BAB VIII HUMAS DALAM PENGEMBANGAN
A. Otonomi Perguruan Tinggi
Sangat penting bagi perguruan tinggi untuk mengkomunikasikan produk perguruan tinggi, dalam hal ini kepada para mahasiswa sebagai “input” dan masyarakat yang mengalami proses dalam sistem pendidikan tinggi, meliputi: manusia (mahasiswa, dosen dan karyawan), metode: proses belajar mengajar di kelas dan di laboratorium, dan material dalam bentuk sarana dan prasarananya menghasilkan “output” berupa alumni untuk mengimplementasikan ilmunya ke masyarakat dan dunia kerja.
Karena itu perguruan tinggi hendaknya memfokuskan pada kepuasan dan kebahagiaan mahasiswa, orang tua,dosen, dan karyawan untuk mencapai tujuan utama meningkatkan corporate governance perguruan tinggi.
Guna menyongsong pelaksanaan manajemen PT BHP (perguruan tinggi badan hukum pendidikan) perlu di ketahui, untuk dapat menjadi lembaga pendidikan tinggi yang unggul, perguruan tinggi harus berupaya meningkatkan kemampuannya. Pada umumnya banyak perguruan tinggidi indonesia masih tahap dan kondisi universitas pengajaran (teaching university) dan hanya beberapa yang mulai memasuki era universitas penelitian (research university) dengan melakukan penelitian secara terus menerus dan produktif, serta hasilnya pun sudah memasyarakat.
Penerapan PT BHP pada perguruan tinggi negeri di tanah air belum bisa dilaksanakan secara bebas dan terbuka, mengingat adanya perbedaan mutu dan status. Misalnya, perguruan tinggi negeri yang masih minim dalam pendanaan, sehingga mengalami kesulitan dalam penataan manajemen dan program ke depan.
Sebaliknya ada perguruan tinggi yang sudah siap karena punya dana pendamping dari luar, seperti dari kerjasama dengan dunia usaha atau proyek lainnya.
Kemudian peraturan pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 1999 menyatakan perguruan tinggi negeri merupakan Badan Hukum Milik Negara yang bersifat nirlaba dan tujuannya meliputi:
1. Menyiapkan peaerta didik menjadi anggota masyarakat akademik yang profesional
2. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni 3. Pembangunan masyarakat madani yang demokratis
4. Mencapai keunggulan kompetitif dalam pengelolaan sumber daya.
Sementara tampak perguruan tinggi negeri di indonesia segera memasuki era baru yaitu otonomi pendidikan yang berbasis BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Hal ini di dasarkan peraturan pemerintah nomor 61 tahun 1999 tentang penetapan perguruan tinggi negeri sebagai badan hukum. Pada pasal 19 ayat 2 disebutkan bahwa tata cara pengelolaan keuangan perguruan tinggi diatur oleh dan disesuaikan dengan kebutuhan perguruan tinggi dengan memperhatikan efesiensi, otonomi dan akuntabilitas.
Menindaklanjuti diberlakukannya otonomi perguruan tinggi yang lebih luas, pada awalnya tahun 2000 ada 4 (empat) PTN di indonesia yang berubah status dari perguruan tinggi negeri menjadi PT BHMN, yakni (1) Universitas Indonesia, (2) Universitas Gajah Mada, (3) Institut Teknologi Bandung, dan (4) Institut Pertanian Bogor, kemudian pada tahun 2004 disusul dua perguruan tinggi yakni: Universitas Pendidikan Indonesia(UPI)Bandung, dan Universitas Sumatra Utara(USU)Medan, serta ke beberapa tahun ke depan akan bertambah lagi alih status PTN ke BHMN.
Perubahan manajemen dari PTN menjadi perguruan tinggi BHMN menarik untuk diamati karena:
1. Menyelamatkan PTN dari ketidakberdayaan sistem pendidikan tinggi mengahadapi sikap dari berbagai komponen sistem pendidikan dan birokrasi ke negaraan yang tidak kondusif dalam usaha memberdayakan PTN.
2. Perguruan tinggi masih dianggap sebagai suatu sistem pemerintah yang perlu diatur secara birokrasi, karenanya perlu diikat dengan paradigma sentralisi, meskipun dalam retorik banyak yang menyatakan setuju, dan mendukung otonomi pendidikan tinggi.
3. Fenomena tersebut menunjukkan adanya frustasi bagi pengambil kebijakan pendidikan tinggi dalam usaha meningkatkan mutu melalui perubahan sistem manajemen untuk perguruan tinggi yang bersangkutan. Sistem ini mendorong perguruan tinggi untuk menerima beban pembiayaan jika ingin melakukan akselerasi peningkatan kualitas.
4. Tidak ada satupun perguruan tinggi nasional termasuk dalam kategori 20 besar di Asia, hal ini dikarenakan lemahnya kemampuan berkompetisi (Sutjipto: 2002).
Berdasarkan berbagai masalah di atas, sejalan dengan dilancarkannya reformasi dalam tatanan politik dan sistem kenegaraan, sistem pendidikan tinggi mendapatkan momentum untuk melaksanakan otonomi yang telah lama diharapkan. Hal itu yang mentyebabkan reformasi pada perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi negeri dari status PTN berubah menjadi PT BHP.
