• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SEJARAH UMUM MADURA

D. NU Sumenep Madura

Nahdlatul Ulama, atau yang lebih dikenal dengan singkatan NU, didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Nahdlatul Ulama adalah salah satu organisasi yang diprakarsai oleh para Ulama dengan mengadopsi ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah. Beberapa tokoh yang memainkan peran penting dalam pendirian organisasi ini termasuk KH. Hasyim Asyari, KH.

Wahhab Hasbullah, dan yang lainnya pada itu. Pada masa perkembangan gerakan yang disebut reformasi yang meluas, ulama belum sepenuhnya terorganisir, tetapi mereka memiliki kekariban erat melalui acara-acara seperti peringatan perayaan , peringatan ulang tahun wafat seorang KH. yang telah

37Sastronaryatmo, Babad Madura.

meninggal, dan lain sebagainya, secara berkala mereka mengumpulkan para KH., masyarakat sekitar, serta alumni pesantren yang telah tersebar di seluruh Nusantara.39 dan menjadikan KH. Hasyim Asyari sebagai rais Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Nahdlatul Ulama menerapkan prinsip-prinsip Islam yang khas dalam mengelola organisasinya. Pendekatan ini didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu ketaatan pada ajaran al-'Asy'ari dan al-Maturidi dalam ranah ideologi sebagai salah satu dari empat aliran pemikiran utama. Dalam masalah fiqh (hukum Islam), NU mengikuti pemikiran Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali.

Sistem organisasi NU menggunakan struktur administrasi wilayah, dimulai dari tingkat pusat hingga tingkat desa. Pusat pemerintahan yang paling penting adalah kepala pemerintahan pusat, diikuti oleh badan pemerintahan daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Di tingkat desa atau kecamatan, terdapat Majlis Wakil Cabang (MWC). Wilayah distrik ditangani oleh manajer cabang.

Nahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi keagamaan yang memiliki orientasi nasionalis. Semangat nasionalisme yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama tidak hanya terbatas pada toleransi dalam beragama, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk identitas nasional setelah kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Kelahiran Nahdlatul Ulama dipicu oleh semangat nasionalisme yang tinggi, yaitu semangat untuk mempertahankan Islam yang bersifat inklusif terhadap nilai-nilai budaya lokal, serta menghormati

39 Masykur Hasyim, Merakit Negeri Berserakan (Surabaya: Yayasan 95, 2002), hlm. 66.

perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan yang merupakan bagian turun- temurun dalam tradisi nusantara.40 Di bawah kekuasaan Belanda, Nahdlatul Ulama mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 1935, NU telah memiliki 67 cabang dengan 67.000 anggota. Pada tahun ketiga setelah itu, jumlah cabang NU meningkat menjadi 99, termasuk di luar Jawa seperti Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Nahdlatul Ulama memiliki berbagai cabang, salah satunya adalah cabang Sumenep. Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Madura yang terletak di bagian timur.

Di Kabupaten Sumenep, terdapat tiga cabang Nahdlatul Ulama, yaitu cabang Kangean, Masalembu, dan Sumenep sendiri. Organisasi keagamaan di Sumenep sudah ada sejak tahun 1910, bahkan di Parinduan telah terbentuk cabang Sarekat Islam. Namun, terdapat perbedaan pendapat tentang tahun berdirinya cabang Nahdlatul Ulama di Sumenep. Meskipun demikian, tahun 1929 lebih mendekati kebenaran sebagai tahun pendiriannya. Menurut KH.

Tzabit Khazin, sekitar tahun 1929, KH. Hasyim melakukan kunjungan ke pondok pesantren Annuqayah untuk melantik pengurus Nahdlatul Ulama.

Acara tersebut diadakan di rumah KH. Habib Biddin Rubaru. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, tugas KH. Hasyim adalah menyebarkan NU di Jawa Timur. Pada muktamar selanjutnya, yang diselenggarakan di Semarang, sudah terbentuk 23 cabang di Jawa Timur, salah satunya adalah cabang di Sumenep.

