• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Entri

Dalam dokumen EKABAHASA KAMUS (Halaman 82-89)

BAB II PENYUSUNAN KAMUS EKABAHASA

A. Lema

10. Model Entri

Informasi yang ada pada entri kamus ekabahasa bergantung pada profil pengguna dan kebutuhan pengguna, khususnya pengguna sasaran kamus tersebut. Selain itu, jenis lema juga berpengaruh terhadap bentuk entri. Suatu kata yang jarang digunakan dan memiliki makna terbatas akan memiliki entri yang lebih sederhana daripada kata yang banyak digunakan dan memiliki berbagai makna.

Berikut adalah contoh model entri untuk kamus ekabahasa sederhana dengan fungsi reseptif (mampu memahami makna kata) dengan kata yang memiliki makna terbatas juga. Contoh berikut dikutip dari KBBI Edisi Kelima (2016), tetapi tanpa pemenggalan suku kata pada lema.

minggu

1. n hari pertama dalam jangka waktu satu minggu;

Ahad: pada hari -- semua pegawai libur

2. n (ditulis dengan huruf kecil) jangka waktu yang la- manya tujuh hari: setiap tahun kami mendapat cuti dua --

Pada contoh di atas, lema tersebut memiliki dua makna.

Masing-masing makna diberi nomor polisem dan disusun secara vertikal agar mudah terbaca. Setiap makna disertai kelas kata, yang kemudian dilanjutkan dengan definisi yang mengikuti model genus-diferensia. Selanjutnya, ada contoh penggunaan untuk menunjukkan bahwa kata tersebut memang digunakan dan untuk membantu pengguna kamus jika ingin membuat kalimat dengan menggunakan kata tersebut. Model entri sederhana tersebut diharapkan menjadi model entri minimum untuk pembuatan kamus ekabahasa di Indonesia. Informasi atau unsur tambahan dapat dimasukkan ke entri, sesuai dengan profil pengguna dan kebutuhan pengguna sasaran.

Berikut adalah contoh model entri untuk kamus ekabahasa yang lebih kompleks, yaitu kamus untuk pemelajar dan dengan fungsi produktif (mampu menggunakan kata tersebut), serta menggunakan kata yang memiliki makna kompleks. Data berikut ini dikutip dari Amalia (2014) untuk model entri verba mengambil

Amalia (2014) menjelaskan unsur-unsur dalam mikrostruktur entri mengambil seperti tampak pada tabel di atas adalah sebagai berikut.

a. Lema

Lema berupa kata dasar (ambil) ataupun derivasi verba (mengambil). Penyusunan lema semacam ini untuk memenuhi aspek ramah pengguna (user-friendliness) sehingga pengguna hanya perlu mencari kata yang ingin dicari sesuai dengan huruf pertama kata tersebut. Untuk menjelaskan proses pembentukan kata dan bentuk asal, kata dasar diberi runs-on untuk menunjukkan setiap bentuk yang potensial dari kata dasar tersebut. Adapun lema yang berupa derivasi verba diberi rujuk silang yang

lema adalah idiom. Dalam model di atas, idiom mengambil langkah seribu dijelaskan dalam entri tersendiri. Karena idiom bersifat lebih terbatas penggunaannya, dalam entri hanya dijelaskan maknanya dengan cara definisi singkat dan definisi penuh (penjelasan). Adapun contoh kalimat, sudah sekaligus termuat dalam definisi yang berbentuk FSD.

b. Lafal

Lafal sangat diperlukan untuk membantu pengguna mengucapkan kata yang ingin mereka ketahui. Lafal yang dipakai adalah IPA (International Phonetic Alphabet) dengan pertimbangan bahwa pengguna merupakan pemelajar bahasa yang sudah mahir dan terbiasa dengan transkripsi fonetis. Selain itu, mereka juga merupakan pemelajar yang menggunakan bahasa Inggris, baik sebagai L1 maupun L2.

c. Label kelas kata

Label kelas kata diperlukan untuk memberi informasi morfologi dan sintaksis dari kata yang didefinisikan. Label diberikan dalam bentuk singkatan yang sudah sangat dikenal oleh pemelajar bahasa, seperti n untuk nomina, v untuk verba, adj untuk adjektiva, adv untuk adverbia, p untuk partikel, dan prep untuk preposisi.

d. Derivasi dalam bentuk runs-on atau bentuk informal (beserta labelnya)

