BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Variabel penelitian
3.8.3 Uji Hipotesis
pengaman ke pengamatan yang lain.” Hipotesis yang digunakan yaitu sebagai berikut:
H0 : β 1 = 0 maka tidak terdapat heterokedastisitas Ha : β 1 ≠ 0 maka terdapat heterokedastisitas
Dasar yang akan menjadi sumber dalam menginterpretasi hasil uji Glejser yaitu sebagai berikut:
a. Apabila hasil probabilitas > 0,05 oleh karena itu H0 ditolak yang berarti terdapat masalah heterokedastisitas.
b. Apabila hasil probabilitas < 0,05 oleh karena itu H0
diterima yang berarti tidak terdapat masalah heterokedastisitas.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi ini dilakukan dengan cara memproporsikan nilai yang ada di tabel Durbin Watson dengan nilai yang ada di tabel hitung. Dengan standar atau yang memiliki nilai signifikan 5%. Uji ini memiliki tujuan dalam mengukur apakah pada pola regresi linear ditemukan hubungan antara faktor pengganggu pada satu periode tertentu degnan faktor pengganggu pada periode selanjutnya.
independen terhadap variabel dependen. Uji F dilakukan untuk mengukur koefisien regresi secara bebas, yaitu dengan melihat apakah berpengaruh dari seluruh variabel independen atau variabel dependen. Dikatakan diterima apabila Ftabel > Fhitung, maka secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Begitupun sebaliknya, jika Ftabel < Fhitung maka secara bersama-sama variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.
b. Uji Signifikan (Uji T)
Menurut Ghozali (2013:98) uji T dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Jika nilai signifikan < 0,05 maka variabel independen terdapat pengaruh terhadap variabel dependen, yang artinya H0 di terima dan Ha ditolak. Sedangkan jika nilai signifikan > 0,05 maka variabel independen tidak terdapat pengaruh terhadap variabel dependen, yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima.
c. Koefisien Determinasi
Menurut Ghozali (2013:95) koefisien determinasi untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi terkait. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terkait terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi dependen.
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perusahaan Sektor Perdagangan Eceran yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2015-2019. Data yang diperoleh penulis yaitu dari data yang diunggah perusahaan melalui situs web Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id dan annual report. Berikut adalah daftar tabel perusahaan yang dipilih penulis untuk diteliti.
Tabel 4.1
Daftar Perusahaan Sektor Perdagangan Eceran yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
No Nama Perusahaan Kode Perusahaan
1 PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk AMRT
2 PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk CSAP
3 PT. Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk CENT
4 PT. Matahari Department Store Tbk LPPF
5 PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk RALS
Adapun profil singkat perusahaan-perusahaan yang dipilih penulis untuk dijadikan sampel penelitian, sebagai berikut:
1. PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk
Dilansir dari website (Mariayulia, akses 19 Februari 2021) menyatakan bahwa profil perusahaan yaitu, Pada tahun 1989 Djoko Susanto dan Keluarga PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama PT. Sumber Alfaria Trijaya.
Dimana bidang dperdagangan dan distribusi merupaka awal muka Djoko Susanto dan Keluarga PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart atau Perseroan) memulai bisnisnya, kemudian pada tahun 1999 mulai memasuki bidang minimarket. Pada tahun 2002 PT. Sumber Alfaria
28
baik yang ada di desa maupun di kota. Selain itu Alfamart menggambarkan salah satu gerai eceran yang terkemuka, dengan menampung lebih dari 2,5 juta konsumen setiap hariyna dan menyajikan produk-produk keperluan pokok sehari-hari dengan hagra relatif terjagnkau tentunya. Alfamart juga salah satu gerai ritel yang menjadi tempat untuk berbelanja yang nyaman serta lokasi yang strategis mudah dijangkau. Didukung dengan lebih dari 50.000 karyawan yang membuat Alfamart sebagai salah satu pembuka lapangan kerja terbesar di Indonesia.
