل .َُله ًكاِلَم َراَص ُهَزَرْح َ
أَو اَ ْف� ِم
ِةَّي ِر َج َّشلا ِةَوْ َّش�لا َلىَع ءًاَقبِإَو ،ِةَّماَعْلا ِة ِحَل ْصَْلِل ًةَياَعِر ،ِراَب ْش�َأ ْلاا
ِة َديِف ُ ْلما.
“Adapun pepohonan-pepohan yang lebat yang tumbuh di hutan adalah termasuk dari harta mubah jika berada di kawasan yang tidak dimiliki. Maka setiap orang memilik hak untuk menguasai dan mengambil apa yang mereka butuhkan dari rimba tersebut, tidak boleh ada seorang pun melarangnya. Dan apabila seseorang menguasai sesuatu dari rimba tersebut dan merawatnya maka sesuatu itu menjadi miliknya. Akan tetapi negara boleh membatasi hal yang mubah misalnya dengan melarang untuk menebang pohonnya dengan alasan untuk menjaga kemaslahatan umum dan melesatarikan kekayaan rimba yang bermafaat”.
termasuk larangan merusak atau mengeksploitasi hutan secara berlebihan , melakukan kegiatan ilegal loging, dan mencemari lingkungan.
5.2.1.6.7 Penegasan kepemilikan publik terhadap padang rumput, air dan api (energi)
Manusia memerlukan hutan untuk menopang keberlangsungan hidupnya. Untuk itulah, Islam memberikan status kepemilikan hutan itu menjadi menjadi milik bersama (al-milkiyyah al-‘ammah). Kepemilikan bersama ini seperti kepemilikan terhadap air, padang rumput dan api, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa manusia itu berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api. Dalam hadis Nabi SAW disabdakan:
ِراَّنلاَو ، ِ أ َ َكلاْلاَو ِءاَ ْلما : ٍث َلَث ي ِف� ُء َكاَ ُش� ُساَّنلَا.
“Manusia itu berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api”. (HR.
Ahmad dan Abu Dawud) Dalam mengomentari hadis tersebut, Habîb al-Mâwardî al-Bashrî (364-450 H/974-1058 M), dalam kitabnya al-Hâwî al-Kabîr, dan Ibn Atsîr al-Jazrî (w. 606 H) dalam kitabnya Jâmi‘ al-Usûl fî Ahâd al-Rasûl Shallallâhu
‘alihi wasallam, menjelaskan bahwa: yang dimaksud air adalah air hujan dan berbagai sumber air yang tidak bertuan, yang dimaksud dengan rumput adalah tempat-tempat pengembalaan yang tidak bertuan, dan yang dimaksud dengan api adalah kayu dimana orang mengumpulkan kemudian memanfaatkanya. Dalam kitab Habîb al-Mâwardî al-Bashrî tersebut, ia menjelaskan:
َدا َرأَو ،اَ َل َكِلاَم َلا ي ِق�َّلَا ِنوُيُعْلاَو ،ِءاَم َّسلا ِءاَم : ِءاَ ْلم ِب� َداَر َ : ِراَّنل ِب� َدا َر َ أ
أَو ، ٌد َح َ
أ اَ ُكِل ْ َي� َلا ي ِق� َّلَا َف ي� ِضْرَأ ْلاا ي ِعارَم : ِأََكلاْل ِب�
ِهِب َنْوُعِفَتْنَيَف ، ُساَّنلا ُهُبِطَتْ َي� ي ِذَّلَا ُر َج َّشلَا.
Terdapat hadits khusus mengenai anjuran wakaf ini, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:
ْوَأ ٍةَي ِرا َج ٍةَق َد َص : ٍث َلَث ْن ِم َّلاِإ ُ ُلَ َع َعَطَقْنِا َمَد َ
أ ُف ْب�ا َتا َم ا َذِإ
ٌ ِلم ْس ُمَو ُّيِرا َخُبْلا ُهاَو َر) ُ َله ْوُع ْدَي ٍ ِلحا َص ٍد َلَو ْوَأ ِهِب ُعَفَتْنُي ٍْلمِع)
”Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga macam: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan kepadanya.” (HR al-Bukhârî dan Muslim dari Abû Hurairah r.a.).
Hadits ini berisi tentang tiga amal manusia yang tidak akan terputus, yaitu shadaqah jariyah, dimaknai sebagai wakaf; ilmu yang bermanfaat, yakni mengajar (ta‘lîm) dan mengarang tulisan (tashnîf ), yang kedua ini (tulisan) lebih kuat karena lebih langgeng; dan anak saleh yang mendoakan ampunan (maghfirah).