Sosialisasi wacana PT BHP belakangan ini mendominasi isu-isu strategis seputar manajemen pendidikan tinggi. Wacana BHMN ini merasuk ke hampir semua ruang publik, termasuk media massa, dan
sosialisasi tatap muka langsung melalui forum seminar, workshop, dialog interaktif, dan forum-forum lainnya.
B. Konsep Dasar Humas di Perguruan Tinggi
Humas (hubungan masyarakat) merupakan salah satu komponen dalam manajemen yang diperlukan oleh setiap organisasi termasuk perguruan tinggi. Kehadiran humas menjadi salah satu elemen yang sangat menentukan keberlangsungan sebuah perguruan tinggi secara positif. Humas atau biasa dikenal dengan public relations mencakup semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara perguruan tinggi yang bersangkutan dengan siapa saja (pribadi/masyarakat) yang berkepentingan. Dalam beberapa literatur kehumasan seperti kamus terbitan Institute of Public relations humas didefiniskan sebagai “keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organsisasi dengan segenap khalayaknya”.
Definisi tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan humas memiliki peran yang sangat strategis bagi sebuah organisasi dalam hal ini perguruan tinggi. Humas berperan menciptakan dan memelihara citra perguruan tinggi, sehingga penerimaan dan pemahaman masyarakat terhadap perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kerja humas. Profesi humas juga dituntut untuk dapat memahami aspirasi dan kehendak masyarakat, karena keberlangsungan eksistensi sebuah perguruan tinggi sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat.
Dewasa ini, peran humas semakin variatif dan strategis terlebih dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, meningkatnya persaingan perguruan tinggi (antar sesama PTS dan PTN), berkembangnya media massa cetak dan eletronik, kristisnya
pandangan masyarakat terhadap perkembangan pendidikan tinggi dan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang terkait dengan pendidikan dan perguruan tinggi, menyebabkan perguruan tinggi harus mampu mengelola informasi yang akan disampaikan pada masyarakat agar masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang jelas dan lengkap tentang perguruan tinggi. Produk hukum yang berkaitan dengan pendidikan tinggi sangat banyak yang kehadiran dan nalar hukumnya terkadang sulit dipahami oleh masyarakat termasuk oleh penyelenggara perguruan tinggi.
Ketentuan yang menyangkut akreditasi dan pemahaman masyarakat tentang akreditasi terkadang tidak linier sehingga menimbulkan kesalahpahaman ditengah-tengah masyarakat.
Kesalahpahaman yang berangkat dari ketidaktahuan tersebut berpotensi pada munculnya reaksi, yang jika tidak direspon atau tidak diberikan penjelasan dengan cepat dan tepat, dapat menimbulkan kerugian bagi perguruan tinggi. merespon semua persoalan yang muncul ditengah-tengah masyarakat yang berkaitan dengan perguruan tinggi menjadi bagian dari tugas humas.
Masyarakat dapat mengetahui keberadaan sebuah perguruan tinggi dengan segala sumber daya yang dimiliki melalui humas.
Sesuai dengan definisinya, kegiatan humas dimaksudkan untuk menciptakan suatu pengertian, sikap, dan tanggapan yang lebih baik dari masyarakat secara komprehensif. Proses penciptaan tersebut dikenal sebagai proses transper yang digambarkan dengan proses antipati menjadi simpati, kecurigaan menjadi penerimaan, masa bodoh menjadi berminat, dan lalai menjadi berpengertia.
Proses transper tersebut harus dilaksanakan dengan langkah- langkah yang terprogram dan sistematis. Humas harus memahami objek transper dan mengenal sararan proses transper. Humas juga harus mampu menggunakan media yang tepat untuk melakukan
transper, sehingga proses yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Penggunaan media sangat penting, dan apa jenis medianya tergantung dari materi yang akan ditransper.
C. Media Humas di Perguruan Tinggi
Dalam praktiknya, media humas ada dua yaitu media humas eksternal dan media humas internal. Dalam kesempatan ini, penulis lebih menitikberatkan pada pembahasan tentang media humas internal di perguruan tinggi.
Ruang lingkup media humas internal lebih kepada kegiatan komunikasi internal dengan sasaran internal perguruan tinggi itu sendiri. Komunikasi internal ada tiga macam. Yang pertama, komunikasi ke bawah (downward communication) yaitu komunikasi dari pihak pimpinan kepada bawahan. Yang kedua, komunikasi ke atas (upward communicatioan). Ketiga, komunikasi sejajar (sideways communication), yakni komunikasi antar sesama.
Fungsi komunikasi pada sebuah perguruan tinggi tidak lagi dapat dilakukan sambil lalu atau dirangkap oleh fungsi lain, tetapi harus dijalankan oleh suatu bagian khusus yang menangani komunikasi ke luar maupun ke dalam.
Tingkat efektivitas dari humas internal sangat dipengaruhi oleh tiga hal yaitu keterbukaan pihak manajemen, kesadaran dan pengakuan pihak manajemen akan nilai dan arti penting komunikasi dengan para pegawai, dan keberadaan seorang manajer humas yang tidak hanya ahli dan berpengalaman, tetapi juga didukung oleh sumber-sumber daya teknis yang modern. Perangkat media internal sangat variatif, namun pada umumnya perguruan tinggi hanya menggunakan sebagian kecil dari sekian banyak perangkat yang ada seperti jurnal internal, papan pengumuman, kotak saran, CCTV (Close Circuit Television), stasiun radio sendiri, serta perangkat
lainnya yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampaun perguruan tinggi