• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Hipotesis Penelitian

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.2 Metode Penelitian

3.2.5 Rancangan Penguji Hipotesis

3.2.5.4 Uji Hipotesis Penelitian

Uji hipotesis yang pertma adalah uji t, digunakan untuk melihat pengaruh masing-masing variabel bebas (independent) secara parsial terhadap variabel terikat (dependent) dengan prosedur sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0-0,19 Sangat Rendah

0,20-0,39 Rendah

0,40-0,59 Sedang

0,60-0,79 Kuat

0,80-1,00 Sangat Kuat

70 Menrut Ghozali (2016:97) uji statistik pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengarauh satu variabel independent secara individual dalam menerangkan variabel dependent. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikan level 0,05 (α=5%). Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai t- statistik dengan t-tabel.

Langkah-langkah uji-t (parsial) sebagai berikut:

a. Menentukan Hipotesis:

Ho1 : β1 = 0 : Artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari Pajak Daerah terhadap Belanja Modal;

Ha 1 : β1 ≠ 0 : Artinya terdapat pengaruh signifikan dari Pajak Daerah terhadap Belanja Modal.

Ho2 : β2 = 0 : Artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal;

Ha 2 : β1 ≠ 0 : Artinya terdapat pengaruh signifikan dari Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal.

b. Kriteria Pengambilan Keputusan

1) Jika nilai signifikan > 0,05 atau thitung < tta bel maka Ho dierima H1 ditolak.

Ini berarti secara parsial Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap belanja modal.

71 2) Jika nilai signifikan ≤ 0,05 atau thitung > tta bel maka Ho ditolak H1

diterima. Ini berarti secara parsial Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum memiliki pengaruh secara signifikan terhadap belanja modal.

Daerah Uji-t

Gambar 3.1 Daerah Penerimaan dan Penolkan hipotesis

Sumber: Sugiyono (2017:11)

2. Uji-F (Simultan)

Menurut Ghozali (2016:96) uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakan semua variabel bebas dimaksudkan dalam odel mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependent. Langkah-langkah pengujian menggunakan uji F sebagai berikut:

a. Pengujian Hipotesis secara statistik:

Ho : β1 = β2 = 0 : Artinya tidak terdapat pengaruh signifikan antara Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal.

72 Ha: β1 = β2 ≠ 0 : Artinya terdapat pengaruh signifikan antara Pajak Daerah,

Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal.

b. Menentukan tingkat signifikan

Tingkat keyakinan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 95%

dengan taraf nyata 5% (α=0,05), tingkat signifikan 0,05 atau 5% artinya kemungkinan besar dari hasil penarikan kesimpulan memiliki probabilitas 95% atau toleransi sebesar 5%.

c. Menentukan Fhitung dan Fta bel

Fhitung diperoleh dari hasil perhitungan dengan menggunakan Windows SPSS versi 23.

d. Pengambilan Keputusan

1) Jika P-va lue ≤ α= 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan dengan Belanja Modal.

2) Jika P-va lue ≥ α= 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum secara simultan tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan Belanja Modal.

73 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian Instrumen Penelitian

Penelitian ini adalah gambaran atau deskripsi mengenai pengaruh pajak daerah, Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap belanja modal. Objek dalam penelitian ini yaitu pada Pemerintah Kabupaten Bandung dengan sampel yang digunakan yaitu Laporan Realisasi Anggaran Periode 2016-2018.

4.1.1 Pajak Daerah di Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018 Pajak daerah merupakan sumber pendapatan asli daerah yang berasal dari iuran wajib orang pribadi atau badan yang dapat dipaksakan. Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah menjelaskan bahwa pajak daerah yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib pajak kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan dengan sifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan dapat digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berikut adalah data mengenai Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018 :