40 Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Dan Pemikiran Antara Fundamentalis Islam Dan Fundamentalisme Neo Liberal (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm. 388.

Berdirinya NU di Sumenep menjadi perbandingan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah berupaya membersihkan Islam dari praktik-praktik takhayul, khayalan, dan ilmu sihir. Muhammadiyah bahkan menolak klaim taklid buta serta keberautoritasan empat madzhab besar dalam Islam. Selain upayanya untuk mengembalikan ajaran yang murni, gerakan ini juga berjuang untuk menciptakan perubahan demi kemajuan masyarakat.

Sebagai akibatnya, Muhammadiyah di Sumenep hampir tidak memiliki banyak pengikut. Secara kontras, Nahdlatul Ulama memiliki banyak pengikut dibandingkan dengan Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama menentang pendekatan puritan Muhammadiyah dan mempertahankan nilai-nilai yang telah dicapai oleh madzhab yang ada, terutama aliran Syafi'i. Namun, Nahdlatul Ulama tidak menentang perubahan yang tidak melanggar ajaran agama, meskipun mereka mengharapkan perubahan-perubahan tersebut dilakukan secara bertahap dan dengan memperhatikan tradisi-tradisi setempat.41

Persebaran Nahdlatul Ulama di Sumenep dilakukan oleh KH. Hasyim melalui anak-anak KH. Syarqawi dan kerabat KH. Chotib. KH. Syarqawi merupakan kepala pondok pesantren Annuqayah. Para kiai di Annuqayah pernah menjadi murid di pesantren yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asyari.

Dari situ, Hub De Jonge menyimpulkan bahwa pola hubungan antara santri dan kiai menjadi pintu masuk bagi Nahdlatul Ulama yang diperjuangkan oleh KH. Hasyim untuk masuk ke Sumenep. Menurut keterangan dari KH. Tsabit

41 Hub de Jonge, Madura Dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, Dan Islam (Jakarta: PT Gramedia), hlm. 245-248.

Khazin, KH. Ilyas memainkan peran penting sebagai pendiri Nahdlatul Ulama di Sumenep. Semuanya dimulai ketika KH. Ilyas menerima petunjuk dari gurunya, KH. Hasyim Asyari, untuk membentuk dan mendirikan NU di Sumenep. Namun, KH. Ilyas mengalami tantangan dalam mengembangkan NU pada waktu itu. KH. Ilyas juga merupakan salah satu pengasuh pesantren Annuqayah dari tahun 1917 hingga 1959. Pesantren Annuqayah terletak di daerah Guluk-guluk, yang terpencil dari pusat kota dengan jarak sekitar 23 kilometer.

Inilah yang menjadi latar belakang kesulitan yang dihadapi oleh KH.

Ilyas dalam mengembangkan NU di Sumenep. Selain itu, beliau masih menjabat sebagai pengasuh pesantren Annuqayah di daerah Lubangsa. Pada suatu kesempatan, KH. Ilyas mengumpulkan para Kiai se-Sumenep untuk membahas pendirian NU. Salah satu Kiai yang hadir adalah KH. Abi Syuja'.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa KH. Abi Syuja' akan menjadi ketua Tanfidziyah NU Sumenep, sementara KH. Ilyas akan menjabat sebagai Rais Syuriah NU Sumenep.

KH. Abi Syujak adalah seorang santri yang belajar di bawah bimbingan KH. Hasyim Asyari. Selain itu, dia juga memiliki kedekatan dengan KH. Ilyas. Menurut pandangan KH. Tsabit Khazin, KH. Abi Syujak adalah sosok yang energik, muda, dan memiliki keterampilan dalam mengorganisir. Oleh karena itu, hasil musyawarah menunjukkan persetujuan untuk menjadikan KH. Abi Syujak sebagai ketua pertama NU Sumenep.

