BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori
4. Murabahah
b) Unsur Ketidaksengajaan
(1) Debitur mau melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian, akan tetapi kemampuan perusahaan sangat terbatas, sehingga tidak dapat membayar angsuran.
(2) Perusahaanya tidak dapat bersaing dengan pasar, sehingga volume penjualan menurun dan perusahaan rugi.
(3) Perubahan kebijakan dan peraturan pemerintah yang berdampak pada usaha debitur.Bencana alam yang dapat
(4) kerugian debitur.29
Selain itu, dalam hadits disebutkan riwayat dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda:
ٍ ضاَرَتٍٍ نَعٍع يَب لاَمَّنِإ
Terjemahnya:
Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. (HR. Al Baihaqi dan Ibnu Majah).
ُهْنَع ُالله َي ِض َر ٍبْيَهُس ْنَع : ُةَك ْرَبلْا َّنِهْيِف َثَلاَث : َلاَق َمَلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َّيِ بنلا َّنَأ
)هج ام نبا هاور( ِعْيَبْلِل َلا ِتْيَبْلِل ِرْيِعَّشلاِب ِ رُبْلا ُطْلَخ َو ُةَض َراَقُملْا َو ٍلَجَأ ىَلِإ ُعْيَبْلَا
Terjemahnya:
Ada tiga hal yang mengandung berkah, yaitu jual beli tidak secara tunai, mudharabah, dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah).30 Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, di mana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu.31 Dalam akad murabahah, penjual menjual barangnya dengan meminta kelebihan atas harga beli dengan harga jual.
Perbedaan antara harga beli dan harga jual barang disebut dengan margin keuntungan. Definisi lain murabahah adalah perjanjian jual beli antara bank dan nasabah dimana bank syariah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan
30 Zulfiyanda, Tinjauan Hukum Pembiayaan Murabahah dalam Perbankan Syariah.(Jawa Tengah:CV.Pena Persada,2020), h.60.
31Ismail, Perbankan Syariah.(Jakarta:Kencana Prenadamedia Group,2011),h.138.
sebesar harga perolehan ditambah dengan margin atau keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan nasabah.32
Menurut Sutan Remy Sjahdeni murabahah adalah jasa pembiayaan dengan mengambil bentuk transaksi jual beli dengan cicilan. Pada perjanjian murabahah atau murk up, bank membiayai pembelian barang atau aset yang dibutuhkan oleh nasabahnya dengan membeli barang itu dari pemasok barang dan kemudian menjualnya kepada nasabah tersebut dengan menambahkan suatu murk up atau keuntungan. Dengan kata lain penjualan barang oleh bank kepada nasabah dilakukan atas dasar cost plus profit. Baik mengenai barang yang dibutuhkan oleh nasabah maupun tambahan biaya atau mark up yang akan menjadi imbalan bagi bank, dirundingkan dan ditentukan di muka oleh bank dan nasabah yang bersangkutan.33
Menurut Adi Warman Karim murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate of profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh). Karena dalam definisinya disebut adanya “keuntungan yang disepakati”, karaktteristik murabahah adalah si penjual harus memberi tahu pembeli
32Komunitas Ekonomi Syariah, Kamus Istilah Perbankan Asuransi dan Pasar Modal Syariah Plus Zakat. (Jakarta:Ikhlas Publishing,2015), h.33.
33Trisadini dan Abdul Shomad , Transaksi Bnak Syariah. (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h.28.
tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut.34
Definisi lainnya menyatakan bahwa murabahah adalah kebalikan dari jual-beli mengenai objek tertentu yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga perolehan. Murabahah juga merupakan akad yang sangat masyhur di kalangan pelaku usaha perbankan syariah karena dihubungkan dengan praktik bisnis yang demikian kompleks. Akad murabahah yang pada dasarnya merupakan bagian dari akad amanah merupakan topik akad yang banyak didiskusikan di berbagai kalangan di antaranya banyaknya fatwa DSN-MUI jual-beli murabahah.35
b. Rukun Jual Beli Murabahah
Jual beli merupakan sebuah perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terjadinya peralihan hak atas suatu barang dari pihak penjual kepada pihak pembeli.36
Adapun rukun dari jual beli murabahah yang harus dipenuhi terdiri dari:37
1) Ada pelaku akad, yaitu ba’i (penjual) dan musytari (pembeli).
