BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
serta hubungan manusia dengan manusia terdapat dalam tata mu’amalat atau sosial yang membentuk masyarakat berkebudayaan.33
Diterimanya agama dengan demikian, kebudayaan suatu masyarakat akan dipengaruhi oleh agama yang mereka anut. Ketika agama telah diterima dalam masyarakat, maka dengan sendirinya agama tersebut akan mengubah struktur kebudayaan masyarakat tersebut. Perubahan tersebut bisa bersifat mendasar (asimilasi) dan dapat pula hanya mengubah unsur-unsur saja (akulturasi). Jadi dapat dikatakan bahwa hubungan antara agama dan kebudayaan tersebut akan menyebabkan terjadinya proses akulturasi dan asimilasi.
32 Kementrian Agama RI, Alqur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir Alquran, 1971), h. 157.
33 Sidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Cet. II; Jakarta:
PT. Bulan Bintang, 1989), h. 86.
Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam:34 Pertama, kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam. Dalam kaidah fiqh disebutkan “al-‘adatu muhakkamatun” artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh dalam penentuan hukum. Tetapi perlu dicatat bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syari’at, seperti kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan.
Kedua, kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam, kemudian di rekonstruksi sehingga menjadi Islami. Contoh yang paling jelas adalah tradisi jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan Islam, seperti lafadz talbiyah yang sarat dengan kesyirikan dan thawaf di Ka’bah dengan menyembah patung. Islam kemudian datang dan merekonstruksi budaya tersebut sehingga menjadi bentuk ibadah yang telah ditetapkan aturannya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga, kebudayaan yang bertentangan dengan Islam seperti budaya ngaben yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Ngaben merupakan upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana meriah dan secara besar- besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang telah meninggal agar kembali kepada sang pencipta. Hal ini bertentangan dengan Islam sehingga umat Islam tidak boleh mengikutinya.
34 Ahmad Zain, “Relasi antara Islam dan Kebudayaan”
(http://ahmadzain.wordpress.com/2006/12/08/relasi-antara-Islam-dan-kebudayaan), diakses 29 Juli 2022 pukul 23.11 WITA.
26 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian budaya. Penelitian budaya merupakan usaha untuk memahami fakta yang keberadaannya diwakili oleh sesuatu dan dilakukan secara rasional empiris dan sasarannya tidak hanya mengacu pada realitas yang konkret, tetapi juga melalui pendekatan yang berusaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa sosial historis.1 Penelitian ini diperlukan sebuah petunjuk dan juga konsep dalam memahami peristiwa yang terjadi dalam masyarakat mengingat bahwa manusia merupakan makhluk yang berbudaya.
Kebudayaan merupakan pemahaman perasaan tentang ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, atau kebiasaan yang diperoleh mencakup semua yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.2 Penelitian ini bertujuan untuk menambah khazanah pengetahuan mengenai unsur-unsur budaya Islam dalam tradisi ziarah pada makam khususnya situs makam raja-raja Tallo.
Data yang digunakan adalah data kualitatif yang merupakan cara untuk memperoleh dan mengumpulkan informasi dengan mengamati langsung objek yang diteliti dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode pelaksanaan penelitian ini adalah deskriptif dengan mengumpulkan informasi
1 Maryaeni, Metode Penelitian Kebudayaan (Cet. I; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), h.
21.
2 Munandar Soeleman, Ilmu Budaya Dasar (Cet. IX; Bandung: Repfika Aditama, 2005), h. 19
lisan dari informan yang paham dan pernah melakukan tradisi ziarah dengan mengunjungi langsung makam raja-raja Tallo.
Data diperoleh melalui studi lapangan atau field research yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dengan mengangkat data yang ada dilapangan secara langsung di lokasi penelitian3. Selain itu, data diperoleh melalui kajian pustaka atau library research yaitu pengumpulan data dengan membaca buku- buku atau karya ilmiah lainnya yang berhubungan atau relevan dengan penelitian yang dibahas.