5.2.1.6.7.2 Menegaskan bahwa wakaf bukan hanya wakaf benda tidak bergerak, seperti tanah, tetapi mencakup pula wakaf benda tidak bergerak, seperti wakaf tunai (uang).
Pada tahun 2002, Nahdlatul Ulama (NU), ormas keagamaan terbesar di Indonesia dan dunia, dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, juga membolehkan wakaf uang, dengan tata cara pemanfaatannya. Demikian juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai ”representasi” dari ormas-ormas keislaman di tanah air juga membolehkan wakaf uang, dengan tata cara pemanfaatannya.
Kita patut bersyukur, telah mempunyai peraturan perundang- undangan khusus mengenai wakaf, yaitu UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah (PP), yaitu PP No. 42 Tahun 2006. Undang- undang ini memerinci wakaf ada dua macam: wakaf benda bergerak dan wakaf benda tidak bergerak. Wakaf benda bergerak mencakup wakaf uang (wakaf tunai), logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan 5.2.1.6.7.1 Menegaskan urgensi pilantropi, di antaranya wakaf
untuk perlindungan hutan, bagi kemaslahatan masyarakat.
Ajaran wakaf telah diisyaratkan secara garis besar dalam Al-Qur’an, antara lain QS al-Baqarah ayat 44 dan 224, dan Âlî ‘Imrân ayat 92, sebagai berikut:
َلَفَا ۗ َبٰتِكْلا َنْوُلْتَت ْ ُق�ْنَاَو ْ ُك َسُفْنَا َنْو َسْنَتَو ِّ ِب�ْل ِب� َساَّنلا َنْوُرُمْأَق�َا َنْوُلِقْعَت.
”Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidaklah kamu mengerti?” (QS. al-Baqarah [2]:44);
َف ْي�َب اْو ُحِل ْصُتَو اْوُقَّتَتَو اْوُّ َب�َت ْنَا ْ ُكِناَ ْي�َ ِّلا ًة َضْرُع َ ّٰللا اوُلَعْبَق� َلاَو
ٌ ْي�ِلَع ٌعْي ِ َس ُ ّٰللاَو ِۗساَّنلا.
”Dan jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 224);
َّنِاَف ٍء ْي َش� ْنِم اْوُقِفْنُت اَمَوۗ َنْوُّبُِق� اَّ ِم اْوُقِفْنُت ّٰق�َح َّ ِب�ْلا اوُلاَنَت ْنَل
ٌ ْي�ِلَع ٖهِب َ ّٰللا.
”Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 92 Dua ayat pertama di atas menggunakan kata akar kata birr (kebajikan) atau kata kerja ”tabarrû” (berbuat kebajikan), dan ayat terakhir menggunakan akar kata infâq (”tunfiqû”, menginfakkan), semuanya merupakan padanan dari filantropi, mencakup arti infaq dan wakaf.
telah mengatur pengelolaan wakaf secara produktif untuk memajukan kesejahteraan umum. Sungguhpun demikian, pengelolaan wakaf uang tidak mudah, resikonya cukup tinggi. Maka, pengelolaan dan pengembangan wakaf uang harus dilakukan oleh nazhir (pengelola) yang profesional.
5.2.1.6.7.4 Merumuskan, meneguhkan, dan mensosialisasikan fatwa-fatwa atau pandangan keagamaan yang konsen pada perlindungan hutan.
Sebagai tanggung jawab kebangsaan dan keulamaan para ulama menganggap perlu untuk memberikan kontribusi optimal dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Untuk itu, para ulama bersama-sama dengan seluruh komponen bangsa, termasuk pemerintah, ilmuwan, dan lembaga swadaya masyarakat berikhtiar merumuskan kerangka kerja bersama untuk menetapkan dan menerapkan fatwa guna:
a. Mengembangkan pemahaman dan pengamalan umat muslim atas ajaran Islam dalam aspek perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam untuk mencapai kemaslahatan umat sesuai tujuan syariah.
b. Sosialisasi melalui seluruh jaringan ormas-ormas Islam yang membawahi ribuan dai dan tokoh masyarakat dari berbagai kelompok dan ormas Islam lainnya hingga kepelosok desa guna memberikan penjelasan dan pemahaman yang benar mengenai hukum normatif Islami terhadap beberapa masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
c. Melengkapi hukum positif yang ditetapkan pemerintah, dengan hukum normatif keagamaan sehingga dapat meningkatkan nilai, norma, etika dan akhlak yang lebih baik dan mengurangi pelanggaran terhadap kelestarian lingkungan hidup yang banyak dilakukan oleh pengambil kebijakan, pengusaha, pekerja ataupun sebagai masyarakat umum yang mayoritas umat muslim.