Derivasi sengaja diberikan dalam bentuk runs-on (tanpa definisi), karena bentuk derivasi ini pada gilirannya akan menjadi lema tersendiri. Runs-on hanya berfungsi untuk memberi informasi morfologi tentang kata-kata yang

merupakan bentukan dari suatu kata dasar. Bentuk runs- on hanya diberikan dalam entri dari kata dasar. Adapun dalam entri derivasi, seperti mengambil, runs-on berupa bentuk informal dari mengambil, yaitu ngambil. Hal ini dimaksudkan untuk memberi informasi kepada pengguna bahwa dalam situasi informal, bentuk yang lebih sering digunakan adalah ngambil.

e. Nomor polisem

Nomor polisem diberikan dalam bentuk angka arab dan dilakukan untuk memudahkan pengguna mencari makna dari suatu kata. Nomor polisem hanya diberikan dalam entri kompleks, yaitu entri yang memuat lebih dari satu makna. Dalam beberapa kamus, nomor polisem berikut penjelasannya dimuat memanjang ke samping. Dalam kamus pemelajar ini, bentuk yang disarankan adalah pengurutan secara vertikal, yaitu baris baru untuk setiap polisem. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengguna mencari dengan hanya mengurutkan ke bawah, tidak perlu mencari-cari ke samping. Selain itu, nomor polisem dicetak tebal supaya mudah terlihat. Nomor polisem diurutkan berdasarkan makna yang umum terlebih dahulu. Dalam contoh di atas, makna yang paling umum dari kata mengambil adalah

‘memegang lalu membawa’. Setelah itu, nomor polisem diurutkan berdasarkan frekuensi kemunculan makna dalam kalimat.

f. Definisi singkat

Definisi singkat merupakan hal yang relatif baru dalam penyusunan entri. Definisi singkat diletakkan sebelum definisi penuh. Ada dua fungsi yang dimiliki oleh definisi

fungsi reseptif. Pengguna yang hanya perlu mengetahui makna kata secara singkat tidak harus membaca lebih lanjut informasi dalam entri.

g. Definisi penuh

Definisi penuh disusun dalam pola kalimat lengkap (FSD). Jenis definisi FSD ini pertama kali diperkenalkan oleh COBUILD. Tujuannya adalah untuk membuat definisi seperti kalimat yang natural sehingga lebih mudah dipahami. Jika dibandingkan dengan jenis definisi yang lain, FSD lebih bersifat penjelasan dan oleh sebab itu kalimatnya panjang.

Hal itu sengaja dilakukan untuk memenuhi fungsi produktif dari kamus pemelajar. Dengan membaca penjelasan FSD, pemelajar mendapat informasi tentang konteks kalimat dan contoh kalimat sekaligus.

h. Kolokasi dan pola valensi

Kolokasi merupakan hal yang sangat penting dalam kamus pemelajar. Untuk dapat menguasai bahasa asing seperti penutur jati, penguasaan kolokasi sangat membantu.

Oleh sebab itu, kamus pemelajar memuat kolokasi yang banyak untuk memenuhi kebutuhan penggunanya dalam memproduksi bahasa asing. Kolokasi dalam entri mengambil, misalnya, terdiri atas tiga belas kolokasi yang termuat dalam polisem 2--4 (polisem pertama memuat makna utama).

Kolokasi itu disusun berdasarkan frekuensi kemunculan kolokasi tersebut dalam korpus. Pola valensi merupakan alat lain yang juga digunakan untuk membantu pemelajar memproduksi kalimat. Dalam beberapa kamus, kolokasi dan pola valensi disajikan secara terpisah. Dalam model entri ini, kolokasi dan pola valensi disatukan menjadi sebuah pola. Contohnya, pada polisem kesembilan verba mengambil hanya bermakna ‘menanggung’ jika diikuti kata risiko.

Oleh sebab itu, kolokasi mengambil risiko mempunyai pola valensi yang khusus, yaitu (mengambil+risiko+(untuk)+V).

Dengan mengetahui pola valensi dan kolokasinya, pemelajar diharapkan tidak salah ketika memproduksi teks.

i. Contoh kalimat

Selain kolokasi dan pola valensi, model entri juga dilengkapi dengan contoh kalimat. Dalam model entri di atas, contoh kalimat dapat digunakan sebagai model untuk membuat kalimat dengan kata yang sama. Selain itu, contoh kalimat diperlukan juga untuk menjelaskan beberapa alternatif kalimat yang tidak dapat dibuat dalam satu pola tertentu.

Dalam dokumen EKABAHASA KAMUS (Halaman 82-89)

Dokumen terkait