2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada situs kompleks makam raja-raja Tallo di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 7 km utara titik 0 Kota Makassar sedangkan jarak tempuh untuk mencapai situs makam raja-raja Tallo ini kurang lebih 30 menit atau 17,8 km jika diakses dari Bandara Sultan Hasanuddin via Jl. Tol Ir. Sutami.
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya izin penelitian dalam kurun waktu kurang lebih 1 (satu) bulan pengumpulan dan pengolahan data yang meliputi penyajian dalam bentuk skripsi.
B. Pendekatan Penelitian 1. Pendekatan Sejarah
Pendekatan sejarah merupakan pendekatan yang mengajak seseorang untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan masyarakat dan dapat dibuktikan dengan fakta-fakta.
Nouruzzaman Shiddiqie mendefinisikan sejarah sebagai peristiwa masa lampau yang tidak hanya sekedar memberi informasi tentang terjadinya peristiwa itu, tetapi juga memberikan interpretasi atas peristiwa yang terjadi dengan melihat
3 Suharismi Arikunto, Dasar-Dasar Research (Bandung: Tarsoto, 1995), h. 58.
hukum sebab-akibat.4 Sebagaimana pada situs makam raja-raja Tallo peneliti berusaha mencari data secara sistematis dengan menggunakan pendekatan sejarah serta dapat membantu peneliti dalam mencari fakta-fakta atau informasi yang ada di lapangan.
2. Pendekatan Sosiologi Agama
Pendekatan sosiologi adalah pendekatan yang digunakan dalam menggambarkan peristiwa masa lalu yang di dalamnya dapat mengungkap segi- segi sosial dari peristiwa yang dikaji. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum artinya, mempelajari gejala umum yang ada pada setiap interaksi antar manusia.5 Sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama karena di dalam agama banyak timbul permasalahan sosial.
Melalui pendekatan sosiologi, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.6
3. Pendekatan Antropologi
Pendekatan antropologi sebagaimana telah diketahui sebelumnya bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi kebudayaan, perilaku, keanekaragaman, dan sebagainya. Antropologi juga dianggap sebagai ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis, tradisi dan nilai-nilai dalam pergaulan hidupnya. Jadi manusia dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk budaya.7
4 Nouruzzaman Shiddiqie, Pengantar Sejarah Muslim (Yogyakarta: Nurcahaya, 1983), h.
5.
5 Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengantar (Cet. 47; Jakarta:
Rajawali Pers, 2015), h. 20.
6 Akhmad Taufik, dkk., Metodologi Studi Islam (Cet. I; Malang: Bayumedia Publishing, 2004), h. 16.
7 Imam Subchi, Pengantar Antropologi (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2018), h. 1.
Dalam hal ini pendekatan antropologi berusaha mencapai pengertian langsung tentang manusia dan kebudayaannya serta peneliti diharapkan dapat memperoleh data dengan melihat perilaku masyarakat yang berbudaya dan tradisi ziarah sebagai bagian dari aset kebudayaan yang masih dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini.
C. Sumber Data
Adapun sumber data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data primer adalah data yang diperoleh atau data yang dikumpulkan secara langsung dilapangan. Data primer yang digunakan adalah informan yang memberikan informasi secara langsung dan orang yang betul-betul paham serta dapat memberikan informasi guna dapat memecahkan masalah yang diajukan.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh untuk mendukung data primer.
Data sekunder yang digunakan adalah melalui studi kepustakaan dengan cara mengutip dari berbagai konsep yang terdiri dari banyaknya literatur baik dari buku, jurnal serta karya tulis lainnya ataupun dokumentasi tertulis, gambar, foto atau benda yang berkaitan dengan aspek yang diteliti.
D. Metode Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi menurut Nana Sudjana adalah pengamatan atau pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.8 Tekhnik observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena atau perilaku
8 Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian (Bandung: Sinar Baru, 1989), h. 84.
objek sasaran yang diteliti.9 Peneliti dituntut untuk turun langsung ke lokasi penelitian guna mengamati dan mencatat sebanyak mungkin dan seobjektif mungkin data-data yang diperlukan dalam penelitian.
Dalam hal ini peneliti mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti yaitu situs makam raja-raja Tallo baik mengenai persiapan ziarah, prosesi dan pelaksanaan ziarah, kegiatan ziarah masyarakat pada situs makam raja-raja Tallo serta segala sesuatu yang ditemukan pada makam yang peneliti anggap perlu untuk diamati.
2. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab. Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan fakta, kepercayaan, perasaan dan keinginan yang diperlukan untuk memenuhi tujuan penelitian.
Wawancara mengharuskan kedua belah pihak baik peneliti maupun subjek kajian bertemu dan berinteraksi langsung dan aktif agar dapat mencapai tujuan dan data yang diperoleh baik serta akurat.10 Wawancara dilakukan dengan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini, informan yang akan di wawancarai meliputi penjaga situs makam raja-raja Tallo, para peziarah makam serta masyarakat sekitar yang masih melakukan tradisi ziarah pada situs makam raja- raja Tallo ini.
9 Hunani Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Cet. II;
Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 52.
10 Newman, Metodologi Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Jakarta: 2013), h. 493.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data melalui cara mendapatkan data dari berbagai macam sumber tertulis di tempat. Dokumentasi dapat berbentuk tulisan, gambar, karya-karya maupun data lain yang ada di lokasi penelitian yang mempunyai kaitan dengan masalah yang dibahas oleh peneliti.11
E. Instrument Penelitian
Instrument penelitian ini adalah alat-alat yang digunakan dalam melakukan penelitian baik alat perekaman, alat tulis menulis yang memiliki fungsi penting dan sebagai alat pendukung dalam melakukan penelitian lapangan. Adapun alat- alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Pedoman wawancara merupakan daftar pertanyaan yang digunakan dalam melakukan wawancara yang dijadikan sebagai pedoman dasar dalam memberikan pertanyaan kepada informan berupa daftar pertanyaan untuk kemudian memperoleh data atau informasi dari informan.
2. Alat tulis menulis seperti pulpen dan buku catatan yang menjadi alat pendukung untuk mencatat hal-hal penting dari apa yang dibahas oleh informan serta membantu proses wawancara untuk memperoleh informasi.
3. HP (handphone) juga sangat berfungsi dan merupakan alat pendukung yang digunakan untuk memotret untuk mengambil gambar dan merekam suara jika sedang melakukan wawancara dengan informan kemudian dapat dijadikan sebagai alat bukti penelitian.
11 Sulaiman Al-Kumayi, Diktat Perkuliahan Metode Penelitian Kuantitatif (Semarang:
Fakultas Ushuluddin IAIN Wali Songo, 2014), h. 49.
Metode merupakan salah satu langkah yang ditempuh peneliti untuk menganalisis hasil temuan data yang telah diperoleh. Dalam pengolahan data digunakan metode-metode sebagai berikut:
1. Metode Induktif yaitu menganalisa unsur-unsur yang bersifat khusus kemudian mengambil kesimpulan yang bersifat umum.
2. Metode Deduktif yaitu menganalisa data dari unsur yang bersifat umum kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.
3. Metode Komparatif yaitu menganalisa data dengan membandingkan data yang satu dengan yang lainnya kemudian menarik kesimpulan.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah di lapangan. Dalam hal ini Nasution dalam Sugyono, menyatakan “analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian”.12 Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk analisis data yaitu tahap reduksi data, penyajian data (data display), analisis perbandingan (komparatif), dan penarikan kesimpulan (verification).13
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu langkah untuk memisahkan hal-hal yang penting dan tidak penting dari data-data yang terkumpul, sehingga nantinya data- data tersebut menjadi lebih fokus terhadap tujuan penelitian. Reduksi data merupakan aktivitas analisis berbentuk penyelesaian, pemfokusan, penyederhanaan data baku (data kasar) dari catatan di lapangan menjadi data
12 Sugyono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabet 2010), h. 245.
13 Djam’an Satori, Metodologi Penelitian Kualitatif (Cet. III; Bandung: Alfabet, 2011), h.
36.
bermakna dengan menyajikan kunci-kunci informasi untuk menunjang simpulan sementara.14
2. Penyajian Data (Data Display)
Penyajian data merupakan suatu upaya penyusunan sekumpulan informasi menjadi pernyataan. Data display merupakan penyajian data dalam bentuk tertentu sehingga terlihat utuh. Dalam penyajian data ini dilakukan secara induktif, yaitu dengan menguraikan permasalahan penelitian dengan memaparkan secara umum kemudian menjelaskan secara spesifik.15
3. Analisis Perbandingan (Komparatif)
Pada tahap analisis perbandingan peneliti mengkaji kembali data-data yang telah diperoleh dari lapangan secara sistematis dan mendalam, kemudian melakukan perbandingan satu data dengan data yang lain sebelum ditarik kesimpulan dan mengambil data yang lebih akurat.
