• Tidak ada hasil yang ditemukan

OTORITAS KIAI KAMPUNG DALAM MENGKONSTRUKSI

Dalam dokumen studi Ritual keagamaan - repo uinsa (Halaman 194-200)

TRADISI ISLAM LOKAL

BaB Vii

otoritas tradisional masih menjadi referensi utama sebagaimana diwakili oleh kiai kampung (ulama muslim lokal). komunikasi yang inten dengan masyarakat dan keunggulan moral serta keteladanan dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat. artikel ini berusaha menjelaskan preskiptif otoritas kiai kampung di ngawi Jawa Timur dan peranannya dalam mengembangkan islam lokal di Jawa. metode yang digunakan studi history- sosiologis dengan pendekatan fenomenologi.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa, kiai kampung mengkonstruksi islam lokal berdasarkan hasil pemikiran dan kajiannya secara otoritatif.

islam lokal merupakan wujud dari model pengembangan islam yang mengakomodasi kearifan lokal. kiai kampung disebut sebagai pemimpin kharismatik yang memiliki kekuatan penuh untuk menentukan islam lokal dalam perspektif kiai. Peran kiai kampung secara tidak langsung berpotensi mewarnai pertumbuhan dan perkembangan islam global.

Pendahuluan A.

Perkembangan islam dunia tidak lepas dari peran para kiai1

1 istilah kiai bukan berasal dari bahasa arab melainkan dari bahasa jawa, yang

(ulama islam lokal) yang mengembangkan dakwahnya dengan berbagai cara. kiai kampung diartikan sebagai figur yang memiliki otoritas2 dan telah mengalami tranformasi; terkadang menjadi kiai3 dan suatu saat dapat berubah menjadi pemimpin ritual tradisi bahkan, menjadi referensi utama dalam menyelesaikan problem masyarakat. Hubungan kiai dengan masyarakat tidak hanya sebatas relasi agama tetapi, juga pemimpin masyarakat4. keunggulan moralitas dan nilai-nilai kebijaksanaanya menjadi tuntunan masyarakat.5 otoritas kiai semakin mengukuhkan kekuasaannya sebagaimana konstruksi islam lokal6 di Jawa yang mewarnai perkembangan islam global.7

islam dan budaya Jawa tidak dapat dipisahkan diantara keduanya karena, saling berinteraksi.8 islam lokal merupakan produk budaya, berupa ide-ide kreatif kiai yang dapat membentuk tradisi9 dan

memiliki makna keramat, agung dan dituahkan. gelar kiai diberikan kepada laki- laki usia lanjut, arif dan bijaksana, gelar kiai juga diberikan kepada benda-benda yang keramat dan dituahkan seperti; keris dan tombak. ahmad shobiri muslim,

“urgensi materi khatib Jum’at kiai-kiai kampung sebagai upaya gerakan Deradikalisasi agama di kabupaten kediri,” Spiritualita 2, no. 1 (June 23, 2018), 101-120; murtado Hadi, Jejak Spiritual Kiai Jampes (Pustaka Pesantren, 2008), 87-90. saifullah, Kh. Badri Mashduqi: Kiprah Dan Keteladanan (Pt lkis Pelangi aksara, 2008), 197-200.

2 Didi Pramono, “The authority of kiai Toward The santri: a Review of gender Construction at Pondok Pesantren,” Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture 10, no. 1 (september 4, 2018): 92–100.

3 akmal mundiri and afidatul Bariroh, “Transformasi Representasi identitas kepemimpinan kiai dalam Hubungan atasan dan Bawahan,” Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 8, no. 2 (2018), 234–255.

4 m. ali andrias, Dkk m. ali andrias, and Dkk, “model kepemimpinan Politik kiai: studi Peran kiai dalam Pergeseran Perilaku Politik massa nu Pkb Dan Pp p,”

Politika: Jurnal Ilmu Politik 7, no. 2 (July 13, 2017), 21–33.

5 Ronald a. lukens-Bull, Teaching morality: Javanese islamic education in a globalizing era, Journal of arabic and islamic studies 3 (2000), 26-47.

