• Tidak ada hasil yang ditemukan

IIMU PERILAI(U ORGAI\IISASI

6. Motivasi

7.

Pembelajaranindividual.

8.

PengambilanKeputusanindividual.

Pnoses OB

di Tingkat

Kelompok (Group Level)

Selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 1, bahwa tingkat kelom- pok, proses OB melibatkan 8 (delapan) variabel bebas yang terdiri dari:

l.

Pengambilan keputusan dalam kelompok (Group decision making).

2.

Komunikasi (Communication).

3.

Kelompok lain (Other groups).

4.

Kepemimpinan (Leadership).

5.

Struktur Kelompok/dimanika kelompok (Group structure and dynamics).

6.

Kekuatan dan politik dalam organisasi (Power and politics) . 7

.

Tim Kerja dan kerja sama

tim

(Ieam and teamworks).

8. Konflik

(Conflicts).

Prcses OB di

Tingkat

Organisasi

(OrganWion

Level)

Terakhir dapat dilihat pada Gambar 1, bahwa pada tingkat orga- nisasi, proses OB melibatkan 4 (empat) variabel bebas yang akan berpengaruh langsung pada keluaran (output) yaitu:

1.

Budayaorganisasi (organizational culture).

2.

Kebijakan SDM dn implementastrrya (human resources

poli-

cies and its implementation).

3.

Struktur dan des in organisasi (organization structure and design).

4.

Teknologi, desain pekerjaan, dan stres (technology,job de- sign, and stress).

Dengan demikian dalam OB terdapat 20 (dua puluh) variabel bebas (independent varable) dan 4 (empat) variabel tidakbebas (de- 20

pendent variabel). Hubungan variabel bebas dan variabel tidak bebas ataupun antar variabel bebas di dalam

oB

sebagian besar telah diteliti dengan riset-riset yang hasilnya dapat dimanfaatkan.

Riset

Perilaku Organisxi

(OB Research)

Dalam rangka mengetahui pengaruh suatu variabel OB terdahap variabel lainnya, para OB telah melakukan berbagai riset yang hasilnya dapat dipakai untuk mengambil keputusan/kebijakan dalam organisasi.

Riset-riset tersebut dapat dilakukan dalam 3 macam metoda, yaitu observasi, survai, dan eksperimen.

Dalam observasi, seorang pakar/tim pakar melakukan pengamatan dan hasilnya dilaporkan dalam laporan observasi. Metoda ini murah, tidak membutuhkan biaya tinggi, tetapi kualitas observasi akan sangat tergantung kualitas pakar yang melakukan observasi. Dalam survai, seorang pakar/tim pakar mengumpulkan data mengenai satu atau beberapa variabel OB dan mencari korelasi (hubungan, pengaruh)- nya dengan variabel

oB

lainnya. Bila variabel A naik berakibat variabel B juga naik, atau bila variabel A turun maka variabel B juga turun, maka A dan B disebut mempunyai korelasi

posifif.

Sebaliknya bila variabel A naik mengakibatkan variabel B turun, atau sebaliknya bila variabel A turun mengakibatkan variabel B akan naik, maka disebut A dan B disebut mempunyai korelasi negatij, penelitian korelasi

ini

dibantu dengan memanfaatkan ilmu statistika. contoh suatu korelasi

positif

misalnya penemuan F. Herzberg yang menyatakan bahwa

"kebersihan, kerapian, dan kelengkapan tempat kerja mempunyai korelasi positif terhadap motivasi kerja,,.

Dalam eksperimen, seorang pakar I timpakar melakukan percoba_

an dengan mengubah-ubah kondisi lingkungan kerja dan melihat pengaruh perubahan tersebut terhadap variabel

oB

tertentu. contoh dari suatu eksperimen adalah percobaan Hawthorne di atas. Ratusan riset telah dilakukan dan masih terus dilakukan oleh para pakar

oB

di seluruh dunia yang hasilnya dapat dipelajari sebagai dasar bagi dalam melakukan pengambilan keputusan pada manajemen sekolah/

perusahaan.

Berdasarkan berbagai hasil riset

OB

yang dilakukan

di

luar

2t

maupun di dalam negeri, seorang pimpinan lembaga pendidikan/per- usahaan akan dapat membuat keputusan dalam mengelola organisasi sekolah./perusahaan yang lebih baik. Pengambilan kepufirsan dapat didasarkan pada hasil-hasil studi yang sistematik, dan tidak hanya didasarkan pada intuisi yang seringkali dapat "menipu". Dalam pene- rapannya manfaat

OB

dibagi dalam dua bidang. Pertama, dalam kaitannya dengan Manajemen SDM dan Personalia, OB dimanfaatkan sebagai dasar dalam perekrutan, seleksi, penempatan, pelatihan, dan pengembangan guru/karyawan. Kedua, dalam kaitannya dengan ope- rasi sekolah, OB dimanfaatkan dalam penggerakan organisasi, peng- arahan, pemotivasian.

