BAB II RIWAYAT HIDUP WAHBAH AZ-ZUHAILI DAN KAJIAN
B. Kajian Kitab Tafsir Al- Mun r
4. Karakteristik Tafsir Al- Mun r
Jika dibandingkan dengan kitab-kitab tafsir lainnya ciri khas dari tafsir Al-Munr adalah dalam penyampaian dan kajiannya yang menggunakan langsung pokok tema bahasan.
Misalnya tentang orang-orang munafik dan sifatnya, maka tema tersebut dapat di temukan dibeberapa sūrah Al- Baqarah.93
Terdapat metode pembahasannya yang secara merata, urut dan tuntas mulai dari sūrah Al-F tihah sampai dengan sūrah An-N s, berdasarkan sūrah dalam Mushaf Utsmani. Hal ini
91 Nur Chanifah dan Abu Samsuddin, Pendidikan Karakter Islami, (Banyumas: Pena Persada, 2019), hlm. 108-109.
92 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. xvi.
93 Nur Chanifah dan Abu Samsuddin, Pendidikan..., hlm. 109.
sangat mempermudah dalam memahami maksud dan penjelasan setiap sūrah yang ada didalam tafsir Al-Munr.94
Selain itu, yang menciri khaskan Tafsir Al-Mun r adalah ditulis secara sistematis, komprehensif, lengkap, mencakup semua aspek yang dibutuhkan seperti bahasa, i‟r b, bhal ghah, mufrad t lughawiyyahnya, asb b an-nuzūl, mun sabah ayat, sejarah, wejangan, penetapan hukum, dan pendalaman pengetahuan tentang hukum agama, dengan cara yang berimbang dalam memberikan penjelasan dan tidak menyimpang dari topik utama.95 Yang terakhir adalah mengenai fiqih kehidupan atau hukum-hukum yang terkandung tiap tema pembahasan. Serta memberikan jalan tengah terhadap perdebatan antar ulama‟ madzhab yang berkaitan dengan ayat-ayat hukum, dan mencantumkan footnote ketika pengambilan sumber.96
5. Sumber-Sumber Penulisan Tafsir Al-Munr
Tafsir Al-Munr adalah bagian dari karya Wahbah Az- Zuhaili yang terbesar. Meskipun demikian layaknya sebuah karya di abad ini maka dalam penulisannya sudah tentu banyak kitab-kitab yang menjadi sumber-sumber atau
94 Moch. Yunus, “Kajian Tafsir Al-Mun r Karya Wahbah Az-Zuhaili”, Humanistika, Vol.
4, Nomor 2, juni 2018, hlm. 64.
95 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. xiii.
96 Nur Chanifah dan Abu Samsuddin, Pendidikan Karakter Islami, (Banyumas: Pena Persada, 2019), hlm.109.
refrensinya. Pengambilan sumber-sumber terhadap suatu penulisan sangat menentukan nilai dari sebuah karya.97
Dalam pembahasan kitab ini, Wahbah Az-Zuhaili menggunakan kompromi antara sumber-sumber Tafsiīr bil Ma‟tsūr dengan Tafsir bil Ra‟yi, serta menggunakan gaya bahasa dan ungkapan yang jelas, yakni gaya bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi generasi sekarang.98
Penafsiran Wahbah Az-Zuhaili dipengaruhi karya-karya tafsir yang sudah ada sebelumnya dari masa klasik dan kontemporer dimulai dari imam para mufassir yakni Ibnu Jarir Ath-Thabari,99 dalam penjelasan tentang ayat yang berkaitan dengan akidah, akhlak, dan penjelasan ayat-ayat Allah SWT tentang alam semesta merujuk pada Tafsīr Al-Kabīr karya Fakhrudd n Ar-R z , Al-Bahr Al-Muhīt karya Abū Hayy n Al- Andalūs , Rūh Al-Ma‟ nī karya Al-Aūs. Dalam penjelasan kisah-kisah Al-Qur‟ n dan sejarah, merujuk pada tafsīr Al- Kh zin dan tafsir Al-Baghawi. Terkait penjelasan hukum- hukum fikih merujuk kepada beberapa tafsir seperti J mi‟ fī Ahk m Al-Qur‟ n karya Al-Qurtubi, Ahk m Al-Qur‟ n karya Al- Jass s, Tafsīr Al-Qur‟ n Al-„Azīm karya Ibnu Katsr, dalam bidang kebahasaan merujuk pada Tafsīr Al-Kasysy f karya Zamakhsy ri, materi qir ‟at, dirujuk dari Tafsīr An-Nasafi,
