METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan dikebun Biologi Prodi Tadris Biologi UIN Raden Fatah Palembang selama 6 bulan dari bulan Juli 2014 sampai Desember 2014.
B. Alat dan Bahan 1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag, waring, sendok, kamera, mistar, timbangan, pH meter, kertas label, alat tulis, kantong plastik.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit cabai keriting (Capsicum annum L.), limbah kulit kopi (Coffea robusta L.), starter EM- 4, dedak, gula pasir, air, dan tanah (tanah biasa)
C. Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 6 ulangan. Rancangan penelitian sebagai berikut:
Tabel 3. Rancangan Data Penelitian Menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pengaruh Limbah Kulit Kopi (Coffea robusta L.) Terhadap Pertumbuhan Cabai Keriting (Capsicum annum L.)
Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 6
P0 P3.3 P1.3 P0. 6 P1.5 P0.2 P3.1
P1 P1.6 P3.5 P0. 1 P2.6 P1.4 P2.5 P2 P0.3 P0. 5 P3.4 P2.2 P2.3 P1.1 P3 P1.2 P2.1 P3.2 P0.4 P2.4 P3.6
(Hanafiah, 2010) Keterangan :
P0 = Kontrol 0 gr/ Polybag
P1 = 3 kg tanah + limbah kulit kopi 30 gr P2 = 3 kg tanah + limbah kulit kopi 60 gr P3 = 3 kg tanah + limbah kulit kopi 90 gr D. Prosedur Penelitian
Diagram Penelitian
Limbah kopi
Dikomposkan
Kompos limbah kulit kopi
30 gr / 2 minggu 60 gr/ 2minggu 90 gr/ 2 minggu Diberi pupuk diberi pupuk
Cabai keriting Cabai keriting Cabai keriting Pelaksanaan Pembuatan Kompos
Menurut Wijayanti (2014) tahap pembuatan kompos :
a. Kompos yang digunakan adalah limbah dari kulit buah kopi yang sudah kering
b. Limbah kulit kopi kemudian dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil antara 0,5-1 cm untuk memudahkan proses dekomposisi.
c. Kulit kopi sebanyak 5 kg dan dicampur dengan dedak sebanyak 0,5 kg, dan diratakan sampai merata.
d. 100 ml larutan EM-4 dan 2 sdm gula pasir dilarutkan kedalam 5 liter air.
e. Larutan yang sudah tercampur disiramkan pada tumpukan limbah kulit kopi secara merata hingga kandungan air berkisar ± 30-40%. Tumpukan limbah dibalik-balik agar bahan tercampur secara merata.
f. Kadar air yang cukup ditandai dengan apabila bahan digenggam tidak meneteskan air dan mekar apabila genggaman dilepaskan.
g. Bahan yang sudah tercampur dimasukan kedalam karung lalu karung diberi lubang dengan paku untuk aerasi selama proses pengomposan.
h. Suhu tumpukan bahan yang dikomposkan dipertahankan antara 40-50%
i. Karung disimpan ditempat yang kering dan terlindungi dari hujan serta sinar matahari secara langsung
j. Proses fermentasi ditandai dengan suhu kompos dalam karung hangat k. Kompos yang sudah jadi (siap dijadikan kompos) dicirikan dengan warna
hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau.
Menurut Nurfalach (2010) prosedur penelitian untuk tanaman cabai sebagai berikut
1. Pengadaan benih
Peneliti menggunakan bibit yang sudah tumbuh, umur bibit cabai sekitar 2 minggu.
2. Penanaman
Penanaman bibit cabai dilakukan pada saat sore hari, hal ini dilakukan karena apabila menanam bibit pada siang hari bibit yang masih muda akan
kering dan mudah layu akibat sengatan matahari yang panas dan hal itu menyebabkan pertumbuhan bibit akan terganggu.
3. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 minggu sekali dengan penambahan pupuk kompos limbah kulit kopi (Coffea robusta L).
4. Pemeliharaan
Setelah dilakukan penanaman, kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan.