6 leif manger, Muslim Diversity: Local Islam In Global Contexts (Routledge, 2013), 60-75.

7 ed Husain, The House of Islam: A Global History (Bloomsbury Publishing, 2018).

8 José maría Díez-esteban, Jorge Bento Farinha, and Conrado Diego garcía-gómez,

“are Religion and Culture Relevant for Corporate Risk-Taking? international evidence,” Brq Business Research Quarterly 22, no. 1 (January 1, 2019), 36–55.

9 James J. Fox and a. g. muhaimin, “Foreword,” in The Islamic Traditions of Cirebon,

melahirkan peradaban islam. konstruksi islam lokal merupakan kontribusi kiai dalam mewarnai perkembangan islam di nusantara.

keragaman islam lokal menjelaskan adanya inklusivisme masyarakat yang menerima perbedaan sebagai keragaman. Peran pemimpin agama menjadi faktor dominan dalam membangun dan mengembangkan islam dengan identitasnya.10

islam dan pemuka agama merupakan dua sisi yang saling berkaitan, bagaikan langit dan bumi saling menaungi. Pemimpin agama menjadi simbol, seperti apa islam dikembangkan di berbagai negara. islam di iran11 dengan corak syiahnya yang dominan, islam di eropa sejalan dengan budaya modern dengan melakukan integrasi atau marginalisasi.12 islam di Timur Tengah dikenal dengan fundamentalisme dan egosentris premodial etnik kesukuan yang sangat eksklusif.13

Beberapa studi yang relevan dengan preskriptif otoritas kiai atau pemimpin agama dalam membangun peradaban islam di Timur Tengah seperti: ayatullah ali al-sistani yang membentuk hubungan yang unik antara negara dan otoritas agama syiah dan mengaburkan antara batas formalitas dan informalitas.14 kerangka konsep otoritas tidak hanya memainkan peran tetapi, dengan lensa sensibilitas estetika.15 Fragmentasi kiai menjadi analisis untuk menemukan argumen dengan sudut pandang konstruksi etis dari masyarakat.16 Preskriptif kiai berkaitan

ibadat and adat among Javanese muslims (anu Press, 2006), 21-30.

10 masdar Hilmy, “Towards a Religiously Hybrid identity? The Changing Face of Javanese islam,” Journal of Indonesian Islam, 12, 1 (June 1, 2018), 45-68.

11 i. Petrushevsky, Islam in Iran (suny Press, 1985), 23-30.

12 Robert J. Pauly and Jr, Islam in Europe: Integration or Marginalization? (Routledge, 2016), 2-12.

13 mahmud a. Faksh, The Future of Islam In The Middle East: Fundamentalism In Egypt, Algeria, and Saudi Arabia (greenwood Publishing group, 1997), 3-9.

14 Harith Hasan al-Qarawee, “The ‘Formal’ marja: shi’i Clerical authority and The state in Post-2003 iraq,” British Journal of Middle Eastern Studies 46, 3 (may 27, 2019), 481–497.

15 erica Baffelli and Jane Caple, “guest editors’ introduction: Religious authority in east asia materiality, media, and aesthetics,” Asian Ethnology 78, 1 (January 2019), 3–23.

16 Fazlul Rahman, “managing The Consequences of The Fragmentation of Religious

dengan kesalehan umat islam dalam meramaikan masjid sebagai media dakwah melalui bantuan finansial dapat diadaptasi dengan pendekatan Deobandi manajemen masjid di india utara.17

Dalam konteks indonesia, perkembangan islam di Jawa dibawa oleh walisongo (sembilan tokoh muslim) dengan berbagai coraknya yang memadukan nilai-nilai lokal dan keislaman.18 selanjutnya, pesantren (tempat belajar agama islam) menjadi media sarana untuk memelihara umat yang dipimpin oleh seorang kiai.19 Dalam perkembangannya kiai kampung (ulama muslim lokal) memiliki otoritas penuh dalam mengkonstruksi islam lokal dengan pendekatan kaum marginal20 atau bromocorah (pemabuk, penjudi atau sikap buruk yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat).