4. Penarikan Kesimpulan (Verification)
Analisis data kualitatif menurut Miles and Hiberman dalam Sugyono adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.16 Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap awal, didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan.
14 Muhammad Ilyas, Metode Penelitian Pendidikan (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2015), h. 207.
15 Farida Nugrahani, Metodologi Penelitian Kualitatif (Surakarta: Kencana, 2014), h. 21.
16 Sugyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabet, 2011), h. 57.
34 1. Letak Geografis
Kecamatan Tallo merupakan salah satu wilayah administrasi dari 14 kecamatan di kota Makassar yang terletak di sebelah utara dan mempunyai peranan penting dalam pengembangan kota Makassar. Secara keseluruhan luas wilayah kecamatan Tallo adalah ± 5, 83 km² yang terdiri dari 15 kelurahan, 77 RW, dan 465 RT1 dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara Selat Makassar
Sebelah Timur Kecamatan Tamalanrea
Sebelah Selatan Kecamatan Bontoala
Sebelah Barat Kecamatan Ujung Tanah
Tabel 1. Batas-batas wilayah Kecamatan Tallo
Kecamatan Tallo terdiri dari 15 kelurahan dan 3 diantaranya merupakan daerah pantai dan 12 kelurahan lainnya merupakan daerah bukan pantai. Daerah tersebut adalah sebagai berikut:
No. Nama wilayah Wilayah pantai Wilayah bukan pantai
1. Bunga Eja Beru X
2. Lembo X
3. Kalukuang X
4. La’latang X
1 https://dasawisma.pkk.makassarkota.go.id (diakses pada 9 Agustus 2022 pukul 14. 32 WITA).
5. Rappo Jawa X
6. Tammua X
7. Rappokalling X
8. Wala-walayya X
9. Ujung Pandang Baru
X
10. Suangga X
11. Pannampu X
12. Kaluku bodoa X
13. Buloa X
14. Tallo X
15. Lakkang X
Tabel 2. Letak dan Status Kelurahan di Kecamatan Tallo Keadaan Akhir Tahun 2018 Sumber: Kantor Kecamatan Tallo
Secara keseluruhan luas wilayah kecamatan Tallo adalah ± 5,83 km² dari 15 kelurahan, Lakkang merupakan wilayah yang terluas dengan luas 1, 15 km², disusul oleh kelurahan Tammua dengan luas wilayah 0,62 km², sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah kelurahan Wala-walayya dengan luas 0,11 km².
No. Nama Kelurahan Luas (km²)
1. Bunga Eja Beru 0.12
2. Lembo 0.13
3. Kalukuang 0.21
4. La’latang 0.26
5. Rappo Jawa 0.12
6. Tammua 0.62
7. Rappokalling 0.59
8. Wala-walayya 0.11
9. Ujung Pandang Baru 0.31
10. Suangga 0.30
11. Pannampu 0.36
12. Kaluku Bodoa 0.59
13. Buloa 0.41
14. Tallo 0.51
15. Lakkang 1.15
Tabel 3. Luas wilayah tiap Kelurahan di Kecamatan Tallo Keadaan Akhir Tahun 2018
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo secara administrasi masuk dalam wilayah kelurahan Tallo, tepatnya terletak di Muara Sungai Tallo dan juga termasuk kelurahan yang memiliki banyak industri pengolahan kayu dan kapal fiber dengan kapal biasa. Kelurahan ini merupakan salah satu kelurahan yang dilewati oleh aliran Sungai Tallo yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hal ini terbukti bahwa air asin dapat sampai 10 km ke arah hulu. Sungai Tallo mempunyai panjang 66 km dengan luas daerah aliran sungai 417 km² dan pada musim kemarau mempunyai debit air terendah sebesar 0,7 m3/detik.2
Sungai tersebut memiliki potensi berupa mangrove yang luasnya diperkirakan sekitar 28.892 m² dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak 57.784.3
2 Firdaus Daud, “Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan di Pemukiman Sekitar Muara Sungai Tallo Kota Makassar”, Jurnal Chemica 19 no. 1 (Juni 2009), h. 10.