Alfamart merupakan gerai yang sering kali melakukan aksi kemanusiaan, seperti selalu terlibat dalam meningkatkan kedamaian dan keamanan masyarakat melalui agenda dan rencana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Aksi kemanusiaan tersebut contohnya membantu serta menolong masyarakat melalui aktivitas-aktivitas sosial, membantu dalam bidang pendidikan, olahraga, membantu mewujudkan dan melestarikan lingkungan sehat, dan membantu pengusaha kecil.
Selain itu Alfamart juga sering terlibat dalam melakukan pengembangan dan pelestarian seni dan budaya.
2. PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk
Berdasarkan website dari perusahaan (Csahome.com, akses 19 February 2021) menyatakan bahwa profil perusahaan yaitu, Perusahaan ini merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 31 Desember 1983. Sebelum menjadi PT Catur Sentosa Adiprana Tbk, pada tahun 1966 perusahaan ini merupakan sebuah toko sederhana yang menjual cat dengan diberi nama “Toko Tjat Sentosa” yang dibuka awal mulanya oleh Eka Santosa dan Darmawan Putra Totong. Dimana toko
Seiring perkembangannya dibentuklah PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) yang mana untuk mendukung perkembangan usahanya.
Industri ini pun menawarkan konsep “one stop shopping” didalam usaha ritel modern bahan bangunan di Indonesia. CSAP resmi bergabung dengan Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007. Dalam menjalankan aktivitas operasionalnya sebagai pemasok cat dan bahan bangunan di Indonesia, perusahaan ini didorong oleh 48 cabang bagian yang tersebar di 39 kota di Indonesia. Kemudian terdapat 4 cabang distribusi kimia, 14 area distribusi barang konsumen, 20 outlet ritel Mitra10 dan 10 Showroom Atria. Perusahaan ini juga mempekerjakan sekitar 7.000 karyawan di Indonesia.
3. PT. Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk
Berdasarkan website (PT. Centratama Telekomunikasi Tbk, akses 19 Februari 2021) menyatakan bahwa profil perusahaan yaitu, pada awal berdiri perusahaan ini merupakan PT. Centrin Online Tbk, dimana perusahaan yang beropersai sebagai Penyedia Jasa Internet (ISP) dan solusi teknologi informasi. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1987 dan berpusat di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Seiring perkembangannya perusahaan ini memperluas usahanya di bidang telekomunikasi, multimedia, penyedia layanan internet, dan solusi teknologi informasi.
Nama perusahaan ini juga berganti menjadi PT. Centratama Telekomunikasi Indonesia atau biasa disingkat dengan CENT.
Perusahaan ini menyediakan layanan dan produk seperti layanan dial up, akses bisnis, layanan LAN dial up, layanan dial up ISDN, LAN dial up layanan ISDN, layanan leased line, layanan web hosting, layanan kolokasi, layanan mailing list, dan Voice over Internet Protocol (VoiP).
di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2001.
4. PT. Matahari Department Store Tbk
Berdasarkan website perusahaan (Anrep.id, akses 19 Februari 2021) menyatakan bahwa profil perusahaan sebagai berikut, pada 24 Oktober 1958 dibuka gerai pertama sebagai awal mula sebelum menjadi PT. Matahari Department Store Tbk. Dimana gerai tersebut menawarkan pakaian untuk anak-anak yang dibuka di Pasar Baru, Jakarta. Sejak saat itu Matahari terus mengalami perkembangan menjadi perusahaan nasional dengan membuka department store modern pertama di Indonesia pada tahun 1972, dan mendirikan dasar konsumen setia di seluruh Indonesia. Perusahaan ini melakukan spin off pada tahun 2009 dari PT. Matahari Putra Prima Tbk (MPP) menjadi PT. Matahari Department Store Tbk. Perusahaan ini telah tersebar luas di Indonesia dengan 142 gerai di 66 kota. Matahari memiliki karyawan yang terbilang tidak sedikit, dengan total karyawan mencapai 50.000 karyawan.
PT. Matahari Department Store Tbk menyediakan produk-produk yang berkualitas dan bekerjasama dengan distributor lokal dan internasional yang loyal untuk mempromosikan berbgai produk terkini dari merek yang unggul dan merek internasional. Selain menyediakan fashion pakaian, aksesoris, dan kecantikan perusahaan ini menyediakan peraatan rumah tangga dengan harga yang terjangkau.
5. PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk
Indonesia. pasangan suami istri yaitu Paulus Tumewu dan Tan Lee Chuan pertama kali merambah ke dunia bisnis pada tahun 1978, dengan membuka sebuah toko yang menjual berbagai pakaian. Toko yang pertama kali didirikan dengan nama Ramayana Fashion Store ini merupakan harapan pasangan asal Ujung Padang, Sulawesi Selatan yang merantau di Ibukota Jakarta. Keduanya memiliki rencana membuka department store yang menyajikan barang-barang yang memiliki kualitas bagus dengan harga yang relatif terjangkau, mereka mulai memberanikan diri untuk mencetuskan bisnis garmen dan pakaian. Seiring dengan perkembangannya, perusahaan ini telah melebarkan bsinisnya dengan membuka toko cabang yang berada di luar Jakarta yakni di Bandung pada tahun 1985.
Pada tahun 1989 Ramayana telah mempunyai lebih dari 13 unit yang dapat mempekerjakan setidaknya 2.500 orang pekerja. Selain itu, mereka juga memulai dengan mengembangkan produk-produk yang mempromosikan dan menghadirkan produk aksesoris seperti sepatu dan tas yang tidak hanya terbatas pada pakaian serta kebutuhan rumah tangga, mainan hingga perlengkapan alat tulis. Pada tahun 1996 gerai Ramayana mulai bertambah menjadi 45 unit. Sampai saat ini Ramayana sudah menjalar di lebih dari 42 kota besar yang ada di Jawa, Bali, Sumtera, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua pada tahun 2010. Saat ini perusahaan telah mempekerjakan lebih dari 17.867 orang karyawan.
4.2 Deskripsi Data
dalam mengetahui hasil dari rasio hutang terhadap ekuitas atau rasio keuangan. Perusahaan menggunakan jumlah hutang dan ekuitas sebagai kebutuhan operasional perusahaan, yang mana harus berada pada jumlah yang proporsional. Pada tabel di bawah dapat menunjukkan nilai Debt to Equity Ratio (DER) pada perusahaan perdagangan eceran yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019.
2015 2016 2017 2018 2019
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
2.13
2.68
2.17
2.68
2.49 3.13
2.01
2.37
1.98
2.34
0.2 0.27
0.51
0.71
0.9 2.5
1.6
1.3
1.8 1.8
0.37 0.39 0.4 0.37 0.36
AMRT CSAP CENT LPPF RALS
S umber: data sekunder yang diolah 2020
Gambar 4.1 Sturktur Modal (DER)
Perusahaan Sektor Perdagangan Eceran Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019
Dalam grafik di atas dapat diketahui bahwa perkembangan rasio hutang terhadap ekuitas perusahaan perdagangan eceran periode 2015-
Tbk (CSAP) terbesarnya yaitu ditahun 2015 dengan angka sebesar 3,13% dan angka terendahnya berada ditahun 2018 yaitu sebesar 1,98%. Ditahun 2019 pada PT. Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) kenaikan rasio DER sebesar 0,90% dan penurunan rasio sebesar 0,20% pada tahun 2015. PT. Matahari Department Store Tbk (LPPF) pada tahun 2015 mengalami kenaikan rasio DER sebesar 2,5%
dan mengalami penurunan pada tahun 2017 yaitu sebesar 1,3%.
Sedangkan pada tahun 2019 PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mengalami kenaikan pada tahun 2017 sebesar 0,40% dan mengalami penuruna pada tahun 2019 dengan angka sebesar 0,36%.
4.2.2 Perputaran Kas
Perputaran kas adalah salah satu tolak ukur dalam menentukan tingkat keuntungan yang didapatkan suatu perusahaan. Dalam gambar di bawah ini dapat memberikan informasi berapa kali perusahaan bidang retail yang terdaftar di BEI periode 2015-2019 mengalami perputaran pada kas.