74 Tabel 4.1

Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018

Bulan Perkembangan

2016 2017 2018

Januari 0,931 0,938

Februari 1,017 0,992 1,028

Maret 0,536 0,637 -0,579

April 0,317 -0,305 -0,308

Mei -0,260 -0,290 -0,246

Juni 0,322 -0,181 -0,143

Juli -0,165 0,212 0,181

Agustus 0,190 0,273 -0,134

Sepetember 0,256 0,230 0,153

Oktober -0,102 -0,124 -0,125

November 0,094 -0,107 0,446

Desember 0,093 0,151 0,083

Rata-rata 0,305 0,21 0,207

Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Kabupaten Bandung

Pada tabel 4.1 dapat diperoleh informasi bahwa realisasi pajak daerah pada tahun 2016 bulan januari sebesar Rp. 24.420.700.038,00 rata-rata perkembangan pajak daerah tahun 2016 terdapat perkembangan yang tertinggi di bulan februari sebesar 1,017%, tetapi terdapat penurunan di bulan selanjutnya dan penurunan terjadi paling tinggi pada bulan mei sebesar -0,260%. Dengan rata-rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2016 yaitu 30,50%. Pada tahun 2017 bahwa realisasi bulan april sebesar Rp. 26.362.436.077,00 dengan perkembangan menurun -0,305%, bulan mei -0,290% dan bulan juni, oktober, dan November. Pada tahun 2018 bahwa realisasi bulan januari sebesar Rp. 28,871,512,899.00 dengan perkembangan menurun 0.938%, dapat dilihat bahwa realisasi terbesar tahun 2018 pada bulan April, mei, juni, agustus dan September. Dengan rata-rata perkembangan yang

75 terjadi pada tahun 2018 yaitu 20,70%. Penerimaan pajak daerah pada tahun 2016- 2018 mengalami penurunan setiap tahunnya. Informasi tersebut mengindikasikan bahwa penerimaan pajak daerah tahun 2016-2018 dengan perkembangan pajak daerah tertinggi terdapat pada tahun 2016 yaitu 30,50% dan terendah tahun 2018 yaitu 20,70%.

4.1.2 Dana Alokasi Umum (DAU) di Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana hibah murni (grants) yang kewenangan penggunaanya diserahkan penuh kepada pemerintah daerah penerima.

DAU adalah sarana untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah yang dimaksud untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerahnya.

Berikut adalah data mengenai Dana Alokasi Umum (DAU) Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018 :

Tabel 4.2

Dana Alokasi Umum Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018

Bulan Perkembangan

2016 2017 2018

Januari 0,833 0,833

Februari 0,500 -0,812 -0,500

Maret -0,333 0,841 -0,333

April -0,250 0,831 0,335

Mei 0,617 0,855 -0,312

Juni 0,623 -0,800 0,460

Juli -0,515 -0,791 0,511

Agustus 0,522 0,888 0,528

76

Sepetember 0,625 0,886 0,611

Oktober 0,712 0,912 0,639

November 0,822 -0,900 0,677

Desember 0,896 -0,830 0,691

Rata-rata 0,184 0,116 0,099 Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Kabupaten Bandung

Pada tabel 4.2 dapat diperoleh informasi bahwa realisasi DAU pada tahun 2016 bulan januari sebesar Rp. 349.446.170.000,00 rata-rata perkembangan DAU tahun 2016 terdapat perkembangan yang tertinggi di bulan februari sebesar 0,450%, tetapi terdapat penurunan di bulan selanjutnya dan paling tinggi pada bulan desember sebesar 0,896% atau tidak ada pekembangan dari bulan sebelumnya. Dengan rata- rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2016 yaitu 18,40%. Pada tahun 2017 bahwa realisasi bulan januari sebesar Rp. 349.446.170.000,00 dengan perkembangan menurun 0.833%, dapat dilihat bahwa realisasi terbesar tahun 2017 pada bulan november dan desember sebesar Rp. 2.059.845.225.000,00. Dengan rata-rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2017 yaitu 11,60%. Pada tahun 2018 bahwa realisasi bulan januari sebesar Rp. 343.367.104.000,00 dengan perkembangan menurun -0.833%, dapat dilihat bahwa realisasi terbesar tahun 2018 pada bulan desember sebesar Rp. 2.060.202.697.000,00. Dengan rata-rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2018 yaitu 9,90%. Penerimaan DAU pada tahun 2016-2018 mengalami penurunan setiap tahunnya. Informasi tesebut mengindikasikan bahwa perekmbangan DAU tahun 2016-2018 dengan DAU tertinggi terdapat pada tahun 2016 yaitu 18,40% dan terendah tahun 2018 yaitu 9,90%.

77 4.1.3 Belanja Modal di Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018 Belanja modal merupakan pengeluaran untuk perolehan asset lainnya dan untuk perolehan asset tetap berwujud yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan untuk dalam kegiatan pemerintah dan untuk pengadaan atau pembangunan asset belanja yang bersifat rutin.