Bibit cabai yang telah ditanam dipelihara dengan baik hingga panen. Pada tahap ini diperlukan perhatian dan waktu luang untuk mengawasi, mencabuti rumput-rumput disekitar tanaman cabai, menyiram, dan memelihara tanaman.
Jika tidak diikuti pemeliharaan yang tepat, kualitas tanaman cabai dipastikan akan menurun.
E. Parameter Penelitian
1. Tinggi Tanaman Cabai Keriting (cm)
Pengukuran dilakukan dengan mengukur tinggi batang dari pangkal sampai ujung batang dengan satuan centimeter (cm).
2. Jumlah Daun Cabai Keriting (helai per batang)
Pengamatan ini dilakukan dengan cara menghitung seluruh jumlah daun (helai) penghitungan dilakukan pada saat akhir penelitian
3. Jumlah Buah Cabai Keriting (perbatang)
Penghitungan jumlah buah cabai keriting dilakukan pada akhir penelitian
4. Berat Buah Cabai Keriting (gram/batang)
Penghitungan berat buah cabai keriting dilakukan pada akhir penelitian F. Analisis Data
Data yang didapat dianalisa secara statistik dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam (Ansira). Analisis Sidik Ragam pengaruh perlakuan untuk Rancangan Acak Lengkap dilakukan menurut uji F, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Daftar Analisis Sidik Ragam Rancangan Acak Lengkap
Sumber keragaman
Derajat bebas Jumlah Kuadrat
Kuadrat Tengah
F- Hitung F-Hitung
5% 1%
Perlakuan a-1 = vp Jka JKa/ vp KTa/KTg Galat (ra-1)-(a-1)=vg JKg JKg/vg
Total ra-1 JKT
Sumber: Hanafiah (2010) Keterrangan :
a = jumlah perlakuan r = jumlah ulangan JK = jumlah kuadrat p = perlakuan
v = derajat bebas g = galat
KT = kuadrat tengah
Uji nyata sidik ragam dihitung dengan membandingkan F Hitung dengan F Tabel. Apabila F-Hitung lebih besar dari F Tabel pada taraf 5% dan 1% maka perlakuan dilakukan berbeda sangat nyata. Sedangkan bila F Hitung lebih besar pada taraf 5% tetapi lebih kecil pada taraf 1% berarti perlakuan berbeda nyata, dan bila F Hitung lebih kecil pada taraf 5% maka perlakuan dikatakan berbeda tidak nyata.
Jika hasil uji F menunjukan pengaruh nyata (taraf uji 5%) atau menunjukan pengaruh sangat nyata (taraf uji 1%), maka dilanjutkan dengan uji beda pengaruh perlakuan dengan Koefesien Keragaman (KK)
KK =
√
KTGy x100 % y = Tij
rxt
Keterangan : y = rata-rata seluruh data percobaan
Jika KK besar, uji lanjutan yang sebaiknya digunakan adalah uji Duncan, karena uji ini dapat dikatakan yang paling teliti. Uji lanjut BJND (Beda Jarak Nyata Duncan) dilakukan pada parameter tinggi, jumlah daun, jumlah buah , berat buah tanaman cabai keriting karena F Hitung > F Tabel.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan kompos kulit kopi (Coffea robusta L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai keriting (Capsicum annum L.) pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, dan berat buah cabai keriting.
1. Tinggi Tanaman (cm)
Tabel 5. Rata-rata pengaruh perlakuan terhadap tinggi tanaman cabai keriting (cm)
Perlakuan Jumlah Rerata
P0 295 49,17
P1 358 59,67
P2 401 66,83
P3 480 80
Jumlah 1534 63,92
Tabel 6. Hasil analisis sidik ragam pada parameter tinggi tanaman
SK DB JK KT F Hitung F Tabel
5 % 1 %
Perlakuan 3 3016,833 1005,611 16,72** 3,10 4.94
Galat 20 1203 60,15
Total 23 4219,833
Keterangan : ** = berbeda sangat nyata (F Hitung > F Tabel pada taraf 1%)
Berdasarkan data pengamatan pada tabel. 5 menunjukan bahwa penambahan kompos kulit kopi (Coffea robusta L.) berpengaruh terhadap tinggi tanaman, dimana rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P3
(kompos kulit kopi 90 gram) yaitu 80 cm dan terendah pada P0 (tanpa kompos kulit kopi atau kontrol) yaitu 49,17 cm
Hasil uji F pada tabel. 6 menunjukan bahwa pemberian kompos kulit kopi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata dibandingkan dengan pada media tanpa pemberian kompos kulit kopi (kontrol) terhadap tinggi tanaman cabai keriting, karena F Hitung > F Tabel pada taraf 1%, hal ini berarti H1 dapat diterima dan H0 ditolak. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji BJND yang dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil uji BJND (Beda Jarak Nyata Duncan) pengaruh kompos kulit kopi terhadap tinggi tanaman cabai keriting.