Selain itu, secara geografis, tempat tinggal KH. Syujak sangat strategis karena

berada di pusat kota. Pada masa penjajahan, peran ulama tidak hanya terbatas pada penyebaran ajaran Islam. Mereka juga turut menjadi pejuang dalam melawan penjajah di Pulau Garam. KH. Abi Syujak dikenal sebagai seorang pejuang dan diakui sebagai pendiri NU pertama di Sumenep. Seluruh rakyat bersatu dalam tekad untuk mengusir penjajah, dan gerakan pemberontakan meluas di berbagai kalangan. Baik rakyat biasa, santri, maupun kiyai ikut berperan serta dalam perjuangan ini. Di tengah kekacauan dan perlawanan sengit, KH. Abi Syujak muncul sebagai seorang kiyai yang memimpin langsung para pejuang santri. Dia berada di garda terdepan dalam melawan kompeni (pasukan penjajah).

KH Abi Syujak memegang peranan krusial dalam sejarah perjuangan di Kabupaten Sumenep. Selain dikenal sebagai seorang pejuang, beliau juga diakui sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pertama di Sumenep.

Almarhum KH Abi Syujak sangat dihormati oleh masyarakat Sumenep, terutama kalangan Nahdliyin. Beliau merupakan seorang ulama yang mahir dalam Tarekat Alawiyah dan juga merupakan tokoh pertama NU di kabupaten ujung timur Madura.

53 A. Sejarah Feminisme Religius

Pada tahun 1837, istilah feminisme pertama kalinya diperkenalkan oleh Charles Fourier dinegara Prancis. Istilah ini merujuk kepada suatu gerakan pembebasan perempuan yang sedang berkembang di Negara Eropa pada masa itu. Gerakan feminisme ini muncul sebagai suatu respons terhadap isu-isu kontemporer yang sering kali mengabaikan partisipasi perempuan, seperti diskriminasi dalam upah dan hak pilih.42 Sebagai tradisi, Islam menggabungkan esensi Al-Qur'an dan nilai-nilai penting bagi para pemeluknya. Makna ini memiliki sifat yang dinamis dan selalu relevan dengan konteks yang dihadapi oleh para penganutnya yang juga dinamis.

Dalam konteks ini, Islam berhadapan dengan feminisme sebagai perspektif baru yang menghadapi persoalan nyata ketidaksetaraan gender.

Menurut Lies Marcus, seseorang dapat disebut sebagai feminis ketika mereka mempertimbangkan akar penyebab penindasan, merumuskan dan menguji teori, serta mengambil tindakan untuk mengakhiri penindasan tersebut. Dalam konteks ini, seseorang yang mengambil inspirasi dari nilai- nilai ajaran dan sejarah Islam dalam perjuangan kesetaraan gender disebut sebagai feminis Islam.43 Feminis Muslim menyadari bahwa ada kesamaan

42Fitriyah, Lailatul. (2017) Feminisme, Islam, dan Permainan Waktu. Magdalene.

https://magdalene.co/story/feminisme-islam-dan-permainan-waktu

43Marcoes, Lies. (2020). Apakah Aisyah Seorang Feminis. Magdalene.

https://magdalene.co/story/apakah-aisyah-seorang-feminis

akar antara Islam dan feminisme yang memungkinkan keduanya untuk bersatu. Namun, feminisme Islam merupakan upaya untuk memperkaya gerakan melawan ketidakadilan terhadap perempuan. Di Indonesia, Alimatul Qibtiyah dikenal sebagai sosok feminis Muslim. Dalam pidato pengukuhan gurunya, Alimatul Qibtiyah mengungkapkan bahwa semangat merendahkan peran perempuan sering kali didorong oleh pandangan konservatif dalam agama dan pemahaman terhadap teks-teks agama.44

