METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian deskriptif yaitu penelitian dilakukan dengan mengumpulkan dan menyajikan data yang diterima dari PT. Ketiara Coffee berupa data penjualan ekspor kopi sebelum dan sesudah dikenakannya tarif pajak sebesar 10% sehingga memberikan gambaran yang cukup jelas untuk penulis membandingkan teori yang ada.
B. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu usaha untuk melakukan pendektesian sejauh mana variabel berpengaruh terhadap variabel lainnya. Untuk mempermudah dalam membahas penelitian ini maka definisi operasional dari penelitian ini adalah:
1. Pajak Pertambahan nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas transaksi jual beli yang dilakukan oleh orang pribadi ataupun badan.
2. Ekspor Kopi adalah kegiatan mengirimkan atau memperdagangkan barang atau jasa keluar negeri dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan, tingkat ekspor kopi dapat dilihat dalam laporan keuangan laba rugi pada akun penjualan ekspor.
41 C. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di PT. Ketiara Coffee yang letaknya di Jl. Raya Umang Kampung Umang No.76, Kecamatan Bebesen, Takengon, Sadong Juru Mudi, Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tengah.
Tabel III-1
Rencana Waktu Penelitian
No Jenis Kegiatan
Nov Des Januari Feb Maret
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pra Riset
2 Pengajuan Judul 3 Penyusunan
Proposal
4 Bimbingan Proposal
5 Seminar Proposal 6 Penelitian Skripsi 7 Bimbingan Skripsi 8 Sidang
D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Dalam penelitian ini tidak terlepas dari adanya jenis data yang akan dikumpulkan sebagai bahan penelitian, jenis data yang digunakan adalah :
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari lapangan.
Sumber data primer mengacu pada hasil wawancara dengan para pihak yang ada di PT. Ketiara Coffee.
42
b. Data Sekunder
Data skunder adalah data yang diperoleh dari pustakaan seperti buku – buku, tulisan ilmiah, Undang – undang, atau media lainnya yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.Sumber data sekunder mengacu pada hasil penelusuran dokumen milik PT.
Ketiara coffee.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari laporan keuangan laba rugi dalam akun penjualan ekspor di PT. Ketiara Coffee.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai sumber dan berbagai cara dalam penelitian ini menggunakan data sebagai berikut :
1. Wawancara
Yaitu dengan bertanya kepada pihak yang berhubungan langsung dengan masalah yang diteliti.
Berikut ini adalah tabulasi hasil wawancara yang digunakan sebagai data pada penelitian, yaitu sebagai berikut :
Tabel III-2 Tabulasi Wawancara Variabel dan Indikator
No Variabel Indikator
No Pertanyaan 1 Pajak Pertambahan
Nilai (PPN)
a. Tarif PPN 1
b. Pengenaan PPN 2
43
c. Harga Jual 3
d. Daya Jual 4
2 Ekspor Kopi e. Pendapatan 5
f. Harga bahan pokok 6
2. Metode Dokumentasi
Dalam tahap metode ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan mengumpulkan dan mencari data – data objek penelitian dari instansi.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif.
Metode deskriptif adalah suatu analisis dimana data yang ada dikumpulkan digolongkan/dikelompokkan kemudian di analisis sehingga di peroleh suatu gambaran sebenarnya mengenai keadaan perusahaan baikitu data mengenai Kebijakan Pajak Pertambahan nilai (PPN) pertanian oleh pemerintah sebelum dan sesudah penerapan tarif pajak sebesar 10% untuk penjualan ekspor kopi pada PT. Ketiara Coffee, yang didasarkan atau dipedoman pada ketentuan Undang – undang dan tata cara perpajakan.
Adapun tahap – tahap yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan data, yang mengenai tentang jumlah penjualan
ekspor kopi yang ada di dalam laporan keuangan laba rugi dalam akun penjualan ekspor.
44
2. Menganalisis data yaitu dengan menganalisis jumlah penjualan ekspor kopi yang dikenakan tarif PPN sebesar 10%.
3. Mendeskripsikan data, yaitu mengambarkan data yang diperoleh, membandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya serta menjelaskan hasil penelitian dengan kalimat berbentuk narasi.
4. Membuat kesimpulan, yaitu menjawab masalah – masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian.
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
PT. Ketiara Coffee didirikan di Aceh Tengah pada tahun 2009 yang berlokasi di JL. Raya Umang No.76. Salah satu perusahaan yang didirikan dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan petani kopi dalam hal mengirimkan produk kopi ke luar negeri. Berikut ini ada dua deskripsi objek penelitian yang telah diindentifikasi dan dianalisis oleh penulis :
1. Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%.