Perlakuan Rerata Beda real pada jarak P = BJND
2 3 4 0,05
P0
P1
P2
P3
49,17 59,67 66,83 80
- a
10,5* - b
7,16 17,66* - b
13,17* 20,33* 30,83* c
P0,05 (P,20) 2,95 3,10 3,18
BJND (0,05) 9,35 9,83 10,08
Keterangan : Huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata (5%) Huruf yang tidak sama berarti berbeda nyata (5%)
* = nyata (jika nilai beda riel > nilai baku pada taraf 5%).
Berdasarkan hasil uji BJND pada tabel. 7 dapat dilihat bahwa pada taraf uji 5% hanya perlakuan pada P1 dan P2 berbeda nyata dengan P0 (kontrol) dan perlakuan P3 berbeda nyata dengan P0. Hal ini berarti H1 dapat diterima pada taraf 5% sedangkan H0 ditolak. Dengan demikian penambahan kompos kulit kopi pada media tanam dapat berpengaruh terhadap tinggi tanaman cabai keriting.
Histogram rerata tinggi tanaman cabai keriting 16 MST dapat dilihat pada Gambar 4.
P0 (kontrol) P1 (30 gram) P2 (60 gram) P3 (90 gram) 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90
49.17 59.67 66.83
80
Perlakuan
Rata-rata tinggi tanaman cabai keriting (cm)
Gambar 4. Histogram rata-rata tinggi tanaman cabai keriting setelah diberi perlakuan kompos kulit kopi.
Rata-rata tinggi tanaman menunjukan bahwa P3 (berat kompos kulit kopi 90 gr) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dibandingkan dengan P0
(kontrol), dimana rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu 80 cm dan terendah pada P0 yaitu 49,17 cm.
2. Jumlah Daun (per helai)
Tabe 8 . Rata-rata pengaruh perlakuan terhadap jumlah daun tanaman cabai keriting
Perlakuan Jumlah Rerata
P0 272 45,33
P1 490 81,67
P2 530 88,33
P3 1028 171,33
Jumlah 2320 96,67
Tabel 9. Hasil analisis sidik ragam pada parameter jumlah daun cabai keriting
SK DB JK KT F Hitung F Tabel
5 % 1 %
Perlakuan 3 51028 17009,33 28,82** 3,10 4,94 Galat 20 11805,33 590,27
Total 23 62833,33
Keterangan : ** = berbeda sangat nyata (F Hitung > F Tabel pada taraf 1%)
Berdasarkan data pengamatan pada tabel 8 menunjukan bahwa penambahan kompos kulit kopi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun, dimana rataan jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) yaitu 171,33 dan terendah pada P0 (tanpa kompos kulit kopi) yaitu 45,33.
Hasil uji F pada tabel. 9 menunjukan bahwa pemberian kompos kulit kopi memberikan pengaruh sangat nyata dibandingkan dengan pada media tanpa pemberian kompos kulit kopi (kontrol) terhadap jumlah daun cabai keriting,
karena F Hitung > F Tabel pada taraf 1%, hal ini berarti H1 dapat diterima dan H0
ditolak. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji BJND yang dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil uji BJND (Beda Jarak Nyata Duncan) pengaruh kompos kulit kopi terhadap jumlah daun cabai keriting
Perlakuan Rerata Beda real pada jarak P = BJND
2 3 4 0,05
P0
P1
P2
P3
45,33 81,67 88,33 171,33
- a
36,34* - b
6,66 43* - b
83* 89,66* 126* c
P0,05 (P,20) 2,95 3,10 3,18
BJND (0,05) 29,26 30,75 31,55 Keterangan : Huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata (5%)
Huruf yang tidak sama berarti berbeda nyata (5%)
* = nyata (jika nilai beda riel > nilai baku pada taraf 5%).