97 Ibid.
98 Baihaki, “Studi Kitab Tafsir Al-Mun r Karya Wahbah Al-Zuahili dan Contoh Penafsirannya Tentang Pernikahan Beda Agama”, Analisis, Vol. 16, Nomor 1, Juni 2016, hlm.
138.
99 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, Jilid 15, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 738.
sedangkan bidang sains dan teori-teori ilmu alam, merujuk dari Al-Jaw hir karya Tant wi Jauhari.100
100 Baihaki, “Studi..., hlm. 138.
BAB III
BENTUK MUNĀSABAH DAN KEISTIMEWAAN WAKTU FAJAR PADA S RAH AL-FAJR DALAM TAFSIR AL-MUN R
A. Mun sabah Sūrah Al-Fajr dengan Sūrah Al-Gh syiyah Sūrah ini memiliki tiga kaitan dengan sūrah sebelumnya.
1. Pada akhir sūrah Al-Gh syiyah Allah SWT berfirman,
“Sungguh, keāada kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (Al-Gh syiyah [88]: 25-26).101
Sesungguhnya kepada Kami-lah tempat kembali mereka. Dan Kami menghitung amal-amal mereka setelah mereka dibangkitkan (dari kubur) dan kembali kepada Allah SWT. Jika amalan mereka baik, akan dihitung baik.
Tetapi, jika amalan mereka buruk, maka akan dihitung buruk. Saat itu tidak ada tempat untuk melarikan diri bagi orang-orang yang menentang. Para pendusta tidak akan dapat melepaskan diri dari siksaan.102
Kemudian Allah SWT memperkuatnya dengan berfirman,
101 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān dan Terjemahannya Juz 1-Juz 30, (Surabaya: CV. Aisyiah, 1998), hlm. 1055.
102 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, Jilid 15, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 510.
“Demi fajar, Demi malam yang seāuluh, demi yang genaā dan yang ganjil, demi malam bila berlalu. pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-Ārang yang berakal” (Al-Fajr [89]: 1-5).103
Sumpah Allah SWT dengan fajar, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hitungan genap, hitungan ganjil, dan waktu malam itu merupakan sumpah yang agung bahwa sungguh, orang-orang kafir pasti akan disiksa.104
Karena Allah itu Maha Adil tetapi tidak memiliki keharusan apa pun karena Dia adalah penguasa mutlak.105 Sekalipun penghitungan amal (his b) adalah hak bagi Allah SWT, akan tetapi, Dia tidak wajib menjalankannya. Hanya saja Allah SWT menjadikan his b tersebut wajib bagi dirinya. Adakalanya dengan memberikan janji yang tidak akan diingkari. Adakalanya juga memberikan keputusan sesuai dengan hikmah dan keadilan-Nya. Oleh karena itu, seandainya Dia tidak membalas kezaliman orang yang zalim, hal itu sama saja denga Dia ridha akan kezaliman tersebut, dan Allah SWT juga terbebas dari semua itu. Oleh karenanya penghitungan Amal itu menjadi wajib.106
103 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1057.
104 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 513.
105 Nok Aenul Latifah dan Abdul Mutolib, Paham Ilmu Kalam, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014), hlm. 178.
106 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm.512.