Penelitian ini menggunakan data skunder yang didapat dari laporan keuangan laba rugi PT. Ketiara Coffee yang ada pada akun penjualan Ekspor.
Berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung Nomor 70 tahun 2014 memutuskan untuk membatalkan sebagian lampiran peraturan pemerintah Nomor 31 tahun 2007 yang menyatakan barang hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan oleh Pengusaha Kena pajak dikenai PPN yang semula dibebaskan dari PPN, barang itu meliputi produk seperti kakao,kelapa sawit, kopi biji, biji pala dan lain – lain tidak dikenai PPN (Barang bukan Kena pajak) sesuai ketentuan pasal 4A ayat (2) huruf b UU PPN. PPN 10% terhadap komoditas kopi diberlakukan mulai sejak tahun 2014 berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 24/PJ/2014 atas putusan Mahkamah Agung No.70/HUM/2013 tentang pajak pertambahan nilai atas barang hasil pertanian yang dihasilkan dari kegiatan usaha bidang pertanian dan perkebunan. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai PT Ketiara Coffee telah
46
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yaitu 01.215.412.6-821.000. sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) perusahaan melaksanakan hal-hal :
a. Memungut PPN sebesar 10% atas penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).
b. Membuat faktur pajak pada setiap penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak serta menyimpan faktur pajak dengan teratur.
c. Menyetorkan pajak terutang kepada kas Negara.
d. Melaporkan perhitungan pajak dengan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.
e. Melaksanakan pencatatan dalam pembukuan atas perolehan dan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP).
Pelaporan dan penyetoran PPn.
f. Melaporkan perhitungan pajak dengan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.
g. Melaksanakan pencatatan dalam pembukuan atas perolehan dan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP).
Dibawah ini adalah tabel penjualan ekspor Kopi perusahaan PT.
Ketiara Coffee priode 2013 – 2017
Tabel IV-1 Penjualan Ekspor Kopi
Tahun Penjualan Ekspor Kopi Tarif PPN PPN 0% PPN 10%
2013 23.817.600.000 -
2014 24.189.750.000 -
2015 30.553.633.446 3.055.363
47
2016 26.642.449.268 2.661.245
2017 26.641.698.386 2.664.170
Sumber : Laporan Keuangan PT. Ketiara Coffee dan data diolah oleh penulis.
Dalam Laporan Laba Rugi PT. Ketiara Coffee tahun 2013 tercantum jumlah penjualan sebesar Rp.23.817.600.000 dan tahun 2014 sebesar Rp.24.189.750.000 sedangkan pada tahun 2015 sebesar Rp.30.553.663.446 Hal ini berarti menunjukkan bahwa total Pajak Keluaran yang harus dibayar PT.
Ketiara Coffee pada tahun 2015 sebesar : 10% X Rp.30.553.663.446 = Rp.3.055.363 . Jumlah penjualan sudah sama dengan jumlah Pajak Keluaran yang harus dibayar yang tertera di dalam SPT Masa PPN, yaitu sebesar = Rp.30.553.663,446 pada tahun 2016 sebesar Rp.26.642.449.268 Hal ini berarti menunjukkan bahwa total Pajak Keluaran yang harus dibayar PT. Ketiara Coffee pada tahun 2016 sebesar : 10% X Rp. 26.642.449.268 = Rp.2.661.245 . Jumlah penjualan sudah sama dengan jumlah Pajak Keluaran yang harus dibayar yang tertera di dalam SPT Masa PPN, yaitu sebesar = Rp.26.642.449.268 dan pada tahun 2017 sebesar Rp.26.641.698.386 Hal ini berarti menunjukkan bahwa total Pajak Keluaran yang harus dibayar PT. Ketiara Coffee pada tahun 2017 sebesar : 10% X Rp.26.641.698.386 = Rp.2.664.170. Jumlah penjualan sudah sama dengan jumlah Pajak Keluaran yang harus dibayar yang tertera di dalam SPT Masa PPN, yaitu sebesar Rp.26.641.698.386.