Badan Wakaf Indonesia (BWI), pada September 2019, telah merilis data bahwa potensi asset wakaf per tahun mencapai 2.000 triliun rupiah dengan luas tanah wakaf mencapai 420.000 hektare. Sementara potensi wakaf uang bisa menembus kisaran 188 triliun rupiah per tahun. Dari jumlah potensi wakaf tersebut yang terealisasi baru mencapai 400 miliar rupiah. Oleh karena itu, di era revolusi industri 4.0, semestinya wakaf produktif menjadi gerakan yang mampu membuat masyarakat lebih sadar mengenai pentingnya wakaf untuk percepatan pertumbuhan ekonomi, termasuk untuk perlindungan hutan.
5.2.1.6.7.3 Menegaskan bahwa penggunaan wakaf bukan hanya untuk ”3 M”, yakni makam, masjid, madrasah, tetapi lebih dari itu untuk kemaslahatan manusia, termasuk di dalamnya perlindungan hutan tropis.
Jelas Islam mensyariatkan lembaga wakaf untuk kemaslahatan umat manusia. Akan tetapi, di tanah air, wakaf masih dipandang sebagai ibadah yang identik dengan 3 M (makam, masjid dan madrasah). Padahal potensi wakaf di Indonesia sangat besar untuk pemerataan ekonomi.
Pandangan di atas tiada lain akibat minimnya literasi atau bacaan masyarakat terkait wakaf, termasuk di dalam materi-materi khutbah Jumat. Untuk itu, tema-tema wakaf, khususnya wakaf uang dalam tinjauan hukum agama dan peraturan perundang-undangan, perlu disampaikan dalam kegiatan keagamaan, seperti dalam khutbah Jumat dan ceramah- ceramah keagamaan.
Tata cara pemanfaatan wakaf uang dilakukan dengan menjaga dan melestarikan nilainya, seperti investasi melalui mudharabah (sistem bagi hasil) dan semisalnya. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga. Dan wakaf uang ini hanya boleh disalurkan serta digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syara’. Landasan hukum yang digunakan oleh NU dan MUI tersebut di antaranya keterangan dalam beberapa kitab fiqh. UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf juga
Adapun pandangan keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) yang terkait dengan persoalan alam dan lingkungan hidup, bisa dilihat pada beberapa hasil keputusan Muktamar dan Munas Alim Ulama NU, dan penerbitan buku, di antaranya sebagai berikut:
a. Keputusan Muktamar NU Ke-29 di Cipasung-Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1994 tentang Pandangan dan Tanggung Jawab NU terhadap Lingkungan Hidup;
b. Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas Alim Ulama NU) Tahun 2012 di Cirebon, Jawa Barat mengenai Pengelolaan Kekayaan Negara dan Terkait Perundang-undangan, antara lain: UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi; UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara; UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
c. Keputusan Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Asrama Haji Sukolilo Surabaya tahun 2006 tentang Daur Ulang Air Mutanajjis.
d. Keputusan Muktamar NU Ke-33 di Jombang tahun 2015 tentang Hukum Eksploitasi Alam Secara Berlebihan dan Hukum Alih Fungsi Lahan;
e. Keputusan Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Banjar Patroman Jawa Barat tahun 2019 tentang Bahaya Sampah Plastik dan Perusahan Air Minum dalam Kemasan yang Menyebabkan Sumur Warga Kering.
5.3. Peran Ulama terkait Aspek Pendidikan yang Berkaitan dengan Pelaksanaan Ajaran Agama untuk Perlindungan Hutan Tropis
Peran ulama terkait aspek pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama untuk perlindungan hutan tropis sangat penting. Dalam hal ini, peran ulama yang dilakukan adalah dengan d. Menjadikan salah satu sarana meningkatkan peran masyarakat
melalui pengawasan sosial.
e. Menyadarkan para pemangku kebijakan dan masyarakat umum akan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat atas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Ada enam fatwa (tiga fatwa terkait langsung dengan hutan) dan satu keputusan yang telah ditetapkan MUI yang memberikan landasan pada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa muslim adalah bagian dari komunitas dunia yang menaruh perhatian mengenai perlindungan lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam. Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita juga peduli dan berkontribusi pada Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Itu tidak boleh dilakukan sekelompok orang saja, tetapi muslim di negara Indonesia ini yang merupakan mayoritas wajib berpartisipasi dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.