Pemahaman seperti itu selalu menjadikan perempuan sebagai makhluk dengan peringkat kedua dalam hierarki gender. Pemahaman konservatif mengaitkan tubuh perempuan dengan simbol kebersihan, kesuburan, dan objek pemenuhan kebutuhan, sehingga perempuan sering dianggap sebagai sumber malapetaka. Alimatul Qibtiyah berpendapat bahwa kehadiran feminis muslim bertujuan untuk menantang semangat konservatif tersebut yang tidak sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang menempatkan perempuan dan laki-laki setara.45 Dalam prakteknya, feminis muslim berfokus pada upaya memberikan interpretasi baru terhadap doktrin-doktrin agama yang telah mapan dalam masyarakat. Mereka melakukan penelitian sejarah dan menggunakan pendekatan hermeneutika untuk menggali makna pesan dalam

44Qibtiyah, Alimatul. (2020) Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., Ph.D. UIN Sunan Kalijaga. https://www.youtube.com/watch?v=af45TCwCFM0

45Robikah, Siti. (2020). Alimatul Qibtiyah dan Gerakan Feminis Muslim di Indonesia. Rahma.id https://rahma.id/alimatul-qibtiyah-dan-gerakan-feminis-muslim-di-indonesia/

teks Al-Qur'an, dengan mempertimbangkan konteks kelahiran ayat, tata bahasa, dan pandangan dunia yang terkandung dalam setiap ayat.46

Upaya serius untuk upaya agar bisa memperoleh interpretasi yang baru, ada individu seperti Amina Wadud, seorang tokoh feminis muslim internasional, yang memperkenalkan pendekatan tafsir progresif yang menyoroti isu-isu gender dalam Al-Quran. Metode ini dikenal sebagai penafsiran holistik, di mana ia melakukan interpretasi ayat-ayat Al- Quranserta menghubungkannya Berbagai isu-isu yang ada yaitu sosial, ekonomi, politik, moral, dan pengalaman perempuan menjadi subjek dalam pernyataan tersebut.47 Daya upaya yang dilakukan oleh ia bermula dari berbagai kekhawatiran bersama para feminis muslim. Mereka meyakini bahwa salah satu faktor yang menyebabkan ketimpangan gender masih ada adalah karena Al-Qur'an dan hadis selama ini telah ditafsirkan dengan perspektif yang didominasi oleh laki-laki.

B. Sejarah Muslimat NU

Awal mula terbentuknya Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial politik pada masa tersebut. Seperti yang kita ketahui, di seluruh negara Asia Tenggara, semangat perlawanan terhadap penjajahan yang menguasai Indonesia muncul antara tahun 1920 hingga 1940. Dalam Islam, agama yang diturunkanoleh Allah kepada hamba-

46Magdalena, R. (2017) Kedudukan Perempuan dalam Perjalanan Sejarah (Studi Tentang Kedudukan Perempuan dalam Masyarakat Islam). Journal Harkat an-Nisa: Jurnal Studi Gender dan Anak.

47Nashrullah, Nashih. (2014).Mengangkat Derajat Kaum Hawa. Republika.

https://republika.co.id/berita/koran/news-update/14/12/22/ngzd882-mengangkat-derajatkaum- hawa

Nya, tidak ada penghinaan terhadap wanita seperti yang telah disebutkan sebelumnya, juga tidak ada dukungan untuk pemahaman bahwa pria dan wanita harus saling bertentangan (emansipasi gelap). Sebaliknya, Islam menghormati wanita dan mengangkat kedudukannya ke tingkat yang tinggi.48

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, para muslimah mengambil inisiatif untuk membentuk organisasi perempuan. Hal ini berarti bahwa kemudian perempuan-perempuan di dalam NU membentuk kelompok yang dikenal sebagai Muslimat. Meskipun secara resmi belum tergabung dalam struktur organisasi NU, peran dan pengaruh Muslimat sangat signifikan dalam perkembangan NU ke depan.