2. Kesesuaian penerapan pajak pertambahan nilai yang ada di PT, Ketiara Coffee dengan undang – undang PPN yang berlaku.
48
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2013 sampai 2014 PT. Ketiara Coffee dibebaskan dari pengenaan PPN 10% sehingga mengalami peningkatan penjualan ekspor, namun pada tahun 2015 sampai 2017 PT. Ketiara Coffee telah menerapkan PPN sebesar 10% yang berdampak pada penurunan penjualan ekspor pada tahun 2015 sampai 2017. Selain itu, diberlakukannya PPN 10% terhadap kopi biji berpotensi menurunkan volume ekspor hingga 25 persen, Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) sepakat dengan penolakan terhadap penerapan kembali Pajak Penambahan Nilai (PPN) atas hasil pertanian termasuk kopi. Hal itu menyusul dibatalkannya PP. 31 th 2007 dengan putusan MA RI No :70P/ HUM/2013. Maka pengenaan kembali PPN 10 persen yang sudah berjalan sejak 4 tahun yang lalu telah menjadi beban tambahan bagi para pelaku usaha dan Tentunya akan berimbas pada kenaikan harga.
Sehingga mengurangi daya saing harga kopi di pasaran ekspor. Bahkan bagi eksportir, pengenaan PPN 10 persen juga sangat memberatkan, karena harus menambah permodalan dan beban operasional perusahaan, Beban biaya tersebut menggerus daya saing eksportir, khususnya eksportir kopi nasional yang biaya permodalannya telah diketahui pada umumnya sangat mahal.
Tentang berapa besarnya tarif untuk PPN ini telah ditetapkan dalam UU PPN, yaitu diatur dalam Pasal 7. Dalam pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen) (PPN 10% x DPP (= 10%
x Nilai Kontrak)), sebagaimana diatur dalam Pasal 1 dan 2 Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 Tentang Nilai Lain Sebagai Dasar Pengenaan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Kepmenkeu No.251/KMK.03/2002.
49
Berikut ini adalah tabel penyetoran dan pelaporan PPN pada PT.Ketiara Coffee yang dilakukan setiap bulannya.
Tabel IV-2
Penyetoran dan Pelaporan PPN
Tanggal penyetoran PPN PT. Ketiara Coffee tahun 2015 Bulan Tanggal Penyetoran Denda
Januari 7 Feb 2015 -
Februari 15 Maret 2015 -
Maret 6 Apr 2015 -
April 2 Mei 2015 -
Mei 4 Juni 2015 -
Juni 1 Juli 2015 -
Juli 3 Agustus 2015 -
Agustus 2 Sep 2015 -
September 1 okt 2015 -
Oktober 2 Nov 2015 -
November 1 Des 2015 -
Desember 4 Jan 2016 -
Data diolah oleh penulis.
Dapat dilihat bahwa selama tahun 2015 PT. Ketiara Coffee tidak pernah terlambat dalam melakukan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai.
Tabel IV-3
Penyetoran dan Pelaporan PPN
Tanggal Penyetoran PPN PT. Ketiara Coffee Tahun 2016.
Bulan Tanggal Penyetoran Denda
Januari 3 Feb 2016 -
Februari 3 Maret 2016 -
Maret 3 Apr 2016 -
April 4 Mei 2016 -
50
Mei 3 Juni 2016 -
Juni 3 Juli 2016 -
Juli 2 Agustus 2016 -
Agustus 1 Sep 2016 -
September 1 okt 2016 -
Oktober 3 Nov 2016 -
November 1 Des 2016 -
Desember 4 Jan 2017 -
Data diolah oleh penulis.
Dapat dilihat bahwa selama tahun 2016 PT. Ketiara Coffee tidak pernah terlambat dalam melakukan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai.
Tabel IV-4
Penyetoran dan Pelaporan PPN
Tanggal Penyetoran PPN PT. Ketiara Coffee Tahun 2017.
Bulan Tanggal Penyetoran Denda
Januari 10 Feb 2017 -
Februari 2 Maret 2017 -
Maret 4 Apr 2017 -
April 10 Mei 2017 -
Mei 8 Juni 2017 -
Juni 7 Juli 2017 -
Juli 3 Agustus 2017 -
Agustus 7 Sep 2017 -
September 10 okt 2017 -
Oktober 3 Nov 2017 -
November 7 Des 2017 -
Desember 16 Jan 2018 -
Data diolah oleh penulis.
Dapat dilihat bahwa selama tahun 2017 PT. Ketiara Coffee tidak pernah terlambat dalam melakukan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai.