2015 2016 2017 2018 2019 0
20 40 60 80 100
74.09
65.95 65.27
44.29
24.39
106.15 103.29 108.71
0.5410.43.18 0.577.443.26 2.736.082.87 1.947.42.73 1.638.722.57
AMRT CSAP CENT LPPF RALS
Sumber: data sekunder yang diolah 2020 Gambar 4.2 Perputaran Kas
Perusahaan Sektor Perdagangan Eceran yang Terdaftar di Bursa Efek Indoneisa periode 2015-2019
Berdasarkan gambar di atas, dapat mendapatkan informasi bahwa perputaran kas mencapai angka tertinggi yaitu ditahun 2015 sebesar 74,09 pada PT. Alfaria Tritaya Tbk. (AMRT) dan angka terendah sebesar 24,39 pada tahun 2019. Pada PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) angka tertinggi mencapai 172,77 pada tahun 2019 dan yang terendah pada tahun 2016 sebesar 103,29. PT.
Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) angka tertinggi yaitu sebesar 1,94 pada tahun 2018 dan angka terendah yaitu 0,54 pada tahun 2015. Pada PT. Matahari Department Store Tbk (LPPF) angka tertiggni yaitu pada tahun 2015 sebesar 10,40 dan angka terendah pada tahun 2017 sebesar 6,08. Sedangkan angka tertingi perputaran kas pada PT Ramayana Lestari Sentosa yaitu ditahun 2016 sebesar 3,26 dan angka terendah sebesar 2,57 pada tahun 2019.
perputaran persediaan yang dialami oleh industri bidang retail yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
2015 2016 2017 2018 2019
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
1.59 1.68 1.59 1.58 1.66
0.48 0.46 0.49 0.52 0.55
0.06 0.04 0.17 0.23 0.36
3.4 3.68 3.85
3.52 3.68
0.47 0.49 0.48 0.53 0.5
AMRT CSAP CENT LPPF RALS
Sumber: data sekunder diolah 2020
Gambar 4.3 Perputaran Persediaan
Perusahaan Sektor Perdagangan Eceran yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019
Dari gambar di atas, kita mendapatkan informasi bahwa tingkat perputaran persedian pada perusahaan-perusahaan tersebut yaitu mengalami penurunan dan kenaikan. Pada PT. Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) kenaikan perputaran persediaan tertingi yaitu pada tahun 2016 dengan angka sebsar 1,68 dan yang terendah yaitu pada tahun 2018 yaitu sebsar 1,58. Pada PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk.
(CSAP) kenaikan tertinggi terjdi pada tahun 2019 sebesar 0,55 dan angka terndah yaitu pada tahun 2016 sbesar 0,46. Pada PT.
Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) angka kenaikan
3,85 dan angka terendah yaitu ditahun 2015 sebesar 3,4. Sedangkan kenaikan terbesar pada PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) sebesar 0,53 ditahun 2018 dan angka terendah yaitu sebesar 0,47 di tahun 2015.
4.2.4 Profitabilitas
Pada penelitian ini, peneliti memakai rasio Return on Asset (ROA) dalam mengetahui tingkat profitabilitas yang diperoleh perusahaan. Profitabilitas merupakan salah satu rasio yagn digunkan perusahaan dalam mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan. Dimana semakin tinggi ROA maka profitabilitas perusahaan juga akan baik.
2015 2016 2017 2018 2019
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
3.05 2.84
1.18 3.02 4.75
0.01 0.02 0.02 0.02 0.1
4.13 2.27 2.65
0.68 0.16
45.8
41.6
35.1
21.8
28.3
7.35 8.79 8.31
11.2 11.47
AMRT CSAP CENT LPPF RALS
Sumber: data sekunder diolah 2020
Gambar 4.4 Profitabilitas (ROA)
sebesar 4,75% dan tingkat ROA terendah yaitu sebesar 1,45% pada tahun 2017. Pada PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) angka tertinggi berada di tahun 2019 yaitu sebesar 0,1% dan angka terendah yaitu sebesar 0,01% pada tahun 2015. Pada PT. Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) ditahun 2015 dengan angka 4,13% merupakan angka ROA terbesar dan 0,16% merupakan angka terkecil yang terjadi ditahun 2019. PT. Matahari Department Store Tbk (LPPF) angka taertinggi mencapai 45,8% ditahun 2015 dan angka terendahnya yaitu ditahun 2018 sebesar 21,8%. Sedangkan pada PT.
Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) angka tertinggi yaitu sebesar 11,47% ditahun 2019 dan angka terendah yaitu ditahun 2015 sebesar 7,35%.
4.3 Analisis dan Interpretasi Hasil 4.3.1 Uji Metode
a. Uji Chow
Tabel 4.2 Uji Chow Redundant Fixed Effect Test
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 4.529112 (4,17) 0.0113
Cross-section Chi-square 18.136408 4 0.0012
sumber: output eviews 10, data diolah, 2021
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, peneliti menggunakan perbandingan perkiraan antara fixed effect dan common effect.
Dalam tabel tersebut dapat diketahui mempunyai angka hasil
Sehingga pola yang lebih tepat dalam peneitian ini yaitu menggunakan fixed effect.
b. Uji Hausman
Uji hausman dilakukan karena untuk memastikan apakah ada persamaan antara uji chow dan uji hausman. Selain itu uji hausman dilakukan untuk menentukan metode terbaik yang digunakan dalam penelitian ini. Apakah fixed effect atau random effect.
Tabel 4.3 Uji Hausman Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Test Summary
Chi-Sq.
Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 18.101944 3 0.0004
Sumber: Output Eviews 10, data diolah, 2021
Dari tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa nilai probabilitas sebesar 0,0004, maka dapat diartikan nilai probabilitas lebih kecil dari pada nilai α 0,05. Dimana H0 ditolak dan Ha
diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat kesamaan dalam uji chow dan uji hausman, maka metode terbaik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode fixed effect.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 3.988918 2.396099 1.664755 0.1108
X1 -4.837242 2.457313 -1.968509 0.0624 X2 -0.000612 0.043833 -0.013951 0.9890
X3 10.26826 1.386493 7.405922 0.0000
Sumber:Output Eviews 10, diolah penulis, 2021
Berdasarkan tabel 4.4 di atas, dapat diperoleh persamaan sebagai berikut:
Y = 3,988918 – 4,837242X1 – 0,000612X2 + 10,26826X3 Dimana:
Y = Return on Asset X1 = Debt to Equity Ratio X2 = Perputaran Kas X3 = Perputaran Persediaan
Hasil interpretasi yang dihasilkan dari pengujian tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Koefisien konstanta (a)
Dari tabel tersebut dapat dilihat hasil dari konstanta yang diperoleh yaitu sebesar 3,988918 bernilai positif. Dapat disimpulkan bahwa apabila masing-masing variable independen X1(Debt to Equity Ratio), X2 (Perputaran Kas), dan X3 (perputaran Persediaan) bernilai 0, maka nilai variabel dependen Y (Return on Asset) adalah 3,988918.
2. Koefisien regresi DER bernilai -4,83724 menyatakan bahwa dengan mengasumsikan nilai variabel lain tetap dan DER (X1) mengalami peningkatan Rp. 1, oleh karena itu Return on Asset (Y) akan megalami penurunan juga yaitu sebesar 4,83724.
tetap dan perputran kas (X2) mengalami peningkatan Rp. 1, maka ROA (Y) juga cenderung mengalami penurunan sebesar -0,000612. Koefisien perputaran kas bernilai negatif maka dapat diartikan bahwa terjadi hubungan negatif antara perputaran kas dengan Return on Asset.
4. Koefisien regresi perputaran persediaan bernilai 10,26826 menyatakan bahwa dengan mengasumsikan nilai variabel lain tetap dan perputaran persediaan (X3) mengalami peningkatan Rp. 1, maka Return on Asset (Y) juga cenderung mengalami penurunan sebesar 10,26826. Koefisien perputaran persediaan bernilai positif maka dapat diartikan bahwa terjadi korelasi positif antara perputaran persediaan dengan Return on Asset.