Berdasarkan hasil uji BJND pada tabel. 10 dapat dilihat bahwa pada taraf uji 5% hanya perlakuan pada P1 dan P2 berbeda nyata dengan P0 (kontrol) dan perlakuan P3 berbeda nyata dengan perlakuan P0. Hal ini berarti H1 dapat diterima pada taraf 5% sedangkan H0 ditolak. Dengan demikian penambahan kompos kulit kopi pada media tanam dapat berpengaruh terhadap jumlah daun cabai keriting.
Histogram rerata jumlah daun cabai keriting 16 MST dapat dilihat pada Gambar 5.
P0 (kontrol) P1 ( 30 gram) P2 ( 60 gram) P3 (90 gram) 0
20 40 60 80 100 120 140 160 180
45.33
81.67 88.33
171.33
Perlakuan
Rata-rata jumlah daun cabai keriting (helai per batang)
Gambar 5. Histogram rata-rata jumlah daun tanaman cabai keriting setelah diberi perlakuan kompos kulit kopi.
Rata-rata jumlah daun tanaman menunjukan bahwa P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun tanaman dibandingkan dengan P0 (kontrol), dimana rataan jumlah daun tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu 171,33 dan terendah pada P0 yaitu 45,33.
3. Jumlah Buah (per batang )
Tabel 11. Rata-rata pengaruh perlakuan terhadap jumlah buah cabai keriting
Perlakuan Jumlah Rerata
P0 13 2,17
P1 29 4,83
P2 61 10,17
P3 141 23,5
Jumlah 244 10,17
Tabel 12. Hasil analisis sidik ragam pada parameter jumlah buah cabai keriting
SK DB JK KT F Hitung F Tabel
5 % 1 %
Perlakuan 3 1621,33 540,44 31,42** 3,10 4,94
Galat 20 344 17,2
Total 23 1965,33
Keterangan : ** = berbeda sangat nyata (F Hitung > F Tabel pada taraf 1%)
Berdasarkan data pengamatan pada tabel 11 menunjukan bahwa penambahan kompos kulit kopi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah, dimana rataan jumlah buah tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) yaitu 23,5 dan terendah pada P0 (tanpa kompos kulit kopi) yaitu 2,17.
Hasil uji F pada tabel. 12 menunjukan bahwa pemberian kompos kulit kopi memberikan pengaruh sangat nyata dibandingkan dengan pada media tanpa pemberian kompos kulit kopi (kontrol) terhadap jumlah buah cabai keriting, karena F Hitung > F Tabel pada taraf 1%, hal ini berarti H1 dapat diterima dan H0
ditolak. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji BJND yang dapat dilihat pada Tabel 13
Tabel 13. Hasil uji BJND ( Beda Jarak Nyata Duncan) pengaruh kompos kulit kopi terhadap jumlah buah cabai keriting
Perlakuan Rerata Beda real pada jarak P = BJND
2 3 4 0,05
P0
P1
P2
P3
2,17 4,83 10,17
23,5
- a
2,66 - a
5,34 8 - b
13,33* 18,67* 21,33* c
P0,05 (P,20) 2,95 3,10 3,18
BJND (0,05) 4,99 5,24 5,37
Keterangan : Huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata (5%) Huruf yang tidak sama berarti berbeda nyata (5%)
* = nyata (jika nilai beda riel > nilai baku pada taraf 5%).