B. Pembahasan.
Pembahasan dalam penelitian ini yaitu analisis mengenai hasil penemuan penelitian ini terhadap kesesuaian teori, pendapat maupun penelitian terdahulu
51
yang telah dikemukakan sebelumnya serta pola prilaku yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Berikut ini ada dua deskripsi data yang akan dibahas dalam analisis temuan penelitian ini yang harus mampu menjawab segala pertanyaan yang ada di dalam rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada PT. Ketiara Coffee.
Tarif pajak pertambahan nilai adalah 10% sesuai dengan ketetapan dalam undang – undang No.42 tahun 2009 namun berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 dalam pasal 1 dan 2 tarif pajak yang harus dipungut oleh PT. Ketiara Coffee sebagai pengusaha kena pajak dibidang dagang adalah sebesar 10% dari jumlah pendapatan atau penjualan jasa kena pajak yang diperoleh.
Dilihat dari tabel penjualan ekspor yang diolah oleh penulis pada PT.
Ketiara Coffee pada tahun 2013 – 2014 belum menerapkan tarif pajak pertambahan nilai sebesar 10% sedangkan pada tahun 2015 – 2017 PT. ketiara sudah menerapkan tarif pajak pertambahan nilai tersebut sehinggaa apabila suatu barang dikenakan pajak maka harga yang dibayar konsumen lebih tinggi dari pada harga yang diterima oleh produsen atau penjual, karena sebagian harga dibayarkan kepada pemerintah dalam beberapa hal kadang - kadang suatu pajak akan menimbulkan beban yang lebih berat dibandingkan nilai yang dipungut. Dalam Laporan keuangan Laba Rugi diakun penjualan ekspor PT. Ketiara Coffee pada
52
tahun 2013 dan 2014 belum dikenakan PPN sebesar 10%, hal ini membuat penjualan ekspor kopi meningkat, sedangkan pada tahun 2015 – 2017 perusahaan sudah dikenakan tarif PPN sebesar 10% yang menyebabkan tingkat penjualan ekspor menurun.
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan PPN 10%
berdampak pada penurunan ekspor kopi, hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anjani (2016) yang menyatakan bahwa PPN dapat mengakibatkan penurunan penjualan karena penerapan PPN membuat perusahaan akan mempertimbangkan harga penjualan produk dan di dukung oleh penelitian Suhardoyo,dkk (2016) yang juga menyatakan bahwa pajak pertambahan nilai berpengaruh secara negatif atau dapat mengurangi tingkat produktivitas dan ekspor secara berturut – turut, jika penurunan produktivitas terjadi maka secara langsung produksi kopi di Indonesia akan mengalami penurunan tiap perubahan luas areal panen, adapun pada pertambahan nilai pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 10% berdampak negatif pada seluruh variabel yang berpengaruh pada model perekonomian kopi di Indonesia, hal ini sangat memungkinkan terjadi dikarenakan penambahan pajak berarti menambah biaya input produksi dari petani sehingga eksportir mematok harga yang lebih tinggi dari harga kopi pada umumnya.
2. Kesesuaian Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan Undang – undang yang berlaku.
53
Undang – undang yang mengatur pajak pertambahan nilai sendiri, dalam perjalanannya telah mengalami beberapa perubahan sejak diberlakukan pada tahun 1995 melalui UU nomor 8 Tahun 1983. Perubahan tersebut terjadi mulai dari 1 Januari 1995 diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994, kedua terjadi mulai 1 Januari 2001 diubah dengan UU Nomor 18 Tahun 2000, dan ketiga terjadi mulai 1 April 2010 diubah dengan UU nomor 42 Tahun 2009. Perubahan beberapa kali ini sekaligus memberikan makna bahwa dengan segala kelebihannya, pajak pertambahan nilai masih memerlukan berbagai penyempurnaan.
Berdasarkan Undang – undang No.18 Tahun 2000, penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dilakukan selambat – lambatnya 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir, sedangkan dalam Undang – Undang No. 42 Tahun 2009, penyetoran Pajak Pertambahan Nilai paling lambat akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak. Dalam hal penyetoran dan pelaporan pajak pertambahan nilai PT. Ketiara Coffee sudah melakukannya sesuai dengan undang - undang yang berlaku.