4.3.3 Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dipakai peneliti dengan tujuan untuk menguji dan mengetahui apakah data dapat terdistribusi secara normal atau tidak. Dalam pengolahan statistik, normalitas suatu data merupakan salah satu hal terpenting yang dilakukan oleh peneliti. Oleh karena itu, uji normalitas harus dilakukan agar asumsi dalam pengolahan statistik dapat terpenuhi. Dalam penelitian ini, terdapat hasil uji normalitas yang telah diolah penulis dengan menggunakan software Eviews 10 yaitu sebagai berikut:
Mean 9.819600 1.498400 38.41240 1.276000 Median 3.470000 1.800000 7.440000 0.520000 Maximum 45.80000 3.130000 172.7700 3.850000 Minimum 0.010000 0.200000 0.540000 0.040000 Std. Dev. 13.64392 0.955535 50.63756 1.298335 Skewness 1.572484 -0.049651 1.204594 1.052731 Kurtosis 4.160311 1.510645 3.265096 2.567331 Jarque-Bera 11.70535 2.320873 6.119235 4.812678 Probability 0.002872 0.313349 0.046906 0.090145
Sum 245.4900 37.46000 960.3100 31.90000
Sum Sq. Dev. 4467.758 21.91314 61539.91 40.45620
Observations 25 25 25 25
Sumber: Output Eviews 10, diolah penulis, 2021
Dari tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa data yang diolah penulis sebanyak 25 sampel selama 5 tahun periode. Data tersebut terdiri dari variabel Struktur Modal yang dihitung dengan Debt to Equity Ratio (DER), perputaran kas, perputaran persediaan, dan profitabilitas yang diukur menggunakan rasio Return on Aset (ROA).
a. Nilai tertinggi Debt to Equity Ratio yaitu sebesar 3,130000 dan nilai terendahnya sebesar 0,200000. Standar deviasi pada DER yaitu sebesar 0,955535 dimana angka ini lebih kecil dari pada nilai mean (rata-rata) data tersebut. Nilai mean yaitu sebesar 1,498400. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa variabel DER (X1) dapat terdistribusi secara normal.
b. Perputran kas memiliki nilai tertinggi sebesar 172,7700 dan nilai terendahnya sebesar 0,540000. Nilai standar deviasi pada perputaran kas yaitu sebesar 50,63756. Dimana angka tersebut lebih besar dari nilai mean (rata-rata) perputaran kas yaitu sebesar
deviasi pada perputaran persediaan yaitu sebesar 1,298335.
Angka tersebut lebih besar dari pada nilai mean (rata-rata) perputaran persediaan yaitu sebesar 1,276000. Maka dari itu, dapat diketahui bahwa variabel perputaran persediaan tidak dapat terdistribusi secara normal.
d. Return on Asset memiliki nilai tertinggi sebesar 45,80000 dan nilai terendahnya yaitu sebesar 0,010000. Nilai standar deviasi pada variabel Return on Asset yaitu sebesar 13,64392. Nilai tersebut menunjukkan lebih besar dari pada nilai mean (rata-rata) variabel Return on Asset yaitu sebesar 9,819600. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa variabel Return on Asset tidak dapat terdistribusi secara normal.
2. Uji Multikoloniaritas
Uji multikoloniaritas dilakukan dalam penelitian dengan memiliki tujuan untuk mengukur apakah adanya hubungan yang tinggi antar variabel bebas dalam model regresi. Apabila antar variabel bebas terjadi korelasi atau adanya hubungan yang sempurna, maka koefsien regresi tidak dapat ditemukan dan nilai stadar eror menjadi tak terhingga. Sedangkan apabila uji multikoloniaritas antar variabel bebas tidak sempurna tetapi memiliki nilai yang tinggi, maka koefsien regresi dapat ditemukan.
Akan tetapi memliki nilai standar error tinggi, hal tersebut dapat diartikan sebagai nilai koefisien regresi tidak dapat diperkirakan dengan efektif dan efisien.
Tabel 4.6 Uji Multikoloniaritas
Dari tabel 4.6 di atas dapat dilihat dan mendapatkan informasi bahwa hasil uji multikoloniaritas menunjukkan tidak terdapat hubungan atau nilai korelasi yang sempurna atau tinggi antar variabel-variabel independen. Hal tersebut dikarenakan, hasil uji multikoloniaritas lebih besar 0,90 atau > 0,90. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikoloniaritas antar variabel independen.
