• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nabi Muhammad SAW. Guru Teladan

C. Kandungan Hadis

3. Nabi Muhammad SAW. Guru Teladan

Nabi Muhammad SAW. tidak saja kreatif dan cerdas, akan tetapi sebagai utusan Allah SWT. ia sangat sempurna membingkai kekreatifan dan kecerdasannya itu dengan sifat kejujuran, ketauladanan, kehangatan, keramahan, kebijaksanaan, keadilan dan sifat-sifat baik lainnya serta ditopang oleh ghirah perjuangan yang tak kunjung padam, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengatakan dan tidak mengakui keagungan Nabi Muhammad SAW. sebagai sosok guru yang ideal.

tetapi potongan ayat tersebut tidaklah salah jika dianalogikan dengan hal lain yang dilakukan oleh Rasulullah SAW., telah meninggalkan banyak hal sebagai contoh baik yang dapat dilaksanakan oleh setiap pendidik, firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzab; 21





































“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Pada ayat di atas, Allah SWT. menegaskan kepada manusia bahwa manusia dapat memperoleh teladan yang baik dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah sosok manusia yang kuat imannya, pemberani, penyabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah SWT.

dan iapun memiliki ahklak yang sangat mulia, jika manusia ingin bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal pendidikan Rasulullah SAW. telah memberikan banyak pelajaran bagi para pendidik berkenaan dengan metode pendidikan, yang bisa di implementasikan oleh para pendidik di lembaga formal (sekolah) maupun di rumah oleh orang tua yang Seorang pendidik tidak dapat mendidik murid-muridnya dengan sifat utama kecuali apabila ia memiliki sifat utama dan ia tidak dapat memperbaiki mereka kecualai apabila ia shalih, karena murid-murid akan mengambil keteladan darinya lebih banyak dari pada mengambil kata-katanya.87

87 Al-Hamd, 2002: 27

Pada hakekatnya di lembaga pendidikan peserta didik haus akan suri tauladan, karena sebagian besar hasil pembentukan kepribadian adalah keteladanan yang diamatinya dari para pendidik. Di rumah, keteladanan akan diperoleh dari kedua orang tua dan dari orang-orang dewasa yang ada dalam keluarga tersebut. Sebagai peserta didik, murid-murid secara pasti meyakinkan semua yang dilihat dan didengarkannya dari cara-cara pendidiknya adalah suatu kebenaran. Oleh sebab itu para pendidik hendaknya menampilkan akhlak karimah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ibnu Khaldun pernah mengutip amanah Umar bin Utbah yang disampaikan kepada guru yang akan mendidik anak-anaknya sebagai berikut “ sebelum engkau mendidik dan membina anak-anakku, hendaklah engkau terlbih dahulu membentuk dan membina dirimu sendiri, karena anak- anakku tertuju dan tertambat kepamu. Seluruh perbuatanmu itulah baik menurut pendangan mereka. Sedangkan apa yang engkau hentikan dan tinggalkan, itu pulalah yang salah dan buruk di mata mereka”.88

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapati perilaku anak-anak yang meniru perilaku orang lain yang menjadi pujaannya, seperti meniru gaya pakaian, meniru gaya rambut, meniru gaya bicara. Hal serupa juga terjadi di sekitar lembaga-lembaga pendidikan, seorang siswa yang meniru guru yang ia senangi, seperti meniru cara menulis, cara duduk, cara berjalan, cara membaca dan lain sebagainya.

Semua ini membuktikan bahwa pada hakekatnya sifat meniru perilaku orang lain merupakan fitrah manusia, terutama anak-anak. Sifat ini akan sangat berbahaya jika peniruan dilakukan juga terhadap perilaku yang tidak baik.

Ada dua bentuk strategi keteladanan; pertama, yang disengaja dan dipolakan sehingga sasaran dan perubahan perilaku dan pemikiran anak sudah direncanakan dan ditargetkan, yaitu seorang guru sengaja memberikan contoh

88 Ihsan, 2003 :158

yang baik kepada muridnya supaya dapat menirunya. Kedua, yang tidak disengaja, dalam hal ini guru tampil sebagai seorang figur yang dapat memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 89

Untuk dapat menjadikan “teladan” sebagai salah satu strategi, seorang guru dituntut untuk mahir dibidangnya sekaligus harus mampu tampil sebagai figur yang baik.

Bagaimana mungkin seorang guru menggambar bisa mengajarkan cara menggambar yang baik jika ia tidak mengusai tehnik-tehnik menggambar, seorang guru ngaji tidak akan dapat menyuruh siswanya fasih membaca al- Qur’an jika dirinya tidak menguasai ilmu membaca al-Qur’an dengan baik, guru matematika akan dapat memberi contoh cara menghitung yang baik jika iapun menguasai cara menghitung dengan baik, jangan harap seorang guru bahasa Indonesia akan dapat mengajar membaca puisi dengan baik jika dirinya saja tidak mahir dalam bidang ini, demikianlah seterusnya dengan disiplin ilmu yang lain.

Selain mahir dibidangnya, seorang guru tentu saja dituntut untuk menjadi figur yang baik, perilaku seorang guru senantiasa menjadi sorotan masyarakat terutama para muridnya, tidak sedikit murid yang mengagumi gurunya bukan hanya karena kepintaran dibidang ilmunya, tetapi justru karena perilakunya yang baik, bersikap ramah, adil dan jujur kepada murid-muridnya.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh seorang guru agar dapat menjadi teladan yang baik adalah dengan selalu mengadakan muhasabah pada diri sendiri, mengoreksi akan kekurangan-kekurangan diri dan berusaha untuk memperbaikinya karena bagaimana mungkin guru akan menjadi teladan sedangkan dirinya penuh dengan kekurangan, bagaimana mungkin guru dapat menundukan kekurangan-kekurangan itu sedangkan dirinya cenderung kepada akhlak yang tercela, bagaimana mungkin guru dapat menasehati murid-muridnya sedangkan dirinya belum

89 Syahidin, 1999: 164

mencerminkan kesempurnaan akhlak. Seorang Bijak bersyair tentang pentingnya keteladanan :

Wahai orang yang mengajar selainnya ! Mulailah pengajaran itu dari dirimu,

Kau resepkan obat sedangkan kau lebih membutuhkannya, Kau mengobati orang sakit sedang kau sendiri sakit, Mulailah dengan dirimu, jauhkan ia dari kesesatannya, Jika itu sudah dilakukan, berarti kau orang bijak,

Sejak itu akan diterima nasihatmu, jika kau memberi nasihat

Dan ia akan meniru ucapannmu dan menerima pengajaran.

Pribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari

atau kata “guru” dimaknai dengan “digugu dan ditiru”, menunjukan betapa sosok seorang guru dituntun untuk selalu memperlihatkan perilaku yang baik, karena disadari atau tidak, kata-kata dan perilaku seorang guru akan menjadi panutan bagi murid-muridnya.

BAB V

TUJUAN PENDIDIKAN

Dokumen terkait