3 Indira Satriani Nursalam, “Pemanfaatan Sungai Tallo sebagai Potensi Transportasi Sungai Berbasis Ekowisata di Kota Makassar” Jurnal Hasanuddin Student 1 no. 2 (Desember 2017), h. 163.
Gambar 1. Peta Kecamatan Tallo
2. Topografi dan Jumlah Penduduk
Kecamatan Tallo merupakan salah satu wilayah dari kota Makassar yang terletak di sebelah utara, merupakan daerah pesisir yang dikategorikan sebagai dataran rendah dengan posisi sekitar 0-25 meter diatas permukaan laut, hal ini yang mengakibatkan daerah ini sering tergenang air karena selain posisinya yang relatif rendah, daerah ini juga masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Dalam kurun waktu 2015-2016 jumlah penduduk kecamatan Tallo mengalami peningkatan. Tahun 2016 sebanyak 139.167 jiwa, hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk sebanyak 1.170 jiwa atau sekitar 0,84% bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2015 yang berjumlah 137.997 jiwa. Berdasarkan jenis kelamin tampak bahwa jumlah penduduk laki-laki sekitar 69.739 jiwa dan perempuan sekitar 69.428 jiwa.
Dengan demikian rasio jenis kelamin adalah sekitar 100,45% yang berarti setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat sekitar 100 orang penduduk laki- laki. Jika diperhatikan distribusi penduduk kecamatan Tallo menurut kelompok umur 20-24 tahun tercatat mempunyai populasi terbanyak menyusul kelompok umur 15-19 tahun.4
No. Nama Kelurahan Luas (km²)
Rumah tangga Penduduk
1. Bunga Eja Beru 0.12 1.989 9.194
2. Lembo 0.13 2.333 11.664
3. Kalukuang 0.21 1.075 47.090
4. La’latang 0.26 1.052 4.394
5. Rappo Jawa 0.12 1.584 6.397
6. Tammua 0.62 2.272 99.090
7. Rappokalling 0.59 3.526 14.987
8. Wala-walayya 0.11 1.664 75.840
9. Ujung Pandang Baru
0.31 810 3.697
10. Suangga 0.30 2.221 9. 216
11. Pannampu 0.36 3.867 17.769
12. Kaluku Bodoa 0.59 4.633 22.753
13. Buloa 0.41 1.854 8.092
14. Tallo 0.51 1.842 8.286
15. Lakkang 1.15 244 973
Tabel 4. Jumlah Penduduk tiap Kelurahan di Kecamatan Tallo Keadaan Akhir Tahun 2018 Sumber: Kantor Kecamatan Tallo
4 Badan Pusat Statistik 2018 “Profil Kecamatan Tallo 2012”.
Secara astronomi makam raja-raja Tallo terletak pada titik kordinat 6º10’18” LS - 119º26’44.47” BT dan secara administratif kompleks makam tersebut berada di wilayah pemerintahan Kelurahan Tallo. Kompleks makam ini memiliki luas sekitar 8.200 m², tepatnya berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Status kompleks makam adalah milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan memiliki batas-batas: sebelah utara berbatasan dengan pemukiman penduduk, sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Sultan Abdullah dan Gudang tehel, sebelah barat berbatasan dengan Jalan Raya Tallo dan Gudang kayu dan sebelah timur berbatasan dengan Gang Pancayya serta pemukiman penduduk.5
Kompleks makam telah dipagari dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti jalan setapak, gazebo, toilet, mushallah, pos jaga dan baruga. Bagian dalam kompleks makam sudah ditata dengan baik dan ditambah tanaman hias berupa bunga sepatu, palem, pohon lontar, buah maja, sirsak, dan bunga kamboja.