Berdasarkan hasil uji BJND pada tabel. 13 dapat dilihat bahwa pada taraf uji 5% hanya perlakuan pada P1 berbeda tidak nyata dengan P0 (kontrol) sedangkan perlakuan P3 berbeda nyata dengan P2 dan P1. Hal ini berarti H1 dapat diterima pada taraf 5% sedangkan H0 ditolak. Dengan demikian penambahan kompos kulit kopi pada media tanam dapat berpengaruh terhadap jumlah buah cabai keriting.
Histogram rerata jumlah buah cabai keriting 16 MST dapat dilihat pada Gambar7.
P0 (kontrol) P1 ( 30 gram) P2 ( 60 gram) P3 ( 90 gram) 0
5 10 15 20 25
2.17 4.83 10.17
23.5
Perlakuan
Rata-rata jumlah buah cabai keriting (perbatang)
Gambar 7. Histogram rata-rata jumlah buah tanaman cabai keriting setelah diberi perlakuan kompos kulit kopi.
Rata-rata jumlah buah tanaman menunjukan bahwa P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah tanaman
dibandingkan dengan P0 (kontrol), dimana rataan jumlah buah tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu 23,5 dan terendah pada P0 yaitu 2,17
4. Berat Buah (gram)
Tabel 14. Rata-rata pengaruh perlakuan terhadap berat buah cabai keriting
Perlakuan Jumlah Rerata
P0 13 5,53
P1 29 9,7
P2 61 17,61
P3 141 35,71
Jumlah 411,29 17,14
Tabel 15. Hasil analisis sidik ragam pada parameter berat buah cabai keriting
SK DB JK KT F Hitung F Tabel
5 % 1 %
Perlakuan 3 3211,38 1070,46 32,09** 3,10 4,94
Galat 20 666,99 33,35
Total 23 3808,07
Keterangan : ** = berbeda sangat nyata (F Hitung > F Tabel pada taraf 1%)
Berdasarkan data pengamatan pada tabel 14 menunjukan bahwa penambahan kompos kulit kopi berpengaruh sangat nyata terhadap berat buah, dimana rataan berat buah tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) yaitu 35,71 dan terendah pada P0 (tanpa kompos kulit kopi) yaitu 5,53
Hasil uji F pada tabel. 15 menunjukan bahwa pemberian kompos kulit kopi memberikan pengaruh sangat nyata dibandingkan dengan pada media tanpa pemberian kompos kulit kopi (kontrol) terhadap berat buah cabai keriting, karena F Hitung > F Tabel pada taraf 1%, hal ini berarti H1 dapat diterima dan H0 ditolak.
Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji BJND yang dapat dilihat pada Tabel 16
. Tabel 16. Hasil uji BJND (Beda Jarak Nyata Duncan) pengaruh kompos kulit kopi terhadap berat buah cabai keriting
Perlakuan Rerata Beda real pada jarak P = BJND
2 3 4 0,05
P0
P1
P2
P3
5,53 9,7 17,61 35,71
- a
4,17 - a
7,91 12,08 - b
18,1* 26,01* 30,18* c
P0,05 (P,20) 2,95 3,10 3,18
BJND (0,05) 6,96 7,32 7,50
Keterangan : Huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata (5%) Huruf yang tidak sama berarti berbeda nyata (5%)
* = nyata (jika nilai beda riel > nilai baku pada taraf 5%).
Berdasarkan hasil uji BJND pada tabel. 16 dapat dilihat bahwa pada taraf uji 5% hanya perlakuan pada P1 berbeda tidak nyata dengan P0 (kontrol) sedangkan perlakuan P3 berbeda nyata dengan perlakuan P2 dan P1. Hal ini berarti H1 dapat diterima pada taraf 5% sedangkan H0 ditolak. Dengan demikian penambahan kompos kulit kopi pada media tanam dapat berpengaruh terhadap berat buah cabai keriting.
Histogram rerata berat buah cabai keriting 16 MST dapat dilihat pada Gambar 8.
P0 (kontrol) P1 ( 30 gram) P2 ( 60 gram) P3 ( 90 gram) 0
5 10 15 20 25 30 35 40
5.53 9.7
17.61
35.71
Perlakuan
Rata-rata berat buah cabai keriting ( gram)
Gambar 8. Histogram rata-rata berat buah cabai keriting setelah diberi perlakuan kompos kulit kopi.