Keterkaitannya adalah sumpah di awal sūrah Al-Fajr merupakan dalil kebenaran isi kandungan akhir sūrah Al- Gh syiyah.107 Bahwa Allah SWT akan membangkitkan dan menghisab amal perbuatan manusia, dan Saat itu tidak ada tempat untuk melarikan diri bagi orang-orang yang menentang. Para pendusta tidak akan dapat melepaskan diri dari siksaan.108 Oleh karena itu, sumpah Allah SWT dengan fajar, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hitungan genap, hitungan ganjil, dan waktu malam itu merupakan sumpah yang agung bahwa sungguh, orang- orang kafir pasti akan disiksa.109
Senada dengan hal itu dalam tafsir Al-Misb h pada akhir ayat sūrah Al-Gh syiyah menegaskan tentang kematian dan kembalinya manusia kepada Allah SWT untuk menjalani his b (perhitungan) dan memperoleh balasannya. Sedangkan di dalam sūrah Al-Fajr, pergantian malam dan siang, kemunculan serta kelahirannya sebagaimana terlihat setiap hari setelah kepergiannya atau kematiannya kemarin, membuktikan kuasa Allah SWT.
Dalam membangkitkan siapa yang telah mati.110
Contoh kebangkitan manusia dari kematian kecil yakni tidur dengan tersebarnya cahaya siang agar manusia
107 Ibid.
108 Ibid., hlm. 510.
109 Ibid., hlm. 513.
110 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbāh Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’ān, Jilid 15 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 243.
mencari sarana kehidupan untuk kemudian mengalami his b yang menghasilkan ganjaran atau balasan.111
2. Dalam sūrah Al-Gh syiyah di sana membahas tentang keadaan orang-orang yang masuk sebagai penghuni neraka yakni,
“Mereka memasuki aāi yang sangat āanas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.
mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. banyak muka pada hari itu berseri- seri.” (Q.S. Al-Gh syiyah [88]: 4-7).112
Maksudnya adalah orang-orang kafir masuk ke neraka yang sangat panas. Wajah-wajah tersebut disiksa oleh Allah SWT, akibat dari perbuatan mereka yang sangat buruk. Apabila mereka haus, maka akan diberikan minuman dari sumber air yang sangat panas dan tidak akan menghilangkan dahaganya. Tidak ada makanan bagi mereka untuk mereka santap, melainkan pohon yang berduri, penduduk Hijaz sering menyebutnya dengan pohon Syabaraq jika pohon tersebut belum kering, namun apabila sudah kering pohon itu disebut Dahrii‟. Pohon berduri tersebut sangat pahit dan berbahaya, itu adalah
111 Ibid., hlm. 241-242.
112 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān dan Terjemahannya Juz 1-Juz 30, (Surabaya: CV. Aisyiah, 1998), hlm. 1054.
racun dan sejelek-jelek makanan. Makanan tersebut tidak memberikan manfaat sama sekali, tidak dapat menghilangkan rasa lapar, dan tidak membuat gemuk orang yang memakannya. Adapun penyebutan air lebih didahulukan daripada api karena air lebih penting bagi penghuni neraka. Jika mereka terkena panasnya sengatan api nereka, mereka akan sangat kehausan.113
Sūrah Al-Gh syiyah juga menyebutkan keadaan orang-orang yang masuk surga,
“banyak muka āada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam syurga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.” (Q.S.
Al-Gh syiyah [88]: 8-11).114
Allah SWT menjelaskan keadaan orang-orang yang berbahagia dengan wajah mereka yang berseri-seri dan mereka sangat senang dengan usaha yang mereka lakukan dahulu, akhirnya mengantarkan mereka ke surga yang sangat indah, tinggi dan tempatnya yang aman. Surga adalah rumah bagi para kekasih Allah SWT, rumah bersih
113 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, Jilid 15, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 501.