Fatwa-fatwa MUI dimaksud sebagai berikut:
a. Fatwa MUI No. 30 Tahun 2016 tentang Hukum Pembakaran Hutan dan Lahan Serta Pengendaliannya;
b. Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangn Ekosistem;
c. Fatwa MUI No. 22 Tahun 2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan;
d. Fatwa MUI No. 47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan;
e. Fatwa 1/MUNAS-IX/MUI/2015 tentang Pendayagunaan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf untuk Pembangunan Sarana Air &
Sanitasi Masyarakat;
f. Keputusan Komisi B Ijtima’ Ulama Komisi fatwa Se-Indonesia II Tahun 2006 tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam;
g. Fatwa MUI No. 2 Tahun 2010 tentang Air Daur Ulang.
ditambahkan ke lansekap risiko kawasan, kerugian ekonomi tahunan empat kali lipat dengan kerugian rata-rata tahunan sekitra $675 miliar, di mana $405 miliar atau 60 persen diantaranya merupakan kerugian pertanian terkait kekeringan, terutama di ekonomi pedesaan.
Bentang risiko baru diperparah dengan kompleksitas bencana yang lebih besar. Laporan tersebut di atas menunjukkan bagaimana bencana dalam dua tahun terakhir melebihi dari yang sebelumnya dialami kawasan, dalam aspek probabilitas, intensitas, dan perilaku. Dalam hal ini, diidentifikasi empat hal yang menjadikan pendorong konvergensi risiko, yaitu konsentrasi tinggi kaum miskin yang terpapar pada lingkungan yang rapuh, banyaknya bencana, kerugian bencana yang besar dan kerentanan pengurangan kemiskinan.
World Economic Forum dalam The Global Risks Report 2020 menyatakan bahwa perubahan iklim semakin ekstrim dari yang diperkirakan banyak ahli. Lima tahun terakhir merupakan peningkatan suhu tercepat dalam sejarah, bencana alam menjadi lebih intens dan lebih sering, serta cuaca ekstrim yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia. Yang mengkhawatirkan adalah bahwa suhu global akan meningkat setidaknya 3°C menjelang akhir abad ini, dua kali lipat dari apa yang telah diperingatkan para pakar iklim sebagai batas untuk menghindari krisis serius terhadap risiko ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dampak jangka dekat perubahan iklim akan meningkatkan keadaan krisis kehidupan umat manusia yang akan mencakup hilangnya nyawa, ketegangan sosial dan geopolitik dan dampak buruk ekonomi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Survei Persepsi Risiko Global, masalah lingkungan menjadi peringkat tinggi risiko jangka panjang, menjadi tiga dari lima risiko teratas akibat dampak bersifat lingkungan.
“Kegagalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim” merupakan risiko nomor satu berdasarkan dampak dan nomor dua berdasarkan kemungkinan dalam 10 tahun ke depan.
meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dalam memahami persoalan yang berkaitan dengan perlindungan hutan di bidang pendidikan, dalam bentuk:
5.3.1 Membuat buku panduan mengenai pentingnya
perlindungan hutan, dimulai dengan fakta-fakta tentang kekayaan alam; fakta-fakta masalah pencemaran lingkungan;
dalil-dalil agama, dan peraturan perundang-undangan terkait.
Berbagai kasus kerusakan lingkungan yang terjadi baik dalam lingkup nasional maupun global, bila dicermati, sebenarnya berakar dari cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya.
Perilaku manusia yang tidak bertanggungjawab terhadap lingkungannya telah mengakibatkan terjadinya berbagai macam kerusakan dan bencana lingkungan. Penebangan hutan dan/atau penggundulan hutan, eksploitasi bahan tambang secara membabi buta adalah contoh perbuatan manusia yang rakus dan tidak bertanggungjawab terhadap lingkungannya.
Orientasi hidup manusia modern yang cenderung pragmatis, materialistik dan hedonistik yang bergandengan tangan dengan sifat kapitalistik dan kolonialistik dengan kendaraan teknologi sangat berpengaruh terhadap tingkat kerusakan yang terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan ekologi terus meningkat, degradasi lingkungan, banjir, kekeringan dan peningkatan suhu dan cuaca ekstrim merupakan beberapa bentuk bencana yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia .
Economic and Social Commission for Asia and the Pacific dari PBB merilis laporan Summary of the Asia-Pacific Disaster Report 2019 yang menemukan bahwa lansekap risiko regional, atau "riskcape" risiko bencana melampaui ketahanan, yaitu kerugian bencana terus melebihi pertumbuhan ekonomi kawasan. Bila bencana yang timbul pada 2019
”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rum [30]:41).
”Fasâd” atau ”kerusakan” dalam ayat ini banyak sekali bentuknya.
Di antaranya sebagaimana dicontohkan Ibn ‘Ajîbah, seperti kelaparan, kemarau panjang, gagal panen, maraknya kerugian dalam bisnis, dan tingginya angka kematian manusia dan hewan. Adapun kerusakan di laut di antaranya adalah tingginya gelombang laut yang menyebabkan banyak kasus kapal tenggelam di laut dan punahnya biota laut. Ibn ‘Ajîbah, dalam al-Bahr al-Madîd, mengatakan:
ي ِ ف� ِعي ِّرلا ِم َدَعَو ،ِراَطْم َأ
لاا ِق َّلِق َو ، ِط ْحَقل َكاَف ،ِّ َب�لا ي ِف� ُدا َس َفلا اَّمَأ
ِساَّنلا ي ِ ف� ِن َق� َوَ ْلما ِعوُقَوَو ، ِتاَرا َجِّتلا ي ِف� ِْب�ِّرلاَو ِتاَعاَرِّزلا
ِة َ ْش�َكِبَف ؛ِرْحَبلا ي ِف� اَّمَأَو .ٍء ْي َش� ُِّك ْنِم ِت َكاَ َب�لا ِقَْمَو ، ِّباَو َّدلاَو
ِه ِدْي َص ِعا َطِقْناَو ، ِقْرَغلا.
”Adapun kerusakan di muka bumi adalah seperti kelaparan, kemarau panjang, gagal panen, kerugian dalam berbisnis, tingginya angka kematian manusia orang dan hewan, tercerabutnya keberkahan dalam segala hal. Sedang kerusakan di laut adalah seperti banyaknya kasus tenggelam di laut dan punahnya biota laut.”
Aneka contoh bentuk kerusakan di bumi maupun di laut yang disodorkan oleh Ibnu ‘Ajibah saat ini dapat kita jumpai di berbagai belahan dunia. Salah satu penyebab munculnya semua itu adalah perubahan iklim yang ekstrim dan melebihi ekspetasi, dimana hal itu merupakan hasil ulah tangan manusia sendiri.
Banyaknya jumlah literatur keislaman tentang lingkungan yang tidak diikuti oleh perhatian dan kesadaran yang tinggi dari umat Islam terhadap lingkungan menimbulkan penilaian bahwa Islam belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap isu-isu lingkungan di era Jaringan multi-stakeholder menilai "kehilangan keanekaragaman
hayati" merupakan peringkat kedua yang paling berdampak dan ketiga untuk risiko dekade berikutnya. Tingkat kepunahan spesies saat ini mencapai puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi daripada rata-rata kepunahan selama 10 juta tahun terakhir dan hal ini berlangsung semakin cepat. Hilangnya keanekaragaman hayati memiliki implikasi berat bagi kemanusiaan, mulai dari kegagalan sistem ketahanan pangan dan kesehatan hingga gangguan terhadap seluruh rantai pasokan.
Jumlah penduduk dunia yang yang meningkat sangat pesat pada satu sisi, dan ketersediaan lahan pertanian yang semakin terbatas akibat telah terjadinya degradasi dan kerusakan pada sisi lain termasuk alih fungsi lahan pertanian, telah melahirkan situasi kekurangan air, kekurangan bahan pangan, kelaparan, kemiskinan dan berdampak munculnya berbagai macam penyakit yang terkait.
Kemiskinan yang berjalin erat dengan ketidakadilan dan kebijakan pemerintah di pusat dan daerah yang kurang peduli lingkungan, telah mendorong terjadinya eksploitasi intensif bahkan berlebihan terhadap sumberdaya alam, yang akibatnya memperparah kerusakan lingkungan yang telah terjadi di banyak daerah . Lahan dengan sumberdayanya adalah penyangga utama kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan.
Masalah kerusakan lingkungan hidup telah sampai pada tahap krisis yang serius. Hal ini ditandai dengan terjadi perubahan iklim dan pemanasan global yang melanda dunia terakhir ini, serta berbagai bencana alam yang terjadi beruntun di berbagai belahan dunia. Allah Swt berfirman,