Rata-rata berat buah tanaman menunjukan bahwa P3 (berat kompos kulit kopi 90 gram) berpengaruh sangat nyata terhadap berat buah tanaman
dibandingkan dengan P0 (kontrol), dimana rataan berat buah tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu 35,71 dan terendah pada P0 yaitu 5,53.
B. Pembahasan
1. Tinggi Tanaman Cabai Keriting (Capsicum annum L.)
Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa tinggi tanaman cabai keriting yang maksimum terjadi pada perlakuan P3 yaitu perlakuan dengan penambahan kompos kulit kopi sebanyak 90 gram. P3 menghasilkan nilai rata-rata tinggi tanaman tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. P3 dibandingkan dengan P0 terlihat bahwa tinggi tanaman pada P3 berbeda nyata dengan P0. P3
memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 80 cm sedangkan P0 memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 49,17 cm. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 (tanpa pemberian kompos) kandungan unsur hara (Nitrogen), P (Pospor), Ca (Kalsium), dan K (Kalium) kurang tersedia dan tidak mudah terserap sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, karena bisa dilihat pada pertumbuhan tanamannya yang tidak terlalu subur dibandingkan dengan tanaman yang diberi kompos kulit kopi.
P3 dibandingkan dengan P2 terlihat bahwa nilai rata-rata tinggi tanaman pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata tinggi tanaman pada P2. P3
memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 80 cm sedangkan P2 memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 66,83 cm. Hal ini disebabkan karena pada P2 kandungan unsur hara belum maksimal. Selain itu pada P2 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 60 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
P3 dibandingkan dengan P1 terlihat bahwa nilai rata-rata tinggi tanaman pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata tinggi tanaman pada P1. P3
memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 80 cm sedangkan P1 memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 59.67 cm. Hal ini disebabkan karena pada P1 kandungan unsur hara terlalu sedikit . Selain itu pada P1 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 30 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati, baik sebagai indikator pertumbuhan maupun parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang mudah dilihat (Sitompul dan Guritno, 1995 ”dalam” Ircham Riyadi, dkk, 2014).
Tinggi tanaman dapat dijadikan sebagai salah satu indikator pertumbuhan tanaman cabai. Menurut Sutanto (2002), pertumbuhan dapat dicirikan dengan penambahan tinggi suatu tanaman atau penambahan panjang dari bagian tanaman. Pertumbuhan pada meristem ujung menghasilkan sel-sel baru di ujung sehingga mengakibatkan tanaman bertambah tinggi dan panjang (Susanto, 2002 “dalam” Ircham Riyadi, 2014).
2. Jumlah Daun Cabai Keriting (Capsicum annum L.)
Pada tabel 8 jumlah daun dapat dilihat bahwa jumlah daun cabai keriting yang maksimum terjadi pada perlakuan P3 yaitu perlakuan dengan penambahan kompos kulit kopi sebanyak 90 gr. P3 menghasilkan nilai rata- rata jumlah daun tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. P3
dibandingkan dengan P0 terlihat bahwa jumlah daun pada P3 berbeda sangat nyata dengan P0. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 171,33 helai sedangkan P0 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 45,33 helai.
perbedaan ini disebabkan karena pengaruh pemberian kompos, dimana untuk perlakuan P3 kadar kompos yang diberikan adalah 90 gr sedangkan P0 tanpa pemberian kompos.
P3 dibandingkan dengan P2 terlihat bahwa nilai rata-rata jumlah daun pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata jumlah daun pada P2. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 171,33 helai sedangkan P2 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 88,33 helai. Hal ini disebabkan karena pada P2 kandungan unsur hara belum maksimal. Selain itu pada P2 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 60 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
P3 dibandingkan dengan P1 terlihat bahwa nilai rata-rata jumlah daun pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata jumlah daun pada P1. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 171.33 sedangkan P1 memiliki nilai rata-rata jumlah daun yaitu 81.67 . Hal ini disebabkan karena pada P1 kandungan unsur hara terlalu sedikit. Selain itu pada P1 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 30 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
Unsur nitrogen yang diserap tanaman salah satu fungsinya adalah membantu pertumbuhan vegetatif tanaman. Sedangkan aktivitas mikroorganisme dapat membantu pertumbuhan tanaman dan mempengaruhi kesuburan tanah melalui perannya memperlancar siklus unsur hara dan
menyuplai hormon-hormon serta enzim yang berguna bagi pertumbuhan tanaman (De Datta, 1981 dan Agus, 1997 “ dalam” Akino, H. 2012).