Ternyata, pada masa itu, perempuan-perempuan NU aktif terlibat dalam pengambilan keputusan di setiap arena Muktamar NU. Salah satu dokumen sejarah NU menyebutkan bahwa dalam Muktamar Surabaya, Ibu Chasanah hadir dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh Muslimat, meskipun saat itu Muslimat belum secara resmi menjadi bagian dari NU.

Meskipun pertemuan tersebut tidak menghasilkan keputusan, kongres tersebut menunjukkan langkah yang signifikan menuju keberlanjutan Muslimat. Dalam rentang waktu 1926 hingga 1938, para ibu-ibu NU telah terlibat dalam Kongres NU selama 12 tahun.49 Muslimat Nahdlatul Ulama hadir dalam masyarakat sebagai sebuah organisasi muslimah yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Kemunculan Muslimat NU tidak dapat

48 Hadiyah Salim, Wanita Islam, Kepribadian dan Perjuangannya, Cet. VII (Bandung: Remaja Rosdakarya,1994),hlm. 10.

49 P.Muslimat NU, Sejarah Muslimat Nahdhatul Ulama (Jakarta: Lembaga Muslimat NU 1952), hlm. 40-41.

dipisahkan dari usaha keras dan semangat gigih almarhum KH. Abdul Wahab Hasbullah dan almarhum KH. Muhammad Dahlan. Muslimat NU berhasil berdiri berdampingan dengan organisasi resmi Nahdlatul Ulama.50

Muslimat NU berdiri dengan tujuan utama mengatasi keterbelakangan perempuan Indonesia, sehingga perempuan-perempuan NU mulai membentuk wadah di mana mereka dapat belajar dan berbakti kepada keluarga, yang sangat penting bagi perempuan Indonesia. Muslimat NU mengikuti pemahaman Ahlusunnah Wal Jama'ah sebagai panduan keagamaan yang dikembangkan di antara anggota NU untuk mempromosikan budaya dan pemahaman agama yang bersatu.51 Muslimat Nahdlatul Ulama merupakan sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang memiliki karakteristik sosial keagamaan dan merupakan badan otonom dari Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Organisasi ini didirikan pada tanggal 26 Rabiul Akhir yang bersamaan dengan tanggal 29 Maret 1946 di Purwokerto. Saat ini, Muslimat NU dipimpin oleh Hj. Khofifah Indar Parawansa, yang juga menjabat sebagai Gubernur Provinsi Jawa Timur.

Muktamar NU ke-13 yang diadakan di Menes, Banten pada tahun 1938 merupakan titik awal munculnya gagasan untuk mendirikan organisasi perempuan dalam lingkungan NU. Dalam forum tersebut, dua tokoh, yaitu Nyai Djuaesih dan Nyai Siti Sarah, hadir sebagai pembicara yang mewakili jamaah perempuan. Nyai Djuaesih dengan tegas dan lantang menyampaikan

50 Saifuddin Zuhri, dkk, Sejarah Muslimat Nahdlatul Ulama, (Jakarta: PP Muslimat NU, 1979), hlm. 46.

51 Asmah Sjahruni, dkk., 50 Tahun Muslimat NU Berkhidmat Untuk Agama, Negara dan Bangsa, (Jakarta: Pucuk Pimpinan Muslimat NU, 1996), hlm. 20.

pentingnya peran aktif perempuan dalam organisasi, sejajar dengan peran kaum laki-laki. Keberanian Nyai Djuaesih ini membuatnya menjadi perempuan pertama yang berbicara di mimbar dalam forum resmi organisasi NU.52 Di tubuh NU, partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan memberikan suara masih terbatas. Namun, gagasan tersebut diterima dengan antusias oleh para peserta kongres. Setahun kemudian, pada Muktamar NU ke-14 yang diselenggarakan di Magelang, langkah selanjutnya diambil.