114 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1054.
yang tidak dikotori oleh perkataan yang sia-sia, dusta dan kebohongan.115
Begitupula dengan sūrah Al-Fajr yang berbicara tentang orang-Ārang zalim yakni kaum „ d, kaum Tsamūd, dan Fir‟aun,
“Aāakah kamu tidak memāerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadaā kaum ' d? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai Bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamūd yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 6-13).116
Wahai manusia, tidakkah kalian mengetahui bagaimana Allah SWT membinasakan kaum „ d yang āertama, keturunan dari „ d bin Haush bin Iram bin Sam bin Nūh a.s. kaum ini juga disebut dengan kaum Iram yang meruāakan nama lain dari kaum „ d yang pertama, dan generasi setelahnya disebut kaum „ d yang terakhir. Allah SWT mengutus Nabi Hūd a.s. untuk mereka, mereka
115 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 505.
116 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1057-1058.
tinggal di negeri Rimal terletak antara Oman dan Hadramaut. Mereka adalah manusia yang paling keras watak dan paling kuat secara fisik. Belum pernah ditemukan sampai sekarang tandingan yang sebanding dengan mereka, bahkan mereka memiliki bangunan kuat dengan banyak tiang tinggi yang terukir indah.117
Kaum Tsamūd adalah kaum yang memotong batu besar dan memahatnya, mereka membangun rumah, istana-istana, dan bangunan-bangunan besar dengan batu- batu tersebut. Allah SWT mengutus Nabi Shaleh a.s.
kepada mereka, daerah mereka terletak di Hijr yaitu antara daerah Syam dan Hijaz, atau lembah Qira.118
Selanjutnya āemimāin Mesir āada masa Nabi Mūs a.s. yang membangun bangunan-bangunan besar, dan tentara yang mendukung kerajaannya. Mereka membuat āiramida yang dibangun Āleh fir‟aun-fir‟aun untuk dijadikan sebagi kuburan. Mereka memaksa bangsa mereka untuk membangun piramida tersebut.119
Kelompok-kelompok yang sudah disebutkan, yaitu kaum „ d, Tsamūd, dan Fir‟aun. Mereka semua telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman dan dosa di negeri mereka. Banyak melakukan kerusakan, kekufuran, kemaksiatan, dan menzalimi rakyat. Sehingga Allah SWT
117 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 518-519.
118 Ibid., hlm. 519.
119 Ibid.
menurunkan Adzab yang pedih kepada kelompok-kelompok tersebut. Adzab yang serupa dengan cambuk yang menyakitkan.120
Begitu juga menjelaskan orang-orang mukmin yang shaleh,
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah keāada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr[89]: 27-30).121
Allah SWT berfirman kepada orang mukmin, dengan Zat-Nya sendiri atau melalui perantara malaikat-Nya,
“Wahai jiwa yang yakin dengan keimanan, kebenaran dan ketauhidan yang tidak ada keraguan sama sekali kebenaran aqidahnya. Allah SWT telah meridhai disebabkan Qadha‟ dan Qadar Allah SWT dan telah mematuhi aturan-aturan Syari‟at. Oleh karena itu, kamu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tenang dan menyebut Allah, berdiri tegak, tidak berguncang, dan aman tanpa ada rasa takut sedikitpun. Allah SWT sudah menyiapkan dan memberikan tempat mulia karena perbuatan yang sudah dilakukan selama di dunia.122
120 Ibid., hlm. 520.
121 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1059.
122 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 530-531.