Perihal mengenai objek yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai telah diatur secara jelas pada pasal 4 UU Nomor 42 Tahun 2009 dimana dari penjelasan pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya PPN dikenakan untuk semua barang dan jasa, hanya saja dalam penerapannya tetap saja terdapat pengecualian untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam hal tarif yang digunakan, sampai saat ini masih menggunkan tarif tunggal sebesar 10%. Bagi mereka yang diwajibkan untuk melakukan pemungutan PPN sebesar 10% tersebut
54
dinamakan pengusaha kena pajak (PKP), pengusaha kena pajak disini memiliki kewajiban untuk menerbitkan sebuah bukti pemungutan faktur pajak. Pada kenyataannya pengusaha besar seringkali dapat memaksa petani dan kelompok tani untuk menerbitkan faktur pajak. Kondisi ini terjadi posisi tawar dari perusahaan besar cenderung lebih tinggi sehingga petani dan kelompok tani tersebut adakalanya dipaksa untuk menjadi PKP demi adanya penerbitan faktur pajak.
Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai sampai saat ini juga banyak ditunjang dengan berbagai peraturan pendukung mulai dari Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan, sampai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak.
Pemberlakuan dari berbagai peraturan pendukung tersebut ditujukan tidak lain adalah untuk dapat menyesuaikan dengan setiap perkembangan yang ada pada dunia usaha. Berbagai peraturan dan Undang – undang yang berlaku pada akhirnya juga belum mampu mengatasi seluruh permasalahan terkait pemberlakuan pajak pertambahan nilai. Salah satu permasalahan serius yang sering muncul terkait pajak pertambahn nilai adalah maraknya kasus faktur pajak fiktif.
Faktur pajak merupakan bukti pemungutan atas PPN yang harus dikeluarkan oleh mereka yang menjadi mengusaha kena pajak. Faktur pajak dari sisi penerbit menjadi sebuah faktur pajak keluaran dan bagi sisi pembeli atau penerima merupakan faktur masukan. Mengacu pada skema pemungutan PPN, maka PPN yang harus disetor kenegara adalah sejumlah selisih antara pajak keluaran dan masukkan yang dimiliki. Adakalanya karena kondisi pemungutan
55
pajak pertambahan nilai yang belum bisa merata (tidak semua mau menerapkan), pajak masukan yang dimiliki oleh pengusaha kena pajak cenderung jauh lebih kecil dari pajak keluaran yang dimiliki. Dalam kondisi ini umumnya mereka akan mecari cara agar tidak membayar PPN terlalu besar sehingga digunakanlah opsi membeli faktur pajak fiktif, kecendrungan serupa bisa juga terjadi pada sisi penerbitnya, dimana bagi mereka yang terjadi justru sebaliknya yaitu lebih banyak pajak masukan dibandingkan pajak keluaran, sebenarnya masih banyak lagi masalah yang timbul dalam penerapan pajak pertambahan nilai yaitu mulai dari sosialisasi yang belum memadai, belum siapnya sarana dan prasarana, serta faktor edukasi terutama bagi para pengusaha yang ada di sektor UKM (Usaha Kecil dan Menengah).
56
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi bagaimana penerapan kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% pada tingkat ekspor kopi, Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan tarif 10% yang diterapkan oleh perusahaan berdampak pada penurunan penjualan ekspor kopi dan daya beli para pelaku kopi keberatan untuk PPN sebesar 10% tersebut karena nilai beli tidak sesuai dengan nilai jualnya, bidang pertanian merupakam salah satu bidang strategis dan memiliki prioritas tinggi sehingga memang perlu untuk memperoleh fasilitas pembebasan PPN.
Fasilitas pembebasan merupakan bentuk perlindungan pemerintah terhadap komoditi yang bersifat strategis dan hal ini merupakan bentuk diskresi pemerintah yang diformalisasi untuk menjalankan asas pemerintah.
2. Putusan MA no 70/HUM/2013 yang mencabut fasilitas pembebasan pada hasil pertanian akan memberatkan petani dan kelompok tani.
Bagi perusahaan, putusan tersebut justru memungkinkan mereka untuk melakukan perencanaan pajak berupa restitusi atas pajak masukan yang kelebihan bayar. Akibat putusan tersebut, asas daya pikul yang
57
adil menjadi tidak dapat berjalan dengan efektif dan pemungutan pajak tidak lagi bersifat progresif tetapi malah justru semakin regresif. Hal ini sekaligus menujukkan bahwa putusan MA tersebut pada dasarnya tidak dapat dibenarkan untuk diberlakukan mengingat dasar hukum yang digunakan kurang tepat serta berpotensi malah menyebabkan ketidakadilan di kalangan pengusaha hasil pertanian terutama dari petani dan kelompok tani.