3. Uji Heterokedestisitas
Dalam menentukan ada dan tidaknya heterokedestisitas dalam model regresi, penulis menggunakan uji glesjer dalam uji heterokedestisitas. Uji glesjer ini diketahui untuk meregresikan nilai absolute dari residual (resid) terhadap variabel independen, yang diestimasikan memiliki korelasi yang erat dengan varians yang dihasilkan. Hal tersebut juga merupakan tujuan dari uji heterokedestisitas.
Tabel 4.7 Uji Heterodestisitas
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 12.28550 5.548990 2.214007 0.0408
X1 0.939912 1.127146 0.833887 0.4159
X2 -0.000226 0.023333 -0.009669 0.9924 X3 -8.862529 3.817656 -2.321458 0.0329
data apakah lebih besar atau lebih kecil dari tingkat α 0,05.
Pada variabel X1 (Debt to Equity Ratio) tingkat probabilitas yaitu sebesar 0,4159 lebih besar > 0,05 maka data X1 tidak terjadi masalah heteroskedestisitas. Pada variabel X2 (perputaran kas) tingkat probabilitas yaitu sebesar 0,9924 lebih besar > 0,05 maka data X2 tidak terjadi masalah heterokedestisitas. Sedangkan pada variabel X3 (perputaran persediaan) tingkat probabilitasnya yaitu sebesar 0,0329 lebih kecil < 0,05 maka data X3 terdapat masalah heterokedestisitas.
4. Uji Autokorelasi
Tujuan dari uji autkorelasi yaitu untuk mengukur apakah dalam suatu model regresi terdapat hubungan antar residual (resid) pada suatu periode tertentu dengan kesalahan pada periode sebelumnya. Apabila terjadi adanya hubungan atau korelasi, oleh karena itu dapat dikatakan data tersebut terjadi masalah autokorelasi.
Tabel 4.8 Uji Autokorelasi Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.913180 Mean dependent var 9.819600 Adjusted R-squared 0.877431 S.D. dependent var 13.64392 S.E. of regression 4.776717 Akaike info criterion 6.219721 Sum squared resid 387.8894 Schwarz criterion 6.609762 Log likelihood -69.74652 Hannan-Quinn criter. 6.327902 F-statistic 25.54402 Durbin-Watson stat 1.181708
memproporsikan antara angka durbin watson hitung dengan angka durbin watson table. Nilai durbin watson table dengan tingkatan α sebesar 5%. Jumlah variabel independen dalam penelitian ini yaitu 3 variabel dan jumlah sampel sebanyak 25, maka angka hasil drubin waston DU sebesar 1,6540 dan angka hasil durbin watson dL sebesar 1,1228. Sedangkan nilai durbin watson hitung yaitu sebesar 1,181708. Dari nilai durbin watson tabel, diketahui bahwa 4-DU atau 4 – 1,6540 = 2,346. Maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi antar variabel independen atau 2,346 >
1,181708 > 1,6540. Nilai 4-dL atau 4 – 1,1228 = 2,8772 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat autokorelasi positif antar variabel independen atau 2,8772 > 1,181708 > 1,1228.
4.3.4 Uji Hipotesis
Penelitian ini mengunakan uji hipotesis dimana tujuannya yaitu untuk mengukur dan mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak berpengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Dalam menguji hipotesis, peneliti mengunakan uji secra parsial (uji T), uji secra simultan (uji F), dan uji koefisien determinasi (R2).
1. Uji hipotesis secara parsial (uji T)
Dalam uji hipotesis secara parsial ini, peneliti dapat mengambil keputusan dengan melihat koefisien regresi dan hubungan antar variabel dari tabel coefficient. Apabila data memiliki nilai negatif, maka hubungan antara variabel independen dan variabel dependen tidak memiliki pengaruh. Begitupun sebaliknya, apabila data memiliki nilai positif, maka terdpat pengaruh korelasi antar variabel. Selain itu, untuk mengukur dan mengetahui pengaruh signifikan antar variabel, bisa dilihat dari