RH Muchtar, utusan NU Banyumas, memberikan tugas kepada Nyai Djuaesih untuk memimpin rapat khusus wanita. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Muntilan, Sukoharjo, Kroya, Wonosobo, Surakarta, Magelang, Parakan, Purworejo, dan Bandung. Dalam forum tersebut, pentingnya peran wanita NU dalam organisasi, masyarakat, pendidikan, dan dakwah dibahas dan dirumuskan. Pada tanggal 29 Maret 1946, yang bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H, keinginan jamaah perempuan NU untuk berorganisasi diterima secara bulat oleh para utusan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto.53

Sebagai hasilnya, dibentuklah sebuah lembaga organisasi perempuan dengan nama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM), yang kemudian lebih dikenal sebagai Muslimat NU. Hari ini dianggap sebagai hari lahir Muslimat NU yang masih diperingati hingga sekarang. Pendirian lembaga ini dianggap relevan dengan kebutuhan sejarah pada saat itu. Pandangan ini hanya dianut

52 Sejarah Singkat Muslimat NU http://muslimatnu.or.id/sejarah-singkat/, diakses Senin 21 November 2022.

53 Asmah Sjahruni, dkk., 50 Tahun Muslimat NU Berkhidmat Untuk Agama, Negara dan Bangsa, (Jakarta: Pucuk Pimpinan Muslimat NU, 1996), hlm. 21.

oleh sebagian kecil ulama NU, termasuk KH Muhammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri. Dikarenakan prestasi dan kontribusinya yang luar biasa, pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952, Muslimat NU diberikan otonomi. Para peserta Muktamar sepakat memberikan kebebasan kepada Muslimat NU untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kreativitasnya dalam berbagai bidang pengabdian.

Setelah menjadi badan otonom NU, Muslimat NU memiliki kebebasan yang lebih besar dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan cita-cita nasional secara independen. Selama perjalanan ini, Muslimat NU bergabung dengan elemen perjuangan wanita lainnya, terutama dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), sebuah federasi organisasi wanita tingkat nasional. Dalam Kowani, Muslimat NU menduduki posisi yang signifikan.54

Tujuan utama Muslimat NU adalah mewujudkan masyarakat yang berkualitas dan sejahtera, dengan mengacu pada ajaran Ahlusunnah Wal Jama'ah, di dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diberkahi oleh Allah SWT. Tujuan Muslimat NU adalah meningkatkan kesadaran perempuan Indonesia tentang hak-hak dan kewajiban mereka sebagai individu, warga negara, dan anggota masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, mereka bertujuan untuk mendukung misi Jam'iyah NU dalam

54 Sejarah Singkat Muslimat NU http://muslimatnu.or.id/sejarah-singkat/, diakses Senin 21 November 2022.

menciptakan masyarakat yang adil, makmur, bermartabat, dan diberkahi oleh Allah SWT.55

C. Eksistensi Feminisme Religius Muslimat NU Sumenep

Islam di Indonesia memiliki ciri yang berbeda dengan Islam di wilayah lainnya, penyebaran secara damai merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penyebaran di tanah Nusantara. Perkembangan Islam di Indonesia menghadirkan organisasi keagamaan yang menjadi sebuah Fenomena menarik yang pantas dipelajari adalah organisasi keagamaan Islam yang merupakan representasi dari mayoritas umat Islam di Indonesia. Organisasi-organisasi keagamaan Islam ini menjadi kelompok organisasi terbesar baik dalam skala nasional maupun lokal. Contohnya adalah Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Sarikat Islam (SI), dan organisasi keagamaan Islam lainnya.56

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan dan sosial terbesar di Indonesia. Pendirian organisasi ini terjadi pada tanggal 31 Januari 1926 di Kampung Kertopaten Surabaya, di rumah KH. Abdul Wahab Hasbullah. Pada tanggal 6 Februari 1930, sejak 31 Januari 1926. Kelahiran NU dipicu oleh dukungan dari kalangan pesantren untuk mempertahankan kelangsungan madzhab (mazhab) dan menentang keputusan Raja Ibnu Su'ud