Sementara pohon mangga, sukun, jambu air dan kayu colo merupakan tanaman yang sudah ada sejak lama. Umumnya masyarakat yang tinggal disekitar kompleks makam raja-raja Tallo di huni oleh suku Makassar yang hampir keseluruhan beragama Islam dengan sumber mata pencaharian sebagian besar adalah nelayan, wiraswasta dan pegawai negeri.
Kontur tanah yang ada pada kompleks makam bergelombang, pada bagian tengah hingga ke sisi timur laut memiliki kontur yang tinggi, terutama pada
5 Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, “Laporan Kegiatan Pemetaan Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Benteng Tallo dan Bastion Tallo di Kota Makassar”
(Makassar: Unit Pemugaran Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, 2019), h. 11.
bagian yang terdapat banyak makam, pada bagian lain lebih rendah dan yang terendah terdapat pada sisi barat daya.
Berdasarkan tipologi jirat, makam raja-raja Tallo yang berjumlah 78 makam, dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu6:
1. Tipe kubang (susun-timbun), yakni tipe makam yang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, sehingga hampir menyerupai bentuk susunan balok-balok candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap.
Di bagian atap ditancapkan dua buah nisan dan umumnya, bangunan makam seperti ini di dalam rongga makam yang berbentuk setengah lingkaran memanjang dan masih terdapat nisan. Tipe makam yang dahulu disebut dengan istilah jirat semu ini merupakan tipe makam yang umum dijumpai di daerah Sulawesi Selatan yang biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat atau pembesar istana. Selain itu, tipe susun timbun juga ada yang dibuat tidak berongga. Bentuknya hanya seperti kotak besar yang dipasang empat papan batu berukir dan ditancapkan dua buah nisan;
2. Tipe papan batu, yakni tipe makam yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu. Pada dinding utara dan selatan, di bagian atas makam dibuat runcingan tepat di bagian tengahnya. Keempat papan batu ditopang empat lapisan yang membentuk kaki makam.
Ditengahnya ditancapkan satu atau dua buah nisan;
3. Tipe kubah, yakni bangunan beratap melengkung seperti kubah yang menaungi makam di dalamnya. Bahan bangunannya terbuat dari batu bata dengan perekat (specie) di dalamnya terdapat satu atau dua buah makam.
6 Mahmud dan M. Irfan, Sisa-sisa Peradaban Kerajaan Kembar Gowa-Tallo Sulawesi Selatan (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2002), h. 17.
Bangunan makam tipe kubah ini selain di Sulawesi Selatan, dapat dijumpai pula di daerah Timor dan Tidore.
Ragam hias pada tipe makam tersebut cukup bervariasi diantaranya adalah: medallion, tumpal, panel persegi berisi ukiran dengan pola geometris, tumbuhan, daun, kelopak bunga, suluran yang distilir pada dinding-dinding cungkup makam dan kaligrafi (huruf Arab), seperti Allah dan Laa Ilaha Illallah.7
Makam ini hampir serupa dengan bentuk bangunan candi yang terbuat dari batu cadas dan batu bata dari tanah liat yang direkatkan satu sama lain dan pada makam ini sebagian besar makam terdiri dari susunan batu andesit dan sebagian lainnya menggunakan batu bata. Makam raja-raja Tallo diperkirakan berjumlah kurang lebih 78 buah makam akan tetapi hanya ada sekitar 21 makam yang dapat dikenali dan memiliki nama. Mereka adalah raja dan keluarga kerajaan Tallo yang dimakamkan.
Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil pembagian kekuasaan kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing-masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Sero sebagai raja pertama.8
Meskipun Raja Tunatangka Lopi telah memberi kekuasaan kepada kedua putranya ternyata belum berbuah damai dan perang saudara selama bertahun- tahun tidak bisa dihindari. Barulah pada periode raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi Tumaparisi Kallongna akhir abad ke-15 atau awal abad
7 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, “Penyampaian Salinan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 267/M/2016”, h. 6
8 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, “Penyampaian Salinan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 267/M/2016”, h. 7.