Tabel 4.3

Belanja Modal Pemerintah Kabupaten Bandung periode 2016-2018

Bulan Perkembangan

2016 2017 2018

Januari 0,999 0,994

Februari 0,464 1,117 0,184

Maret 0,603 1,257 0,235

April 2,504 1,584 2,315

Mei 1,560 2,317 -0,777

Juni 3,140 -2,028 -0,626

Juli -0,368 -0,598 1,257

Agustus 0,825 -0,547 -0,455

Sepetember -0,359 -0,552 -0,231

Oktober 0,486 -0,213 0,252

November -0,224 -0,309 -0,245

Desember 0,491 1,260 1,222

Rata-rata 1,002 0,899 0,567

Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Kabupaten Bandung

Pada tabel 4.3 dapat diperoleh informasi bahwa realisasi belanja modal pada tahun 2016 bulan januari sebesar Rp. 710.682.646,00 rata-rata perkembangan belanja modal tahun 2016 terdapat perkembangan yang tetinggi di bulan April sebesar 2,504%, tetapi terdapat penurunan di bulan selanjutnya dan penurunan terjadi paling tinggi pada bulan juli sebesar 0,368%. Dengan rata-rata perkembangan yang

78 terjadi pada tahun 2016 yaitu 100,20%. Pada tahun 2017 bahwa realisasi bulan januari sebesar Rp. 367.830.850,00 dengan perkembangan menurun 0.999%, dapat dilihat bahwa realisasi terbesar tahun 2017 pada bulan desember sebesar Rp.

628.497.495.405,49. Dengan rata-rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2017 yaitu 89,90%. Pada tahun 2018 bahwa realisasi bulan januari sebesar Rp.

3.636.426.000,00 dengan perkembangan menurun 0.994%, dapat dilihat bahwa realisasi terbesar tahun 2018 pada bulan desember sebesar Rp. 713.093.010.271,89.

Dengan rata-rata perkembangan yang terjadi pada tahun 2018 yaitu 56,70%.

Penerimaan belanja modal pada tahun 2016-2018 mengalami penurunan setiap tahunnya. Informasi tesebut mengindikasikan bahwa penerimaan belanja modal tahun 2016-2018 dengan perkembangan belanja modal tertinggi terdapat pada tahun 2016 yaitu 100,20% dan terendah tahun 2018 yaitu 56,70%.

4.2 Analisis Data 4.2.1 Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan analisis perhitungan koefisisen determinasi, uji t, dan analisis regresi linear berganda untuk pengujian hipotesis, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian keabsahan persamaan regresi berdasarkan asumsi klasik.

Secara teoritis, model penelitian harus memenuhi asumsi normalitas dan tidak mengalami multikolinearitas dan heterokedastisitas. Pengujian asumsi klasik fdilakukan dengan menggunakan software SPSS 23 for windows.

4.2.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel independen dan variabel dependen atau keduanya mempunyai distribusi normal

79 atau tidak. Apabila variabel tidak berdistribusi secara normal maka hasil uji statistik akan mengalami penurunan. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan menggunakan analisis grafik histogram, grafik normal probability plot dan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Berikut hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik histogram, normal probability plot, dan Kolmogorov-Smirnov :

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable : Belanja Modal

Gambar 4.1

Grafik Normal Probability Plot Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Berdasarkan gamabar 4.1 bila titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, hal ini menunjukan model regresi telah memenuhi asumsi normalitas. Dari gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa grafik tersebut menunjukkan titik-titik yang menyebar garis lurus diagonal dan mengikuti arah

80 garis tersebut atau berada di sekitar yang terdapat sepanjang garis, maka dapat disimpulkan bahwa data memenuhi uji normlitas.

Histogram

Dependent variable : Belanja Modal

Gambar 4.2

Histogram Uji Normalitas

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Berdasarkan gambar 4.2 menunjukkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi yang tidak melenceng baik ke kiri maupun ke kanan. Dengan hal ini data menyebar disekitar garis diagonal atau mengikuti garis diagonal. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Uji normalitas dilakukan dengan dengan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) satu arah dengan hipotesis sebagai berikut:

81 a. Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05, H0 ditolak. Artinya data residual tidak terdistribusi normal.

b. Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) > 0,05, H0 tidak ditolak. Artinya data residual terdistribusi normal.