C.

Organisasi Kesatuan Sosial

Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan (Robbins, 2001:4).

Kesatuan sosial yang berarti unit tersebut terdiri dari orang atau seke- lompok orang yang berinteraksi satu sama lain; sementara dikoordi- nasikan secara sadar mengandung pengertian manajemen. Pola inter- aksi yang

diikuti

orang di dalam sebuah organisasi tidak begitu saja timbul, melainkan telah dipikirkan lebih dahulu. Oleh karena ihr, orga- nisasi merupakan kesatuan sosial, maka pola interaksi para anggotanya harus diseimbangkan dan diselaraskan untuk meminimalkan keber- lebihan namunjuga memastikan bahwa tugas-tugas yang kritis telah diselesaikan.

Dalam sebuah organisasi mempunyai batasan yang relatif dapat diidentifikasi; yang mana batasan tersebut dapat berubah dalam kurun waktu tertentu namun pada batasan yang nyata harus ada agar dapat membedakan antara anggota dan bukan anggota. Batasan cenderung dicapai melalui perjanj ian yang eksplisit maupun implisit antara para anggota dan organisasinya. Orang-orang mempunyai suatu keterikatan secara terus menerus; rasa keterikatan ini bukan berarti keanggotaan seumur hidup melainkan organisasi mengalami perubahan yang konstan, dalam keanggotaan meskipun pada saat mereka menjadi 22

anggota ikut berpartisipasi secara teratur.

Teori adalah sesuatu yang menyatakan istilah kunci, menyediakan kerangka konseptual, dan menjelaskan mengapa sesuatu itu terjadi (Kreitner and

Kinicki,200l).

Menurut Daft (1998) model teori yang baik harus memuat tiga hal, yaitu:

(l)

menyatakan atau menjelaskan istilah kunci, (2) memiliki konstuk-konstruk kerangka konseptual yang menjelaskan bagaimana pentingnya faktor-faktor yang saling ber- hubungan satu dengan yang lainnya, (3) menyediakan

titik

permula-

an untuk riset dan aplikasi praktis.

Dengan demikian teori organisasi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari strukrur, desain, dan budaya organisasi serta bagaimana organisasi dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan dimana orga- nisasi tersebut berada. Pengertian ini dipertegas oleh Robbins (2001) bahwa teori organisasi adalah disiplin ilrnu yang mempelajari struktur dan desain organisasi baik dalam aspek deskriptif maupun preskriptif (memberi petunjuk/ketentuan). Senada

juga

dikatakan oleh Jones (2001) bahwa teori organisasi adalah studi mengenai fungsi struktur, desain, dan budaya organisasi serta bagaimana fungsi-fungsi organi-

sasi ini mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan.

Dalam menganalisis teori organisasi dapat digunakan kerangka kerja model teori organisasi untuk mempermudah dalam memahami- nya. Menurut Robbins (2001) struktur yang baik bagi sebuah organi- sasi adalah mendukung upaya kinerja yang efektif dan yang memi- nimalkan kompleksitas. Pada Gambar 2.2 menunjukkan bahwa efek-

tivitas

organisasi ditentukan oleh struktur, desain organisasi, dan kemampuan organisasi dalam aplikasi mengelola lingkungan, per- ubahan, komplik, budaya, serta evolusi organisasi. Sementara struktur organisasi dominan ditentukan

oleh

strategi, besaran organisasi, teknologi, lingkungan, dan pengendalian kekuasaan.

23

Diterminf,n Struktur Orga[lsasi Strategi

Besamn orgerisasi Teknologi Lingkungan

Gambar: 2.2 Kerangka Kerja untuk Menganalisis Teori Organisasi Sumber: Robbins (2001)

Aplikasl Mengelola lingkungan Mengelola perubahan Mengelola konplik organisasi Mengelola budaya olganisasi

Struktur Organisasi

Ef€ktivitas Orgroisrsi Desain Orgrnisasi

Pilihan desain Bircknsi Adhocracy

Pengembangan sebuah kerangka kerja yang secara memuaskan dapat memperlihatkan sifat evolusioner dari teori-teori orgarisasi kon- temporer; artinya bagaimanamengorganisasikan teori organisasi terse- but. Secara

rinci

menurut Robbins (2001) berikut klasifikasi teori,

kitikus

dan pendapatnya.