3. Jumlah Buah Cabai Keriting (Capsicum annum L)
Pada tabel 11 jumlah buah dapat dilihat bahwa jumlah buah cabai keriting yang maksimum terjadi pada perlakuan P3 yaitu perlakuan dengan penambahan kompos kulit kopi sebanyak 90 gr. P3 menghasilkan nilai rata- rata jumlah buah tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. P3
dibandingkan dengan P0 terlihat bahwa jumlah buah pada P3 berbeda sangat nyata dengan P0. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah buah yaitu 23,5 sedangkan P0 memiliki nilai rata-rata jumlah buah yaitu 2,17. perbedaan ini disebabkan karena pengaruh pemberian kompos, dimana untuk perlakuan P3 kadar kompos yang diberikan adalah 90 gr sedangkan P0 tanpa pemberian kompos.
P3 dibandingkan dengan P2 terlihat bahwa nilai rata-rata jumlah buah pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata jumlah buah pada P2. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah buah yaitu 23,5 buah sedangkan P2 memiliki nilai rata-rata jumlah buah yaitu 10,17 buah . Hal ini disebabkan karena pada P2 kandungan unsur hara belum maksimal. Selain itu pada P2 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 60 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
P3 dibandingkan dengan P1 terlihat bahwa nilai rata-rata jumlah buah pada P3 berbeda nyata dengan nilai rata-rata jumlah buah pada P1. P3 memiliki nilai rata-rata jumlah buah yaitu 23.5 buah sedangkan P1 memiliki nilai rata- rata jumlah buah yaitu 4,83 buah. Hal ini disebabkan karena pada P1
kandungan unsur hara terlalu sedikit . Selain itu pada P1 kadar kompos kulit
kopi yang diberikan sebanyak 30 gr sedangkan P3 kadar kompos kulit kopi yang diberikan sebanyak 90 gr.
Unsur P diperlukan sebagai transfer energi ADP, ATP, NAD dan NADH, sehingga proses transfer energi dan metabolisme berjalan dengan lancar dan tanaman dapat meningkatkan produksinya dan jumlah buah dan berat buah menjadi meningkat. Unsur N diperlukan untuk proses metabolisme dimana unsur N sebagai protein fungsional sekaligus merangsang pertumbuhan, kekurangan unsur N dapat membatasi pembelahan dan pembesaran sel (Sumiati dan Gunawan, 2007 “dalam” Ircham Riyadi, 2014).
4. Berat Buah Cabai Keriting (Capsicum annum L)
Pada tabel 14 jumlah buah dapat dilihat bahwa berat buah cabai keriting yang maksimum terjadi pada perlakuan P3 yaitu perlakuan dengan penambahan kompos kulit kopi sebanyak 90 gr. P3 menghasilkan nilai rata- rata berat buah tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. P3
dibandingkan dengan P0 terlihat bahwa berat buah pada P3 berbeda sangat nyata dengan P0. P3 memiliki nilai rata-rata berat buah yaitu 35,71 gr sedangkan P0 memiliki nilai rata-rata berat buah yaitu 5,53 gr. Hal ini disebabkan karena pada P3 kandunan unsur Ca (kalsium) dan P (Fosfor) cukup tersedia sedangkan pada P0 kandunan unsur Ca (kalsium) dan P (Fosfor) kurang tersedia. Kandungan unsur Ca dan P berperan penting dalam pertumbuhan buah ( sutedjo dan Kartasapoetra, 1991), selain itu, perbedaan ini disebabkan karena pengaruh pemberian kompos, dimana untuk perlakuan