Mun sabah kedua sūrah tersebut adalah pada sūrah Al-Gh syiyah berisi pembagian manusia menjadi dua kelompok: pertama, orang-orang celaka dan orang-orang yang bermuka tunduk; kedua, orang-orang bahagia, dan orang-orang yang bermuka penuh kenikmatan. Kemudian sūrah Al-Fajr menyebutkan beberapa kelompok dari orang- orang yang dzalim: kaum „ d, kaum Tsamūd, dan Fir‟aun yang merupakan kelompok pertama. Beberapa kelompok dari kaum Mukminin yang diberi petunjuk dan bersyukur atas nikmat Allah. Mereka masuk dalam golongan kelompok kedua. Janji dan ancaman sama-sama ada dalam kedua sūrah tersebut.123
Dalam Al-Qur‟ n dan terjemahannya departemen agama disana menerangkan keterkaitan sūrah Al-Fajr dengan sūrah Al-Gh syiyah adalah Pada sūrah Al- Gh syiyah, Allah SWT menyebutkan orang-orang pada hari kiamat tergambar pada muka mereka kehinaan, kemudian dicontohkan dalam sūrah Al-Fajr yaitu beberapa kaum yang mendustakan lagi berbuat durhaka. dan tentang orang-orang yang bercahaya wajah mereka digambarkan pada sūrah Al-Gh syiyah. Kemudian ditunjukkan dalam sūrah Al-Fajr orang-orang yang berjiwa muthmainnah.124
123 Ibid., hlm. 513.
124 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm.1055.
3. Sesungguhnya firman Allah SWT,
“Maka Aāakah mereka tidak memāerhatikan unta bagaimana Dia diciātakan,” (Q.S. Al-Gh syiyah [88]: 17)125 Allah SWT memerintahkan kepada hamba- hambanya untuk melihat dan mengambil pelajaran dari makhluk-makhluk ciptaannya yang menunjukkan keagungan, kekuasaan, dak keesan-Nya. Bagaimana bisa orang-orang musyrikin mengingkari hari kebangkitan dan akhirat serta menganggapnya tidak mungkin terjadi?,126
Sebab diturunkannya ayat ini adalah Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Abad bin Hamid meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata “Ketika Allah SWT menyifati kenikmatan di surga, orang-orang yang telah tersesat heran atas hal itu. Lantas Allah menurunkan ayat, “Maka tidakkah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciātakan?”127
hewan unta merupakan makhluk yang Allah SWT ciptakan dengan bentuk yang indah, tulang dan kekuatan yang lebih, unta adalah makhluk hewan yang sangat menakjubkan dan bentuk hewan yang sangat unik, yang sanggup mengangkat barang-barang berat, dapat
125Ibid., hlm.1052.
126 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 508.
127 Ibid., hlm. 507.
menempuh jarak yang sangat jauh, tahan rasa haus, sedikit makan, kuat menahan beban berat.128
Sedangkan di dalam sūrah Al-Fajr ayat 6 Allah SWT berfirman,
“Aāakah kamu tidak memāerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadaā kaum ' d?” (Q.S. Al-Fajr [89]: 6)129
Sama halnya dengan kaum „ d yang mendustakan kebenaran hari kebangkitan, perkataan āemuka kaum „ d diabadikan di dalam Al-Qur‟ n dalam sūrah Al-Mukminūn ayat 35-39,
“Aāakah ia menjanjikan keāada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya". Rasul itu berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku
128 Ibid.
129 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1057.
karena mereka mendustakanku." (Q.S. Al-Mukminūn [23]:
35-39).130
Mereka menganggap bahwa hari pembangkitan itu tidak mungkin terjadi, mereka mengingkari bahwa jasad manusia nanti akan dibangkitkan setelah lama hanya sebagai tanah dan tulang belulang saja. “Mustahil!
Ancaman itu tidak mungkin terjadi, “Kehiduāan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hiduā dan tidak akan dibangkitkan (lagi)”
kehidupan ini hanya berjalan begitu saja suatu kaum mati dan kaum lainnya akan hidup, ini adalah keyakinan dari penganut atheisme. Sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang zindik dan munafik yang pura-pura beriman, hidup seseorang hanya dimulai dari rahim lalu habis setelah ditelan bumi.131
Jika melihat kondisi yang Allah SWT berikan kepada kaum „ d dalam sūrah Al-A‟r f dijelaskan,
“Aāakah kamu (tidak āercaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu
130 Ibid., hlm. 530.
131 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, terj. Dudi Rosyadi, (Jakarta: Al-Kautsar, 2011), cet. ke- 1, hlm. 164.
Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendaāat keberuntungan.” (Q.S. Al-A‟r f [7]: 69)132 Yakni mereka diberikan anugrah dan nikmat oleh Allah SWT, mereka dijadikan pewaris Nabi Nuh, mereka berpostur tubuh yang tinggi dan kekar, keras lagi kuat, bahakan belum pernah ada yang bisa menyamai mereka.133
Sūrah Al-Gh syiyah ayat 17 dengan sūrah Al-Fajr ayat 6 hampir mirip, karena di dalam sūrah Al-Gh syiyah ayat 17 Allah SWT menegaskan akan adanya hari kebangkitan dengan memberikan contoh hewan unta.
hewan unta merupakan hewan yang diberikan kelebihan, dapat mengangkat barang-barang berat, dapat menempuh jarak yang sangat jauh, tahan rasa haus, sedikit makan, kuat menahan beban berat.134
Sama halnya dengan kaum „ d yang juga diberikan kelebihan, berupa tubuh yang kuat dan kekar serta berpostur tubuh tinggi, kaum „ d juga mendustakan akan kebenaran hari kebangkitan, mereka tidak percaya akan adanya surga dan neraka. Kemudian mun sabahnya juga merupakan bukti akan kekuasaan Allah SWT yang kuasa menciātakan unta dan kaum „ d.
132 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān dan Terjemahannya Juz 1-Juz 30, (Surabaya: CV. Aisyiah, 1998), hlm. 232.
133 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 501.
134 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr Aqidah, Syari’ah, Manhaj, terj. Abdul Hayyi Kattani, dkk, Jilid 15, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 508.
B. Mun sabah Ayat Dengan Ayat Dalam Sūrah Al-Fajr 1. Mun sabah ayat 1-14 dengan ayat 15-20
Pada ayat sebelumnya Allah SWT berfirman,
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ' d? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai Bangunan- bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamūd yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak- pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (Q.S. Al-Fajr [89]:
1-14).135
Allah SWT bersumpah dengan fajar, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hitungan genap, hitungan ganjil, dan waktu malam, bahwa azab orang-orang kafir pasti akan terjadi, tidak ada tempat menghindar darinya. Sebagaimana yang ditimāakan keāada kaum „ d, Tsamūd, dan Fir‟aun, yang berbuat kedzaliman sehingga Allah menimpakan cemeti azab
135Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān dan Terjemahannya Juz 1-Juz 30, (Surabaya: CV. Aisyiah, 1998), hlm. 1057-1058.
kepada mereka. Allah SWT juga akan mengawasi seluruh perbuatan manusia. Tidak ada satu pun yang akan terlepas dari pengawasan-Nya, sehingga Allah SWT akan membalas- Nya sesuai dengan perbuatannya jika baik maka akan mendapatkan kebaikan, dan jika perbuatan itu jelak maka akan dibalas dengan kejelekan, Allah SWT tidak akan menyia- nyiakan perbuatan tersebut baik sedikit maupun banyak, kecil maupun besar.136
Tetapi manusia lebih tertarik kepada duniawi dengan segala kenikmatannya dari pada mengejar akhirat yang kekal.
Allah SWT menggambarkan kesalahan persepsi manusia tentang pemberian-Nya,
“Adaāun manusia aāabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: "Tuhanku menghinakanku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 15-16)137
Sesungguhnya manusia telah salah dalam berfikir, jika mereka diuji dengan kenikmatan, mereka menjadi sombong dan luāa untuk bersyukur. Mereka berkata, “Tuhanku telah memuliakan, mengutamakanku, memilihku, mengangkat derajatku, dan membebaskan ku dari siksa. Sebaliknya jika
136 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir..., hlm. 520.
137 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’ān..., hlm. 1058.