Tabel 4.4 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 46

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .34236519 Most Extreme Differences Absolute .102

Positive .102

Negative -.064

Test Statistic .102

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Berdasarkan tabel 4.4 hasil uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov (K-S) menunjukkan tingkat signifikan sebesar 0,200 karena Kolmogorov- Smirnov (K-S) menunjukkan signifikansi lebih besar dari α = 0,05, maka hal tersebut dapat disimpulkan bahwa data residual terdistribusi secara normal.

4.2.1.2 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas sebagai berikut:

82 1. Jika nilai tolerance ≥ 0,10 atau nilai VIF ≤ 10, berarti tidak terjadi multikolinieritas.

2. Jika nilai tolerance ≤ 0,10 atau nilai VIF ≥ 10, berarti terjadi multikolinieritas.

Berikut hasil uji multikolinearitas yang disajikan pada tabel pengujian:

Tabel 4.5

Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .133 .179 .740 .463

Pajak

Daerah .135 .051 .353 2.626 .012 .977 1.023

Dana Alokasi Umum

.482 .224 .290 2.153 .037 .977 1.023

a. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Berdasarkan tabel 4.5 hasil uji multikolinearitas, dapat dilihat bahwa nilai tolerance Pajak Daerah sebesar 0,977 dan Dana Alokasi Umum 0,977. Dari variabel independen pajak daerah dan dana alokasi umum dalam penelitian ini memiliki nilai tolerance > 0,1 bahwa tidak terjadi korelasi antar variabel independent hasil yang sama dilihat dari VIF variabel independen pajak daerah dan dana alokasi umum menunjukkan bahwa angka < 10 dengan pajak daerah 1,023 dan dana alokasi umum 1,023. Dapat disimpulkan bahwa model regresi terbebas dari multikolinearitas antarvariabel.

4.2.1.3 Uji Heteroskedastisitas

83 Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap disebut homokedastisitas. Jika varian berbeda dapat dikatakan heterokedastisitas dan dapat dilihat dari grafik scatterplot. Pada penelitian ini pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan scatterplot model yaitu melalui diagram pancar antara nilai yang diprediksi variabel terikat dependen standardized predicted value (ZPRED) dengan studentized residual (SRESID). Deteksi ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya). Berikut ini adalah hasil uji scatterplot model:

Scatterplot

Dependent Variable : Belanja Modal

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

84 Hasil scatterplot Model pada gambar 4.3 diatas dapat diketahui bahwa jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik seperti menyebar pada semua bagian, serta titik- titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak digunakan.

4.2.1.4 Uji Autokorelasi

Tabel 4.6 Uji Autokorelasi

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi anatara kesalahan pengganggu perode t – 1 (periode sebelumnya). Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari suatu observasi ke observasi lainnya. Untuk mendiagnosis adanya autokorelasi dalam suatu model regresi, secara umum dapat diambil dengan:

a. Apabila nilai DW < dL atau DW > (4-dL) berarti terdapat autokorelasi.

b. Apabila nilau dU < DW < (4-dU) berarti tidak terdapat autokorelasi.

c. Apabila nilai dL < DW < dU atau (4-dU) < DW < (4-dL) berarti tidak ada kesimpulan.

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat hasil uji autokorelasi yang menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson yang diperoleh sebesar 1,785 yang artinya model regresi ini

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .489a .240 .204 .35024 1.785

a. Predictors: (Constant), Dana Alokasi Umum, Pajak Daerah b. Dependent Variable: Belanja Modal

85 masuk ke dalam kriteria kedua yaitu nilau dU < DW < (4-dU) berarti tidak terdapat autokorelasi. Dengan n = 36, K = 2, maka akan diperoleh nilai dL = 1,354 dan dU

= 1,587, sehingga nilai 4 – dU sebesar 4 -1,587= 2,41 sedangkan nilai 4-dL sebesar 4 -1,354= 2,65.

Gambar 4.4

Kesimpulan Pengujian Autokorelasi Sumber: Data diolah penulis

4.2.2 Analisis Linear Berganda

Persamaan regresi linear berganda yang akan dibentuk adalah sebagai berikut:

Keterangan:

Y = Belanja Modal α = Konstanta X1 = Pajak Daerah

Y = α + β1X1 + β2X2 + e

Autokorelasi + Autokorelasi -

dL = 1,354 dU = 1,587

1,785

2 4-dU = 2,41 4-dL = 2,65

Tida k a da Autokorela si Tanpa

Kesimpulan

Tanpa Kesimpulan

86 X2 = Dana Alokasi Umum (DAU)

β1 = Koefisien regresi variabel Pajak Daerah

β2 = Koefisien regresi variabel Dana Alokasi Umum (DAU) e = Standar Error

Dengan menggunakan software SPSS versi 23 diperoleh hasil estimasi regresi linear berganda sebagai berikut:

Tabel 4.7

Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics

B

Std.

Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .133 .179 .740 .463

Pajak

Daerah .135 .051 .353 2.626 .012 .977 1.023

Dana Alokasi Umum

.482 .224 .290 2.153 .037 .977 1.023

a. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

Dari hasil persamaan regrei linier bergnda tersebut, masing-masing variabel dapat diinterpretasikn sebagai berikut:

Belanja Modal = 0,133 + 0,135 X1 + 0,482 X2

a. Konstanta (Nilai Mutlak Y) sebesar 0,133 menyatakan bahwa jika Pajak Daerah dan Dana Alokasi Umum bernilai 0 (nol), dan tidak ada

perubahan, maka Belanja Modal akan berkurang sebesar 0,133.

87 b. Koefisien regresi Pajak Daerah sebesar 0,135 menyatakan bahwa setiap

ada kenaikan sebesar 1% maka akan meningkatkan Belanja Modal sebesar 0,133 atau sebesar 13,5%.

c. Koefisien regresi Dana Alokasi Umum sebesar 0,482 menyatakan bahwa setiap kenaikan sebesar 1% maka akan meningkatkan Belanja Modal sebesar 48,2%.

4.2.3 Analisis Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien Determinasi (R²) bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model dalam menerapkan variabl dependen. Berikut hasil koefisien determinasi:

Tabel 4.8

Analisis Koefisien Determinasi

Berdasarkan Model Summary di atas, nilai adjusted R Square sebesar 0,204 menunjukkan bahwa kolerasi atau kekuatan hubungan linier antar variabel merupakan kolerasi yang kuat antara Pajak Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal dan dilihat koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,204.

Hal ini berarti 20,4% variabel Belanja Modal dapat dijelaskan oleh variabel independen. Sedangkan sisanya sebesar 79,6% dijelaskan oleh variabel lain.

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .489a .240 .204 .35024

a. Predictors: (Constant), Dana Alokasi Umum, Pajak Daerah b. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

88 4.3 Uji Hipotesis Penelitian

4.3.1 Uji t (Parsial)

Uji t digunakan untuk melihat pengaruh masing-masing variabel secara parsial atau antara variabel independent Pajak Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap variabel dependen Belanja Modal. Jika signifikan dibawah 0,05 maka variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependen.

Kriteria Uji t (parsial):

a. Jika nilai signifikan > 0,05 atau thitung < tta bel maka Ho diterima H1 ditolak.

b. Jika nilai signifikan < 0,05 atau thitung > tta bel maka Ho ditolak H1 diterima.

Tabel 4.9 Uji t (Parsial)

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

4.3.1.1 Pengaruh Pajak Daerah Terhadap Belanja Modal

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) .133 .179 .740 .463

Pajak Daerah .135 .051 .353 2.626 .012

Dana Alokasi

Umum .482 .224 .290 2.153 .037

a.Dependent Variable: Belanja Modal

89 Ho1 : β1 = 0 , Pajak Daerah tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Ha1 : β1 ≠ 0, Pajak Daerah berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa thitung yang diperoleh untuk variabel Pajak Daerah sebesar 2,626. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tta bel pada tabel distribusi t. Dengan α = 0,05, df = n – k- 1 dengan df = 36 – 2- 1 = 33. Untuk pengujian dua sisi diperoleh ttabel sebesar 2,034, karena thitung diperoleh sebesar 2,626 maka dapat didapatkan bahwa t-hitung > t tabel (2,626 > 2,034) hal ini hasil dari uji statistik pada tingkat signifikan 0,05 dengan nilai 0,012, maka sesuai kriteria pengujian hipotesis bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya Pajak Daerah berpengaruh positif secara signifikan terhadap Belanja Modal.

4.3.1.2 Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal

Ho1:β1= 0, Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal .

Ha1 : β1 ≠0, Dana Alokasi Umum berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa thitung yang diperoleh untuk variabel Dana Alokasi Umum sebesar 2,153. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tta bel pada tabel distribusi t. Dengan α = 0,05, df = n – k- 1 dengan df = 36 – 2- 1 = 33. Untuk pengujian dua sisi diperoleh ttabel sebesar 2,034, karena thitung diperoleh sebesar 2,153 maka dapat didapatkan bahwa t-hitung > t tabel (2,153 > 2,034) hal ini hasil dari uji statistik pada tingkat signifikan 0,05 dengan nilai 0,037, maka sesuai kriteria pengujian hipotesis bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya Dana Alokasi Umum berpengaruh positif secara signifikan terhadap Belanja Modal.

4.3.2 Uji F (Simultan)

90 Uji f digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0,05 (α = 5%).

Ho : β = 0,05 Pajak Daerah dan Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Ha : β ≠ 0,05 Pajak Daerah dan Dana Alokasi Umum berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Dengan kriteria sebagai berikut:

a. Bila nilai F lebih besar daripada F tabel maka Ho dapat ditolak pada derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain menerima hipotesis alternative, yang menyatakan bahwa semua variabel independen seceara serentak d an signifikan memepengaruhi variabel dependen.

b. Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F tabel bila nilai hitung lebih besar daripada Ho ditolak dan menerima Ha.

Tabel 4.10 Uji F (Simultan)

ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 1.662 2 .831 6.774 .003b

Residual 5.275 43 .123

Total 6.936 45

a. Dependent Variable: Belanja Modal

b. Predictors: (Constant), Dana Alokasi Umum, Pajak Daerah

Sumber: Data diolah Output SPSS v23, 2019

91 Pada tabel 4.10 menunjukkan bahwa Fhitung sebesar 6,774 nilai ini menjadi statistik uji yang akan dibandingkan dengan nilai Fta bel pada tabel distribusi F. Dengan α = 0,05 dan df = n – k (36 -2) = 34 maka diperoleh nilai Fhitung > Fta bel (6,774 > 3,24) dan hasil dari uji statistic pada signifikan 0,005 dengan nilai sebesar 0,003 karena Fhitung berada diluar Fta bel dan signifikansi lebih kecil dari 0,005. Maka sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis bahwa Ho dan Ha diterima. Artinya Pajak Daerah dan Dana lokasi Umum berpengaruh positif secara simultan terhadap Belanja Modal.

4.4 Pembahasan Penelitian

4.4.1 Pengaruh Pajak Daerah terhadap Belanja Modal Pada Pemerintah Kabupaten Bandung

Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 pajak daerah ad alah kontribusi wajib pajak kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan pengujian hipotesis hasil uji statistik t (parsial) pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa variabel pajak daerah mempunyai nili signfikansi sebesar 0,012, nilai signifikan tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,012<0,005). Hipotesis ke 2 yang menyatakan bahwa pajak daerah berpengaruh positif terhadap belanja modal diterima, maka demikian pajak daerah berpengaruh terhadap belanja modal.

Dalam analisis deskriptif menunjukkan bahwa pajak daerah pada pemerintah Kabupaten Bandung menunjukan nilai yang lebih tinggi pada tahun 2016. Menurut Marihot Pahala Siahan (2013:9) pajak daerah Kabupaten/Kota dapat meliputi pajak

92 hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak parkir, pajak mineral bukan logam dan bantuan, pajak air tanah, pajak sarang burung walet, pjk bumi dan bangunan, dan BPHTB.

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Bagus Bowo Laksono (2014) yang menyatakan bahwa Pajak Daerah berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja modal.

4.4.2 Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal Pada Pemerintah Kabupaten Bandung

Menurut Deddi Nordiawan (2012:56) Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah d alam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Berdasarkan pengujian hipotesis hasil uji statistik t (parsial) pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa variabel Dana Alokasi Umum mempunyai nili signfikansi sebesar 0,037, nilai signifikan tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,037<0,005).

Hipotesis ke 2 yang menyatakan bahwa Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap belanja modal diterima, maka demikian Dana Alokasi Umum berpengaruh terhadap belanja modal.

Dalam analisis deskriptif menunjukkan bahwa Dana Alokasi Umum pada pemerintah Kabupaten Bandung menunjukan nilai yang lebih tinggi pada tahun 2016. Menurut Ida Nurchaida, dkk (2015:4) Dana Alokasi Umum adalah transfer dana bagi pmerintah pusat ke pemerintah daerah yang dimaksud untuk menutup

Dokumen terkait