55 Sejarah Singkat Muslimat NU http://muslimatnu.or.id/sejarah-singkat/, diakses Senin 21 November 2022.

56 Martin Van Bruinessen, NU Tradisi relasi-relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru (Yogyakarta:

Lkis,1994), hlm. 11.

yang mencabut pengakuan terhadap madzhab tersebut. Sebagai hasilnya, NU dikenal sebagai organisasi yang memiliki pendekatan tradisionalis.57

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1926 oleh sejumlah ulama’ di jawa timur.58 Pada awalnya Nahdlatul Ulama’ merupakan organisasi ulama’ tradisional di Jawa Timur. Kemudian Nahdlatul Ulama’ pada perkembangannya dikenal sebagai organisasi Islam yang progresif di Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan oleh para ulama sebagai wadah bagi kalangan pesantren, sejak awal pendiriannya terdapat pengaruh budaya patriarki. Budaya patriarki terlihat dalam eksistensi yang lebih menonjol bagi kaum laki-laki daripada kaum perempuan dalam struktur organisasi tradisional ini. Ketika mendapatkan peran yang seimbang bagi kaum perempuan di dalam NU dapat diamati melalui perkembangan peran mereka dalam organisasi ini.59

Peran perempuan dalam NU muncul setelah 12 tahun sejak pendirian NU pada tahun 1926. Pada saat itu, terjadi tonggak kelahiran Muslimat NU.

Dalam sambutannya, Nyai Djunaisih, seorang tokoh perempuan, menyampaikan bahwa menurut Islam, pendidikan dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama tidak hanya penting bagi laki-laki, tetapi juga bagi

57 Nur Khalik Ridwan, NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 33-46.

58 Martin Van Bruinessen, NU Tradisi relasi-relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru (Yogyakarta, Lkis,1994), hlm. 17.

59 Abraham Silo Wilar, NU Perempuan: Kehidupan dan Pemikiran Kaum Perempuan NU (Bandung: Pyramida Media Utama, 2009), hlm. 32.

perempuan. Perempuan juga perlu dididik sesuai dengan kehendak dan petunjuk agama.60

Pidato yang disampaikan oleh Nyai Djunashi di atas menggambarkan pentingnya memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam organisasi ini. Oleh karena itu, diperlukan wadah yang khusus bagi perempuan NU. Gagasan ini dikuatkan oleh pembicara berikutnya, Nyai Siti Syarah. Sebagai hasilnya, tokoh-tokoh NU mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada perempuan. KH juga memainkan peran penting dalam munculnya gerakan perempuan di dalam NU. Salah satu tokoh yang ikut terlibat adalah Mohammad Dahlan dari Pasuruan.61 Walaupun gagasan pembentukan Forum Perempuan NU mendapat dukungan dari beberapa tokoh NU, tidak berarti tidak ada hambatan. Terdapat pro dan kontra di kalangan NU, sehingga proses kelahiran Muslimat NU sebagai gerakan perempuan pertama dalam NU membutuhkan waktu yang relatif lama, karena melibatkan banyak pembahasan yang harus dilewati.62

Dalam situasi Indonesia, disarankan untuk mempelajari gerakan perempuan di dalam konteks Islam, terutama dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama. Meskipun NU telah memiliki perhatian terhadap isu-isu perempuan sejak didirikannya, namun belum berhasil menghadirkan perempuan aktif NU secara langsung di ruang publik,

60 Afif, “Merintis Kebangkitan Kaum Ibu”, Aula: Perempuan-perempuan Tangguh, Tab`ah 12/SNH XXXV/Desember 2013, hlm. 11.

61 Afif, “Merintis Kebangkitan Kaum Ibu”, Aula: Perempuan-perempuan Tangguh, Tab`ah 12/SNH XXXV/Desember 2013, hlm. 14.

62 Lies Marcoes-Natsir, dkk., Peta Gerakan Perempuan Islam Pasca-Orde Baru (Cirebon: Institut Studi Islam Fahmina, 2012), hlm. 22.