Preskriptif kiai kampung dalam praktik-praktik tradisi islam memaksakan dengan perilaku kaum marginal. islam lokal masih primitif menjadi daya tarik untuk menjelaskan bagaimana islam di Jawa dapat berkembang dengan pesat. kehidupan kiai kampung menjadi daya tarik untuk menemukan keunikan dalam mengkonstruksi islam agar, cepat dipahami dan diterima masyarakat melalui preskriptif otoritasnya. Pendekatan personal kiai kampung dan interaksi masyarakat menjadi pilihan yang tepat untuk menjelaskan bagaimana islam lokal dipresentasikan.

authority: lessons learned From malaysia and singapore,” Religió: Jurnal Studi Agama-Agama 10, 1 (april 7, 2020), 26–53.

17 sana Haroon, Contextualizing The Deobandi app roach to Congregation and management of mosques in Colonial north india, Journal of islamic studies, 28, 1 (2017) 68–93.

18 names of Walisongo: 1) maulanan malik ibrahim, 2) Raden Rahmat (sunan ampel), 3) Raden Qasim (sunan Drajat), 4) Ja’far shadiq (sunan Quduq), 5) Raden makdum (sunan Bonang), 6) Raden Paku (sunan giri), 7) Raden sahid (sunan kalijaga), 8) Raden umar sahid (sunan muria), 9) syarif Hidayatullah (sunan gunung Jati). Dewi evi anita, “Walisongo: mengislamkan Tanah Jawa (suatu kajian Pustaka),” Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam Dan Sosial 1, 2 (may 9, 2016), 243–266.

19 Pradjarta Dirdjosanjoto, Memelihara Umat ; Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa (lkis Pelangi aksara, 1997), 18-30.

20 Ratnah Rahman, “Peran agama Dalam masyarakat marginal,” Sosioreligius, 4, 1 (october 7, 2019), 81-89.

Fokus kajian ini mencermati bagaimana otoritas kiai berinteraksi dengan masyarakat dalam mengembangkan islam. Pendekatan fenomenologi dan studi psikologi kiai dalam preskriptif otoritas menjadi konsentrasi untuk menemukan konstruksi islam lokal.

Sosio Religi Masyarakat Islam di Ngawi B.

memahami masyarakat islam di ngawi menarik untuk didiskusikan karena, dapat menjelaskan karakteristik masyarakatnya dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan keagamaannya.

kehidupan masyarakat di kampung atau pedesaan dominan pada ekonomi pertanian yakni; bercocok tanam padi, sayuran dan beragam tanaman pokok lainnya (jagung, kedelai, ketela, kacang).21 masyarakat bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan pokok agar, terhindar dari kemiskinan.22 Penghasilan dari pertanian bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sebagian disumbangkan untuk masjid secara sukarela atas perintah ulama.23 Pengelolaan sumber dana masyarakat dapat difungsikan untuk kegiatan perayaan maulid nabi yang dikelola secara transparan dan untuk pemeliharaan masjid.24 kepatuhan masyarakat untuk memberikan infaq dinyakini dapat membawa keberuntungan25 meskipun, masyarakat bukanlah muslim yang taat.

kondisi masyarakat di ngawi khususnya di kampung adalah orang- orang marginal atau disebut juga bromocorah (penjudi, pemabuk, pelaku asosial dan sifat buruk lainnya).26 status sosial yang melekat masyarakat kampung kebanyakan dari keluarga besar eks Pki (partai komunis indonesia)27 namun, secara berangsur-angsur stereotip itu menghilang

21 kumini, Interview, ngawi, 12 maret 2019.

22 mansyur nawawi et al., “The Village kalesang Program as a Poverty alleviation Community”, 9, 03 (2020), 6.

23 agus ghozali, Ngawi, 13 maret 2019.

24 maskuruddin, Ngawi, 14 maret 2019.

25 alquran: 2: 272.

26 Jarwati, Ngawi, 15 maret 2019.

27 slamet, Ngawi, 16 maret 2019.

Dalam dokumen studi Ritual keagamaan - repo uinsa (Halaman 194-200)

Dokumen terkait