3. Didalam perhitungan PPN pada perusahaan telah sesuai dengan UU PPN No.42 tahun 2009, baik dalam hal pencatatannya dan pelaporannya, Dalam hal ini pelunasan kewajiban pajak pembayaran perusahaan selalu tepat waktu dan tidak pernah terlambat dengan demikian juga dengan penyampaian SPT Masa PPN, Penyetoran dan restitusi didasarkan atas perhitungan selisih antara, pajak keluaran dan pajak masukan berdasarkan undang – undang yang berlaku, dan berdasarkan undang – undang yang berlaku ditetapkan apabila pada suatu masa pajak, pajak keluaran lebih besar dari pada pajak masukan maka selisihnya merupakan PPN yang masih harus dibayar atau yang biasa disebut kurang bayar oleh PT. Ketiara Coffee.
43
B. Saran
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki keterbatasan, untuk itu berikut adalah saran bagi peneliti selanjutnya yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian dengan topik yang sama, yaitu:
1. Satu-satunya cara untuk dapat memberikan fasilitas PPN atas barang hasil pertanian adalah melalui perubahan UU PPN dengan memasukkan barang hasil pertanian sebagai barang yang tidak dikenai PPN. Diharapkan kepada Menteri Keuangan RI untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh para eksportir kopi tersebut dan pemerintah juga dapa tmenkaji ulang penerapan kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% untuk eksportir kopi.
2. Bagi Perusahaan hendaknya selalu mengikuti segala perkembangan dan perubahan yang terjadi pada peraturan perpajakan, karena peraturan pajak seringkali berubah mengikuti situasi dan kondisi negara sehingga perusahaan selalu up to date dalam mengikuti peraturan perpajakan yang baru agar dapat melaporkan pajaknya dengan tepat waktu dan benar, Perusahaan juga harus meneliti kelengkapan dan kebenaran faktur pajak yang diterima supaya tidak mengakibatkan kesalahan dalam perhitungan pajak masukan.
3. Bagi Peneliti selanjutnya, apabila tertarik untuk meneliti ini secara mendalam dan ingin memperluas penelitian ini, peneliti menyarankan
44
agar peneliti selanjutnya menambah periode pengamatan dan menambah objek penelitian yang akan diteliti.
9
DAFTAR PUSTAKA
Agung, M. (2009). “Perpajakan Indonesia”. Edisi Dua. Mitra Wacana Media.
Jakarta.
Admojo, Mulyo Dwi (2016). “Analisis Penerapan Perencanaan Pajak
Pertambahan Nilai”. Jurnal Perpajakan (JEJAK). Vol. 8 No. 01 Desember 2016
Andriani, P. J. A. (2007). “Akuntansi Perpajakan”. Salemba Empat, Jakarta.
Arliyah, Novi Dewi (2014) “Pengaruh Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pertanian Terhadap Tingkat Ekspor Kakao di PT. Coffindo”. Skripsi yang tidak dipublikasikan. Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Anastasia Diana. 2017. Perpajakan Teori dan Peraturan terkini, Penerbit Andi.
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. 2017. Ekspor Kopi. Available at http://aeki- aice.org. Diakses pada tanggal 18 November 2018.Badan Pusat Statistik.
2018. Berita Resmi Statistik 2018.
Badan Pusat Statistik. Jakarta. Eriyanto, Pipit. 2018. Pemberlakuan PPN Ekspor Kopi. Available at http://disperindag.jatimprov.go.id. Diakses pada tanggal 7 Desember 2018.
Brotodihardjo, R S. (2010). “Pengantar Ilmu Hukum Pajak”. edisi empat. PT.
refika aditama. Bandung.
Eriyanto, Pipit. (2015). Pemberlakuan PPN Ekspor Kopi. Available at
http://disperindag.jatimprov.go.id. Diakses pada tanggal 25 Desember 2018.
Fitriandi, P. & Birowo, T. (2009). “Kompilasi Undang-undang Perpajakan”.
Salemba Empat, Jakarta.
Darmayanti, Novi. (2012), “Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada CV. Sarana Teknik Kontrol Surabaya”. Jurnal Manajemen dan Akuntansi. Vol. 1 No. 3 Desember 2012
Dominick, Salvatore. (1997), Ekonomi Internasional, alih bahasa oleh Haris Munandar edisi 5 cetak 1. Erlangga, Jakarta.
Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Badan Penerbit Undip. Semarang.