2) Adanya objek akad, yaitu mabi’ (barang dagangan) dan tsaman (harga barang).
3) Adanya sigat, yaitu ijab dan qabul.
34Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan.(Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2004),h.103.
35Jaih Mubarok dan Hasanudin, Fikih Mu’amalah Maliyyah Akad Jual-Beli.(Bandung:Simbiosa Rekatama Media,2018),h.215.
36Khotibul Umam dan Setiawan Budi Utomo, Perbankan Syariah Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia.(Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2017),h.104.
37Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah.(Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2017),h.82.
c. Benda yang Dijadikan Objek Jual Beli
Benda yang dijadikan sebagai objek jual beli haruslah memenuhi syarat-syarat, sebagai berikut:38
1) Bersih barangnya, yang dimaksud adalah barang yang bukan dikualifikasikan sebagai barang-barang najis dan haram.
2) Dapat dimanfaatkan.
3) Milik orang yang melakukan akad.
4) Mampu menyerahkannya.
5) Mengetahui, apabila dalam suatu jual beli keadaan barang, jumlah dan harganya tidak diketahui maka perjanjian jual beli itu tidak sah, karena perjanjian tersebut/dapat mengandung unsur penipuan.
6) Barang yang diakadkan ada di tangan.
d. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Ketentuan tentang Murabahah (Fatwa DSN No. 04//DSN-MUI/I/2000).
1) Bank dan nasabah harus melakukan akad Murabahah yang bebas riba.
2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam.
3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
38Trisadini dan Abdul Shomad , Transaksi Bnak Syariah. (Jakarta: Bumi Aksara, 2015),h.32.
6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan arga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual-beli Murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.39
e. Manfaat Pembiayaan Murabahah
Ada dua manfaat dari pembiayaan murabahah yaitu bagi nasabah dan bagi bank, adapun kedua manfaat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Bagi Bank, manfaat murabahah adalah sebagai salah satu bentuk penyaluran dana untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk keuntungan (margin).
2) Bagi Nasabah, manfaat murabahah bagi nasbah merupakan salah satu cara untuk memperoleh barang tertentu melalui pembiayaan dari bank.
Nasabah dapat mengangsur pembayaran dengan jumlah angsuran yang tidak dapat berubah selama masa perjanjian.40
39Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-Produk dan Aspek-Aspek Hukumnya.(Jakarta:Prenadamedia Group,2014),h.195.
40Ika Trisnawati Alawiyah, Konsep Produk Murabahah Dalam Perspektif Ekonomi Syariah.
(Jurnal Mahkamah, Vol.1 No.1, Juni 2016), h.233.
Selain itu, pembiayaan murabahah memberi banyak manfaat kepada bank syariah. Salah satunya adalah keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu, sistem pembiayaan murabahah juga sangat sederhana. Hal tersebut memudahkan penanganan administrasinya di bank syariah.
Di antara kemungkinan risiko yang harus diantisipasi antara lain sebagai berikut:41
1) Default atau kelalaian; nasabah sengaja tidak membayar angsuran.
2) Fluktuasi harga komparatif. Ini terjadi bila harga suatu barang di pasar naik setelah bank membelikannya untuk nasabah. Bank tidak bisa mengubah harga jual beli tersebut.
3) Penolakan nasabah; barang yang dikirim bisa saja ditolak oleh nasabah karena berbagai sebab. Bisa jadi karena rusak dalam perjalanan sehingga nasabah tidak mau menerimanya. Karena itu, sebaiknya dilindungi dengan asuransi. Kemungkinan lain karena nasabah merasa spesifikasi barang tersebut berbeda dengan yang ia pesan. Bila bank telah menandatangani kontrak pembelian dengan penjualnya, barang tersebut akan menjadi milik bank. Dengan demikian, bank mempunyai risiko untuk menjualnya kepada pihak lain.
4) Dijual; karena pembiayaan murabahah bersifat jual beli dengan utang, maka ketika kontrak ditandatangani, barang itu menjadi milik nasabah.
Nasabah bebas melakukan apa pun terhadap aset miliknya tersebut,
41Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek.(Jakarta:Gema Insani Press, 2001), h.106-107.
termasuk untuk menjualnya. Jika terjadi demikian, risiko untuk default akan besar.